Program ‘Kurang Manis’ di Seoul Turunkan Konsumsi Camilan Tinggi Gula Anak 19 Persen, Apa Pelajarannya untuk Keluarga Indonesia?

Seoul mencoba mengubah kebiasaan, bukan sekadar memberi larangan
Pemerintah Kota Seoul mengumumkan hasil yang menarik dari program pengelolaan konsumsi gula pada anak-anak yang diberi nama Deol Daldal Wonjeongdae, yang secara longgar bisa dipahami sebagai “Pasukan Ekspedisi Kurang Manis”. Dari survei sebelum dan sesudah program terhadap 13.491 peserta pada tahun lalu, frekuensi konsumsi camilan berkadar gula tinggi pada anak turun 19 persen. Angkanya bergerak dari rata-rata 3,87 kali per minggu menjadi 3,15 kali per minggu, atau berkurang 0,72 kali dalam sepekan.
Sepintas, penurunan kurang dari satu kali seminggu itu mungkin terdengar kecil. Namun dalam dunia kesehatan masyarakat dan pendidikan gizi, perubahan kecil yang terjadi berulang justru kerap menjadi indikator paling penting. Sebab yang diubah bukan satu keputusan sesaat, melainkan pola yang terus muncul dalam rutinitas harian anak: memilih minuman manis, mengambil jajanan kemasan, atau menganggap makanan penutup serba manis sebagai kebiasaan yang wajar.
Dalam konteks itulah hasil dari Seoul layak diperhatikan, termasuk oleh pembaca Indonesia. Kita hidup di tengah budaya jajan yang juga sangat kuat. Anak-anak Indonesia akrab dengan teh manis, minuman berperisa, biskuit, roti manis, permen, cokelat, es krim, sampai aneka jajanan kekinian yang sering dipasarkan dengan warna menarik dan karakter lucu. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, atau Makassar, pilihan camilan manis tersedia di mana-mana: minimarket, kantin sekolah, pusat perbelanjaan, layanan pesan-antar, bahkan di rumah sendiri.
Yang membuat hasil Seoul penting bukan semata karena ada angka penurunan konsumsi, melainkan karena program ini tampak berhasil menyentuh cara anak memandang rasa manis. Dengan kata lain, yang berubah bukan hanya apa yang dimakan, tetapi juga bagaimana anak menilai dan mengendalikan pilihannya. Di tengah kekhawatiran global soal obesitas anak, risiko diabetes, dan kebiasaan makan tinggi gula sejak dini, pendekatan seperti ini terdengar jauh lebih relevan daripada sekadar slogan “jangan makan manis”.
Laporan ini pertama kali disampaikan Seoul pada 3 Agustus 2026, dengan rujukan pemberitaan kantor berita Yonhap. Pemerintah kota bekerja sama dengan Seoul Institute untuk mengevaluasi program yang mulai dijalankan sejak Juli tahun lalu. Tahun ini, jumlah peserta yang ikut disebut mencapai 13.403 anak, menunjukkan program tersebut bukan kegiatan simbolik satu kali, melainkan upaya berkelanjutan.
Yang berubah bukan cuma frekuensi makan, tetapi juga sikap anak terhadap gula
Data paling menonjol dari evaluasi itu adalah berkurangnya frekuensi konsumsi camilan tinggi gula dari 3,87 kali menjadi 3,15 kali per minggu. Tetapi angka lain justru memberi gambaran yang lebih dalam mengenai perubahan perilaku. Sebelum program, hanya 27 persen anak yang menjawab bahwa mereka berusaha untuk tidak makan camilan berkadar gula tinggi. Setelah program, angkanya melonjak menjadi 51,6 persen. Itu berarti ada kenaikan 24,6 poin persentase pada niat pengendalian diri.
Pada saat yang sama, persentase anak yang mengatakan mereka menyukai makanan manis turun dari 71,8 persen menjadi 63,1 persen. Adapun anak yang merasa dirinya “biasanya makan manis” juga turun dari 43,3 persen menjadi 34,4 persen. Tiga indikator itu bergerak ke arah yang sama: preferensi terhadap manis menurun, kesadaran atas kebiasaan makan membaik, dan kemauan untuk menghindari camilan tinggi gula meningkat.
Ini penting untuk dipahami. Dalam pendidikan gizi, ada perbedaan besar antara membuat anak “tidak suka manis” dan membantu anak “tetap bisa memilih lebih baik meski masih suka manis”. Hasil dari Seoul memperlihatkan bahwa preferensi rasa tidak harus hilang sepenuhnya agar perilaku berubah. Setelah program pun, 63,1 persen anak masih mengatakan mereka menyukai makanan manis. Namun lebih dari separuh menyatakan mereka sudah berusaha menghindari camilan tinggi gula.
