Dari Hotteok di Pasar Namdaemun, Dubes AS Michelle Steel Mengirim Sinyal Diplomasi yang Hangat ke Korea

Awal Penugasan yang Tidak Dimulai dari Ruang Rapat
Penugasan seorang duta besar biasanya ditandai dengan agenda resmi: pertemuan seremonial, kunjungan ke kantor pemerintahan, atau pernyataan diplomatik yang terukur. Namun langkah awal Michelle Steel, Duta Besar Amerika Serikat untuk Korea Selatan, justru memancing perhatian karena bergerak ke arah yang lebih membumi. Baru tiba sebagai duta besar perempuan keturunan Korea pertama untuk AS di Seoul, ia memilih mendatangi Pasar Namdaemun pada 1 Agustus, memegang hotteok di tangannya, lalu berfoto bersama pedagang dengan ekspresi yang santai dan hangat.
Bagi pembaca Indonesia, gestur semacam ini mungkin terasa akrab. Seorang pejabat yang datang ke pasar tradisional, mencicipi jajanan kaki lima, lalu berbincang dengan pedagang, sering kali justru lebih mudah dibaca publik ketimbang pernyataan resmi yang kaku. Ada bahasa nonverbal yang langsung sampai: saya datang untuk bertemu kehidupan sehari-hari, bukan hanya protokol. Dalam konteks Korea Selatan, pilihan Michelle Steel ini menjadi menarik karena Namdaemun bukan sekadar lokasi wisata belanja, melainkan salah satu ruang publik yang paling mewakili denyut keseharian Seoul.
Menurut laporan media Korea, Steel mengunggah foto-foto kunjungannya ke media sosial. Ia tampak bersama suaminya, pengacara Shawn Steel, membuat gestur hati dengan tangan di depan pasar. Dalam foto lain, ia memegang hotteok—penganan jalanan khas Korea—sambil berpose dengan pedagang. Ia menyebut momen itu membangkitkan kenangan lama. Pernyataan itu bukan detail kecil. Steel lahir di Seoul pada 1955 dan pindah ke Amerika Serikat pada 1975. Maka, kunjungan ke pasar tradisional tak bisa dipisahkan dari jejak personalnya sebagai seseorang yang kembali ke kota kelahirannya dengan peran baru: bukan sekadar warga diaspora, melainkan wakil resmi Washington di Seoul.
Di sinilah nilai beritanya muncul. Momen di Pasar Namdaemun bukan hanya tentang makanan ringan yang manis dan hangat. Ini adalah pertemuan antara masa lalu dan masa kini, antara identitas personal dan jabatan publik, antara diplomasi formal dan bahasa budaya yang mudah dipahami masyarakat luas. Di tengah dunia yang sering dibanjiri pernyataan politik yang tegang, sebuah hotteok bisa menjadi simbol yang jauh lebih lembut, tetapi justru efektif, untuk membuka percakapan.
Mengapa Namdaemun Penting bagi Imajinasi tentang Seoul
Bagi orang Indonesia yang mungkin belum pernah ke Korea Selatan, Pasar Namdaemun bisa dibayangkan sebagai perpaduan antara pasar legendaris dan pusat jajanan yang hidup sejak pagi hingga malam. Suasananya tidak steril seperti mal, melainkan padat, akrab, dan serba bergerak. Orang datang bukan hanya untuk membeli barang, tetapi juga untuk merasakan ritme kota. Di Korea, pasar tradisional seperti Namdaemun menyimpan lapisan memori kolektif: tempat generasi lama dan baru bertemu, tempat makanan dan percakapan terjadi hampir tanpa jarak.
Jika Seoul sering dipromosikan lewat citra gedung pencakar langit, distrik bisnis, teknologi, dan K-pop, maka Namdaemun menunjukkan sisi lain ibu kota Korea Selatan: wajah yang tetap berakar pada perdagangan rakyat dan budaya makan di ruang terbuka. Itu sebabnya pilihan Michelle Steel untuk datang ke sana pada hari-hari awal penugasannya dibaca sebagai sesuatu yang simbolis. Ia tidak memulai perkenalan kembali dengan Korea dari ruang yang sepenuhnya formal, melainkan dari ruang yang berisi bau makanan, suara penjual, dan interaksi spontan.
