Saat Suhu Korea Selatan Tembus 42,5 Derajat, Lansia di Permukiman Tua Changwon Bertahan dari Panas dengan Kipas yang Hemat Dipakai

Saat Suhu Korea Selatan Tembus 42,5 Derajat, Lansia di Permukiman Tua Changwon Bertahan dari Panas dengan Kipas yang Hem

Panas ekstrem di Korea Selatan bukan lagi sekadar berita cuaca

Gelombang panas yang melanda Korea Selatan memasuki babak yang kian mengkhawatirkan. Di Changwon, kota di Provinsi Gyeongsang Selatan, suhu siang dilaporkan mendekati 40 derajat Celsius. Dalam situasi seperti ini, rumah yang semestinya menjadi tempat berlindung justru berubah menjadi ruang yang menahan panas. Di kawasan permukiman tua di dataran tinggi, para lansia menjalani hari-hari yang berat: bertahan di dalam rumah yang gerah, membatasi pemakaian kipas angin, dan menimbang setiap langkah jika harus keluar rumah. Di saat yang sama, kota lain seperti Yangsan bahkan mencatat suhu 42,5 derajat Celsius, angka yang disebut sebagai rekor baru dalam sejarah pengamatan cuaca modern Korea.

Bagi pembaca Indonesia, angka 40 derajat mungkin mengingatkan pada musim kemarau yang makin terasa terik di sejumlah kota, dari Surabaya, Semarang, hingga sebagian wilayah Nusa Tenggara. Namun konteks Korea Selatan berbeda dan justru itulah yang membuat peristiwa ini penting. Negara yang selama ini lebih sering dibayangkan lewat empat musim, salju, daun gugur, atau suasana romantis drama Korea, kini berhadapan dengan panas yang begitu keras hingga memengaruhi ritme hidup kota, pola istirahat warga, dan cara pemerintah setempat merespons kelompok rentan.

Yang terjadi di Changwon memperlihatkan bahwa krisis iklim tidak hadir dalam bentuk yang abstrak. Ia hadir di lorong sempit menuju rumah-rumah lama, di atap yang menyerap panas sepanjang siang, di tagihan listrik yang membuat orang enggan menyalakan kipas terlalu lama, dan di tubuh lansia yang tidak lagi sekuat dulu menghadapi cuaca ekstrem. Ketika suhu mendekati 40 derajat, pertanyaannya bukan hanya seberapa tinggi termometer naik, melainkan siapa yang bisa benar-benar aman dari panas, dan siapa yang harus berhemat untuk sekadar merasa sedikit lebih sejuk.

Di sinilah kisah dari Changwon menjadi relevan, bukan hanya bagi warga Korea, tetapi juga bagi kota-kota di Asia, termasuk Indonesia, yang sama-sama sedang belajar menghadapi cuaca yang semakin tidak ramah. Cerita ini adalah tentang panas, tetapi lebih dalam lagi, ini adalah cerita tentang ketimpangan ruang hidup, penuaan penduduk, dan pentingnya fasilitas publik yang dekat serta benar-benar bisa dipakai warga.

Changwon dan “daldongne”: ketika permukiman tua menjadi perangkap panas

Laporan dari lapangan menggambarkan salah satu kawasan yang dalam bahasa Korea kerap disebut daldongne. Istilah ini secara harfiah sering dipakai untuk menyebut lingkungan permukiman lama yang berada di lereng bukit atau dataran tinggi, dengan rumah-rumah berdempetan dan infrastruktur yang telah menua. Dalam imajinasi budaya populer Korea, kawasan semacam ini kadang muncul dalam film atau drama sebagai simbol perjuangan hidup kelas pekerja, ruang tinggal yang sederhana, dan lingkungan yang menyimpan sejarah urbanisasi cepat Korea Selatan. Namun saat musim panas ekstrem datang, romantisasi itu runtuh. Yang tersisa adalah realitas fisik: rumah-rumah tua yang menyimpan panas, akses jalan yang menanjak, dan penghuni lansia yang harus menghemat tenaga.

Seorang warga yang disebut telah tinggal lebih dari 60 tahun di kawasan tersebut mengatakan bahwa ia belum pernah merasakan panas seperti ini. Pernyataan semacam itu tidak bisa dianggap sekadar keluhan biasa. Lansia adalah kelompok yang memiliki memori panjang atas perubahan musim, sehingga ketika mereka berkata cuaca kini terasa berbeda dari masa lalu, itu sekaligus menjadi penanda perubahan iklim yang nyata di tingkat pengalaman sehari-hari. Mereka bukan sedang membandingkan dengan satu atau dua musim panas terakhir, melainkan dengan puluhan tahun hidup di tempat yang sama.

