Dari Ruang Ujian Kerajaan ke Panggung Dunia: Jejak Lee Sang-seol dan Diplomasi Korea yang Menantang Jepang di Den Haag

Gambar untuk membantu memahami artikel
Tokoh yang lahir dari tradisi, tetapi berpikir melampaui zamannya
Nama Lee Sang-seol mungkin belum seakrab tokoh-tokoh besar lain dalam sejarah modern Korea di telinga pembaca Indonesia. Namun, jika kita menelusuri perjalanan Korea menuju kemerdekaan dan kedaulatan modern, sosok ini menempati posisi yang sangat penting. Ia bukan hanya pejabat kerajaan atau cendekiawan biasa, melainkan figur yang berdiri di persimpangan zaman: lahir dari tradisi Dinasti Joseon, meniti karier lewat jalur klasik birokrasi, tetapi kemudian mengubah dirinya menjadi diplomat perlawanan dan aktivis kemerdekaan di pengasingan.
Lee Sang-seol lahir pada 1870 di wilayah yang kini termasuk Jincheon, Chungcheongbuk-do. Ia dikenal dengan nama pena Bojae. Dalam struktur sosial Korea masa itu, jalan menuju kekuasaan dan pengaruh sangat ditentukan oleh pendidikan klasik dan keberhasilan melewati ujian negara. Lee menempuh jalur itu dengan cemerlang. Pada 1894, ia lulus ujian tingkat tertinggi yang diselenggarakan di hadapan raja, sebuah pintu masuk prestisius menuju jabatan resmi negara. Jika dianalogikan bagi pembaca Indonesia, status semacam itu bisa dibayangkan sebagai perpaduan antara akademisi paling berprestasi, birokrat elite, dan penasihat negara yang memiliki akses langsung ke pusat kekuasaan.
Namun kelebihan Lee bukan sekadar prestasi akademik. Pada saat banyak pejabat sezamannya bertumpu sepenuhnya pada warisan pemikiran lama, ia mulai membuka diri terhadap pengetahuan baru. Ia berinteraksi dengan tokoh asing seperti Homer Hulbert, pendidik Amerika yang cukup dikenal dalam sejarah Korea modern, dan dari sana mengenal ilmu pengetahuan modern serta gagasan hukum internasional. Langkah ini penting, karena pada akhir abad ke-19 Korea sedang berada dalam tekanan besar dari kekuatan asing, terutama Jepang, yang bergerak agresif memperluas pengaruh politik dan militernya di Semenanjung Korea.
Bagi pembaca Indonesia, perubahan orientasi intelektual Lee Sang-seol terasa relevan. Dalam sejarah kita, ada banyak tokoh pergerakan yang berangkat dari pendidikan kolonial atau tradisional, lalu menggunakan pengetahuan modern untuk melawan ketidakadilan. Lee bergerak dalam pola serupa. Ia bukan menolak modernitas, melainkan memanfaatkan modernitas untuk membela kedaulatan bangsanya. Dari sinilah perjalanan hidupnya menjadi penting, karena ia menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak selalu dimulai dari medan perang; kadang justru lahir dari meja belajar, buku hukum, dan keberanian menyusun argumen di hadapan dunia.
Dari matematika hingga hukum internasional: fondasi intelektual seorang pejuang
Salah satu sisi menarik dari Lee Sang-seol adalah keluasan minat intelektualnya. Ia tidak berhenti pada teks-teks klasik Konfusianisme yang menjadi basis pendidikan pejabat Korea masa itu. Pada 1900, ia menerjemahkan dan menyunting karya matematika modern yang kemudian diterbitkan sebagai Sansul Sinseo atau buku baru tentang aritmetika. Tindakan ini mungkin tampak teknis, tetapi sejatinya mencerminkan cara pandang yang maju: sebuah bangsa yang ingin bertahan di tengah perubahan global harus menguasai ilmu pengetahuan baru.
Selain matematika, Lee juga menaruh minat besar pada hukum dan tata hubungan antarnegara. Ia mempelajari konsep-konsep yang dalam konteks Asia Timur ketika itu tergolong baru, terutama hukum internasional. Di sinilah kita melihat benang merah penting dalam hidupnya. Kelak, saat ia membawa persoalan Korea ke panggung dunia, ia tidak berbicara sekadar dengan bahasa emosi atau sentimen nasional. Ia berbicara dengan kerangka legal dan diplomatik yang dipahami komunitas internasional. Dengan kata lain, Lee memahami bahwa penjajahan modern tidak cukup dilawan dengan keberanian saja; ia juga harus ditantang dengan argumen hukum, legitimasi, dan opini global.
