‘San Yang Deul’ Tawarkan Potret Remaja yang Lari dari Logika Nilai: Empat Siswi, Hewan Terancam, dan Hutan sebagai Ruang Bernapas

Dari ruang kelas menuju hutan: film remaja Korea yang memilih jalur berbeda
Industri film Korea Selatan sudah lama akrab dengan kisah remaja, tetapi kebanyakan penonton Indonesia mungkin lebih sering menemukan cerita yang berputar pada persaingan nilai, tekanan keluarga, perundungan di sekolah, atau romansa masa muda. Karena itu, kemunculan film San Yang Deul karya sutradara Yoo Jae-wook terasa menarik. Dalam sesi jumpa pers yang digelar di CGV Yongsan I’Park Mall, Seoul, sutradara menekankan dua kata kunci untuk membaca film ini: “petualangan gadis remaja” dan “tempat bernaung”. Dua istilah itu terdengar sederhana, tetapi justru di situlah letak pembeda film ini dari drama sekolah yang biasanya sangat terikat pada soal ujian masuk perguruan tinggi.
Secara premis, film ini mengikuti empat siswi kelas tiga SMA yang sedang berada di ambang ujian masuk universitas, fase yang di Korea Selatan dikenal sangat menentukan masa depan. Namun alih-alih menempatkan mereka sebagai murid teladan dengan target kampus elite, film ini justru memusatkan perhatian pada empat remaja yang bahkan belum bisa menjawab pertanyaan paling dasar dari sistem pendidikan: setelah lulus, mereka mau ke mana. In-hye, Seo-hee, Jeong-ae, dan Su-min bukan satu geng, bukan pula sahabat sejak lama. Mereka berasal dari latar minat dan kepribadian yang berbeda, juga tidak digambarkan sebagai siswa berprestasi. Yang menyatukan mereka justru sesuatu yang tampak sepele sekaligus menohok: kertas survei rencana kuliah yang kosong.
Di tangan banyak film lain, kertas kosong itu bisa dibaca sebagai simbol kegagalan, kebingungan, atau kemalasan. Tetapi San Yang Deul tampaknya sengaja menolak pembacaan sesederhana itu. Kekosongan itu bukan semata-mata aib yang harus ditambal cepat-cepat. Ia adalah ruang jeda, ruang ragu, sekaligus titik mula bagi pencarian yang tidak disusun oleh guru, orang tua, atau sistem seleksi masuk kampus. Dalam konteks pembaca Indonesia, situasi ini terasa dekat. Berapa banyak remaja kelas 12 yang mengisi pilihan jurusan karena ikut arus, karena dorongan keluarga, atau sekadar agar formulir tidak terlihat kosong? Film ini seperti mengajukan pertanyaan yang juga relevan di sini: apakah remaja harus selalu punya jawaban rapi tentang masa depan sebelum mereka sempat memahami dirinya sendiri?
Dari premis itu, Yoo Jae-wook membawa kisah menuju wilayah yang lebih liar dan puitis. Bukan les tambahan, bukan bimbingan belajar, bukan kelas motivasi, melainkan hutan. Di sanalah empat siswi ini berangkat setelah satu peristiwa mengubah arah hidup mereka, setidaknya untuk sementara. Dengan begitu, film ini bukan sekadar cerita “anak sekolah bingung masa depan”, melainkan sebuah petualangan tentang bagaimana remaja menemukan arti tanggung jawab, solidaritas, dan rasa aman di luar bahasa angka, ranking, dan formulir.
Kertas survei yang kosong, simbol tekanan yang akrab bagi remaja Asia
Untuk memahami kekuatan gagasan film ini, penting melihat latar sosial yang melingkupinya. Korea Selatan memiliki budaya pendidikan yang sangat kompetitif. Ujian masuk perguruan tinggi, terutama Suneung atau College Scholastic Ability Test, kerap digambarkan sebagai salah satu momen paling menegangkan dalam hidup pelajar Korea. Hari ujian bahkan bisa memengaruhi lalu lintas kota, jam kerja, hingga jadwal penerbangan agar peserta tidak terganggu. Selain jalur ujian utama, ada pula sistem seleksi bergelombang atau susi, yakni jalur penerimaan yang menilai kombinasi nilai sekolah, dokumen, aktivitas, dan wawancara. Dalam ringkasan cerita, keempat tokoh dimasukkan ke kelas persiapan wawancara jalur ini karena dianggap perlu “pengelolaan khusus”.