Dari sudut pandang perilaku, temuan ini lebih realistis daripada pendekatan yang terlalu hitam-putih. Anak-anak tidak hidup dalam ruang steril. Mereka tetap akan melihat iklan minuman, diajak teman membeli jajanan, merayakan ulang tahun dengan kue, atau menikmati momen liburan dengan dessert. Karena itu, target yang masuk akal bukan menghapus rasa suka terhadap manis dalam semalam, melainkan membangun kemampuan memilih: kapan boleh, seberapa sering, dan alternatif apa yang lebih baik.
Di Indonesia, logika yang sama sangat relevan. Anak bisa saja tetap menyukai es teh manis atau biskuit cokelat, tetapi frekuensi konsumsinya dapat dikurangi. Mereka juga bisa dilatih untuk memahami bahwa tidak semua camilan harus terasa “nendang” di lidah. Bila biasanya setiap pulang sekolah membeli minuman manis dalam kemasan, misalnya, perubahan kecil berupa mengganti satu atau dua hari dengan air putih, susu tanpa tambahan gula berlebih, atau buah potong, secara akumulatif bisa berarti besar.
Mengapa intervensi pada usia sekolah dasar dianggap krusial
Seoul menjalankan program ini dengan fokus pada anak usia sekolah dasar. Alasannya sederhana tetapi sangat mendasar: kebiasaan makan terbentuk kuat pada fase awal kehidupan. Apa yang dianggap “normal” oleh anak hari ini berpotensi menetap hingga remaja, bahkan dewasa. Bila sejak kecil mereka terbiasa menganggap camilan manis sebagai hadiah harian, maka tubuh dan preferensi lidah mereka akan terus menyesuaikan dengan standar rasa yang semakin tinggi.
Nama program “kurang manis” juga menarik karena nadanya tidak menghakimi. Dalam banyak budaya Asia, termasuk Korea Selatan dan Indonesia, makanan bukan sekadar urusan gizi, melainkan juga kenyamanan, kebersamaan, dan kasih sayang. Orang tua atau kakek-nenek sering menunjukkan perhatian lewat makanan. Di Indonesia, kita akrab dengan ungkapan seperti “belum makan kalau belum manis sedikit” atau kebiasaan menyediakan teh manis untuk tamu dan anak-anak. Maka jika pendidikan gizi datang dengan nada melarang total, resistensinya justru lebih besar.
Pendekatan Seoul tampaknya memilih jalan tengah: bukan “anti manis”, melainkan “sedikit kurang manis”. Dari sisi komunikasi publik, ini cerdas. Anak tidak diposisikan sebagai pihak yang harus dihukum karena suka camilan, melainkan sebagai subjek yang mampu mengambil keputusan lebih baik. Bukan kebetulan bila kenaikan terbesar justru muncul pada indikator usaha menghindari camilan tinggi gula. Artinya, program ini kemungkinan besar berhasil menanamkan rasa memiliki terhadap keputusan makan.
Dalam ilmu perilaku, perubahan kebiasaan biasanya melewati dua tahap. Pertama, seseorang menyadari pola lama yang selama ini berjalan otomatis. Kedua, ia mencoba memilih respons baru ketika situasi serupa datang lagi. Jika anak mulai sadar bahwa dirinya “sering makan terlalu manis”, lalu mulai mencoba menolak atau mengurangi camilan tertentu, itu berarti dua tahap tadi sedang berlangsung. Penurunan pada indikator “biasanya makan manis” dari 43,3 persen menjadi 34,4 persen menunjukkan adanya pergeseran persepsi diri, bukan hanya hafalan materi kelas.
Pada titik ini, pelajaran untuk Indonesia cukup jelas. Kampanye gizi bagi anak tidak cukup berhenti pada poster di puskesmas atau nasihat generik bahwa “gula itu tidak baik kalau kebanyakan”. Yang lebih penting adalah bagaimana membuat anak mengenali kebiasaannya sendiri. Misalnya, seberapa sering mereka membeli minuman manis seminggu? Apakah setiap belajar harus ditemani snack manis? Apakah semua bekal sekolah identik dengan makanan ultra-proses? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu jauh lebih membumi daripada ceramah panjang yang sulit diterjemahkan ke tindakan sehari-hari.
Angka 0,72 kali per minggu memang tampak kecil, tetapi dampaknya bisa nyata
Dalam pemberitaan data kesehatan, publik kadang terjebak pada godaan angka besar. Kalau penurunannya tidak sampai setengah atau tidak drastis, hasilnya dianggap kurang penting. Padahal, pada kebiasaan makan anak, perubahan kecil yang konsisten sering lebih berharga daripada target ambisius yang tidak bertahan lama.