Masalah utamanya bukan semata-mata ketiadaan alat pendingin. Dalam banyak kasus, kipas angin atau perangkat pendingin memang ada di rumah, tetapi tidak digunakan secara memadai. Penyebabnya bisa berlapis: kekhawatiran terhadap biaya listrik, kebiasaan hidup hemat, rasa tidak nyaman menyalakan alat terus-menerus, atau kondisi rumah yang memang sulit menjadi sejuk meski kipas dinyalakan. Bagi warga lanjut usia yang hidup dengan pengeluaran terbatas, keputusan menekan tombol kipas bukan keputusan sepele. Ia terhubung dengan perhitungan bulanan yang ketat, seperti halnya banyak lansia berpenghasilan rendah di Indonesia yang kadang menunda menyalakan AC atau membatasi pemakaian listrik rumah tangga.

Di rumah-rumah tua seperti ini, panas siang hari tidak langsung hilang ketika matahari mulai turun. Dinding, atap, dan lantai yang menyerap panas membuat udara dalam rumah tetap terasa menyesakkan. Situasi menjadi makin berat karena sebagian penghuni sudah tidak leluasa bepergian. Keluar rumah pun tidak selalu menjadi solusi, sebab udara luar sama-sama panas dan jalan menanjak menambah beban fisik. Akibatnya, lansia di kawasan seperti Changwon menghadapi pilihan yang sama-sama tidak ideal: diam di dalam rumah yang gerah, atau keluar rumah dengan risiko kelelahan dan dehidrasi.

Dalam bahasa yang sederhana, rumah tidak lagi otomatis berarti tempat aman. Saat gelombang panas bertemu dengan kualitas hunian yang buruk, tempat tinggal justru bisa menjadi faktor yang memperbesar risiko kesehatan. Inilah sisi sosial dari cuaca ekstrem yang sering terlewat ketika perhatian publik hanya tertuju pada angka suhu tertinggi.

Rekor 42,5 derajat di Yangsan dan alarm baru bagi kota-kota Korea

Pada hari yang sama, Yangsan di wilayah yang sama dilaporkan mencatat suhu 42,0 derajat Celsius pada pukul 13.16, lalu naik lagi menjadi 42,5 derajat hanya sekitar sepuluh menit kemudian. Menurut laporan, ini merupakan pertama kalinya suhu di kisaran 42 derajat tercatat sejak pengamatan meteorologi modern dimulai pada 1904. Bagi Korea Selatan, ini bukan angka biasa. Negara yang infrastrukturnya dirancang dalam konteks iklim empat musim kini menghadapi realitas bahwa musim panas dapat bergerak melampaui pola yang selama ini dikenal.

Rekor suhu seperti ini tentu mudah menarik perhatian karena dramatis dan mudah dijadikan judul utama. Namun angka setinggi apa pun sebenarnya hanya menjadi pintu masuk. Yang lebih penting adalah apa arti angka itu bagi kehidupan perkotaan. Suhu 42,5 derajat tidak hanya berarti udara terasa lebih panas dari biasanya. Ia mengubah daya tahan trotoar, kelayakan berjalan kaki, keamanan hunian tanpa pendingin memadai, serta waktu aman bagi warga untuk beraktivitas di luar rumah. Dengan kata lain, panas ekstrem memaksa kota mengubah ritmenya.

Indonesia tentu tidak asing dengan suhu tinggi, tetapi ada pelajaran penting dari Korea Selatan di sini. Banyak kota di Asia selama bertahun-tahun dibangun dengan asumsi bahwa ancaman utama adalah hujan deras, banjir, atau musim dingin, sementara panas ekstrem belum diperlakukan sebagai risiko urban yang setara. Kini asumsi itu berubah. Di Korea Selatan, gelombang panas mulai memengaruhi pembatalan kegiatan luar ruang, penyesuaian jam operasional fasilitas publik, hingga pemantauan khusus untuk kelompok rentan. Ini mirip dengan bagaimana di Indonesia sekolah, kantor, dan warga sering menyesuaikan diri terhadap banjir musiman; bedanya, kali ini ancamannya adalah panas yang tak terlihat tetapi sama berbahayanya.

