Singgah di Frankfurt, Presiden Lee Jae-myung Temui Diaspora Korea dan Kirim Pesan tentang Sejarah, Pemulihan, dan Kepercayaan

Singgah di Tengah Perjalanan Panjang, Pesan Politik yang Tidak Sederhana
Di tengah perjalanan pulang setelah lawatan ke Amerika Serikat dan sejumlah negara di Amerika Selatan, Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung memilih singgah sejenak di Frankfurt, Jerman. Persinggahan itu bukan sekadar jeda teknis dalam rute penerbangan jarak jauh. Di kota yang selama puluhan tahun menjadi salah satu titik penting sejarah migrasi warga Korea ke Eropa, Lee bertemu dengan diaspora Korea dan menyampaikan pesan yang sarat makna: Korea Selatan dan Jerman adalah dua negara yang sama-sama pernah terluka oleh perang dan perpecahan, tetapi mampu bangkit dan membangun kepercayaan.
Pertemuan yang digelar di sebuah hotel di Frankfurt itu dihadiri pula oleh Ibu Negara Kim Hye-kyung. Dalam forum yang dilaporkan kantor berita Yonhap tersebut, Lee tidak membawa pengumuman perjanjian baru, tidak pula memamerkan paket kerja sama ekonomi besar. Namun justru di situlah letak bobot politiknya. Ia menggunakan bahasa sejarah, pengalaman bersama, dan penghormatan kepada generasi diaspora sebagai alat diplomasi. Dalam praktik hubungan internasional modern, pesan semacam ini sering kali sama pentingnya dengan penandatanganan dokumen resmi, karena menyentuh cara suatu bangsa ingin dipahami oleh dunia.
Bagi pembaca Indonesia, momen ini bisa dibaca seperti ketika pejabat tinggi negara hadir di komunitas perantau Indonesia di luar negeri dan tidak hanya berbicara soal investasi atau perdagangan, melainkan juga mengakui perjuangan para pekerja migran, pelajar, dan keluarga diaspora yang selama ini ikut membentuk citra bangsanya. Di Korea Selatan, pertemuan dengan warga Korea di luar negeri atau dongpo bukan agenda seremonial biasa. Istilah dongpo merujuk pada sesama orang Korea yang tinggal di luar negeri, dan dalam politik Korea, kelompok ini dipandang sebagai bagian dari jejaring nasional yang tetap terhubung oleh sejarah, bahasa, dan identitas.
Dengan latar itulah, singgahnya Lee di Frankfurt perlu dipahami bukan sekadar pertemuan ramah tamah. Ini adalah upaya merangkai narasi tentang Korea modern: negara yang bangkit dari puing perang, tetap membawa luka pembelahan Semenanjung Korea, lalu tumbuh menjadi kekuatan ekonomi dan budaya yang kini dikenal melalui teknologi, industri, hingga gelombang Hallyu.
Korea dan Jerman: Dua Negara, Satu Bahasa tentang Luka dan Kebangkitan
Dalam sambutannya, Lee mengatakan bahwa Korea Selatan dan Jerman memiliki banyak kemiripan karena sama-sama mengalami perang dan perpecahan. Pernyataan ini terdengar sederhana, tetapi secara diplomatik sangat efektif. Jerman adalah negara yang memiliki pengalaman traumatis Perang Dunia II dan pembelahan antara Jerman Barat dan Jerman Timur selama puluhan tahun, sebelum akhirnya bersatu kembali. Korea, di sisi lain, masih hidup dengan realitas pembagian antara Korea Selatan dan Korea Utara yang hingga kini belum benar-benar berakhir secara politik.
Lee lalu menyebut dua istilah yang sangat simbolik: “Keajaiban Sungai Rhein” dan “Keajaiban Sungai Han”. Bagi pembaca Indonesia, dua istilah ini bisa disamakan dengan frasa-frasa yang merangkum kebangkitan ekonomi suatu bangsa dalam satu citra yang mudah diingat. “Keajaiban Sungai Rhein” merujuk pada kebangkitan ekonomi Jerman Barat setelah perang, sementara “Keajaiban Sungai Han” adalah ungkapan yang sangat terkenal dalam sejarah Korea Selatan untuk menggambarkan transformasi ekonomi cepat sejak dekade 1960-an hingga menjadi negara industri maju.
