BTS dan HYBE Masuk Kelas MBA Prancis: Ketika Fanbase, Cerita, dan Strategi Bisnis K-Pop Dianggap Layak Jadi Bahan Ajar Dunia

Gambar untuk membantu memahami artikel
Dari panggung K-pop ke ruang kelas bisnis global
Fenomena BTS selama ini kerap dibaca publik sebagai kisah sukses grup idola yang menembus batas bahasa, negara, dan industri. Namun kali ini sorotan datang dari arah yang berbeda: bukan dari tangga lagu, bukan dari rekor penjualan album, dan bukan pula dari gegap gempita tur konser, melainkan dari ruang kelas MBA di Eropa. Lembaga pendidikan bisnis ternama asal Prancis, INSEAD, melalui Blue Ocean Strategy Institute, diketahui menerbitkan studi kasus yang menganalisis perjalanan pertumbuhan BTS dan HYBE, agensi yang membesarkan grup tersebut. Judul studi itu kurang lebih menekankan satu gagasan besar: bagaimana HYBE membangun pertumbuhan yang melampaui BTS.
Bagi pembaca Indonesia, kabar ini menarik bukan semata karena nama BTS sudah sangat akrab di telinga publik. Yang lebih penting, ada pengakuan bahwa gelombang Hallyu atau Korean Wave kini tidak lagi dilihat hanya sebagai produk hiburan populer. Ia mulai dibaca sebagai model bisnis, model komunitas, bahkan model penciptaan pasar baru. Dalam bahasa sederhana, yang diteliti bukan sekadar mengapa lagunya laku, tetapi mengapa ekosistem di sekelilingnya bisa tumbuh begitu besar dan tahan lama.
Selama bertahun-tahun, perbincangan soal K-pop di Indonesia sering berhenti pada dua kutub: antusiasme penggemar dan skeptisisme dari mereka yang melihat budaya fandom sebagai sesuatu yang terlalu emosional atau konsumtif. Studi kasus ini memberi perspektif lain. Dukungan penggemar tidak diposisikan hanya sebagai pembelian album, streaming lagu, atau rebutan tiket konser, melainkan sebagai bagian dari relasi yang jauh lebih kompleks antara artis, platform digital, komunitas, dan perdagangan. Ini mirip dengan cara kita kini memahami ekonomi kreatif di era digital: nilai tidak lagi lahir dari produk tunggal, tetapi dari pengalaman yang terus diperbarui dan hubungan yang dipelihara dari waktu ke waktu.
Dalam konteks itu, masuknya HYBE dan BTS ke bahan ajar MBA menjadi semacam penanda zaman. Dunia pendidikan bisnis global mulai melihat bahwa pertumbuhan perusahaan hiburan masa kini tidak selalu dibangun lewat formula lama seperti promosi besar-besaran atau dominasi pasar yang sudah ada. Justru, ada ruang baru yang dibuka lewat cerita, kedekatan digital, dan kemampuan mengubah penonton menjadi komunitas yang aktif. Di sinilah kisah BTS dan HYBE dianggap relevan, bahkan untuk mereka yang mungkin tidak pernah hafal satu pun lirik lagu Korea.
Mengapa yang dipelajari bukan cuma BTS, tetapi formula pertumbuhannya
Studi INSEAD itu disebut menaruh perhatian pada tiga lintasan penting: debut BTS, pembangunan platform penggemar Weverse, dan perluasan ekosistem K-pop oleh HYBE. Tiga hal ini menunjukkan bahwa yang dibedah bukan sekadar popularitas satu grup, melainkan struktur pertumbuhan jangka menengah dan jangka panjang. Dengan kata lain, yang dianggap penting bukan hanya titik ledak suksesnya, tetapi cara sukses itu diterjemahkan menjadi mesin bisnis yang terus bergerak.
Dalam dunia hiburan, keberhasilan satu artis sering kali bersifat rapuh. Banyak nama besar bersinar sangat terang, lalu meredup ketika tren berubah. Karena itu, sudut pandang yang menempatkan HYBE sebagai perusahaan yang membangun “formula pertumbuhan” menjadi menarik. Ia menyiratkan bahwa BTS bukan akhir cerita, melainkan batu loncatan bagi pengembangan model usaha yang lebih luas. Ini berbeda dari cara pandang lama yang menganggap agensi hiburan hanya bertumpu pada keberhasilan artis tertentu.