Yang patut dicatat, panas ekstrem juga menyingkap ketimpangan yang selama ini tersembunyi. Warga yang tinggal di apartemen baru dengan insulasi baik, akses pendingin udara yang stabil, dan mobilitas tinggi tentu punya cara bertahan yang berbeda dibanding penghuni rumah tua di bukit. Maka, ketika rekor suhu muncul, yang diuji bukan hanya ketahanan tubuh manusia, melainkan ketahanan sistem kota: apakah transportasi, layanan sosial, ruang publik, dan kebijakan lokal mampu melindungi semua warga, terutama mereka yang paling mudah terdampak.

Shelter panas yang hanya berjarak tiga menit bisa mengubah satu hari penuh

Salah satu bagian paling penting dari cerita di Changwon justru bukan soal suhu tertinggi, melainkan soal jarak yang sangat pendek: tiga menit berjalan kaki. Di Pusat Budaya Lansia Hoewon, tersedia fasilitas yang dalam kebijakan Korea dikenal sebagai mu-deowi swimteo, atau tempat berteduh dari panas. Ini adalah ruang publik berpendingin yang dibuka pemerintah daerah agar warga, terutama kelompok rentan, dapat beristirahat saat gelombang panas terjadi. Seorang perempuan lansia berusia 80-an mengatakan bahwa setelah menyelesaikan pekerjaan rumah di pagi hari, ia biasa datang ke tempat itu. Dari rumah ke pusat tersebut hanya sekitar tiga menit, tetapi bahkan dalam jarak sesingkat itu keringat sudah mengalir deras.

Pernyataan ini terdengar sederhana, tetapi maknanya besar. Dalam kebijakan publik, keberadaan fasilitas sering dianggap cukup jika sudah “tersedia”. Padahal bagi warga lanjut usia, penyandang disabilitas, atau orang dengan mobilitas terbatas, yang menentukan bukan hanya ada atau tidak ada, tetapi dekat atau jauh, mudah atau sulit diakses, nyaman atau tidak, gratis atau membebani. Tiga menit berjalan kaki dalam suhu ekstrem bisa menjadi batas antara fasilitas yang berguna dan fasilitas yang hanya bagus di atas kertas.

Pemerintah Provinsi Gyeongsang Selatan dilaporkan memperpanjang jam operasional tempat berteduh ini hingga pukul 10 malam pada hari kerja, dan membukanya juga di akhir pekan. Kebijakan semacam ini memperlihatkan pemahaman yang lebih matang bahwa panas tidak selalu reda cepat setelah sore tiba. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak kota di dunia mengalami fenomena malam yang tetap panas karena permukaan beton dan aspal menyimpan energi matahari sepanjang hari. Di Indonesia, warga Jakarta, Bekasi, atau Medan juga akrab dengan situasi ketika hawa malam tetap gerah meski matahari sudah lama terbenam. Artinya, perlindungan dari panas tidak bisa dibatasi hanya pada jam kantor.

Konsep shelter panas ini sebenarnya mudah dipahami oleh pembaca Indonesia jika disejajarkan dengan fungsi balai warga, puskesmas, masjid, gereja, aula kelurahan, atau gedung komunitas saat bencana tertentu. Bedanya, di Korea Selatan, ruang-ruang itu diaktivasi secara khusus sebagai tempat berlindung dari suhu ekstrem. Bukan sekadar ruang teduh, tetapi ruang dingin yang bisa dipakai tanpa biaya, dekat dari permukiman, dan terbuka dalam jam yang masuk akal bagi warga. Dalam konteks populasi Korea yang menua cepat, kebijakan ini punya arti strategis. Ia menjadi jembatan antara layanan sosial, tata kota, dan kesehatan masyarakat.

Yang juga menarik, pendekatan ini tidak menempatkan lansia semata sebagai objek yang pasif. Mereka tetap menjalani rutinitasnya, mengurus rumah di pagi hari, lalu menentukan sendiri kapan bergerak ke shelter. Kebijakan publik yang baik justru bekerja ketika ia menopang kemandirian warga, bukan menggantikannya sepenuhnya. Ruang publik yang bisa dipakai secara fleksibel memberi kesempatan kepada orang untuk tetap mempertahankan martabat dan ritme hidupnya, bahkan di tengah cuaca yang makin ekstrem.

