Korea Selatan Ubah Pengalaman Lansia Jadi Kekuatan Digital, Program Kerja Media Ini Raih Penghargaan Tertinggi

Dari Penerima Manfaat Menjadi Pelaku Utama
Di tengah cepatnya laju transformasi digital, satu pertanyaan besar terus muncul di banyak negara, termasuk Indonesia: bagaimana memastikan kelompok lanjut usia tidak tertinggal, bahkan bisa ikut mengambil peran? Korea Selatan baru saja memberi satu jawaban yang menarik. Program pekerjaan bagi lansia di bidang media yang dijalankan Viewer Media Foundation atau Yayasan Media Pemirsa Korea Selatan meraih penghargaan tertinggi berupa penghargaan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan dalam ajang “Upacara Penghargaan Model Unggulan Pekerjaan Baru yang Sesuai bagi Lansia 2026” pada 31 Juli.
Namun nilai dari kabar ini tidak berhenti pada seremoni penghargaan. Yang lebih penting, program tersebut dinilai berhasil mengubah pengalaman hidup para lansia menjadi kapasitas kerja baru di bidang media, layanan informasi publik, pendidikan digital, hingga pendampingan warga. Dalam bahasa sederhana, lansia tidak lagi ditempatkan sekadar sebagai pihak yang “dibantu belajar teknologi”, melainkan sebagai orang-orang yang ikut memproduksi informasi, mengajar warga lain, dan memperkuat ketahanan digital di komunitas mereka.
Menurut ringkasan laporan yang dirilis media Korea, pada tahun ini program itu telah menciptakan 309 lapangan kerja bagi lansia di 12 pusat media pemirsa yang tersebar secara nasional. Angka tersebut meningkat 17 kali lipat dibanding fase awal program. Pertumbuhan ini menunjukkan satu hal penting: pekerjaan lansia di bidang media bukan lagi uji coba kecil yang simbolik, melainkan mulai dipandang sebagai model kerja yang benar-benar dibutuhkan dan bisa diperluas.
Bagi pembaca Indonesia, ini relevan karena kita juga sedang menghadapi tantangan serupa. Di satu sisi, masyarakat semakin bergantung pada ponsel pintar, aplikasi layanan publik, transaksi digital, dan arus informasi online. Di sisi lain, banyak warga senior masih menghadapi hambatan untuk beradaptasi. Jika selama ini diskusinya sering berhenti pada pelatihan dasar penggunaan gawai, model Korea ini menawarkan pendekatan yang lebih maju: lansia bukan sekadar belajar memakai teknologi, tetapi ikut bekerja melalui teknologi.
Di sinilah letak daya tarik kebijakannya. Negara tersebut mencoba merancang lapangan kerja yang menyatukan tiga kebutuhan sekaligus: kebutuhan ekonomi lansia, kebutuhan masyarakat akan informasi yang mudah diakses, dan kebutuhan publik terhadap literasi digital yang aman. Hasilnya adalah sebuah model sosial yang bukan hanya menciptakan pekerjaan, tetapi juga menghasilkan layanan yang terasa dekat dengan kehidupan warga sehari-hari.
Jika di Indonesia kita akrab dengan gagasan “pemberdayaan” lansia lewat posyandu, komunitas RW, karang werda, atau kegiatan sosial di balai warga, maka program Korea ini bisa dibaca sebagai versi digital dari semangat yang sama. Bedanya, alat utamanya bukan lagi hanya pertemuan tatap muka, melainkan produksi konten, konsultasi ponsel, edukasi informasi, dan penyebaran pesan publik yang lebih sistematis.
309 Pekerjaan yang Menjadi Jaring Pengaman Digital Lokal
Angka 309 mungkin terdengar tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan skala pasar kerja nasional. Tetapi dalam konteks kebijakan sosial, angka itu menyimpan arti yang jauh lebih penting. Para peserta program ditempatkan di 12 pusat media pemirsa di berbagai wilayah, lalu menjalankan peran yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan warga. Mereka membuat konten informasi publik, berita keselamatan, promosi warisan budaya lokal, memberi edukasi media di lembaga kesejahteraan, membuka konsultasi penggunaan smartphone, sampai menyampaikan panduan pencegahan penipuan suara atau voice phishing.