Istilah “pengelolaan khusus” sendiri mengandung ironi yang tajam. Dalam banyak lingkungan pendidikan yang sangat berorientasi hasil, siswa yang belum punya rencana jelas akan cepat dipandang sebagai masalah yang harus dibereskan. Mereka dikelompokkan, diawasi, diberi nasihat, lalu didorong untuk mengucapkan jawaban yang dapat diterima orang dewasa. Ini bukan hanya isu Korea. Di Indonesia, tekanan untuk segera menentukan jurusan kuliah juga akrab, meski bentuknya bisa berbeda. Ada siswa yang bahkan sejak kelas 10 sudah ditanya ingin masuk kedokteran, hukum, teknik, atau ekonomi. Ada pula yang dianggap “kurang serius” bila belum punya jawaban pasti. Dalam suasana seperti itu, kertas kosong bukan cuma kertas kosong. Ia adalah penanda kecemasan yang sering tidak terucapkan.
Menariknya, San Yang Deul tidak memulai ceritanya dari siswa yang tahu persis cita-citanya. Justru dari mereka yang belum tahu. Pendekatan ini terasa segar karena banyak narasi pertumbuhan remaja biasanya mengagungkan ketekunan menuju tujuan yang sudah jelas. Film ini tampaknya memilih wilayah yang lebih rapuh: masa ketika seseorang belum bisa mendefinisikan dirinya sendiri. Bagi remaja, terutama menjelang kelulusan, fase seperti ini sesungguhnya sangat manusiawi. Tidak semua orang tumbuh dengan peta hidup yang rapi. Tidak semua murid berusia 18 tahun siap menjelaskan masa depannya dalam bahasa yang meyakinkan guru atau pewawancara kampus.
Kekosongan pada survei itu kemudian menjadi semacam jembatan pertemuan bagi empat tokoh yang sebelumnya tidak memiliki alasan untuk akrab. Mereka tidak disatukan oleh hobi yang sama, prestasi yang setara, atau impian kolektif. Mereka dipertemukan oleh ketidakpastian. Dari sudut pandang dramatik, ini pilihan yang cerdas. Solidaritas tidak lahir dari kesamaan identitas yang sudah mapan, tetapi dari pengalaman sama-sama belum selesai. Dalam masyarakat yang sering memuja kepastian, film seperti ini memberi ruang bagi kebingungan sebagai bagian sah dari masa muda.
Ketika penyelamatan hewan menjadi titik balik, bukan sekadar alat dramatik
Perubahan besar dalam cerita terjadi saat kandang hewan di sekolah akan ditutup, dan hewan-hewan di dalamnya terancam dimusnahkan. Dari sini, pusat cerita bergeser dari ruang administratif sekolah ke persoalan hidup dan mati yang konkret. In-hye, yang selama ini merawat kandang tersebut, memutuskan untuk menyelamatkan hewan-hewan itu. Keputusan ini penting karena membuat film tidak jatuh menjadi kisah pemberontakan remaja yang kosong. Tindakan In-hye bukan sekadar pelarian dari tekanan sekolah, melainkan lahir dari relasi yang sudah dibangun dengan makhluk yang ia rawat.
Hal ini membuat misi penyelamatan terasa punya bobot moral. Hewan-hewan itu bukan properti cerita yang muncul tiba-tiba untuk memancing simpati penonton. Mereka adalah bagian dari keseharian In-hye, sesuatu yang sudah ia jaga dengan tenaga dan afeksi. Karena itu, saat kandang ditutup, yang terancam bukan cuma nyawa hewan, melainkan juga satu-satunya ruang di mana seorang remaja mungkin merasa dibutuhkan dan bermakna. Pembaca Indonesia dapat membayangkan kemiripannya dengan situasi ketika kegiatan ekstrakurikuler, ruang komunitas, atau tempat bertumbuh anak muda justru dianggap tidak penting dibanding target akademik.
Dari keputusan In-hye inilah tiga tokoh lain ikut terseret, lalu perlahan memilih terlibat. Perubahan itu penting. Petualangan tidak dimulai karena mereka diberi misi besar bak pahlawan, melainkan karena mereka menolak memalingkan wajah dari sesuatu yang ada di depan mata. Film ini tampaknya ingin menunjukkan bahwa kedewasaan tidak selalu lahir dari kemampuan membuat presentasi soal masa depan, tetapi dari kesediaan mengambil tanggung jawab saat sesuatu yang rentan membutuhkan pertolongan.