Dari Seoul sampai Jeonju, gelombang panas mengubah ritme kota

Dampak cuaca panas pada 2 Agustus itu tidak berhenti di Changwon dan Yangsan. Di Seoul, peringatan panas untuk wilayah barat laut ditingkatkan menjadi peringatan gelombang panas untuk seluruh kota. Pemerintah setempat dikabarkan meningkatkan pengawasan bagi penghuni jjokbang dan warga lansia. Istilah jjokbang merujuk pada hunian sangat kecil yang padat, sering kali dihuni kelompok berpenghasilan rendah. Dalam konteks Indonesia, gambaran paling dekat mungkin adalah kamar-kamar kontrakan sempit atau hunian petak yang ventilasinya terbatas, di mana udara panas mudah terjebak dan akses terhadap pendinginan sangat terbatas.

Respons di Seoul menegaskan bahwa panas ekstrem bukan hanya isu meteorologi, melainkan isu kesejahteraan sosial. Pemerintah kota tidak cukup hanya mengeluarkan imbauan minum air yang cukup atau menghindari aktivitas luar ruang. Mereka juga perlu tahu siapa yang tinggal di ruang paling rentan, siapa yang hidup sendiri, siapa yang kemungkinan tidak punya pendingin memadai, dan siapa yang memerlukan pemantauan aktif. Ini sangat relevan bagi kota-kota besar Indonesia yang juga memiliki kantong hunian padat dan kelompok warga lansia yang tinggal sendirian.

Sementara itu, di Jeonbuk, seluruh wilayah berada dalam status peringatan panas, dengan sejumlah kota mencatat suhu di atas 35 derajat Celsius. Di pusat keramaian seperti Hyoja-dong, Jeonju, jalanan dilaporkan lebih lengang dari biasanya. Ini menunjukkan bagaimana panas menggeser perilaku warga: pertemuan ditunda, aktivitas luar ruang berkurang, dan orang lebih memilih pindah ke ruang berpendingin. Jika pada hari-hari biasa pusat kota menjadi tempat mobilitas dan konsumsi, saat gelombang panas ia bisa berubah menjadi ruang yang dihindari.

Perubahan semacam ini mengingatkan kita pada bagaimana cuaca bisa mengatur ekonomi sehari-hari. Pedagang kaki lima, toko kecil, pekerja pengantaran, petugas kebersihan, dan pekerja informal lainnya termasuk pihak yang paling terkena dampak ketika kota menjadi terlalu panas untuk dilalui. Dalam jangka panjang, ini berarti gelombang panas dapat memengaruhi pendapatan, kesehatan kerja, dan pola konsumsi warga. Dengan kata lain, panas ekstrem bukan cuma persoalan kenyamanan, tetapi juga produktivitas dan keberlangsungan ekonomi urban.

Ada benang merah yang menghubungkan Changwon, Seoul, dan Jeonju. Di semua tempat itu, inti kehidupan kota bergeser dari perluasan aktivitas luar ruang menuju pencarian ruang dalam yang aman, sejuk, dan dekat. Bila selama ini kota modern sering membanggakan kafe, ruang terbuka, trotoar, dan pusat hiburan, maka pada saat suhu melonjak, kebutuhan yang paling mendasar justru menjadi tempat beristirahat yang sederhana tetapi sungguh bisa dipakai.

Pelajaran yang relevan bagi Indonesia: panas, lansia, dan ketimpangan ruang hidup

Bagi Indonesia, cerita dari Korea Selatan seharusnya dibaca bukan sebagai kabar jauh dari negeri empat musim, melainkan sebagai cermin masa depan yang sedang mendekat. Kota-kota Indonesia sudah lebih dahulu akrab dengan panas, tetapi perubahan iklim membuat frekuensi, durasi, dan intensitas cuaca ekstrem menjadi makin sulit diprediksi. Di sisi lain, persoalan hunian padat, rumah dengan ventilasi buruk, akses listrik yang harus dihemat, serta keterbatasan ruang publik yang nyaman juga bukan hal asing bagi masyarakat Indonesia.

Kita bisa membayangkan situasi yang serupa di kampung kota pada musim kemarau panjang: atap seng memantulkan panas, gang sempit minim pohon, udara di dalam rumah terasa seperti terjebak, sementara penghuni lansia memilih menyalakan kipas seperlunya saja demi menghemat biaya. Ini bukan situasi yang identik, tetapi logikanya sama. Ketika daya beli dan kualitas hunian rendah bertemu dengan suhu tinggi, kelompok yang paling lemah akan menanggung beban paling besar.