Jika ditarik ke konteks Indonesia, analoginya bisa dibayangkan seperti perusahaan media atau rumah produksi yang tak sekadar punya satu program hit, tetapi mampu mengubah program itu menjadi basis pengembangan platform, komunitas, produk turunan, dan jaringan bisnis baru. Keberhasilan semacam itu lebih berharga karena tidak selesai dalam satu musim. Dalam kasus HYBE, perhatian dunia akademik tertuju pada bagaimana perusahaan tersebut membaca momentum BTS lalu mengembangkannya menjadi sistem yang dapat menopang diversifikasi lintas artis, lintas wilayah, dan lintas lini usaha.
Peneliti juga menyoroti bahwa musik BTS—terutama unsur lagu yang lahir dari partisipasi anggota dan kekuatan narasi antarkarya—berkontribusi besar pada kedalaman keterlibatan penggemar. Ini penting. Selama ini orang kerap menyederhanakan popularitas K-pop sebagai hasil visual yang menarik, koreografi kuat, dan promosi digital yang agresif. Padahal, dalam kasus BTS, banyak penggemar datang bukan hanya karena satu lagu yang enak didengar, melainkan karena mereka merasa mengikuti perjalanan, gagasan, dan emosi yang berkembang dari satu era ke era lain.
Narasi adalah kata kunci di sini. Dalam budaya pop Korea, “narasi” berarti benang merah yang membuat karya seorang artis terasa saling terhubung, bukan produk yang berdiri sendiri-sendiri. Itulah yang membuat penggemar tidak berhenti di satu video musik, tetapi terus mencari konten lain, membaca makna lirik, mengikuti siaran langsung, menonton dokumenter, hingga bergabung dalam komunitas sesama penggemar. Dari perspektif bisnis, kedalaman semacam ini jauh lebih bernilai daripada popularitas yang hanya sesaat.
Strategi “blue ocean” dan cara HYBE menjaring orang di luar lingkaran K-pop
Salah satu temuan utama yang ditekankan penelitian tersebut adalah penggunaan pendekatan blue ocean strategy oleh HYBE. Bagi pembaca yang tidak akrab dengan istilah manajemen ini, blue ocean secara sederhana berarti menciptakan ruang pasar baru alih-alih bertarung habis-habisan di pasar lama yang sudah penuh pesaing. Jadi fokusnya bukan sekadar mengalahkan kompetitor, melainkan menemukan atau membentuk audiens yang sebelumnya belum tergarap.
Dalam kasus HYBE dan BTS, gagasan ini menjadi penting karena kesuksesan mereka tidak dibaca hanya sebagai perebutan pangsa dari penggemar K-pop yang memang sudah ada. Peneliti melihat ada proses menarik orang-orang yang sebelumnya mungkin tidak mengikuti K-pop sama sekali. Mereka bisa datang karena tertarik pada pesan lagu, tertambat pada kisah personal anggota, merasa terhubung lewat konten digital, atau menemukan komunitas yang memberi rasa memiliki. Dari sinilah pasar baru terbentuk.
Kita bisa memahami poin ini dengan lebih dekat melalui pengalaman di Indonesia. Tidak sedikit orang yang awalnya berkata, “Saya bukan pendengar K-pop,” tetapi kemudian mengikuti BTS karena satu lagu yang menyentuh, karena konten variety show yang terasa hangat, atau karena melihat diskusi yang hidup di media sosial. Ini berbeda dengan pola konsumsi musik lama yang cenderung linear: mendengar lagu, suka, lalu membeli. Di era fandom digital, masuknya seseorang ke dunia artis bisa datang dari banyak pintu sekaligus.
Blue ocean strategy juga menjelaskan mengapa HYBE tidak cukup puas dengan model lama industri musik yang bertumpu pada distribusi album dan konser. Mereka membaca perubahan perilaku audiens global yang makin terbiasa hidup dalam platform digital. Orang tidak hanya ingin menonton, tetapi juga ingin merespons, berinteraksi, merasa dekat, dan menjadi bagian dari peristiwa. Dalam ekonomi perhatian yang sangat padat, kedekatan semacam itu adalah aset yang amat mahal.