Dalam tradisi Asia Timur, termasuk Korea, pasar bukan sekadar pusat transaksi ekonomi. Ia juga menjadi ruang sosial tempat kehangatan manusia terasa nyata. Dalam bahasa Korea ada konsep yang kerap sulit diterjemahkan secara utuh, yaitu jeong. Secara sederhana, jeong bisa dipahami sebagai rasa kedekatan, afeksi, atau kehangatan emosional yang tumbuh dari relasi sehari-hari. Bukan rasa sayang yang meledak-ledak, melainkan ikatan yang pelan, akrab, dan bertahan karena sering berbagi ruang, makanan, atau pengalaman. Ketika Michelle Steel mengatakan bahwa banyak hal sudah berubah tetapi kehangatan dan suasana akrab pasar tetap terasa, publik Korea kemungkinan menangkap itulah jeong yang ia maksud, bahkan jika kata itu tidak disebutkan secara eksplisit.
Pembaca Indonesia tentu tidak asing dengan gagasan serupa. Kita mengenalnya lewat istilah seperti “guyub”, “keakraban warga”, atau “hangatnya interaksi di pasar tradisional”. Karena itu, kunjungan Steel dapat dipahami bukan hanya sebagai aksi pencitraan, tetapi sebagai upaya menyentuh lapisan emosional yang benar-benar dikenali masyarakat. Dalam diplomasi publik, hal seperti ini penting. Sebab hubungan antarnegara pada akhirnya juga dipersepsi melalui gambaran kecil yang manusiawi, bukan semata lewat komunike resmi.
Hotteok: Jajanan Sederhana yang Membawa Memori
Di tengah kunjungan itu, hotteok menjadi pusat perhatian. Bagi pembaca Indonesia, hotteok bisa dijelaskan sebagai panekuk atau roti pipih yang digoreng di atas wajan datar, biasanya berisi campuran gula merah, kayu manis, dan kacang, meski kini variannya jauh lebih beragam. Saat digigit, bagian luarnya terasa renyah, sementara bagian dalamnya meleleh dan manis. Di musim dingin Korea, hotteok sangat populer karena memberi sensasi hangat yang menenangkan. Ia bukan makanan mewah, melainkan jajanan jalanan yang dekat dengan pengalaman sehari-hari.
Kalau ingin mencari padanan rasa akrab bagi pembaca Indonesia, posisi hotteok dalam budaya makan Korea kurang lebih mirip dengan martabak manis mini, pancong hangat, atau serabi yang dibeli langsung di pinggir jalan lalu disantap saat masih mengepul. Nilainya bukan hanya pada rasa, melainkan pada suasana saat membelinya: menunggu adonan dipanggang, mencium aroma mentega atau gula, lalu menerima makanan itu langsung dari tangan penjual. Proses sederhana ini menciptakan pengalaman yang sulit digantikan restoran modern.
Itulah yang membuat foto Michelle Steel memegang hotteok terasa efektif secara visual. Bahkan orang yang tidak tahu apa itu hotteok tetap bisa membaca pesan dasarnya: seorang duta besar memilih berbaur, mencicipi makanan lokal, dan menikmati momen bersama pedagang. Dalam era media sosial, gambar seperti ini punya daya jangkau yang besar karena tidak memerlukan penjelasan panjang. Senyum, makanan, dan suasana pasar sudah cukup untuk mengirimkan narasi tentang kedekatan.
Namun dalam kasus Steel, hotteok lebih dari sekadar properti foto. Ia menjadi jembatan memori. Sebagai seseorang yang lahir di Seoul dan pergi ke Amerika saat muda, makanan pasar semacam ini bisa saja menyimpan jejak rasa yang bertahan jauh lebih lama daripada detail arsitektur kota. Banyak orang diaspora merasakan hal serupa: ketika kembali ke tanah asal, ingatan justru dipicu oleh aroma, tekstur, atau rasa makanan yang dulu dianggap biasa. Dari sinilah pernyataannya tentang “kenangan lama” memperoleh bobot personal yang nyata.