Jika dibandingkan dengan pengalaman Indonesia, hal ini mengingatkan kita pada peran kaum terdidik dalam pergerakan nasional. Di masa awal abad ke-20, banyak tokoh bumiputra memanfaatkan pendidikan modern untuk merumuskan ide kebangsaan, menulis kritik, membangun organisasi, dan bernegosiasi dengan dunia internasional. Korea juga mengalami proses serupa, meski dengan konteks yang berbeda. Lee Sang-seol menjadi salah satu contoh awal dari elite tradisional yang bertransformasi menjadi intelektual politik modern.
Peralihan itu bukan soal gaya hidup atau selera pribadi. Ini adalah respons atas ancaman nyata. Korea pada pergantian abad menghadapi tekanan imperialisme dalam bentuk yang sistematis: campur tangan ekonomi, penetrasi politik, dan ancaman militer. Karena itu, pengetahuan yang dikuasai Lee tidak berhenti sebagai penghias reputasi akademik. Ia berubah menjadi alat perjuangan. Dari sinilah sosok Lee tampak menonjol dibanding banyak pejabat lain: ia membaca perubahan zaman lebih cepat, dan ia bersedia mengubah peran dirinya sesuai tuntutan sejarah.
Ketika seorang pejabat memilih melawan: penolakan terhadap intervensi Jepang
Karier resmi Lee Sang-seol terus menanjak pada awal 1900-an. Ia sempat menduduki sejumlah posisi penting dalam pemerintahan Kekaisaran Korea, termasuk di bidang hukum dan Dewan Negara. Tetapi justru ketika kariernya mencapai titik tinggi, Korea sedang bergerak ke arah sebaliknya: kedaulatannya makin menyusut di bawah tekanan Jepang.
Pada 1904, ketika Jepang menuntut hak pengembangan lahan tandus di Korea, Lee bersama tokoh lain mengajukan petisi penolakan. Sekilas, tuntutan itu bisa dibingkai sebagai urusan ekonomi atau investasi. Namun Lee melihat bahaya di baliknya. Ia memahami bahwa di banyak kasus kolonial, langkah ekonomi sering menjadi pintu masuk dominasi politik. Perspektif seperti ini tidak asing bagi pembaca Indonesia. Dalam sejarah Nusantara, campur tangan dagang juga kerap menjadi jalan awal lahirnya kontrol politik asing. VOC, misalnya, tidak datang pertama-tama sebagai negara penjajah, melainkan sebagai kekuatan dagang yang pelan-pelan mengubah keseimbangan kekuasaan.
Lee juga aktif dalam organisasi sipil yang menolak tekanan asing. Ini menunjukkan bahwa ia tidak membatasi diri pada saluran birokrasi. Ia mulai bergerak di wilayah yang lebih terbuka, memobilisasi opini dan membangun dukungan. Langkah ini menjadi makin penting setelah 1905, ketika Jepang memaksakan Perjanjian Eulsa yang merampas hak diplomatik Korea. Dalam sejarah Korea, perjanjian ini dikenang sebagai simbol puncak pengkhianatan dan pemaksaan politik. Bagi orang Korea, dampak emosionalnya kurang lebih setara dengan peristiwa-peristiwa nasional yang menjadi trauma kolektif di negara lain: momen ketika kedaulatan diambil bukan lewat persetujuan yang adil, melainkan lewat tekanan dan intimidasi.
Lee Sang-seol menentang perjanjian itu dengan keras. Ia berulang kali menyampaikan petisi kepada Kaisar Gojong, bahkan sampai lima kali, menuntut sikap tegas terhadap para pejabat yang dianggap terlibat dalam penandatanganan. Upaya itu tidak berhasil membalik keadaan. Pada akhirnya ia meninggalkan jabatan, dan dalam keputusasaan sempat mencoba mengakhiri hidupnya, meski gagal. Episode ini penting karena memperlihatkan bahwa bagi Lee, kejatuhan diplomatik Korea bukan sekadar perbedaan pandangan politik, melainkan persoalan hidup-mati sebuah negara.