Dengan meletakkan dua “keajaiban” itu dalam satu kalimat, Lee sedang menyusun hubungan Korea-Jerman sebagai relasi yang setara. Bukan hubungan guru dan murid, bukan pula hubungan negara besar dan negara kecil. Pesannya adalah: kita berbeda, tetapi sama-sama pernah jatuh, sama-sama bekerja keras, dan sama-sama membangun kembali kepercayaan dunia. Dalam diplomasi, penempatan simbol seperti ini penting karena membentuk rasa hormat timbal balik.
Di luar konteks bilateral, bahasa yang dipilih Lee juga mudah dipahami publik internasional. Ia tidak menggunakan istilah domestik yang terlalu teknis atau slogan politik yang hanya akrab di dalam negeri. Ia memilih tiga kata kunci yang universal: perang, perpecahan, dan pertumbuhan. Tiga kata ini dapat dimengerti siapa pun, termasuk generasi muda global yang mungkin mengenal Korea hanya dari K-pop, drama, atau merek-merek elektronik. Dengan demikian, Korea tidak hanya dipresentasikan sebagai negara sukses secara ekonomi, tetapi juga sebagai masyarakat yang dibentuk oleh daya tahan menghadapi sejarah yang keras.
Jika ditarik ke konteks Indonesia, pendekatan seperti ini mengingatkan bahwa identitas nasional di panggung dunia sering kali lebih kuat ketika dikisahkan melalui pengalaman bersama yang manusiawi, bukan semata lewat angka pertumbuhan. Di kawasan Asia, Korea Selatan termasuk negara yang piawai mengemas sejarah modernnya menjadi bahasa diplomasi yang mudah diterima. Frankfurt menjadi panggung kecil untuk menunjukkan kecakapan itu.
Frankfurt dan Jejak Generasi Pertama Korea di Jerman
Salah satu bagian paling penting dalam pertemuan tersebut adalah ketika Lee menyinggung tahun ini sebagai 60 tahun sejak para perawat Korea generasi awal pertama kali menginjakkan kaki di Bandara Frankfurt pada 1966. Rujukan ini menggeser pusat pembicaraan dari negara ke manusia. Jika sebelumnya ia berbicara mengenai Korea dan Jerman sebagai dua bangsa, di titik ini ia mengingatkan bahwa jembatan sesungguhnya dibangun oleh individu-individu yang bekerja, beradaptasi, dan hidup di negeri orang.
Untuk memahami maknanya, perlu dijelaskan bahwa pada dekade 1960-an dan 1970-an, Korea Selatan mengirim tenaga kerja ke Jerman Barat, termasuk perawat dan pekerja tambang. Mereka dikenal luas dalam sejarah Korea sebagai bagian dari generasi perintis diaspora modern yang bekerja keras di luar negeri pada masa Korea sendiri masih miskin dan sedang membangun fondasi ekonomi. Dalam memori kolektif Korea, mereka bukan hanya pekerja migran, melainkan simbol pengorbanan, disiplin, dan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
Bagi masyarakat Indonesia, kisah ini terasa dekat. Indonesia juga memiliki sejarah panjang pekerja migran yang menopang ekonomi keluarga, membangun jejaring sosial lintas negara, bahkan ikut membentuk persepsi bangsa lain terhadap orang Indonesia. Bedanya, di Korea, pengalaman generasi perawat dan pekerja tambang di Jerman telah lama diangkat sebagai bagian penting dari narasi nasional. Negara memberi ruang khusus bagi kisah mereka dalam diplomasi, pendidikan sejarah, dan politik identitas.
Dengan menyebut Frankfurt sebagai tempat yang mengingatkan pada kedatangan pertama generasi itu, Lee seakan menegaskan bahwa sejarah bilateral Korea-Jerman tidak hanya ditulis dalam ruang rapat pemerintah, tetapi juga di asrama pekerja, rumah sakit, komunitas gereja, dan lingkungan tempat diaspora berjuang dari nol. Ini adalah bentuk pengakuan bahwa kepercayaan antarnegara kerap lahir dari kesan sehari-hari: apakah seseorang dianggap rajin, jujur, bertanggung jawab, dan mampu berbaur.
