Jeong Yak-yong: Saat Gagasan Pembaruan Korea Lahir dari Kepedulian pada Rakyat Kecil

Gambar untuk membantu memahami artikel
Tokoh besar Korea yang lahir dari persimpangan sungai dan gagasan
Dalam sejarah Korea, nama Jeong Yak-yong kerap muncul sejajar dengan gagasan pembaruan, keberanian intelektual, dan perhatian yang konkret pada kehidupan rakyat. Ia bukan sekadar cendekiawan klasik yang menulis dari balik meja, melainkan seorang pejabat, pemikir, penyair, dan penulis yang berusaha menghubungkan ilmu dengan masalah riil masyarakat. Bagi pembaca Indonesia, sosok seperti ini mungkin mengingatkan pada tradisi intelektual Nusantara ketika ilmu tidak berhenti pada kitab, tetapi turun menjadi etika pemerintahan, kritik sosial, hingga ikhtiar menyejahterakan rakyat. Itulah mengapa Jeong Yak-yong, yang juga dikenal luas dengan nama penanya Dasan, tetap relevan dibicarakan sampai sekarang.
Jeong Yak-yong lahir pada 5 Agustus 1762 di daerah Majae, wilayah yang kini termasuk Namyangju, Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan. Tempat kelahirannya berada di kawasan yang dikenal sebagai Dumulmeori, titik pertemuan dua aliran besar, yakni Sungai Bukhan dan Sungai Namhan, yang kemudian menyatu menjadi aliran besar menuju wilayah lain. Dalam tradisi peliputan budaya Korea, lanskap seperti ini sering dipandang bukan sekadar latar geografis, melainkan juga simbol. Pada diri Jeong Yak-yong, simbol itu terasa tepat: ia lahir di tempat dua sungai bertemu, dan sepanjang hidupnya berusaha mempertemukan dua arus besar pula, yaitu ilmu pengetahuan dan kehidupan rakyat.
Kawasan tempat kelahirannya hari ini juga menjadi situs penting sejarah pemikiran Korea. Di sana terdapat bekas rumah kelahiran, museum Silhak atau “pembelajaran praktis”, serta jejak-jejak yang mengingatkan publik Korea bahwa modernitas intelektual mereka tidak datang begitu saja dari abad ke-20, tetapi sudah dirintis sejak era Joseon. Bagi pembaca Indonesia yang akrab dengan wisata sejarah seperti kompleks keraton, museum perjuangan, atau situs rumah tokoh pergerakan nasional, kawasan Jeong Yak-yong bisa dipahami sebagai ruang memori yang merawat hubungan antara tempat, gagasan, dan identitas bangsa.
Yang membuat Jeong Yak-yong istimewa bukan hanya kedalaman ilmunya, melainkan juga caranya memaknai ilmu itu sendiri. Di tengah sistem kerajaan Joseon yang sangat menjunjung ortodoksi Konfusianisme, ia tampil sebagai pemikir yang menuntut agar ilmu tidak berhenti pada perdebatan teks. Ilmu, baginya, harus menjawab soal pajak, administrasi, kesehatan, infrastruktur, dan nasib rakyat jelata. Dengan kata lain, ia mewakili arus pemikiran yang dalam konteks Korea disebut Silhak.
Apa itu Silhak, dan mengapa penting dipahami pembaca Indonesia
Silhak secara harfiah berarti “pembelajaran praktis”. Dalam sejarah Korea, istilah ini merujuk pada kecenderungan pemikiran pada akhir era Joseon yang menekankan kegunaan nyata ilmu pengetahuan bagi masyarakat. Jika disederhanakan, Silhak adalah kritik terhadap kecenderungan intelektual yang terlalu terjebak pada hafalan teks dan perdebatan normatif, tetapi jauh dari persoalan petani, sistem tanah, perpajakan, teknik bangunan, hingga tata kelola pemerintahan.
Bagi pembaca Indonesia, konsep ini bisa didekatkan dengan perdebatan yang juga akrab di sini: apa gunanya pendidikan tinggi kalau tidak menyentuh kehidupan warga? Apa artinya kecanggihan teori jika petani tetap tertekan, birokrasi tetap korup, dan layanan publik tidak membaik? Dalam arti tertentu, Silhak menghadirkan semangat yang mirip dengan dorongan agar kebijakan berbasis pengetahuan benar-benar berpihak pada masyarakat bawah, bukan sekadar menjadi slogan elite.