Di titik itu, Lee mengalami transformasi mendasar. Ia berhenti menjadi pejabat yang berharap sistem dari dalam bisa diselamatkan. Ia mulai menjadi aktivis kemerdekaan yang percaya bahwa perjuangan harus dibawa keluar dari batas-batas birokrasi istana. Perubahan itu mirip dengan banyak tokoh perlawanan dalam sejarah Asia: ketika saluran resmi buntu, perjuangan berpindah ke pendidikan, organisasi masyarakat, diaspora, dan diplomasi luar negeri.
Membangun basis perjuangan di luar negeri: sekolah, komunitas, dan jaringan diaspora
Setelah meninggalkan Korea pada 1906, Lee Sang-seol bergerak ke Shanghai, Vladivostok, wilayah Maritime Rusia, lalu ke kawasan Gando yang saat itu menjadi salah satu pusat komunitas Korea perantauan. Di sana, ia bersama tokoh-tokoh lain mendirikan Seojeon Seosuk, lembaga pendidikan yang menekankan pengetahuan modern sekaligus pendidikan kebangsaan anti-Jepang. Sekolah ini tidak bertahan lama karena tekanan Jepang, tetapi maknanya jauh melampaui usia institusinya yang singkat.
Seojeon Seosuk menunjukkan satu hal penting: perjuangan nasional Korea di awal abad ke-20 tidak semata-mata berbentuk perlawanan bersenjata. Ada upaya sistematis untuk menyiapkan generasi baru yang sadar kebangsaan dan terdidik. Pola seperti ini sangat akrab dalam sejarah Indonesia, ketika sekolah-sekolah, organisasi pemuda, hingga penerbitan menjadi arena pembentukan kesadaran nasional. Dalam banyak gerakan anti-kolonial, pendidikan adalah fondasi jangka panjang yang sering kali lebih menentukan dibanding kemenangan sesaat.
Lee tidak berhenti pada sekolah. Ia turut mendorong pemukiman komunitas Korea di kawasan perbatasan Rusia dan Manchuria, termasuk pembangunan basis yang disebut Hanheung-dong. Tempat seperti ini bukan sekadar permukiman biasa, melainkan ruang aman bagi diaspora untuk bertahan, bekerja, belajar, dan mengorganisasi perlawanan. Dalam kondisi ketika negeri asal makin sulit dijadikan basis aktivitas politik, komunitas perantauan menjadi semacam “Indonesia kecil” atau “Korea kecil” di luar negeri, tempat identitas nasional dijaga agar tidak lenyap.
Pada 1910, Lee ikut berupaya menyatukan kelompok-kelompok milisi anti-Jepang ke dalam formasi yang lebih terorganisasi. Ia dan sejumlah tokoh lain merancang struktur yang dikenal sebagai Tentara Relawan Tiga Belas Provinsi. Upaya ini disertai gagasan lebih jauh: menjadikan mantan Kaisar Gojong sebagai pusat legitimasi politik di pengasingan, bahkan mendorong kemungkinan pembentukan pemerintahan eksil di Rusia. Walau rencana tersebut tidak terwujud sepenuhnya, ia memperlihatkan visi Lee yang komprehensif. Ia tidak hanya memikirkan perlawanan sesaat, tetapi juga bentuk negara, sumber legitimasi, dan kesinambungan kepemimpinan nasional.
Sesudah aneksasi resmi Korea oleh Jepang pada 1910, Lee membantu mengorganisasi gerakan penolakan di Vladivostok melalui sebuah kelompok bernama Seongmyeonghoe. Organisasi ini mengirimkan deklarasi ke berbagai negara untuk mengecam tindakan Jepang dan menegaskan tekad bangsa Korea mempertahankan kemerdekaan. Upaya semacam ini penting dibaca dalam konteks yang lebih luas: bangsa yang kedaulatannya dirampas masih berusaha menyatakan keberadaannya di hadapan dunia, meski tanpa kontrol atas wilayah dan institusi negaranya sendiri.
Den Haag 1907: ketika Korea mencoba berbicara kepada dunia
Bagian paling dramatis dari perjalanan Lee Sang-seol tentu berkaitan dengan Konferensi Perdamaian Dunia Kedua di Den Haag pada 1907. Konferensi ini diselenggarakan atas prakarsa Tsar Nicholas II dari Rusia dan menjadi forum internasional penting pada zamannya. Kaisar Gojong melihat konferensi tersebut sebagai kesempatan langka untuk membawa kasus Korea ke arena global. Lee Sang-seol ditunjuk sebagai utusan utama, ditemani Yi Jun dan Yi Wi-jong.