Di sini pula film membuka kontras yang menarik. Sekolah meminta mereka menjelaskan diri melalui kata-kata: apa rencana kuliahmu, jurusan apa yang kamu incar, bagaimana kamu akan meyakinkan pewawancara. Namun dunia di luar kelas meminta hal lain: keputusan cepat, kerja sama, ketekunan, dan keberanian bertindak. Bahasa administrasi menuntut jawaban, sementara penyelamatan hewan menuntut aksi. Kontras ini sangat kuat karena menyentuh pertanyaan mendasar tentang bagaimana nilai seorang remaja diukur. Apakah seseorang hanya berharga ketika punya visi masa depan yang terdengar meyakinkan? Ataukah nilai itu juga tampak dari caranya merawat, menolong, dan membangun ikatan dengan sesama makhluk hidup?
Dalam lanskap budaya populer Korea yang kerap memotret kerasnya persaingan, pendekatan seperti ini memberi napas berbeda. Ia tidak menolak kenyataan tekanan akademik, tetapi menempatkannya sebagai latar yang kemudian digugat oleh tindakan nyata. Dengan kata lain, film ini tidak sekadar berkata bahwa sistem terlalu keras. Ia memperlihatkan kemungkinan lain tentang cara remaja mengenali dirinya sendiri.
Hutan sebagai “ansikcheo”: tempat bernaung yang harus dibangun sendiri
Salah satu konsep paling penting dalam film ini adalah ansikcheo, yang secara sederhana bisa dipahami sebagai tempat beristirahat, tempat berlindung, atau ruang aman. Sutradara Yoo Jae-wook menyebut bahwa para gadis ini membangun tempat bernaung bagi hewan dan bagi diri mereka sendiri di tengah hutan. Dalam banyak cerita, tempat aman biasanya hadir sebagai sesuatu yang diberikan: rumah keluarga, sekolah yang suportif, komunitas yang menerima. Namun di San Yang Deul, tempat aman itu justru belum tersedia. Ia harus diciptakan dengan tangan sendiri.
Gagasan ini menarik karena membuat hutan bukan sekadar latar indah, melainkan ruang percobaan sosial. Di sekolah, keempat gadis itu dilabeli sebagai siswa bermasalah, atau setidaknya siswa yang harus diarahkan. Di hutan, definisi itu berubah. Mereka tidak lagi pertama-tama dibaca dari nilai atau formulir, melainkan dari kemampuan bertahan hidup, bekerja sama, mengurus ruang, dan merawat makhluk lain. Artinya, identitas mereka berubah ketika medan hidupnya berubah. Ini adalah kritik halus terhadap cara institusi sering kali menyederhanakan manusia menjadi kategori-kategori sempit.
Bagi pembaca Indonesia, konsep ini bisa terasa dekat jika dibayangkan sebagai kebutuhan anak muda atas “ruang ketiga”, yakni ruang di luar rumah dan sekolah tempat mereka bisa menjadi diri sendiri. Di kota-kota besar Indonesia, ruang seperti itu makin langka. Banyak remaja hidup di antara rumah yang penuh tuntutan dan sekolah yang penuh target. Akibatnya, ruang untuk bernapas, gagal, mencoba, atau sekadar diam sering tidak tersedia. Film ini seolah menyusun fantasi sekaligus refleksi: bagaimana jika ruang aman itu tidak ditemukan, melainkan dibangun bersama oleh mereka yang sama-sama tersisih?
Ada lapisan emosional lain yang juga penting. Tempat bernaung ini bukan hanya untuk manusia, tetapi juga hewan. Keputusan untuk menyatukan nasib remaja dan hewan yang terancam memperluas makna perlindungan. Mereka yang dianggap “tidak punya arah” oleh sistem justru memilih melindungi makhluk yang bahkan lebih rentan. Dengan begitu, film ini tidak memosisikan para gadis sebagai korban pasif. Mereka adalah subjek yang menciptakan perlindungan, bukan sekadar mencari perlindungan.
Jika dibaca lebih jauh, pilihan hutan juga terasa simbolis. Hutan adalah ruang di luar kendali penuh institusi, ruang yang liar, tidak rapi, dan tidak selalu nyaman. Namun justru di sanalah pertumbuhan yang lebih organik bisa terjadi. Berbeda dari kelas wawancara yang menuntut jawaban benar, hutan tidak menyediakan skrip. Para tokoh harus belajar dari pengalaman langsung. Dalam bahasa sinema, ini membuka peluang bagi film untuk menghadirkan atmosfer yang sunyi tetapi intens, di mana proses membangun relasi menjadi sama pentingnya dengan jalan cerita itu sendiri.