Dan justru karena sederhana, hotteok bekerja sangat kuat sebagai simbol. Ia tidak menuntut pengetahuan tinggi, tidak eksklusif, dan tidak dibungkus formalitas. Dalam satu lapis adonan yang manis dan hangat itu, Seoul yang lama dan Seoul yang baru bisa bertemu. Kota yang telah berubah drastis dalam puluhan tahun, dengan gedung modern dan infrastruktur canggih, tetap bisa dikenali melalui makanan jalanannya yang mempertahankan sentuhan akrab.
Dari Nostalgia Pribadi ke Bahasa Diplomasi Publik
Kisah Michelle Steel di Namdaemun menjadi lebih penting jika dibaca bersama rangkaian kunjungan awalnya di Seoul. Sehari sebelumnya, ia juga membagikan foto di depan Patung Raja Sejong di kawasan Gwanghwamun. Di sana ia berbicara tentang warisan inovasi dan kepemimpinan Korea. Pada hari kedatangannya, ia mengunjungi Youngnak Church, gereja yang pernah didatangi orang tuanya yang merupakan pengungsi. Jika dirangkai, jalur kunjungan itu tampak seperti narasi yang sengaja dibangun: keluarga, sejarah, simbol nasional, dan kehidupan sehari-hari.
Patung Raja Sejong berbicara tentang peradaban dan kebanggaan nasional Korea. Youngnak Church menyentuh sejarah keluarga dan trauma pembelahan Semenanjung Korea. Sementara Namdaemun membawa semua itu turun ke level yang paling dekat dengan warga: makanan, pedagang, lorong pasar, dan percakapan singkat. Kombinasi semacam ini penting dalam diplomasi publik modern. Sebab negara tidak hanya dibaca lewat institusi, tetapi juga lewat bagaimana seorang pejabat memperlihatkan kemauan untuk memahami masyarakat biasa.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, pertemuan diplomatik mungkin menjelaskan apa kepentingan sebuah negara, tetapi kunjungan ke pasar memperlihatkan bagaimana negara itu ingin dipersepsikan. Amerika Serikat, melalui sosok Steel, tampaknya ingin menampilkan wajah yang tidak berjarak. Apalagi Steel punya identitas yang unik: ia adalah orang Korea kelahiran Seoul yang membangun karier politik di Amerika. Karena itu, setiap gesturnya di Korea akan selalu dibaca pada dua level sekaligus—sebagai tindakan pejabat AS dan sebagai tindakan seseorang yang sedang “pulang”.
Di titik ini, nostalgia personal bertemu dengan kepentingan publik. Sebuah negara tentu tidak memilih duta besar tanpa memikirkan pesan yang dibawa sosok tersebut. Steel dapat berbicara tentang aliansi Korea-AS dalam bahasa kebijakan, tetapi ia juga dapat menghidupkan cerita tentang keterhubungan emosional. Kunjungan ke Namdaemun memperlihatkan bahwa hubungan kedua negara tidak hanya dirumuskan dalam isu keamanan kawasan, tetapi juga bisa disentuh melalui pengalaman budaya yang terasa intim dan familiar.
Di Indonesia, pola seperti ini juga mudah dipahami. Kita tahu betapa efektifnya ketika figur publik atau pejabat asing menunjukkan perhatian pada budaya sehari-hari, bukan hanya pada agenda politik besar. Menikmati sate di kaki lima, berkunjung ke pasar tradisional, atau menyapa pedagang dengan bahasa lokal sering kali menghasilkan resonansi yang lebih luas daripada konferensi pers resmi. Bukan karena publik anti-diplomasi, melainkan karena masyarakat lebih mudah percaya pada gestur yang tampak tulus dan konkret.
K-Food dan Daya Tarik Korea yang Paling Mudah Dipahami
Dalam satu dekade terakhir, gelombang Hallyu membuat Korea Selatan dikenal dunia lewat musik, drama, film, dan kecantikan. Namun di antara semua itu, makanan mungkin menjadi pintu masuk yang paling egaliter. Orang tidak harus mengikuti serial sepanjang 16 episode atau memahami lirik lagu berbahasa Korea untuk tertarik pada tteokbokki, kimchi, ramyeon, atau hotteok. Makanan bekerja cepat, langsung, dan lintas bahasa. Foto seseorang memegang jajanan panas di pasar bisa membangkitkan rasa ingin tahu bahkan tanpa terjemahan.