Istilah voice phishing perlu dijelaskan untuk pembaca Indonesia. Di Korea, seperti juga di Indonesia, kejahatan digital kerap dilakukan melalui telepon atau pesan yang menyamar sebagai aparat, petugas bank, lembaga pajak, atau keluarga korban. Modusnya bisa berupa permintaan transfer uang, data pribadi, kode OTP, atau pengunduhan aplikasi tertentu. Lansia kerap menjadi target karena dianggap lebih rentan terhadap intimidasi dan manipulasi psikologis. Karena itu, ketika peserta program ikut memberi edukasi pencegahan penipuan semacam ini, peran mereka bukan simbolik, melainkan sangat praktis.
Yang menarik, struktur pekerjaannya tidak tunggal. Satu orang bisa berperan sebagai pembuat konten, pengajar, sekaligus konsultan dasar bagi warga lain. Artinya, pekerjaan ini dibangun bukan berdasarkan asumsi bahwa lansia hanya cocok untuk tugas-tugas ringan atau administratif, melainkan sebagai peran yang menggabungkan pengalaman hidup, pemahaman lokal, serta keterampilan digital yang dilatih secara khusus. Ini penting, karena salah satu kelemahan banyak program kerja lansia di berbagai negara adalah kecenderungan menempatkan mereka hanya sebagai pelengkap, bukan sebagai tenaga yang memiliki kontribusi substantif.
Dalam praktiknya, konten informasi publik dan berita keselamatan yang mereka hasilkan berfungsi sebagai jembatan antara institusi dan warga. Tidak semua orang mudah memahami pengumuman resmi pemerintah, imbauan keselamatan, atau perubahan layanan administrasi digital. Ketika informasi tersebut dikemas dalam format yang lebih sederhana dan dekat dengan bahasa komunitas setempat, peluang warga untuk benar-benar memahaminya tentu lebih besar. Dengan kata lain, peran para lansia ini ikut memperbaiki akses informasi, bukan hanya menambah angka pekerjaan.
Begitu juga dengan konten promosi warisan budaya. Di banyak daerah, pelestarian budaya kerap terkendala minimnya dokumentasi dan promosi yang menarik. Lansia justru punya modal besar dalam hal ini: pengetahuan lokal, ingatan kolektif, cerita lama, dan kedekatan dengan identitas daerah. Ketika modal sosial itu dipadukan dengan keterampilan media, hasilnya bisa menjadi arsip digital, video pendek, liputan komunitas, atau materi edukasi yang memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda. Dalam perspektif yang lebih luas, program ini bukan sekadar menciptakan kerja, tetapi juga merawat memori sosial.
Jika dianalogikan dengan konteks Indonesia, bayangkan para lansia di Yogyakarta membuat konten tentang tradisi kampung, warga senior di Bandung membantu masyarakat memahami pengumuman layanan publik digital, atau komunitas lanjut usia di Surabaya memberi edukasi soal modus penipuan online di kelurahan. Pola semacam itu memperlihatkan bahwa pekerjaan berbasis pengalaman tidak harus kalah dari pekerjaan yang sepenuhnya bertumpu pada kecepatan teknis anak muda.
Mengapa Model Ini Penting di Tengah Penuaan Penduduk
Korea Selatan selama beberapa tahun terakhir dikenal sebagai salah satu negara yang menghadapi penuaan penduduk dengan cepat. Jumlah warga senior meningkat, sementara struktur keluarga, dunia kerja, dan layanan sosial juga terus berubah. Tantangan semacam ini tidak asing bagi Indonesia, meski tahapnya berbeda. Data kependudukan kita menunjukkan jumlah penduduk lanjut usia terus bertambah. Artinya, perdebatan tentang lansia tidak bisa lagi dibatasi pada isu bantuan sosial atau layanan kesehatan semata. Kita juga harus membicarakan peran sosial, kesempatan kerja, dan martabat di usia lanjut.
Program pekerjaan media untuk lansia di Korea menjadi penting karena menggeser cara pandang itu. Lansia tidak ditempatkan sebagai kelompok pasif yang hanya menerima perlindungan, melainkan sebagai bagian dari solusi sosial. Dalam model ini, pengalaman hidup menjadi aset ekonomi dan sosial. Pengetahuan lokal, kemampuan berkomunikasi, kesabaran dalam mendampingi warga, hingga kepercayaan yang mereka bangun di lingkungan sekitar semuanya diperlakukan sebagai modal kerja yang nyata.
Pendekatan tersebut terasa relevan di Asia, termasuk Indonesia, karena struktur masyarakat kita masih sangat menghargai figur senior dalam keluarga dan komunitas. Di banyak kampung, nasihat orang tua masih didengar, tokoh sepuh masih dimintai pendapat, dan relasi antarwarga masih bertumpu pada kepercayaan personal. Dalam era digital yang sering terasa serba cepat dan anonim, kehadiran figur senior yang membantu warga memahami teknologi justru bisa memperkuat rasa aman. Warga mungkin lebih nyaman bertanya soal aplikasi layanan publik, keamanan transaksi, atau cara menghindari penipuan kepada orang yang mereka kenal dan percaya.