Tugas mereka sangat berat. Korea pada masa itu secara formal masih ada sebagai kekaisaran, tetapi hak diplomatiknya telah dirampas Jepang lewat Perjanjian Eulsa 1905. Dengan kata lain, Korea berada dalam situasi setengah lumpuh: negara itu masih hidup secara nama, tetapi suaranya berusaha dibungkam. Misi ke Den Haag menjadi langkah nekat sekaligus visioner, karena untuk pertama kalinya Korea berupaya menantang dominasi Jepang langsung di hadapan komunitas internasional.
Namun seperti bisa diduga, jalan mereka tidak mulus. Karena tekanan dan manuver Jepang, delegasi Korea ditolak untuk masuk sebagai peserta resmi konferensi. Secara simbolik, penolakan itu sangat menyakitkan. Bayangkan sebuah negara mengirim utusan atas perintah resmi kaisarnya, lalu dunia internasional membiarkan utusan tersebut tertahan di luar pintu. Inilah gambaran keras tentang ketimpangan politik global pada awal abad ke-20: prinsip keadilan dan perdamaian sering tunduk pada kekuatan negara besar.
Meski gagal masuk ke sidang resmi, Lee Sang-seol tidak menyerah. Pada 5 Juli 1907, ia menyampaikan seruan yang menggugat legitimasi tindakan Jepang. Dengan kemampuan bahasa Prancis yang fasih, ia menjelaskan bahwa Korea adalah negara merdeka, telah diakui dalam hubungan internasional, dan selama ini menjalankan diplomasi secara sah. Ia menuduh Jepang merampas hak tersebut dengan paksaan militer sejak 1905, bertindak atas nama Korea tanpa persetujuan kaisar, serta merusak hukum dan adat yang berlaku di negeri itu.
Yang menarik, seruan Lee bukan sekadar pidato emosional. Ia menyusun persoalan Korea sebagai isu hukum internasional dan keadilan global. Ia mempertanyakan, jika Korea adalah negara merdeka, atas dasar apa Jepang boleh mencampuri urusan luar negerinya? Dan jika utusan Korea datang atas mandat resmi kepala negara, mengapa mereka tidak boleh berbicara di forum perdamaian? Pertanyaan-pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi daya gugatnya kuat. Ia memaksa dunia melihat kontradiksi antara cita-cita perdamaian universal dan praktik politik kekuasaan saat itu.
Bagi pembaca Indonesia, momen Den Haag ini mengingatkan bahwa perjuangan kemerdekaan bukan hanya soal pertempuran fisik, tetapi juga pertarungan narasi. Dalam sejarah kita, dukungan internasional juga terbukti penting, terutama saat Republik Indonesia berusaha mempertahankan kemerdekaan setelah 1945. Lee Sang-seol sudah memahami logika itu jauh lebih awal: jika sebuah bangsa dibungkam di dalam negeri, ia harus mencari panggung di luar negeri.
Warisan setelah kegagalan: pengasingan, organisasi diaspora, dan cita-cita pemerintahan merdeka
Secara langsung, misi Den Haag memang gagal mencapai tujuan utamanya. Delegasi Korea tidak diterima di forum resmi, dan Jepang tetap melanjutkan cengkeramannya atas Korea. Bahkan setelah peristiwa itu, Jepang menjatuhkan hukuman mati kepada Lee Sang-seol melalui pengadilan in absentia. Artinya, ia tidak bisa kembali ke tanah air tanpa mempertaruhkan nyawa. Sejak saat itu, pengasingan bukan lagi pilihan taktis, melainkan nasib yang harus ia jalani sampai akhir hayat.
Tetapi kegagalan formal tidak berarti perjuangannya sia-sia. Justru setelah Den Haag, Lee semakin aktif membangun jaringan diaspora Korea di berbagai wilayah, termasuk Rusia Timur Jauh dan Amerika Serikat. Ia hadir dalam forum-forum komunitas perantauan, mendorong konsolidasi organisasi, dan berusaha menggalang dukungan internasional bagi kemerdekaan Korea. Dalam konteks gerakan nasional, diaspora sering memainkan peran kunci karena mereka memiliki ruang gerak yang lebih luas, akses ke informasi internasional, dan kemampuan menghubungkan perjuangan lokal dengan opini global.