Kunjungan Michelle Steel ke Namdaemun memperlihatkan bagaimana K-food menyebar bukan hanya lewat restoran besar atau strategi ekspor, tetapi juga melalui momen sehari-hari yang sangat visual. Inilah kekuatan utama budaya populer Korea saat ini: ia tidak selalu hadir sebagai pertunjukan besar. Kadang ia justru bekerja lewat detail kecil yang terasa otentik. Seorang duta besar yang tersenyum sambil memegang hotteok bisa menjadi iklan budaya yang lebih efektif daripada kampanye promosi yang terlalu dibuat-buat.
Bagi pembaca Indonesia, ini juga menjelaskan mengapa makanan Korea sangat mudah diterima. Ada titik pertemuan yang kuat antara budaya makan Korea dan Indonesia: sama-sama menyukai suasana makan yang hidup, sama-sama menempatkan makanan sebagai bagian dari interaksi sosial, dan sama-sama memiliki tradisi jajanan jalanan yang kaya. Ketika orang Indonesia melihat hotteok, yang terbaca bukan semata “makanan asing”, melainkan pengalaman yang tidak sepenuhnya asing: membeli sesuatu dari gerobak atau kios kecil, menunggu sebentar, lalu menikmati selagi hangat di tengah keramaian.
Karena itu, pemberitaan tentang Namdaemun ini menarik bukan hanya untuk pengamat politik, tetapi juga untuk audiens Hallyu. Ia menunjukkan bahwa Korea yang selama ini akrab di layar kaca tetap punya pusat gravitasi pada ruang-ruang tradisional. Di balik citra Seoul yang futuristis, ada pasar-pasar lama yang terus menjadi sumber identitas. Dan justru di situlah Korea sering terasa paling mudah disentuh oleh orang luar.
Hal lain yang perlu dicatat adalah kekuatan cerita ini dalam konteks pembaca global. Bahkan jika seseorang tidak tahu persis latar belakang Steel atau posisi strategis hubungan Korea-AS, narasi tentang seseorang yang kembali ke kampung halamannya lalu menemukan kembali kenangan melalui makanan pasar adalah cerita yang universal. Ada kerinduan, ada perubahan kota, ada rasa akrab yang bertahan. Unsur-unsur itulah yang membuat sebuah kabar lokal bisa punya gema internasional.
Apa Arti Momen Ini bagi Hubungan Korea-AS
Tentu saja, pada akhirnya Michelle Steel tetap seorang duta besar. Tugas utamanya bukan mempromosikan jajanan pasar, melainkan mengelola salah satu hubungan bilateral paling penting di Asia Timur. Dalam tulisan opini yang dimuat media, ia telah menyatakan tekad untuk bekerja sama erat dengan Korea Selatan demi menjaga perdamaian dan keamanan kawasan. Itu adalah bahasa formal yang tak terhindarkan dalam hubungan antara Seoul dan Washington, terutama di tengah dinamika kawasan yang sensitif.
Namun diplomasi modern tidak lagi hanya bergantung pada meja perundingan. Citra, simbol, dan kedekatan emosional kini menjadi pelengkap yang tak kalah penting. Di sinilah kunjungan ke Namdaemun menemukan relevansinya. Ia memang tidak mengubah kebijakan secara langsung, tetapi dapat membantu membentuk suasana awal penugasan. Publik Korea melihat seorang duta besar baru yang tidak memulai dengan jarak. Sebaliknya, ia hadir sebagai figur yang mencoba mengingat, merasakan, dan menyapa.
Nilai tambah dari Michelle Steel adalah latar belakang biografinya sendiri. Ia bukan diplomat karier yang datang tanpa ikatan pribadi, melainkan sosok yang membawa cerita migrasi, keluarga, dan ingatan tentang Seoul. Hal ini bisa menjadi modal simbolik yang penting. Ketika ia berbicara tentang Korea, publik dapat menangkap lapisan pengalaman yang berbeda. Tentu, ini tidak serta-merta menghapus kompleksitas politik. Tetapi ia memberi ruang bagi hubungan kedua negara untuk dilihat bukan cuma dalam bingkai strategis, melainkan juga kemanusiaan.
