Korea Selatan Dorong Femtech Lewat Pekan Wirausaha Perempuan, Sinyal Baru bagi Industri Teknologi Berbasis Kebutuhan Nyata

Dari seremoni tahunan menjadi sinyal arah industri
Di tengah lanskap ekonomi Korea Selatan yang selama ini kerap diasosiasikan dengan ekspor manufaktur, semikonduktor, otomotif, dan gelombang budaya populer seperti K-pop serta drama Korea, ada satu perkembangan yang patut dicermati lebih serius: naiknya peran perusahaan perempuan dalam memetakan pasar teknologi baru. Pada 1 Juli 2026, di Hotel Shilla, Seoul, pembukaan Pekan Wirausaha Perempuan ke-5 digelar bukan sekadar sebagai agenda seremonial, melainkan sebagai panggung untuk menunjukkan ke mana arah pertumbuhan berikutnya sedang dibidik. Salah satu istilah yang mengemuka dalam forum itu adalah femtech, yakni industri teknologi, produk, dan layanan yang berfokus pada kesehatan serta kualitas hidup perempuan.
Jika dibaca dari kacamata ekonomi, acara ini penting karena memperlihatkan perubahan cara Korea Selatan membicarakan perusahaan perempuan. Mereka tidak lagi semata ditempatkan dalam bingkai pemberdayaan sosial atau dukungan kebijakan afirmatif, melainkan diposisikan sebagai pelaku pasar yang mampu membangun teknologi, membaca kebutuhan konsumen secara detail, dan mengubah pengalaman sehari-hari menjadi model bisnis yang konkret. Slogan yang diusung dalam pembukaan tahun ini, yakni kurang lebih menekankan “bertumbuh dengan teknologi, terhubung lewat kepekaan”, mencerminkan upaya tersebut.
Bagi pembaca Indonesia, pesan ini terasa relevan. Selama beberapa tahun terakhir, ekosistem startup di Indonesia juga bergerak dari semata mengejar pertumbuhan pengguna menuju pencarian masalah yang benar-benar dekat dengan hidup masyarakat. Kita melihat bagaimana layanan kesehatan digital, aplikasi parenting, platform konsultasi psikologi, sampai produk perawatan personal mulai dianggap sebagai sektor serius, bukan sekadar pelengkap. Dalam konteks itu, apa yang terjadi di Seoul menunjukkan bahwa Korea Selatan juga sedang membaca peluang di wilayah yang lebih intim, lebih dekat dengan kebutuhan harian, tetapi punya potensi ekonomi besar.
Tempat penyelenggaraan acara juga punya makna simbolik. Hotel Shilla di pusat Seoul bukan ruang netral; ia identik dengan forum bisnis, diplomasi, dan pertemuan kelas atas. Ketika pemerintah, organisasi ekonomi perempuan, dan pelaku usaha berkumpul di ruang semacam itu, pesan yang ingin dikirim jelas: agenda perusahaan perempuan kini dibahas di pusat percakapan industri, bukan di pinggiran. Dengan kata lain, yang dipertaruhkan bukan hanya representasi, tetapi juga posisi strategis dalam kebijakan industri dan ekosistem inovasi Korea Selatan.
Itulah mengapa pembukaan Pekan Wirausaha Perempuan ke-5 layak dibaca sebagai penanda arah. Belum ada pengumuman besar mengenai nilai investasi, kontrak ekspor, atau peluncuran produk tertentu dari forum ini. Namun justru di titik itu letak signifikansinya: Korea Selatan sedang menyatakan pasar apa yang mereka anggap menjanjikan untuk fase pertumbuhan berikutnya. Femtech muncul sebagai salah satu jawaban yang paling menonjol.
Apa itu femtech dan mengapa istilah ini penting
Istilah femtech merupakan gabungan dari kata female dan technology. Secara sederhana, ini merujuk pada teknologi, produk, dan layanan yang dirancang untuk menjawab kebutuhan kesehatan serta kualitas hidup perempuan. Ruangnya luas: mulai dari kesehatan reproduksi, pemantauan siklus menstruasi, layanan kesehatan berbasis data, perangkat kebugaran personal, sampai solusi yang mendukung keseharian perempuan dalam berbagai fase hidup.
Namun makna femtech tidak berhenti pada definisi teknis. Yang menjadikannya penting adalah perubahan cara pandang terhadap pengalaman perempuan. Hal-hal yang selama ini kerap dianggap privat, personal, atau bahkan tabu dibawa masuk ke bahasa industri dan inovasi. Dalam masyarakat Asia, termasuk Indonesia dan Korea Selatan, banyak isu terkait tubuh perempuan sering dibicarakan dengan nada pelan, canggung, atau disederhanakan sebagai urusan domestik. Ketika isu tersebut diterjemahkan ke dalam teknologi dan layanan, ada pengakuan bahwa pengalaman itu nyata, luas, dan layak dijawab secara sistematis.