Dari sudut pandang manajemen, keberhasilan ini bukan kebetulan. Ia lahir dari kombinasi antara identitas artistik yang kuat dan infrastruktur yang mendukung hubungan jangka panjang. Artinya, lagu yang kuat saja tidak cukup, platform saja juga tidak cukup. Keduanya harus saling menguatkan. Di sinilah HYBE dipandang berhasil menciptakan “lautan baru”, yakni ruang tempat musik, cerita, teknologi, dan komunitas beroperasi sebagai satu ekosistem.
Bagi banyak pelaku industri kreatif di Asia, termasuk Indonesia, pelajaran ini relevan. Sering kali kita terlalu sibuk bertanya siapa yang paling populer minggu ini, tanpa cukup memikirkan bagaimana membangun audiens yang loyal dan terus tumbuh. Padahal, dalam jangka panjang, yang menentukan bukan hanya seberapa ramai perbincangan hari ini, tetapi seberapa kuat hubungan antara pencipta karya dan komunitas yang mengikutinya.
Weverse, ARMY, dan perubahan posisi penggemar dari konsumen menjadi partisipan
Bagian lain yang sangat penting dalam studi itu adalah pembacaan atas Weverse, platform penggemar yang dibangun HYBE. Di mata peneliti, Weverse bukan hanya aplikasi tambahan atau kanal promosi. Ia adalah simpul yang menghubungkan konten, komunitas, dan perdagangan. Dengan kata lain, platform ini berfungsi sebagai jembatan yang membuat minat terhadap artis tidak berhenti sebagai perhatian sesaat, melainkan berkembang menjadi relasi yang berulang dan berkelanjutan.
Di sinilah posisi penggemar mengalami pergeseran. Dalam model bisnis lama, penggemar sering dipahami sebagai konsumen akhir: mereka membeli album, menonton konser, lalu siklus selesai. Dalam model yang dibaca oleh studi ini, penggemar justru menjadi bagian aktif dari ekosistem. Mereka berdiskusi, menyebarkan informasi, menghidupkan komunitas, memberi umpan balik, menciptakan budaya partisipasi, dan pada akhirnya ikut memperluas jangkauan artis.
Fandom BTS yang dikenal sebagai ARMY menjadi contoh paling menonjol. Nama ini tentu sudah amat dikenal oleh publik Indonesia, bahkan di luar kalangan penggemar K-pop. Yang menarik, studi tersebut mengakui bahwa hubungan antara BTS dan ARMY bukan sekadar relasi antara bintang dan penggemar. Ia lebih menyerupai jaringan sosial dan emosional yang ditopang oleh konten rutin, komunikasi digital, dan rasa keterhubungan yang terus dipelihara. Itulah yang membuat komunitas ini bukan hanya besar, tetapi juga aktif dan tahan lama.
Bagi pembaca Indonesia, dinamika semacam ini mudah dikenali. Kita hidup di masyarakat yang sangat komunal; gotong royong, rasa kebersamaan, dan identitas kelompok masih kuat dalam banyak aspek kehidupan, dari pengajian, komunitas hobi, suporter sepak bola, sampai fanbase artis. Karena itu, fenomena fandom K-pop sebenarnya tidak sepenuhnya asing. Yang berbeda adalah skalanya yang global dan infrastruktur digitalnya yang sangat rapi. Weverse menjadi contoh bagaimana rasa kebersamaan itu diwadahi secara sistematis.
Platform seperti Weverse juga menunjukkan bahwa teknologi tidak netral; ia dirancang untuk membentuk perilaku. Ketika penggemar bisa melihat konten eksklusif, memberi respons, mengikuti pengumuman resmi, membeli merchandise, dan merasakan kedekatan dengan artis dalam satu ekosistem, maka pengalaman mereka menjadi lebih utuh. Dari sisi bisnis, ini menciptakan siklus yang saling menguatkan: konten memancing perhatian, komunitas menjaga keterikatan, dan perdagangan memberi dukungan finansial untuk keberlanjutan ekosistem.