Selain itu, model ini memberi jawaban terhadap masalah yang lebih halus tetapi sangat nyata: kesepian dan terputusnya peran sosial setelah pensiun. Banyak orang memasuki usia lanjut bukan hanya dengan pertanyaan tentang penghasilan, tetapi juga tentang makna. Apa peran saya sekarang? Masihkah saya berguna? Dalam banyak studi sosial, partisipasi aktif di komunitas terbukti penting bagi kesehatan mental dan rasa harga diri lansia. Maka ketika sebuah program mampu memberi ruang kerja yang sesuai, dampaknya bisa melampaui sisi ekonomi.
Penghargaan yang diterima program Korea tersebut juga menunjukkan bahwa pemerintah setempat mulai menilai kualitas pekerjaan lansia bukan hanya dari jumlahnya, tetapi dari isi kerjanya. Ini poin krusial. Menciptakan pekerjaan bagi kelompok usia lanjut memang penting, tetapi menciptakan pekerjaan yang bernilai sosial, relevan dengan perubahan zaman, dan memberi manfaat nyata bagi komunitas tentu jauh lebih berarti. Dalam hal ini, pekerjaan media dipilih bukan sebagai sektor glamor, melainkan sebagai alat untuk menjawab kebutuhan warga yang makin digital.
Kita bisa melihat bahwa media di sini dipahami secara luas. Bukan hanya industri televisi atau hiburan besar seperti yang kerap dibayangkan publik ketika mendengar kata Korea. Media dalam konteks program ini mencakup kemampuan membuat konten informasi, menyampaikan pesan keselamatan, mendampingi penggunaan perangkat digital, dan memperkuat akses warga terhadap layanan publik. Pendekatan luas semacam ini justru membuat program menjadi lebih inklusif dan lebih mudah diterapkan di tingkat lokal.
Dari Literasi Media sampai Pencegahan Penipuan
Salah satu aspek paling menarik dari program ini adalah caranya menghubungkan pekerjaan dengan kebutuhan digital warga sehari-hari. Para peserta tidak hanya memproduksi konten, tetapi juga turun langsung memberi pelatihan media, konsultasi penggunaan smartphone, serta penyuluhan pencegahan voice phishing. Artinya, program ini memahami bahwa masalah digital di masyarakat tidak berhenti pada soal “bisa atau tidak menggunakan gawai”, melainkan juga soal keamanan, pemahaman informasi, dan kemampuan membedakan mana yang kredibel dan mana yang menipu.
Bagi Indonesia, aspek ini sangat relevan. Kita hidup di tengah ledakan informasi yang luar biasa. Pengumuman pemerintah beredar lewat aplikasi, promosi layanan keuangan datang melalui pesan instan, kabar bohong beredar di grup keluarga, dan modus penipuan digital terus berkembang. Dalam situasi seperti itu, literasi digital bukan lagi pelengkap, melainkan kebutuhan dasar. Ketika lansia Korea dilibatkan sebagai penyampai edukasi dan pendamping warga, program itu sebenarnya sedang membangun lapis perlindungan sosial baru di tingkat komunitas.
Kita bisa membayangkan manfaat praktisnya. Seorang warga lanjut usia yang sudah memahami dasar keamanan digital akan lebih percaya diri menjelaskan kepada sesama warga tentang bahaya membagikan OTP, pentingnya memeriksa nomor telepon asing, atau cara mengenali tautan mencurigakan. Efeknya bisa sangat besar karena edukasi tidak datang dari iklan yang lewat begitu saja, melainkan dari interaksi langsung. Dalam budaya Asia yang masih sangat komunal, penyuluhan tatap muka seperti ini sering kali lebih efektif daripada kampanye satu arah.
Lebih dari itu, program ini menunjukkan bahwa literasi media dapat dikawinkan dengan pelayanan publik. Di panti kesejahteraan, pusat administrasi lokal, atau ruang komunitas, para peserta membantu warga memahami penggunaan smartphone untuk kebutuhan yang sangat konkret. Misalnya cara mengakses informasi layanan, memanfaatkan aplikasi dasar, atau membaca pengumuman penting. Dengan demikian, pelatihan digital tidak dipisahkan dari kehidupan riil masyarakat.