Jeong Yak-yong dianggap sebagai salah satu tokoh terpenting dalam tradisi ini. Ia tidak memandang reformasi sebagai hal abstrak. Ia menghubungkannya langsung dengan cara negara memperlakukan rakyat. Karena itu, ketika menulis atau bertugas di pemerintahan, fokusnya bukan hanya pada legitimasi kekuasaan, melainkan pada apakah sistem itu menghasilkan keadilan. Inilah inti yang membuatnya terus dipelajari di Korea modern: ia adalah contoh intelektual yang tidak memisahkan etika, administrasi, dan kesejahteraan rakyat.
Silhak sendiri lahir dari konteks sosial-politik yang kompleks. Pada masa Joseon akhir, pertikaian faksi politik, ketimpangan sosial, dan perubahan pengetahuan global mendorong sebagian sarjana untuk bertanya ulang tentang fungsi negara. Jeong Yak-yong tumbuh dalam dunia seperti itu. Ia mewarisi tradisi keluarga terpelajar, tetapi sekaligus menyaksikan bahwa status sosial dan jabatan dapat dengan mudah terseret konflik politik. Dari situ lahir pemikiran yang lebih membumi dan waspada terhadap kekuasaan yang tidak dikendalikan oleh prinsip moral.
Lahir dari keluarga cendekia, tetapi ditempa oleh pergolakan zaman
Jeong Yak-yong berasal dari keluarga yang memiliki tradisi panjang dalam dunia ilmu dan birokrasi. Dalam struktur masyarakat Joseon, latar belakang keluarga seperti ini penting karena menentukan akses pada pendidikan, jaringan intelektual, dan peluang karier pemerintahan. Leluhurnya dikenal aktif mengabdi sebagai pejabat dan banyak yang tercatat di lembaga-lembaga prestisius kerajaan. Dalam bahasa sekarang, ia lahir dari keluarga elite intelektual yang memiliki modal budaya sangat besar.
Namun kisah hidupnya tidak sesederhana cerita tentang anak bangsawan yang mulus meniti karier. Tahun kelahirannya bertepatan dengan salah satu peristiwa paling mengguncang di istana Joseon, yakni kematian Putra Mahkota Sado setelah dikurung dalam peti beras atas kemurkaan Raja Yeongjo. Peristiwa itu meninggalkan trauma politik yang dalam bagi zaman tersebut. Ayah Jeong Yak-yong, Jeong Jae-won, memilih menjauh dari pusaran perebutan pengaruh dan kembali ke kampung halaman. Bahkan, nama masa kecil Jeong Yak-yong, “Gwinong” atau “kembali bertani”, mengandung pesan yang sangat jelas: jangan tergoda ambisi kekuasaan sampai hancur karena pertikaian politik, lebih baik kembali pada kehidupan yang lurus dan sederhana.
Pesan dari ayahnya itu terasa penting bila kita melihat sejarah politik Joseon yang kerap dikuasai pertarungan antar faksi. Pembaca Indonesia tentu juga tidak asing dengan kenyataan bahwa politik bisa menjadi arena idealisme sekaligus jebakan. Dalam konteks Korea abad ke-18, kesadaran akan bahaya politik faksional inilah yang membentuk karakter Jeong Yak-yong: dekat dengan negara, tetapi tidak buta terhadap kerusakan yang bisa ditimbulkannya.
Meski berasal dari keluarga cendekia, jalur belajarnya tidak sepenuhnya formal dan lurus. Ia tidak dikenal memiliki satu guru tetap yang membimbing seluruh perkembangan intelektualnya. Sebaliknya, banyak pengetahuannya dibentuk lewat belajar mandiri, mengikuti ayahnya berpindah tugas, membaca luas, dan menyerap pengaruh dari berbagai perjumpaan penting. Di masa kecil, ia sudah memperlihatkan kecerdasan luar biasa. Disebutkan bahwa ia belajar aksara dasar pada usia empat tahun, menulis puisi pada usia tujuh tahun, dan sebelum usia sepuluh tahun telah menghasilkan tulisan dalam jumlah yang sangat banyak.