Indonesia juga sedang memasuki fase ketika isu penuaan penduduk semakin relevan. Jumlah warga lanjut usia terus bertambah, dan itu berarti kebijakan kota tidak bisa lagi berpusat hanya pada mereka yang sehat, produktif, dan mudah bergerak. Pertanyaan seperti “berapa jauh warga harus berjalan untuk mencapai tempat sejuk?”, “apakah ada ruang publik yang aman untuk berteduh?”, “apakah fasilitas buka hingga malam?”, atau “siapa yang memantau lansia yang tinggal sendirian?” menjadi semakin penting. Pengalaman Changwon menunjukkan bahwa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan praktis seperti itu sering kali lebih menentukan keselamatan dibanding sekadar tersedianya alat pendingin di rumah.

Dari sisi budaya, ada satu hal lain yang patut dicatat. Baik di Korea Selatan maupun Indonesia, generasi tua kerap memiliki etos hemat yang kuat. Mereka cenderung tidak mudah menyalakan alat listrik tanpa pertimbangan, bahkan ketika kondisi fisik menuntut. Dalam situasi gelombang panas, kebiasaan hemat ini bisa menjadi pisau bermata dua: di satu sisi menunjukkan daya tahan, di sisi lain bisa meningkatkan risiko kesehatan jika membuat orang menunda pendinginan yang sebenarnya dibutuhkan. Karena itu, intervensi publik harus sensitif terhadap kebiasaan hidup warga, bukan sekadar mengandalkan imbauan umum.

Yang paling dibutuhkan bukan hanya alat pendingin, melainkan ruang yang benar-benar bisa dipakai

Kisah dari Changwon menyisakan satu kesimpulan penting: dalam menghadapi panas ekstrem, keberadaan alat pendingin saja tidak cukup. Yang lebih menentukan adalah apakah warga benar-benar punya akses terhadap ruang yang memungkinkan mereka beristirahat dengan aman. Ruang itu bisa berupa shelter pemerintah, pusat komunitas, balai budaya, perpustakaan lokal, atau fasilitas umum lain yang lokasinya dekat, terbuka cukup lama, dan tidak menuntut biaya.

Sering kali kebijakan publik terjebak pada hitungan yang mudah diukur: berapa banyak unit pendingin tersedia, berapa banyak ruang dibuka, atau berapa anggaran yang sudah diserap. Namun dari sudut pandang warga, yang penting justru pengalaman nyata: apakah ruang tersebut cukup dekat untuk dijangkau kaki yang mulai lemah, apakah petugasnya ramah, apakah orang boleh tinggal beberapa jam tanpa merasa sungkan, dan apakah tempat itu buka pada saat suhu masih menyengat di malam hari. Detail-detail seperti ini tampak kecil, tetapi dalam kondisi ekstrem ia bisa menjadi penentu keselamatan.

Gelombang panas di Korea Selatan pada akhirnya memperlihatkan perubahan besar yang sedang terjadi di kota-kota Asia. Krisis iklim tidak hanya menuntut teknologi dan infrastruktur besar, tetapi juga kebijakan sehari-hari yang cermat, membumi, dan berpihak pada kelompok paling rentan. Tiga menit menuju shelter di Changwon mungkin terdengar remeh bagi orang yang sehat dan muda. Tetapi bagi seorang lansia di tengah suhu mendekati 40 derajat, jarak itu dapat menjadi pembeda antara hari yang tertahankan dan hari yang membahayakan.

Dari sanalah pelajarannya menjadi jelas. Kota yang tangguh terhadap panas bukan semata kota yang punya gedung-gedung modern atau pendingin udara di banyak tempat. Kota yang tangguh adalah kota yang memastikan warganya, termasuk yang miskin, tua, tinggal di rumah lama, atau bergerak lebih lambat, tetap punya tempat untuk singgah dan bernapas. Dalam era suhu yang terus menanjak, ukuran peradaban kota mungkin justru terletak pada seberapa dekat ruang sejuk itu tersedia bagi mereka yang paling membutuhkannya.

Source: Original Korean article - Trendy News Korea

댓글

이 블로그의 인기 게시물

Di Balik Konflik HYBE, ADOR, dan Min Hee-jin: Saat NewJeans Menjadi Pusat Perebutan IP, Kreativitas, dan Kuasa di Industri K-pop

Korban yang Tersisa Lima: Saat Korea Selatan Masuk Fase Penentuan dalam Merawat, Mencatat, dan Mengajarkan Sejarah Jugun Ianfu

Korea Selatan Kalah Tipis dari Austria, tetapi PR Sebenarnya Ada di Sepertiga Akhir: Saat Son Heung-min dan Lee Kang-in Belum Cukup