Membalik rumus film tentang ujian: dari ambisi menuju relasi
Selama ini, kisah tentang siswa tahun terakhir SMA di Korea hampir otomatis diasosiasikan dengan ujian, lembaga bimbingan belajar, jam belajar yang panjang, dan kecemasan sosial soal masa depan. San Yang Deul tidak menafikan semua itu, tetapi memilih membalik pusat gravitasinya. Film ini tidak bertanya terutama soal kampus mana yang akan dimasuki para tokoh, melainkan orang seperti apa mereka ketika dihadapkan pada situasi yang menuntut kepedulian dan keberanian.
Di sinilah film ini terasa berpotensi kuat secara emosional. Ia memindahkan fokus dari ambisi individual ke relasi: relasi antarremaja, relasi manusia dengan hewan, dan relasi manusia dengan ruang yang mereka tempati. Dalam banyak masyarakat Asia, termasuk Indonesia, remaja kerap dibesarkan dengan gagasan bahwa masa depan adalah proyek individual yang harus dimenangkan melalui persaingan. Maka, kisah tentang empat siswi yang justru tumbuh lewat kerja kolektif terasa seperti pernyataan tandingan. Masa depan, setidaknya dalam film ini, tidak lahir dari kemenangan atas orang lain, tetapi dari kemampuan hadir bagi yang lain.
Aspek lain yang layak dicermati adalah cara film ini berpotensi menghindari glorifikasi “anak berprestasi yang tersesat sesaat”. Ringkasan cerita menegaskan bahwa empat tokoh ini memang tidak digambarkan unggul secara akademik. Artinya, film memberi ruang kepada remaja yang dalam banyak narasi sering dikesampingkan: mereka yang biasa-biasa saja, yang belum punya jawaban bagus, yang mungkin mudah diabaikan karena tidak menjanjikan kebanggaan institusional. Ini penting, sebab representasi seperti itu dapat terasa membebaskan bagi penonton muda yang tidak melihat dirinya dalam sosok juara kelas atau calon mahasiswa kampus ternama.
Tentu film seperti ini juga mengandung risiko jika tidak dieksekusi dengan hati-hati. Ia bisa saja terjebak menjadi romantisasi pelarian dari sekolah atau mengidealkan alam sebagai solusi semua persoalan. Namun dari penekanan sutradara pada “tempat bernaung” dan “petualangan gadis remaja”, tampaknya fokus film bukan melarikan diri dari realitas, melainkan menciptakan jeda untuk menemukan bentuk relasi yang lebih sehat. Dalam pengertian itu, petualangan di hutan bisa dibaca bukan sebagai penolakan total terhadap masa depan, melainkan sebagai cara merebut kembali hak untuk menentukan arti masa depan itu sendiri.
Untuk pembaca Indonesia, resonansinya jelas. Di tengah percakapan publik tentang kesehatan mental remaja, tekanan akademik, dan kecemasan generasi muda menghadapi dunia kerja yang tidak pasti, film ini bisa hadir sebagai cermin yang halus tetapi mengena. Ia tidak berkhotbah, melainkan menata ulang pertanyaan: sebelum meminta anak muda menjawab mau jadi apa, mungkin kita perlu bertanya apakah mereka sudah punya ruang aman untuk tumbuh.
Empat aktris muda dan wajah-wajah berbeda dari kesepian masa remaja
Film ini menempatkan Park Hye-jin sebagai In-hye, Lee Seung-yeon sebagai Seo-hee, Park Hyo-eun sebagai Jeong-ae, dan Choi Soo-in sebagai Su-min. Keempat nama ini menjadi pusat daya tarik film karena kisahnya bergantung pada dinamika kelompok, bukan pada satu tokoh tunggal yang dominan sepenuhnya. Meski In-hye tampak menjadi pemantik utama lewat kepeduliannya pada hewan-hewan di kandang sekolah, kekuatan film akan sangat ditentukan oleh bagaimana tiga tokoh lain merespons, bertentangan, lalu bertumbuh bersama keputusan itu.
Ini menarik karena cerita tentang persahabatan perempuan di usia remaja sering kali dipersempit dalam dua kutub: manis dan suportif sepenuhnya, atau penuh intrik dan pertengkaran. San Yang Deul tampaknya menawarkan kemungkinan yang lebih kaya. Keempat tokohnya tidak berangkat dari kedekatan emosional yang mapan. Mereka adalah orang-orang yang awalnya canggung satu sama lain, berbeda kepribadian, dan mungkin tidak akan saling memilih dalam keadaan biasa. Justru karena itu, proses menjadi tim akan terasa lebih meyakinkan jika berhasil diperankan dengan nuansa.