Namun penting dicatat, siklus ini hanya bekerja jika fondasinya adalah kepercayaan. Penggemar tidak akan terus tinggal dalam sebuah platform kalau mereka merasa diperas, diabaikan, atau hanya diperlakukan sebagai dompet berjalan. Karena itu, studi yang menyoroti relasi BTS dengan ARMY sesungguhnya juga menggarisbawahi satu hal penting: keberhasilan bisnis di era digital sangat bergantung pada kemampuan menjaga keaslian relasi, atau setidaknya persepsi bahwa relasi itu bermakna dan timbal balik.
Apa arti pengakuan akademik ini bagi citra K-pop di mata dunia
Masuknya HYBE dan BTS ke studi kasus MBA menandai perluasan cara dunia memandang K-pop. Jika pada fase awal Hallyu global perhatian banyak tertuju pada unsur hiburan—musik yang adiktif, visual yang kuat, koreografi presisi, dan fan service—kini K-pop juga dilihat sebagai objek pengetahuan yang serius. Ia menjadi bahan untuk membicarakan strategi pertumbuhan, transformasi digital, pengembangan komunitas, bahkan inovasi pasar.
Perubahan ini penting karena menunjukkan bahwa K-pop telah bergerak dari status “tren Asia” menjadi referensi global yang bisa dipelajari lintas disiplin. Bukan hanya fakultas budaya populer atau kajian media yang tertarik, melainkan juga sekolah bisnis. Ini merupakan lompatan simbolik. Ketika sebuah fenomena pop dibaca oleh ilmu manajemen, artinya ia diakui memiliki logika struktural yang dapat dijelaskan, diuji, dan dijadikan pembelajaran bagi organisasi lain.
Untuk Korea Selatan, pengakuan semacam ini tentu memperkuat soft power negara tersebut. Hallyu tidak lagi sekadar menghasilkan devisa lewat ekspor konten, tetapi juga membangun reputasi nasional sebagai tempat lahirnya model bisnis budaya yang inovatif. Selama ini kita sudah melihat bagaimana drama Korea memengaruhi selera tontonan, bagaimana produk kecantikan Korea menembus pasar global, dan bagaimana bahasa Korea makin banyak dipelajari. Kini, perusahaan hiburannya pun dianggap layak menjadi bahan studi dalam pendidikan elit internasional.
Bagi Indonesia, ini juga menjadi pengingat bahwa budaya populer bisa menjadi kekuatan ekonomi dan intelektual sekaligus. Selama ini kita punya modal budaya yang sangat kaya, dari musik dangdut, pop kreatif, film, komik, sampai budaya komunitas digital yang tumbuh cepat. Tantangannya adalah bagaimana membangun infrastruktur yang mampu menghubungkan karya, komunitas, dan model bisnis secara konsisten. Di sinilah pelajaran dari HYBE menjadi relevan, bukan untuk ditiru mentah-mentah, melainkan untuk dipahami logikanya.
Kita juga perlu melihat kabar ini di luar euforia fanbase. Pengakuan akademik tidak otomatis berarti semua hal dalam industri K-pop ideal atau tanpa masalah. Industri ini tetap punya sisi keras: ritme kerja tinggi, tekanan performa, ketergantungan pada citra, dan tuntutan komersial yang besar. Namun justru karena kompleks itulah ia menarik bagi dunia akademik. Yang dipelajari bukan dongeng keberhasilan yang steril, melainkan cara sebuah perusahaan menavigasi industri yang sangat kompetitif dengan perangkat yang relatif baru.
Dari situ muncul pertanyaan yang lebih luas: apakah masa depan hiburan global akan semakin ditentukan oleh mereka yang mampu membangun komunitas, bukan sekadar memproduksi karya? Jika iya, maka studi tentang HYBE dan BTS bukan hanya catatan tentang K-pop, melainkan petunjuk tentang arah industri kreatif di masa depan.
Pelajaran untuk industri hiburan Indonesia: bukan meniru BTS, melainkan memahami ekosistemnya
Godaan terbesar ketika membaca kisah sukses BTS adalah keinginan untuk mencari “resep instan”. Padahal, pelajaran utamanya bukan bagaimana menciptakan BTS versi Indonesia. Industri kreatif tidak bekerja seperti pabrik yang bisa menyalin formula lalu menghasilkan hasil identik. Yang lebih berguna justru memahami prinsip dasarnya: pentingnya identitas artistik yang kuat, kesinambungan cerita, relasi yang dijaga dengan penggemar, dan keberanian membangun ruang pasar baru.