Lee mengatakan bahwa generasi pertama diaspora di Jerman memperlihatkan ketekunan dan rasa tanggung jawab orang Korea, serta membantu membangun kepercayaan terhadap Korea Selatan. Kalimat ini penting karena menunjukkan cara pandang yang lebih luas tentang diplomasi. Citra negara di luar negeri tidak dibangun hanya lewat iklan pariwisata, konferensi internasional, atau kerja sama bisnis. Ia juga dibentuk oleh reputasi warganya yang hidup puluhan tahun di tengah masyarakat setempat. Dalam bahasa yang lebih sederhana, sebelum dunia mengenal BTS, Parasite, atau drama-drama Korea, ada generasi pekerja dan perawat yang lebih dulu memperkenalkan wajah Korea melalui etos kerja mereka.
Diplomasi Emosional yang Menjangkau Lebih dari Sekadar Kebijakan
Fakta bahwa tidak ada pengumuman kerja sama baru dalam pertemuan di Frankfurt justru memperjelas karakter acaranya. Ini adalah diplomasi emosional, atau setidaknya diplomasi yang mengandalkan ikatan sejarah dan rasa saling menghormati sebagai fondasi. Dalam banyak kesempatan, publik sering menilai kunjungan luar negeri kepala negara hanya dari hasil konkret seperti nilai investasi, nota kesepahaman, atau komitmen proyek. Padahal, ada lapisan lain yang tak kalah penting: bagaimana sebuah negara membingkai dirinya di hadapan mitra dan komunitas warganya di luar negeri.
Di titik ini, Lee tampak ingin menunjukkan bahwa Korea Selatan tidak melihat diaspora hanya sebagai objek perlindungan konsuler atau peserta acara komunitas. Mereka juga diposisikan sebagai aset diplomasi publik, yakni orang-orang yang selama ini ikut membentuk pemahaman masyarakat asing terhadap Korea. Pendekatan semacam ini punya dampak jangka panjang karena membuat komunitas diaspora merasa diakui sebagai pelaku, bukan penonton.
Bila dibandingkan dengan perkembangan Hallyu, pesan tersebut terasa relevan. Gelombang budaya Korea selama dua dekade terakhir membuat citra Korea di mata dunia semakin modern, kreatif, dan atraktif. Namun di balik citra populer itu ada fondasi reputasi yang dibangun jauh sebelumnya oleh generasi diaspora. Lee, melalui pidato di Frankfurt, seperti ingin menyambungkan dua bab sejarah itu: dari generasi perawat dan pekerja tambang, hingga era K-pop, film pemenang Oscar, dan perusahaan teknologi global. Semuanya adalah bagian dari perjalanan panjang membangun kepercayaan terhadap nama Korea.
Ini juga menjelaskan mengapa Lee tidak berhenti pada narasi penderitaan perang dan perpecahan. Ia sengaja mengarah pada kata “pemulihan” dan “kepercayaan”. Dalam politik internasional, narasi korban memang bisa mengundang simpati, tetapi narasi pemulihan memberi posisi yang lebih kuat. Negara tidak sekadar meminta dimengerti, melainkan menunjukkan bahwa ia telah belajar, bertahan, lalu tumbuh bersama pihak lain. Itulah yang membuat perbandingan Korea dan Jerman menjadi efektif: dua negara sama-sama tidak diingat semata karena lukanya, melainkan juga karena kemampuannya bangkit.
Apa Maknanya bagi Hubungan Korea-Jerman Saat Ini
Pertemuan di Frankfurt tidak otomatis mengubah peta hubungan Korea-Jerman secara institusional. Tidak ada indikasi adanya perjanjian bilateral baru yang diumumkan saat itu, dan tidak ada proyek kerja sama spesifik yang diumumkan ke publik. Karena itu, terlalu berlebihan jika persinggahan ini dibaca sebagai terobosan kebijakan. Namun bukan berarti nilainya kecil. Dalam diplomasi modern, yang sering menentukan daya tahan sebuah hubungan justru adalah cadangan empati dan saling pengertian yang dibangun dari waktu ke waktu.
Jerman tetap menjadi mitra penting bagi Korea Selatan di Eropa, baik dalam perdagangan, industri, pendidikan, maupun teknologi. Kedua negara juga sama-sama memiliki pengalaman industrialisasi yang kuat, tradisi manufaktur, dan perhatian besar terhadap kualitas sumber daya manusia. Ketika Lee menggarisbawahi kesamaan sejarah, ia sedang memperluas basis hubungan itu dari kepentingan praktis menjadi kedekatan memori.