Di Indonesia, pendekatan serupa sebenarnya sangat mungkin diterapkan. Kita memiliki jaringan balai warga, kantor kelurahan, pusat kegiatan masyarakat, komunitas lansia, rumah ibadah, hingga perpustakaan daerah yang bisa menjadi simpul pelatihan. Tantangannya tentu ada pada desain kebijakan, pelatihan tenaga pendamping, dan kesinambungan anggaran. Tetapi contoh Korea memberikan satu pelajaran penting: ketika literasi digital dirancang sebagai pekerjaan sosial yang terstruktur, dampaknya bisa lebih berkelanjutan daripada program sosialisasi yang sesekali muncul lalu hilang.
Hal lain yang perlu dicatat adalah aspek kepercayaan informasi. Di zaman ketika konten pendek membanjiri layar dan hoaks mudah viral, warga membutuhkan penyaring yang kredibel di tingkat lokal. Para lansia yang telah dilatih dalam program ini ikut mengisi ruang itu. Mereka membantu menerjemahkan informasi publik ke bahasa yang lebih mudah dipahami, sekaligus menjadi rujukan sosial bagi orang-orang di sekitar mereka. Dalam konteks Indonesia, ini mengingatkan pada peran tokoh lingkungan yang sering menjadi sumber klarifikasi pertama ketika warga bingung menghadapi isu tertentu.
Bukan Sekadar Program Sosial, tetapi Desain Kebijakan yang Cerdas
Kenaikan skala program hingga 17 kali lipat dari tahap awal memperlihatkan bahwa pemerintah dan lembaga pelaksana di Korea tidak memandangnya sebagai proyek simbolis. Pertumbuhan ini penting karena banyak kebijakan sosial gagal berkembang setelah fase percontohan. Sering kali program terlihat baik di atas kertas, tetapi sulit diperluas karena biaya tinggi, tugas tidak jelas, atau manfaatnya tidak terasa langsung oleh masyarakat. Dalam kasus ini, perluasan justru menunjukkan bahwa model kerjanya cukup konkret, punya kebutuhan lapangan, dan mampu dijalankan di banyak wilayah.
Keberadaan 12 pusat media pemirsa sebagai basis regional juga menjadi faktor penting. Struktur ini memungkinkan pekerjaan dirancang sesuai kebutuhan daerah, bukan dipaksakan seragam dari pusat. Daerah dengan isu keselamatan publik tertentu bisa menekankan produksi berita keselamatan. Wilayah dengan kekayaan budaya bisa mendorong dokumentasi dan promosi warisan lokal. Area dengan warga senior yang membutuhkan dukungan penggunaan gawai bisa memperkuat layanan konsultasi smartphone. Fleksibilitas semacam ini membuat program lebih hidup dan tidak terjebak menjadi rutinitas administratif.
Dari sisi kebijakan publik, inilah yang bisa disebut model dengan nilai ganda. Pertama, ia membuka lapangan kerja bagi lansia. Kedua, ia memperbaiki akses informasi warga. Ketiga, ia memperkuat kapasitas digital komunitas. Keempat, ia membantu upaya pencegahan kejahatan digital. Kelima, ia ikut melestarikan budaya lokal melalui konten media. Dengan satu desain kerja, negara memperoleh banyak manfaat sosial sekaligus. Untuk pembuat kebijakan, tentu ini menarik karena efisiensi sosial menjadi lebih tinggi.
Pernyataan pimpinan Viewer Media Foundation, Choi Cheol-ho, memperjelas arah tersebut. Ia menilai pencapaian ini membuktikan bahwa lansia dapat menemukan peran baru di bidang media berbasis pengalaman hidup dan kebijaksanaan mereka, sambil membantu mengurangi kesenjangan media di komunitas. Pernyataan ini penting karena menegaskan filosofi dasar program: pengalaman hidup bukan beban masa lalu, tetapi bahan baku bagi pekerjaan masa kini.
Di Indonesia, wacana seperti ini sebetulnya semakin relevan seiring tumbuhnya ekonomi kreatif dan digital. Selama ini pembahasan ekonomi digital sering didominasi bayangan tentang generasi muda, startup, dan inovasi yang serba baru. Padahal ada ruang lain yang sama pentingnya: bagaimana kelompok senior ikut dilibatkan dalam transformasi itu. Jika tidak, ekonomi digital berisiko melahirkan garis pemisah baru antara yang terhubung dan yang tertinggal. Program Korea menunjukkan bahwa garis pemisah itu bisa dipersempit bila negara mau mendesain peran yang cocok.