Indonesia sebenarnya punya banyak modal untuk itu. Basis pengguna internet sangat besar, budaya bermedia sosial sangat aktif, dan kebiasaan berkomunitas juga kuat. Kita melihat fanbase lokal artis, penyanyi, aktor, bahkan kreator konten tumbuh pesat. Tapi sering kali semuanya masih tercerai-berai. Kontennya berjalan sendiri, komunitasnya berjalan sendiri, jalur monetisasinya juga belum terintegrasi. Dalam bahasa studi kasus HYBE, siklus antara konten, komunitas, dan commerce belum sungguh dibangun sebagai ekosistem.
Ada banyak contoh lokal yang menunjukkan potensi itu. Ketika musisi Indonesia mampu membangun cerita personal yang jujur, penonton cenderung lebih loyal. Ketika serial atau film punya komunitas penggemar yang aktif, nilai komersialnya bisa meluas ke acara temu penggemar, produk turunan, hingga percakapan yang panjang di ruang digital. Namun sering kali industri kita masih terlalu berfokus pada viralitas jangka pendek. Padahal viral belum tentu berbuah hubungan jangka panjang.
Pelajaran lain adalah pentingnya platform. Tidak selalu berarti harus membuat aplikasi sendiri seperti Weverse, tetapi setidaknya harus ada strategi jelas tentang di mana dan bagaimana hubungan dengan penggemar dipelihara. Banyak artis lokal punya pengikut besar, tetapi interaksinya tercerai di berbagai platform tanpa pengalaman yang benar-benar terpadu. Dalam jangka panjang, ini menyulitkan pembentukan komunitas yang solid dan berkelanjutan.
Kisah HYBE juga memperlihatkan bahwa penggemar masa kini ingin merasa dilibatkan, bukan sekadar ditawari produk. Mereka ingin mengerti proses, mengikuti perkembangan, dan punya ruang untuk menjadi bagian dari percakapan. Ini selaras dengan perubahan budaya digital yang juga terjadi di Indonesia. Publik kini menyukai kedekatan, keaslian, dan konsistensi. Mereka cepat bosan pada pencitraan yang terasa terlalu dibuat-buat, tetapi bisa sangat loyal pada karya yang dirasa tulus dan terus berkembang.
Pada akhirnya, kabar dari Prancis ini bukan hanya soal kebanggaan penggemar BTS melihat idolanya dipelajari di kelas MBA. Lebih dari itu, ini adalah tanda bahwa industri hiburan global sedang berubah cara berpikirnya. Nilai sebuah artis atau perusahaan tidak lagi semata diukur dari penjualan saat ini, tetapi dari kemampuannya membangun hubungan, membentuk komunitas, dan menciptakan pasar yang sebelumnya belum ada.
BTS dan HYBE mungkin lahir dari konteks Korea Selatan yang sangat spesifik, tetapi gagasan yang mereka wakili punya gema universal. Bahwa di zaman digital, cerita yang kuat bisa melintasi bahasa. Bahwa kedekatan yang dibangun lewat teknologi bisa menghasilkan loyalitas yang sangat besar. Dan bahwa penggemar, yang dulu sering diremehkan sebagai sekadar konsumen fanatik, kini justru dipahami sebagai salah satu pusat gravitasi terpenting dalam ekonomi budaya global.
Ketika sebuah sekolah bisnis elite di Prancis memilih membedah perjalanan itu, pesannya jelas: Hallyu bukan lagi hanya hiburan yang ditonton dunia, tetapi model yang dipelajari dunia. Dan bagi Indonesia, itu semestinya menjadi bahan refleksi—tentang bagaimana kita menghargai budaya populer, bagaimana kita membangun ekosistem kreatif, dan bagaimana kita membaca penggemar bukan sebagai penonton di ujung kursi, melainkan sebagai mitra yang ikut menentukan masa depan sebuah industri.
댓글
댓글 쓰기