Di Indonesia, misalnya, pembicaraan mengenai kesehatan menstruasi, nyeri haid, kesuburan, menopause, atau kesehatan mental perempuan memang semakin terbuka, tetapi masih sering terhambat stigma. Banyak perempuan masih bergantung pada informasi dari teman, keluarga, atau media sosial yang kualitasnya tidak selalu terjamin. Dalam situasi seperti ini, munculnya industri yang secara serius membangun solusi berbasis riset, teknologi, dan pengalaman pengguna tentu menarik. Karena itu, ketika pelaku usaha Korea Selatan menyebut femtech sebagai ruang pertumbuhan baru, perhatian publik internasional wajar mengarah ke sana.
Dalam forum pembukaan tersebut, Kim Hyo-i, kepala perusahaan Innersia, menyampaikan pandangan bahwa pasar untuk perempuan—yang mewakili setengah populasi dunia—adalah pasar besar yang tumbuh cepat, dan perusahaan Korea dapat memainkan peran penting di dalamnya. Pernyataan itu tentu masih berupa visi, bukan hasil akhir yang sudah terbukti. Tetapi dalam dunia industri, visi semacam ini penting karena menunjukkan cara pelaku pasar membaca masa depan. Mereka tidak sekadar bicara tentang menjual lebih banyak barang, melainkan tentang memahami kelompok konsumen yang sangat besar dengan pendekatan teknologi.
Di sinilah femtech berbeda dari sekadar kategori produk. Ia merupakan cara baru melihat pasar: kebutuhan perempuan tidak lagi diperlakukan sebagai ceruk kecil, melainkan sebagai wilayah utama inovasi. Untuk negara seperti Korea Selatan, yang terkenal cepat menggabungkan teknologi dengan respons konsumen, sektor ini punya daya tarik tersendiri. Jika dipadukan dengan kemampuan desain produk, manufaktur, layanan digital, dan pemasaran global, femtech bisa menjadi bidang yang menyeberang dari pasar domestik ke pasar internasional.
Mengapa Korea Selatan melihat peluang besar di sektor ini
Ada beberapa alasan mengapa Korea Selatan tampak serius menaruh perhatian pada femtech. Pertama, negara ini memiliki tradisi kuat dalam menggabungkan teknologi dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Kita bisa melihatnya dari perkembangan perangkat kecantikan rumahan, aplikasi kesehatan, produk perawatan kulit, hingga ekosistem e-commerce yang responsif terhadap tren konsumen. Budaya inovasi mereka sering bergerak cepat dari laboratorium ke pasar, lalu dari pasar domestik ke ekspor. Ketika model seperti ini diterapkan pada kebutuhan perempuan, potensi skalanya menjadi menarik.
Kedua, Korea Selatan memahami nilai “pengalaman pengguna” dengan sangat baik. Dalam ringkasan acara, slogan tentang teknologi dan kepekaan bukan sekadar kalimat promosi. Ia mengisyaratkan bahwa keunggulan perusahaan perempuan mungkin bukan hanya pada sisi teknis, tetapi juga kemampuan memahami persoalan konsumen secara lebih detail dan empatik. Dalam sektor yang menyentuh tubuh, kesehatan, rasa nyaman, dan kualitas hidup, unsur kepercayaan menjadi sangat menentukan. Orang tidak memilih layanan semacam ini hanya berdasarkan fitur, tetapi juga berdasarkan rasa dipahami.
Ketiga, pemerintah turut hadir dalam pembangunan ekosistemnya. Acara ini diselenggarakan oleh Kementerian UKM dan Startup Korea Selatan bersama lima organisasi ekonomi perempuan. Format itu menunjukkan bahwa isu perusahaan perempuan diperlakukan sebagai agenda bersama antara negara dan asosiasi pelaku usaha. Pemerintah menyediakan panggung kebijakan dan legitimasi, sementara organisasi bisnis menghubungkan kebutuhan lapangan, jaringan, dan suara pengusaha. Kolaborasi seperti ini penting karena industri baru sulit tumbuh jika hanya digerakkan satu pihak.
Bila ditarik ke konteks Indonesia, kita bisa memahami model ini melalui analogi yang lebih dekat: banyak sektor baru tidak bisa berkembang hanya karena ada pelaku usaha berbakat. Mereka juga butuh asosiasi, ruang pamer, akses kebijakan, literasi publik, dan ekosistem pendukung. Kita pernah melihat pola serupa dalam pertumbuhan ekonomi kreatif, industri halal, dan startup kesehatan. Dengan kata lain, Korea Selatan tampaknya sedang membangun bukan hanya produknya, tetapi juga narasi industrinya.