Bagi Korea Selatan, kehadiran duta besar seperti Steel juga sejalan dengan upaya negara itu memperluas pengaruh lewat soft power. Dalam banyak kasus, keberhasilan soft power tidak diukur dari seberapa keras sebuah negara mempromosikan diri, melainkan seberapa alami orang lain ikut menceritakannya. Foto hotteok di Namdaemun adalah contoh yang bagus. Ia tidak terasa seperti promosi resmi, tetapi tetap menyampaikan pesan kuat tentang Seoul sebagai kota yang hangat, berenergi, dan dekat dengan warganya.
Karena itu, momen ini boleh jadi akan diingat bukan sebagai peristiwa besar dalam kalender diplomasi, melainkan sebagai adegan kecil yang berhasil merangkum banyak hal sekaligus: sejarah pribadi, identitas diaspora, denyut pasar tradisional, dan cara baru membaca hubungan internasional. Di era ketika publik semakin peka terhadap keaslian, detail-detail seperti ini justru punya daya tahan yang kuat.
Ketika Seoul Dikenang lewat Rasa, Bukan Sekadar Gedung dan Agenda
Pada akhirnya, ada satu gagasan yang paling menonjol dari kunjungan Michelle Steel ke Pasar Namdaemun: sebuah kota sering kali lebih mudah diingat melalui rasa dan suasana ketimbang daftar bangunan atau jadwal resmi. Seoul boleh berubah cepat—semakin modern, semakin global, semakin padat teknologi—tetapi bagi banyak orang, identitas kota itu tetap hidup dalam pasar, aroma makanan, dan wajah para pedagang yang menyapa pengunjung.
Itu pula yang membuat hotteok dalam cerita ini terasa begitu kuat. Ia kecil, sederhana, dan mungkin tampak remeh di tengah isu diplomatik yang jauh lebih besar. Tetapi justru dalam kesederhanaannya, ia mampu menghubungkan masa lalu dan masa kini. Bagi Steel, ia membangkitkan kenangan. Bagi publik Korea, ia mengirim sinyal kehangatan. Bagi pembaca internasional, ia menawarkan pintu masuk yang mudah untuk memahami Seoul. Dan bagi pembaca Indonesia, ia mengingatkan bahwa budaya sering kali paling jujur muncul dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam lanskap Hallyu yang sering dikuasai panggung besar—konser, serial hit, festival global—berita tentang hotteok di Namdaemun terasa seperti jeda yang menyegarkan. Ia menunjukkan bahwa daya tarik Korea tidak selalu datang dari kemasan yang gemerlap. Kadang, Korea justru paling memikat ketika hadir sebagai pemandangan sederhana: pasar yang riuh, jajanan hangat di tangan, dan seseorang yang tersenyum karena mendadak merasa pulang.
Jika Michelle Steel ingin memperkenalkan kembali dirinya kepada Korea Selatan, maka ia tampaknya memilih cara yang paling mudah dibaca publik. Bukan dengan kalimat yang terlalu panjang, melainkan dengan tindakan yang langsung terasa: datang ke pasar, menyapa pedagang, dan memegang hotteok seperti siapa pun yang ingin menikmati Seoul apa adanya. Dalam bahasa jurnalistik, ini mungkin hanya satu adegan kecil. Tetapi dalam bahasa budaya, momen itu berbicara banyak.
Dan mungkin di situlah kekuatan sebenarnya dari berita ini. Di tengah relasi internasional yang sering terdengar rumit dan jauh dari kehidupan warga biasa, Pasar Namdaemun menghadirkan pengingat yang sederhana: kadang hubungan antarmanusia, bahkan antarnegara, bisa dimulai dari makanan hangat yang dibeli di sudut pasar. Dari sana, percakapan menjadi lebih mudah, jarak terasa lebih pendek, dan sebuah kota bisa dikenali kembali dengan cara yang sangat manusiawi.
댓글
댓글 쓰기