Sutradara menyebut mereka sebagai empat gadis penyendiri. Penyebutan ini penting karena kesepian di masa remaja tidak selalu tampil dramatis. Kadang ia hadir sebagai rasa tidak cocok, tidak unggul, tidak punya tempat, atau tidak bisa menjawab harapan orang dewasa dengan bahasa yang tepat. Film ini berpotensi menyentuh kesepian jenis itu, kesepian yang sering tidak terlihat tetapi diam-diam membentuk cara remaja memandang dirinya. Jika para pemain mampu menampilkan perubahan dari sekumpulan siswa yang dikumpulkan karena masalah administrasi menjadi tim yang memilih bergerak bersama, maka film ini bisa meninggalkan dampak emosional yang kuat.
Bagi penonton Indonesia yang akrab dengan kisah coming-of-age, kekuatan semacam ini mungkin mengingatkan pada daya tarik film-film yang tidak bertumpu pada twist besar, melainkan pada kejujuran emosi dan chemistry antarpemain. Penonton tidak selalu membutuhkan tokoh yang heroik dalam arti konvensional. Sering kali, yang lebih mengena justru tokoh-tokoh yang ragu, kikuk, dan belum selesai dengan dirinya sendiri. Di situlah empat aktris ini berpeluang memberi wajah berbeda pada masa muda: bukan masa yang selalu cerah, melainkan masa yang berantakan tetapi tetap punya kemungkinan.
Mengapa kisah ini layak diperhatikan penonton Indonesia
Pada akhirnya, yang membuat San Yang Deul terdengar menjanjikan bukan hanya premis tentang empat siswi dan hewan-hewan yang harus diselamatkan. Film ini tampak berupaya membicarakan sesuatu yang lebih luas: bagaimana masyarakat memandang anak muda yang belum punya jawaban, dan bagaimana mereka bisa membangun makna hidup di luar ukuran yang terlalu sempit. Dalam konteks Korea, ini jelas menyentuh kerasnya sistem pendidikan dan obsesi terhadap jalur sukses yang seragam. Namun temanya tidak berhenti di sana. Untuk pembaca Indonesia, persoalan ini sangat mudah dipahami.
Kita hidup di masa ketika remaja dan orang dewasa muda terus-menerus diminta cepat pasti: jurusan apa, kampus mana, kerja di mana, target hidup apa. Dalam tekanan semacam itu, kebingungan sering diperlakukan sebagai kegagalan, padahal kebingungan juga bisa menjadi tahap penting untuk mengenali nilai yang sungguh personal. Film ini seperti mengusulkan bahwa sebelum seseorang menemukan arah, ia mungkin perlu lebih dulu menemukan tempat aman dan orang-orang yang membuatnya merasa tidak sendirian.
Yang juga menonjol adalah keberanian film menghubungkan isu remaja dengan etika kepedulian terhadap hewan dan alam. Di tengah banyaknya narasi pertumbuhan yang sangat manusia-sentris, pendekatan ini memberi warna lain. Ia menunjukkan bahwa menjadi dewasa bukan cuma soal membangun masa depan untuk diri sendiri, tetapi juga belajar bertanggung jawab kepada makhluk lain yang hidup bersama kita. Pesan seperti ini terasa relevan di zaman ketika isu lingkungan, kesejahteraan hewan, dan kesehatan mental sama-sama makin mendapat perhatian publik.
Jika dieksekusi dengan baik, San Yang Deul berpotensi menjadi salah satu film Korea yang diam-diam membekas, bukan karena skala produksinya paling besar, melainkan karena pertanyaannya sangat dekat dengan kegelisahan generasi sekarang. Ia berbicara tentang tekanan tanpa harus berteriak, tentang perlawanan tanpa perlu slogan, dan tentang harapan tanpa jatuh menjadi naif. Di tengah banjir konten yang kerap menjual sensasi atau romansa instan, kisah empat gadis yang membangun tempat bernaung bersama hewan-hewan di hutan terdengar seperti ajakan untuk berhenti sejenak dan bertanya ulang: ketika dunia terus memaksa anak muda memilih masa depan, siapa yang memberi mereka ruang untuk bernapas hari ini?
Dalam pengertian itulah, film ini layak dinanti. Bukan semata sebagai drama remaja Korea terbaru, melainkan sebagai karya yang mencoba memulihkan martabat kebingungan, merayakan solidaritas yang tumbuh pelan, dan mengingatkan bahwa kadang-kadang jawaban terbaik tidak lahir dari formulir yang terisi penuh, melainkan dari keberanian melindungi sesuatu yang rapuh bersama-sama.
댓글
댓글 쓰기