Penurunan 0,72 kali per minggu berarti ada satu momen dalam seminggu ketika anak lebih jarang memilih camilan tinggi gula. Dalam satu bulan, itu menjadi sekitar tiga kali lebih sedikit. Dalam satu tahun ajaran, dampaknya bisa jauh lebih terasa, terutama bila pilihan itu digantikan dengan camilan yang lebih seimbang. Dari sudut kebijakan, ini memperlihatkan bahwa pesan pendidikan yang diberikan di sekolah atau ruang belajar memang berhasil menembus perilaku nyata, bukan hanya menambah pengetahuan teoretis.
Tentu, hasil ini tetap perlu dibaca hati-hati. Evaluasi didasarkan pada survei sebelum dan sesudah program, dengan jawaban yang diberikan sendiri oleh peserta. Artinya, data tersebut bukan pengukuran laboratorium atau pencatatan asupan makanan secara rinci. Selalu ada kemungkinan bias ingatan atau keinginan untuk memberi jawaban yang dianggap “baik”. Karena itu, tidak tepat jika menyimpulkan bahwa seluruh penurunan 19 persen semata-mata disebabkan oleh program tanpa faktor lain.
Namun keterbatasan metodologis itu tidak menghapus maknanya. Yang membuat hasil ini kuat adalah beberapa indikator menunjukkan perbaikan serempak. Bukan hanya frekuensi konsumsi yang turun, tetapi juga preferensi, persepsi kebiasaan makan, dan niat menghindari camilan tinggi gula. Ketika beberapa indikator bergerak ke arah sama, kecil kemungkinan semuanya terjadi secara kebetulan belaka.
Bagi pembaca Indonesia, ini serupa dengan situasi ketika sekolah berhasil membuat siswa mengurangi jajan gorengan atau minuman kemasan, bukan dengan melarang total, tetapi dengan menata pilihan di kantin dan mengajak anak mencatat kebiasaan jajan mereka sendiri. Angka kecil dalam laporan bisa jadi merepresentasikan perubahan besar di lapangan: satu anak batal membeli minuman boba tambahan, satu anak memilih roti tanpa krim berlebih, atau satu keluarga mulai membatasi stok permen di rumah. Dalam isu kesehatan publik, perubahan mikro seperti inilah yang sering menentukan arah jangka panjang.
Apa yang bisa dipetik Indonesia dari pengalaman Seoul
Indonesia tentu punya konteks berbeda dengan Korea Selatan, baik dari jenis makanan, pola keluarga, sampai tantangan ekonomi. Namun persoalan dasarnya mirip: anak-anak hidup di lingkungan yang memudahkan konsumsi gula berlebih. Di perkotaan, minuman manis murah dan mudah diakses. Di media sosial, promosi dessert dan minuman viral nyaris tidak ada habisnya. Di sekolah, jajanan dengan rasa manis atau gurih kuat sering lebih menarik daripada pilihan yang lebih sehat.
Karena itu, pelajaran terbesar dari Seoul bukan menyalin mentah-mentah nama programnya, melainkan memahami prinsipnya. Pertama, fokus pada frekuensi, bukan kesempurnaan. Banyak orang tua gagal karena menetapkan target terlalu tinggi: anak tidak boleh makan manis sama sekali. Padahal target yang lebih realistis adalah mengurangi intensitas. Jika sebelumnya anak membeli minuman manis lima kali seminggu, turunkan dulu menjadi tiga kali, lalu dua kali. Prinsip “sedikit demi sedikit” justru lebih mudah dijalankan.
Kedua, ajarkan kemampuan memilih. Anak perlu tahu bahwa semua camilan tidak setara. Ada perbedaan antara buah segar dan permen, antara yoghurt dengan gula tinggi dan yoghurt plain, antara roti sederhana dan pastry dengan isian sangat manis, antara air putih dan minuman teh rasa buah dengan kadar gula besar. Dalam budaya Indonesia yang kaya jajanan, pendidikan soal “membaca pilihan” jauh lebih penting daripada sekadar daftar larangan.
Ketiga, libatkan sekolah dan keluarga secara bersamaan. Program seperti ini sulit berhasil jika hanya dibebankan pada satu pihak. Sekolah bisa memberi edukasi dan mengatur lingkungan kantin, tetapi jika rumah selalu penuh stok minuman manis dan camilan tinggi gula, pesan yang diterima anak menjadi bertabrakan. Sebaliknya, orang tua yang berusaha keras di rumah akan kewalahan jika lingkungan sekolah dan pergaulan sehari-hari justru mendorong konsumsi berlebih.