Meski demikian, penting untuk menjaga batas antara fakta dan tafsir. Dari informasi yang tersedia, pembukaan Pekan Wirausaha Perempuan ini belum menghadirkan data konkret seperti total investasi baru, nilai transaksi, atau kontrak ekspor di sektor femtech. Maka yang paling tepat dibaca dari acara ini adalah arah strategisnya. Korea Selatan sedang memberi sinyal bahwa perusahaan perempuan, khususnya yang bergerak di ranah teknologi berbasis kebutuhan hidup, dipandang sebagai salah satu mesin pertumbuhan yang patut diperhitungkan.
Teknologi dan empati: kombinasi yang sedang dicari pasar
Salah satu gagasan paling menarik dari forum di Seoul adalah penekanan pada kombinasi antara teknologi dan empati. Dalam bahasa bisnis, teknologi berarti efisiensi, kualitas produk, akurasi data, dan daya saing. Sementara empati merujuk pada kemampuan membaca kebutuhan yang sering kali tak terlihat dalam statistik besar. Dalam sektor seperti femtech, dua unsur ini saling menguatkan.
Bayangkan persoalan yang selama ini dianggap “biasa” oleh banyak perempuan: siklus tubuh yang berubah, ketidaknyamanan harian, kebutuhan informasi medis yang mudah dipahami, atau layanan yang tidak menghakimi. Bila masalah-masalah ini dipahami secara dangkal, hasilnya hanya produk generik yang gagal menyentuh kebutuhan nyata. Tetapi jika dipetakan dengan baik melalui riset, desain, data, dan komunikasi yang tepat, maka lahirlah solusi yang bukan hanya laku, melainkan juga membangun loyalitas pengguna.
Di Indonesia, logika ini mudah dikenali. Konsumen kini semakin kritis. Mereka tidak sekadar membeli fungsi, tetapi juga pengalaman dan rasa relevansi. Produk yang terasa “mengerti” penggunanya cenderung punya posisi lebih kuat di pasar. Hal ini terlihat di banyak sektor, dari layanan keuangan digital sampai produk ibu dan anak. Karena itu, pendekatan yang menempatkan empati sebagai bagian dari strategi bisnis sebenarnya sangat modern, bukan sentimentil.
Bagi perusahaan perempuan, keunggulan ini bisa menjadi pembeda. Mereka berpotensi lebih peka dalam menangkap persoalan yang selama ini terlewat oleh arsitektur bisnis yang terlalu umum atau terlalu maskulin. Tentu ini bukan berarti semua perusahaan perempuan otomatis unggul atau semua perusahaan non-perempuan gagal memahami pasar. Tetapi secara struktural, pengalaman hidup dan kedekatan terhadap isu pengguna dapat menjadi modal awal yang kuat untuk inovasi.
Di sinilah acara pekan perusahaan perempuan di Korea Selatan membawa pesan yang lebih luas. Forum tersebut seolah mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi masa depan tidak selalu lahir dari teknologi yang spektakuler dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Kadang justru peluang besar muncul dari masalah yang sangat dekat, sangat personal, dan selama ini kurang diperhatikan. Jika diolah dengan benar, kebutuhan yang tampak sepele bisa menjadi pasar yang kokoh dan berjangka panjang.
Makna politik ekonomi di balik dukungan pemerintah dan organisasi perempuan
Fakta bahwa acara ini digelar untuk kelima kalinya juga tidak bisa diabaikan. Keberlanjutan sebuah agenda menandakan adanya institusionalisasi. Pekan Wirausaha Perempuan bukan lagi event satu kali untuk pencitraan, melainkan platform yang berusaha dipertahankan dan dibangun dari tahun ke tahun. Dalam bahasa kebijakan, ini berarti isu perusahaan perempuan mulai memiliki tempat yang relatif stabil dalam percakapan ekonomi nasional Korea Selatan.
Keterlibatan Kementerian UKM dan Startup menunjukkan bahwa negara melihat perusahaan perempuan sebagai bagian dari agenda pertumbuhan, bukan semata agenda kesejahteraan sosial. Ini penting. Di banyak negara, termasuk di Asia, isu pelaku usaha perempuan sering dibungkus dalam narasi bantuan, pendampingan, atau perlindungan. Semua itu tentu diperlukan. Tetapi ketika negara mulai membicarakannya dalam kerangka teknologi, pasar, dan daya saing masa depan, ada pergeseran besar dalam cara pandang.