Ada pula kisah yang menarik tentang pengalaman sakit cacar pada masa kecil. Luka bekas penyakit itu membuat penampilannya khas dan menjadi asal julukan masa kecilnya. Namun yang lebih penting, pengalaman diselamatkan oleh seorang tabib ternama kelak memengaruhi minatnya pada pengetahuan medis. Dari pengalaman pribadi itu, ia tidak berhenti pada rasa syukur atau kenangan emosional, melainkan mengubahnya menjadi kerja intelektual. Ia kemudian menulis karya tentang penanganan campak yang disebut membantu banyak orang di Korea sebelum masuknya kedokteran modern. Di sini terlihat pola yang konsisten dalam hidupnya: pengalaman konkret diolah menjadi pengetahuan yang berguna bagi orang banyak.
Dari ruang belajar ke istana: ketika kecerdasan menarik perhatian Raja Jeongjo
Masa muda Jeong Yak-yong berlangsung dalam lintasan yang cepat. Setelah menikah, ia makin sering berhubungan dengan kalangan intelektual di Seoul. Di sanalah ia bersentuhan dengan pemikiran dari lingkaran sarjana yang mewarisi ajaran Seongho Yi Ik, salah satu figur penting dalam perkembangan Silhak. Perjumpaan dengan tokoh-tokoh seperti Yi Ga-hwan dan Yi Seung-hun menjadi titik penting yang memperluas cakrawala pemikirannya. Dari sini, Jeong Yak-yong semakin matang sebagai pemikir yang tidak puas pada ortodoksi lama.
Puncak pengakuan formal datang ketika ia berhasil melewati berbagai ujian negara dan masuk ke Seonggyungwan, lembaga pendidikan tertinggi pada masa Joseon. Seonggyungwan bisa dipahami sebagai gabungan antara pusat studi elite, sekolah calon pejabat, dan simbol prestise intelektual kerajaan. Prestasi Jeong Yak-yong di sana sangat menonjol. Ia berkali-kali meraih nilai tinggi, memperoleh hadiah berupa buku, kertas, dan kuas, serta akhirnya menarik perhatian Raja Jeongjo.
Dalam sejarah Korea, Raja Jeongjo dikenal sebagai penguasa yang cukup progresif dan memberi ruang bagi sarjana berbakat. Hubungan antara Jeong Yak-yong dan Raja Jeongjo kemudian menjadi salah satu bab terpenting dalam kariernya. Setelah lulus ujian tinggi negara pada usia 27 tahun, Jeong Yak-yong memasuki dunia birokrasi dengan dukungan raja. Ia bertugas di Gyujanggak, lembaga kerajaan yang berfungsi sebagai perpustakaan, pusat penelitian, sekaligus ruang lahirnya ide-ide reformasi.
Yang menarik, peran Jeong Yak-yong di lingkungan kerajaan tidak berhenti pada urusan naskah, arsip, atau filsafat pemerintahan. Ia ikut terlibat dalam proyek-proyek teknik dan pembangunan. Ia ambil bagian dalam pembuatan jembatan perahu di Sungai Han, dan pada 1791 terlibat dalam perencanaan Benteng Hwaseong di Suwon, termasuk pemanfaatan alat angkat berat yang dikenal sebagai geojunggi. Bagi pembaca Indonesia, bagian ini penting karena menunjukkan bahwa intelektual dalam tradisi Korea tidak selalu dibatasi pada karya tulis. Jeong Yak-yong adalah contoh bagaimana sarjana klasik juga bisa berpikir teknis, administratif, dan sangat praktis.
Dalam bahasa yang lebih kekinian, ia adalah gabungan antara pemikir kebijakan, teknokrat, penulis, dan pejabat publik. Itu pula yang membuat namanya tidak tenggelam di antara sekian banyak sarjana Joseon. Ia menunjukkan bahwa negara yang baik memerlukan orang-orang yang mampu menjembatani teori dan pelaksanaan. Ketika hari ini publik Indonesia sering membicarakan pentingnya kebijakan berbasis data, infrastruktur yang berpihak pada warga, atau reformasi birokrasi yang tidak berhenti pada slogan, jejak Jeong Yak-yong terasa sangat modern.