Keempat, gunakan bahasa yang tidak mempermalukan anak. Banyak kampanye gizi gagal karena terlalu moralistik. Anak dibuat merasa bersalah setiap kali ingin makanan manis, padahal rasa suka itu sendiri adalah hal yang manusiawi. Pendekatan yang lebih efektif adalah mengajarkan kendali diri tanpa rasa takut. Dalam hal ini, istilah “kurang manis” terasa lebih membumi daripada “stop total”. Untuk konteks Indonesia, pesan seperti “pilih yang lebih seimbang”, “kurangi frekuensi”, atau “jajan cerdas” mungkin akan lebih mudah diterima.
Kelima, ukur perubahan secara konkret. Seoul tidak berhenti pada slogan, tetapi menanyakan indikator spesifik: berapa kali konsumsi per minggu, apakah anak suka makanan manis, apakah merasa makan terlalu manis, dan apakah berusaha menghindari camilan tinggi gula. Model pengukuran seperti ini patut dicontoh. Indonesia juga memerlukan evaluasi yang tidak hanya berbunyi “edukasi telah dilaksanakan”, tetapi benar-benar melihat apakah perilaku anak berubah.
Tantangan berikutnya: menjaga perubahan agar tidak berhenti sebagai proyek sesaat
Pemerintah Kota Seoul menyebut jumlah peserta tahun ini mencapai 13.403 anak, hampir setara dengan 13.491 peserta yang dievaluasi pada tahun sebelumnya. Ini menunjukkan skala program cukup besar dan berkesinambungan. Namun pertanyaan berikutnya justru lebih penting: apakah perubahan itu bisa dipertahankan dalam jangka panjang?
Dalam banyak program kesehatan, tantangan terbesar bukan memulai perubahan, melainkan menjaganya. Anak bisa saja menunjukkan respons positif selama program berlangsung, tetapi kebiasaan lama kembali muncul ketika pendampingan melemah. Karena itu, evaluasi tahap berikutnya seharusnya tidak hanya menyoroti jumlah peserta, melainkan kestabilan hasil: apakah frekuensi konsumsi camilan tinggi gula tetap rendah, apakah niat menghindari produk tinggi gula benar-benar bertahan, dan apakah lingkungan sekitar ikut berubah mendukung.
Hal ini juga relevan untuk Indonesia. Kita sering punya banyak program edukasi yang semarak di awal, lengkap dengan poster, seminar, atau kegiatan tematik, tetapi dampak perilakunya kurang terukur setelah beberapa bulan. Padahal, kebiasaan makan adalah urusan jangka panjang. Dibutuhkan konsistensi pesan, teladan dari orang dewasa, serta perubahan lingkungan yang memudahkan pilihan sehat. Anak akan lebih mudah mengurangi gula jika air minum mudah tersedia, buah lebih sering disajikan, porsi pencuci mulut tidak berlebihan, dan camilan rumah tidak selalu identik dengan gula tinggi.
Pengalaman Seoul juga mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan gizi tidak harus diukur dari hilangnya kesukaan anak pada rasa manis. Itu target yang terlalu abstrak dan sulit. Yang lebih realistis adalah melihat apakah anak bisa tetap hidup di tengah godaan tanpa selalu menyerah padanya. Dalam dunia yang dipenuhi produk ultra-manis dan pemasaran agresif, kemampuan mengelola pilihan justru menjadi keterampilan hidup yang penting.
Pada akhirnya, cerita dari Seoul ini bukan sekadar kabar lokal Korea Selatan. Ia berbicara tentang masalah yang akrab di banyak keluarga Asia, termasuk Indonesia: bagaimana membesarkan anak di tengah budaya makan yang makin dipengaruhi makanan olahan, tren minuman manis, dan logika serba praktis. Hasil penurunan 19 persen mungkin bukan revolusi besar dalam semalam, tetapi ia menunjukkan sesuatu yang sering dicari para orang tua dan pembuat kebijakan: perubahan itu mungkin terjadi, selama pendekatannya tidak hanya menyuruh, tetapi membantu anak belajar memilih.
Untuk keluarga Indonesia, pesannya sederhana namun penting. Tidak semua makanan manis harus dimusuhi, tetapi kebiasaan mengonsumsinya perlu disadari, dihitung, lalu dikurangi perlahan. Jika Seoul bisa memulai dari satu langkah kecil per minggu dan melihat perubahan sikap sekaligus perilaku, maka rumah-rumah di Indonesia pun sesungguhnya bisa melakukan hal serupa—mulai dari meja makan, bekal sekolah, dan pilihan jajanan sehari-hari.
댓글
댓글 쓰기