Pada 1911, Lee terlibat dalam pembentukan Kwon-eophoe, sebuah organisasi yang tidak hanya bergerak di bidang politik, tetapi juga ekonomi, pendidikan, dan media. Organisasi ini menerbitkan surat kabar, memperluas sekolah-sekolah Korea, dan berupaya meningkatkan kesejahteraan komunitas perantauan. Langkah tersebut menunjukkan kedewasaan strategi perjuangan. Lee memahami bahwa perlawanan tidak bisa hanya bertumpu pada slogan atau semangat sesaat. Ia membutuhkan masyarakat yang cukup mapan secara ekonomi, cukup terdidik secara intelektual, dan cukup terhubung secara organisasi.
Pada 1914, ia kembali mengambil bagian dalam upaya membentuk pemerintahan perjuangan di luar negeri, yang dikenal sebagai Daehan Gwangbokgun Government. Dalam organisasi ini, Lee dipilih sebagai pemimpin. Ini menandakan bahwa di mata banyak aktivis sezamannya, ia bukan sekadar simbol perlawanan, melainkan tokoh yang dipercaya memimpin arah politik gerakan. Meski struktur pemerintahan semacam itu tidak memiliki pengakuan internasional yang kuat pada saat itu, nilainya sangat penting secara psikologis dan historis. Ia menjaga gagasan bahwa bangsa Korea belum menyerah, belum lenyap, dan masih memiliki subjek politik sendiri.
Warisan Lee Sang-seol juga perlu dibaca dalam konteks yang lebih luas dari sejarah Korea modern. Ia bukan tokoh yang menyaksikan kemenangan akhir. Ia wafat di pengasingan, jauh dari kampung halaman, tanpa sempat melihat Korea merdeka kembali. Akan tetapi, fondasi yang ia letakkan—dari pendidikan modern, pemikiran hukum internasional, organisasi diaspora, hingga diplomasi di panggung dunia—menjadi bagian penting dari mata rantai panjang perjuangan Korea menuju kemerdekaan.
Mengapa Lee Sang-seol penting bagi pembaca Indonesia hari ini
Di tengah derasnya gelombang Hallyu yang membuat masyarakat Indonesia akrab dengan drama, musik, dan kuliner Korea, kisah seperti Lee Sang-seol mengingatkan bahwa Korea modern dibangun di atas sejarah yang keras dan penuh pengorbanan. Di balik citra Seoul sebagai kota global yang maju, ada memori panjang tentang perlawanan terhadap dominasi asing, perebutan martabat nasional, dan perjuangan diplomatik yang tidak selalu berakhir manis.
Bagi pembaca Indonesia, kisah Lee terasa dekat karena memuat tema-tema yang juga hidup dalam sejarah kita: pentingnya pendidikan, peran diaspora, tarik-menarik antara elite tradisional dan gagasan modern, serta upaya membawa persoalan nasional ke dunia internasional. Kita memahami betul bahwa kemerdekaan bukan hadiah, melainkan hasil dari kerja panjang yang melibatkan guru, wartawan, diplomat, pemimpin komunitas, dan tokoh-tokoh yang rela hidup jauh dari tanah air.
Lee Sang-seol juga relevan di zaman sekarang karena ia menunjukkan arti dari keberanian moral. Ia tahu peluang menang di Den Haag sangat kecil, tetapi tetap berangkat. Ia tahu pidatonya mungkin tidak langsung mengubah keputusan negara-negara besar, tetapi tetap berbicara. Dalam dunia yang sering diatur oleh kekuasaan dan kepentingan, tindakan seperti itu penting bukan hanya untuk hasil jangka pendek, tetapi untuk menjaga rekam jejak kebenaran. Kadang sejarah bergerak lambat, tetapi ia mengingat siapa yang memilih diam dan siapa yang berani bersuara.
Karena itu, Lee Sang-seol layak ditempatkan bukan hanya sebagai tokoh sejarah Korea, melainkan sebagai salah satu figur Asia yang memperlihatkan bagaimana diplomasi, pendidikan, dan idealisme dapat bertemu dalam satu kehidupan. Dari ruang ujian kerajaan sampai mimbar internasional di Den Haag, ia menempuh jalan panjang untuk satu tujuan: membuktikan kepada dunia bahwa bangsanya berhak berdiri merdeka. Dan justru karena ia berjuang ketika peluang tampak begitu tipis, kisahnya tetap menyala hingga hari ini.
댓글
댓글 쓰기