Pejabat yang mau mendengar rakyat, bukan hanya menghukum
Salah satu episode yang paling kuat menggambarkan karakter Jeong Yak-yong adalah ketika ia menjalankan tugas sebagai amhaengeosa, atau inspektur rahasia kerajaan. Jabatan ini dalam budaya populer Korea sering muncul dalam drama sageuk dan kerap diterjemahkan secara longgar sebagai “utusan rahasia raja”. Tugasnya adalah menyamar atau bergerak tanpa banyak diketahui publik untuk memeriksa kondisi pemerintahan daerah, mengungkap korupsi pejabat lokal, dan melaporkan keadaan rakyat secara langsung ke pusat kekuasaan.
Bagi pembaca Indonesia, fungsi ini bisa dibayangkan sebagai gabungan antara auditor, pengawas internal, ombudsman, dan utusan khusus penguasa. Namun dalam praktik sejarah Korea, jabatan ini juga sarat simbol: negara ideal seharusnya punya mata dan telinga yang bisa menembus laporan-laporan manis para pejabat daerah. Jeong Yak-yong menjalankan peran ini pada 1794 saat memeriksa daerah seperti Yeoncheon dan Saknyeong.
Pengalaman lapangan seperti itu penting dalam pembentukan pandangannya tentang negara. Ia tidak hanya membaca tentang rakyat dari dokumen, tetapi melihat langsung bagaimana administrasi bekerja di daerah. Hal yang lebih mencolok terjadi ketika ia kemudian bertugas sebelum menjadi kepala daerah di Goksan. Saat itu, seorang buruh tani bernama Yi Gye-sim melakukan perlawanan terhadap sistem pajak dan membawa langsung belasan poin keluhan yang mengancam hak hidup rakyat. Dalam logika pemerintahan feodal, tindakan seperti itu bisa dengan mudah dianggap pembangkangan dan berujung hukuman.
Namun Jeong Yak-yong tidak memilih jalan represif. Ia tidak menghukum Yi Gye-sim. Sebaliknya, ia memandang keberanian orang tersebut sebagai suara yang patut didengar. Ia bahkan menyampaikan gagasan bahwa orang yang berani memprotes korupsi pejabat seharusnya dihargai. Sikap ini sangat penting karena menunjukkan cara berpikirnya: hukum dan kewibawaan negara tidak boleh dipakai untuk membungkam penderitaan rakyat. Jika pajak, aturan, atau pejabat justru menginjak kehidupan warga, maka masalahnya bukan pada rakyat yang bersuara, melainkan pada sistem yang menyimpang.
Episode ini terasa sangat dekat dengan sensibilitas pembaca Indonesia masa kini. Di tengah banyak perdebatan tentang akses warga terhadap keadilan, keberanian pelapor pelanggaran, hingga nasib orang kecil yang berhadapan dengan birokrasi, sikap Jeong Yak-yong tampak melampaui zamannya. Ia memahami bahwa mendengar rakyat bukan kelemahan pemerintah, melainkan dasar legitimasi moral sebuah pemerintahan. Di sinilah tampak mengapa ia dikenang bukan sekadar sebagai pejabat pintar, tetapi sebagai pejabat yang berupaya adil.
Berhadapan dengan arus baru, tuduhan, dan penganiayaan politik
Kehidupan Jeong Yak-yong tidak pernah steril dari kontroversi. Seperti banyak intelektual besar dalam sejarah, ia hidup pada masa ketika arus pengetahuan baru membawa inspirasi sekaligus risiko. Dalam pergaulannya dengan kalangan sarjana Seongho, ia juga bersentuhan dengan apa yang pada masa itu disebut Seohak, atau “pembelajaran Barat”. Di dalamnya termasuk pengetahuan baru dan ajaran Katolik yang mulai masuk ke Korea. Bagi tatanan Joseon yang sangat ketat menjaga ritus dan ortodoksi, hal ini menjadi sumber kecurigaan besar.
Jeong Yak-yong diketahui berinteraksi dengan tokoh-tokoh yang tertarik pada Katolik dan literatur Barat. Dalam sejarah Korea, perjumpaan dengan ajaran ini bukan semata perkara agama, tetapi juga pertemuan dengan cara berpikir baru tentang manusia, moralitas, dan dunia. Karena itu, isu tersebut segera berkelindan dengan pertarungan politik. Tuduhan terhadap seseorang sering kali tidak murni soal keyakinan, melainkan terkait faksi, kedekatan dengan kekuasaan, dan perebutan pengaruh di istana.