Dari sisi komunikasi politik, langkah ini juga cerdas karena berbicara kepada lebih dari satu audiens sekaligus. Kepada diaspora Korea di Jerman, Lee menyampaikan penghargaan dan pengakuan. Kepada publik Jerman, ia menunjukkan rasa hormat terhadap sejarah kebangkitan negara mereka. Kepada masyarakat Korea di dalam negeri, ia mengirim sinyal bahwa pemerintah menghargai kontribusi warga Korea di luar negeri sebagai bagian dari martabat nasional. Dan kepada komunitas internasional, ia menampilkan Korea sebagai negara yang mengisahkan dirinya melalui pengalaman bersama, bukan lewat superioritas.
Dalam konteks Eropa yang sedang menghadapi berbagai tantangan geopolitik dan ekonomi, bahasa tentang daya tahan sejarah juga punya resonansi tersendiri. Korea Selatan tampak ingin terus menempatkan diri bukan hanya sebagai mitra dagang Asia Timur, tetapi juga sebagai negara yang memahami pentingnya stabilitas, rekonsiliasi, dan pembangunan kepercayaan. Walau sederhana, forum diaspora di Frankfurt memberi panggung bagi pesan tersebut.
Diaspora, Reputasi, dan Pelajaran yang Juga Relevan bagi Indonesia
Ada satu pelajaran menarik dari peristiwa ini yang juga relevan bagi Indonesia. Negara sering kali baru menoleh kepada komunitas luar negeri saat ada krisis, urusan perlindungan warga, atau agenda ekonomi jangka pendek. Padahal, diaspora dan pekerja migran kerap menjadi wajah pertama yang dilihat masyarakat setempat tentang suatu bangsa. Cara mereka bekerja, berinteraksi, dan membangun komunitas dapat meninggalkan kesan jauh lebih kuat daripada slogan resmi pemerintah.
Dalam kasus Korea, pengakuan terhadap generasi perintis di Jerman memperlihatkan bagaimana negara menghubungkan prestasi hari ini dengan jerih payah masa lalu. Ini penting, terutama di era ketika citra Korea sering didominasi budaya populer. Hallyu memang luar biasa dalam membangun ketertarikan, tetapi kepercayaan yang lebih dalam lahir dari reputasi yang dibangun lama oleh orang-orang biasa. Perawat, pekerja, pemilik usaha kecil, pelajar, dan keluarga diaspora adalah aktor-aktor sunyi dalam diplomasi yang sering luput dari sorotan.
Bagi pembaca Indonesia yang akrab dengan dinamika diaspora, pesan seperti ini mungkin terasa dekat. Kita pun memahami bahwa keberhasilan sebuah bangsa di luar negeri tidak hanya ditentukan oleh pejabat atau korporasi besar, melainkan juga oleh warga negara yang membawa nama baik melalui kerja sehari-hari. Ketika seorang kepala negara menyampaikan itu secara terbuka, ada nilai simbolik yang besar: negara sedang menegaskan bahwa kontribusi mereka diingat, bukan sekadar dimanfaatkan.
Pada akhirnya, singgah Presiden Lee Jae-myung di Frankfurt menunjukkan bahwa diplomasi tidak selalu bekerja dalam ruang megah dengan meja perundingan panjang. Kadang-kadang, diplomasi hadir dalam bentuk pertemuan yang hangat dengan warga diaspora, dalam kalimat yang menghubungkan Sungai Rhein dan Sungai Han, serta dalam penghormatan kepada generasi yang dulu datang sebagai perawat dan pekerja di negeri asing. Dari sana, sebuah negara berusaha menata ingatan tentang dirinya: pernah terluka, pernah terbelah, tetapi memilih bangkit dan membangun kepercayaan.
Itulah sebabnya persinggahan ini layak dibaca lebih jauh daripada agenda sela dalam perjalanan pulang. Di Frankfurt, Korea Selatan tidak sekadar menyapa warganya di luar negeri. Ia juga sedang mengingatkan dunia bahwa hubungan antarnegara pada akhirnya ditopang oleh manusia, memori, dan rasa saling percaya yang dibangun pelan-pelan lintas generasi.
댓글
댓글 쓰기