Tentu saja, tidak semua hal bisa dipindahkan begitu saja ke Indonesia. Kondisi kelembagaan, infrastruktur, budaya kerja, dan tingkat akses digital tiap daerah sangat berbeda. Tetapi ide dasarnya layak diperhatikan: pekerjaan bagi lansia tidak harus berhenti pada sektor tradisional. Dengan pelatihan yang tepat dan dukungan komunitas, lansia juga dapat berperan di ruang yang berhubungan langsung dengan teknologi dan informasi publik.
Apa Pelajarannya bagi Indonesia
Bagi Indonesia, kisah dari Korea Selatan ini seharusnya dibaca bukan sekadar sebagai berita penghargaan, melainkan sebagai inspirasi desain kebijakan. Kita sedang bergerak menuju masyarakat yang semakin digital, sementara jumlah penduduk senior juga terus meningkat. Dua arus besar ini seharusnya tidak dibaca secara terpisah. Justru titik temu di antara keduanya bisa melahirkan model pemberdayaan yang baru.
Pertama, Indonesia dapat mulai memikirkan program literasi digital lansia yang tidak berhenti pada pelatihan dasar, tetapi berlanjut menjadi kerja sosial berbayar. Misalnya, peserta yang telah lulus pelatihan bisa direkrut sebagai pendamping penggunaan layanan publik digital di kelurahan, fasilitator edukasi anti-penipuan, atau pembuat konten informasi warga di tingkat lokal. Dengan begitu, pelatihan tidak menjadi kegiatan sesaat yang berakhir pada sertifikat, melainkan berujung pada peran nyata di masyarakat.
Kedua, pendekatan berbasis komunitas sangat penting. Keberhasilan Korea ditopang oleh pusat-pusat regional yang dekat dengan kebutuhan wilayah. Indonesia bisa memanfaatkan infrastruktur sosial yang sudah ada, dari balai desa hingga pusat kegiatan lansia, dari perpustakaan umum hingga rumah kreatif milik pemerintah daerah. Kuncinya adalah menjadikan ruang-ruang itu sebagai simpul layanan informasi dan literasi digital yang dijalankan bersama warga senior.
Ketiga, pengalaman lokal harus dihargai sebagai modal. Banyak lansia Indonesia memiliki pengetahuan mendalam tentang sejarah kampung, tradisi daerah, perubahan sosial, dan dinamika komunitas. Bila dipadukan dengan pelatihan media sederhana, mereka bisa membantu mendokumentasikan budaya, membuat konten edukasi lokal, atau menjadi narasumber informasi yang relevan. Dalam konteks bangsa yang sangat majemuk seperti Indonesia, ini bukan hal kecil. Dokumentasi berbasis komunitas bisa menjadi penyangga identitas lokal sekaligus penghubung antar-generasi.
Keempat, isu keamanan digital perlu dijadikan bagian inti, bukan pelengkap. Penipuan digital di Indonesia terus berkembang, dari modus kurir palsu hingga penyamaran sebagai bank atau aparat. Lansia sering menjadi sasaran empuk. Karena itu, menjadikan warga senior sebagai agen edukasi anti-penipuan akan memberi efek ganda: melindungi mereka sendiri dan memperluas jangkauan literasi keamanan digital di lingkungan sekitar.
Akhirnya, keberhasilan program Korea ini memberi pesan yang sangat jelas: masyarakat yang menua tidak harus dilihat sebagai beban fiskal atau tantangan kesejahteraan semata. Jika dirancang dengan cerdas, pengalaman hidup para lansia dapat diubah menjadi tenaga sosial yang produktif. Penghargaan yang diterima program tersebut memang datang dari pemerintah Korea, tetapi maknanya melampaui batas negara. Ia menunjukkan bahwa transformasi digital yang baik bukan hanya tentang kecanggihan teknologi, melainkan tentang siapa saja yang diajak ikut serta.
Di Indonesia, kita sering punya pepatah bahwa orang tua adalah gudang pengalaman. Dalam banyak kesempatan, kalimat itu terdengar seperti penghormatan simbolik. Program dari Korea Selatan ini memberi contoh bagaimana pepatah tersebut bisa diterjemahkan menjadi kebijakan nyata. Pengalaman hidup tidak berhenti sebagai nasihat di ruang keluarga, tetapi bisa berubah menjadi layanan informasi, pendidikan digital, perlindungan warga, dan pekerjaan yang bermartabat. Di situlah nilai beritanya paling kuat: bukan sekadar siapa yang menang penghargaan, melainkan gagasan tentang masa depan seperti apa yang sedang dibangun.
댓글
댓글 쓰기