Jeong Yak-yong beberapa kali menjadi sasaran fitnah dan penurunan jabatan. Pada masa penganiayaan terhadap penganut Katolik, ia ikut terseret. Ini memperlihatkan rapuhnya posisi seorang reformis di dalam sistem lama: ketika didukung raja, gagasannya dihargai; tetapi ketika angin politik berubah, riwayat pergaulan dan pandangan intelektualnya dapat menjadi alasan untuk menjatuhkannya. Apalagi setelah Raja Jeongjo wafat pada 1800, tatanan politik yang selama ini menjadi pelindungnya berubah drastis.
Bagi pembaca Indonesia, dinamika ini terasa akrab dalam satu hal: ide pembaruan kerap bergantung pada konfigurasi kekuasaan. Ketika patron politik berubah, nasib para pemikir dan teknokrat pun dapat berbalik. Jeong Yak-yong mengalami langsung bagaimana seorang pejabat yang pernah dipercaya negara bisa tiba-tiba terpojok karena perubahan situasi. Namun justru dalam tekanan itulah warisannya sebagai sarjana menjadi semakin penting. Ia menunjukkan bahwa integritas intelektual tidak selalu lahir dari posisi aman, melainkan sering diuji justru saat perlindungan politik hilang.
Mengapa Jeong Yak-yong masih relevan bagi Indonesia hari ini
Jeong Yak-yong bukan tokoh yang dikenang hanya karena masa lalunya megah. Ia tetap relevan karena pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan masih hidup sampai sekarang: untuk siapa negara bekerja, bagaimana pejabat seharusnya mendengar rakyat, dan apa gunanya ilmu jika tidak memperbaiki hidup orang banyak. Dalam konteks Indonesia, pertanyaan ini terasa sangat dekat. Kita hidup di negara yang juga terus memperdebatkan hubungan antara pengetahuan, birokrasi, dan keadilan sosial.
Ketika publik Indonesia menuntut layanan kesehatan yang lebih merata, reformasi pajak yang adil, pembangunan infrastruktur yang tidak meninggalkan desa, atau birokrasi yang lebih akuntabel, semangat yang diusung Jeong Yak-yong terasa seperti gema dari masa lalu yang belum usang. Ia mengingatkan bahwa modernitas tidak selalu berarti meniru Barat mentah-mentah atau memutus hubungan dengan tradisi. Yang lebih penting adalah keberanian membaca tradisi secara kritis dan mengarahkannya untuk menyelesaikan persoalan konkret masyarakat.
Itulah sebabnya Jeong Yak-yong sering dipandang sebagai salah satu jembatan menuju Korea modern. Ia hidup jauh sebelum Korea menjadi negara industri maju seperti sekarang, tetapi benih yang ia tanam jelas: negara harus efisien, pejabat harus bermoral, ilmu harus berguna, dan rakyat harus menjadi ukuran utama kebijakan. Prinsip-prinsip ini terdengar sangat kontemporer, bahkan dalam percakapan publik Asia Timur hari ini.
Di Indonesia, ketertarikan pada Korea sering berhenti pada gelombang budaya populer seperti drama, musik, kuliner, atau fesyen. Padahal, di balik Hallyu modern ada lapisan sejarah intelektual yang tak kalah menarik. Memahami tokoh seperti Jeong Yak-yong membantu pembaca melihat Korea bukan hanya sebagai produsen hiburan global, tetapi juga sebagai peradaban yang sejak lama bergulat dengan soal reformasi, moralitas pejabat, dan kesejahteraan rakyat. Ini memberi kedalaman pada cara kita memandang Korea, sekaligus membuka cermin untuk menilai diri sendiri.
Pada akhirnya, warisan terbesar Jeong Yak-yong mungkin terletak pada satu keyakinan sederhana tetapi sulit diwujudkan: ilmu harus berpihak pada kehidupan. Di dunia yang sering memisahkan akademisi dari warga, pejabat dari realitas, dan pembangunan dari keadilan, pesan itu terasa sangat tajam. Dari tepian dua sungai di Majae, seorang sarjana Joseon pernah menunjukkan bahwa pembaruan besar bisa bermula dari keberanian untuk bertanya apakah rakyat sungguh-sungguh merasakan manfaat dari negara. Pertanyaan itu, lebih dari dua abad kemudian, masih patut kita ajukan di mana-mana, termasuk di Indonesia.
댓글
댓글 쓰기