Lima organisasi ekonomi perempuan yang ikut menyelenggarakan acara juga memainkan fungsi penting. Mereka membantu memastikan bahwa agenda ini tidak berhenti sebagai slogan pemerintah. Asosiasi semacam ini biasanya menjadi jembatan antara kebijakan dan praktik lapangan: mengumpulkan suara anggota, membangun jaringan, mempertemukan investor dan pengusaha, hingga membentuk legitimasi kolektif bahwa perusahaan perempuan adalah bagian nyata dari ekosistem ekonomi.
Bagi pembaca Indonesia, model ini menarik karena kita juga akrab dengan peran asosiasi bisnis dan komunitas pengusaha dalam mendorong ekosistem. Dalam banyak kasus, usaha kecil dan menengah tidak hanya membutuhkan modal, tetapi juga panggung bersama agar dianggap sebagai sektor yang serius. Ketika forum resmi mempertemukan pemerintah, pelaku industri, dan organisasi pendukung, tercipta ruang untuk membangun kepercayaan pasar. Itu sangat penting, terutama bagi industri baru yang masih berusaha menemukan skala.
Karena itu, salah satu pesan paling penting dari acara di Seoul bukan hanya soal femtech. Pesan lainnya adalah bahwa perusahaan perempuan tidak ingin terus dibaca sebagai subjek yang “dibantu”, melainkan sebagai aktor yang ikut menentukan sektor mana yang akan tumbuh. Ini adalah pergeseran dari bahasa perlindungan menuju bahasa strategi. Dalam jangka panjang, pergeseran bahasa sering kali mendahului pergeseran kebijakan dan investasi.
Apa artinya bagi Indonesia dan pembaca yang mengikuti Hallyu
Bagi publik Indonesia yang selama ini mengenal Korea Selatan lewat musik, drama, kecantikan, dan gaya hidup, berita seperti ini membuka sisi lain dari Hallyu. Gelombang Korea bukan cuma soal budaya populer yang kita konsumsi di layar, tetapi juga soal bagaimana negara itu menata ulang narasi ekonominya. Ada kesinambungan yang menarik di sini: Korea Selatan berhasil membangun kekuatan global dengan memahami selera konsumen, mengemas pengalaman, dan memadukan teknologi dengan emosi. Pola yang sama tampaknya ingin diterapkan pula pada sektor seperti femtech.
Ini penting karena industri budaya dan industri teknologi berbasis kebutuhan hidup sesungguhnya punya satu benang merah: keduanya sama-sama bertumpu pada kemampuan membaca manusia secara teliti. Dalam K-drama, detail emosi penonton menjadi kunci. Dalam produk kesehatan dan gaya hidup, detail pengalaman pengguna juga menentukan. Jadi, ketika perusahaan perempuan Korea berbicara tentang teknologi dan kepekaan, itu tidak muncul di ruang hampa. Ia lahir dari tradisi ekonomi yang memang terbiasa mengolah kedekatan dengan konsumen menjadi keunggulan kompetitif.
Bagi Indonesia, perkembangan ini dapat menjadi cermin sekaligus peluang pembelajaran. Indonesia memiliki pasar besar, basis pengguna digital yang luas, dan kebutuhan perempuan yang sangat beragam dari kota besar hingga daerah. Jika ekosistem lokal mampu mendorong lebih banyak riset, inovasi, dan bisnis yang benar-benar memahami kebutuhan perempuan, ruang pertumbuhannya tidak kecil. Bukan mustahil ke depan kita juga melihat semakin banyak startup atau perusahaan mapan yang masuk lebih serius ke layanan kesehatan perempuan, produk kebugaran personal, atau platform pendukung kualitas hidup berbasis teknologi.
Tentu, ada tantangan yang tidak ringan. Isu kesehatan perempuan masih sering dibebani stigma budaya, kesenjangan akses informasi, dan ketimpangan layanan. Karena itu, pertumbuhan sektor seperti femtech tidak cukup hanya mengandalkan semangat pasar. Ia juga perlu literasi publik, kebijakan yang peka, tenaga profesional kesehatan, serta komunikasi yang bertanggung jawab. Justru di sinilah kita bisa melihat mengapa panggung seperti yang diadakan di Seoul menjadi penting: ia membantu mengangkat isu privat menjadi diskusi publik yang lebih dewasa dan strategis.
Pada akhirnya, pembukaan Pekan Wirausaha Perempuan ke-5 di Seoul menyampaikan satu hal yang jelas. Korea Selatan sedang menguji kemungkinan baru: bahwa masa depan industri tidak selalu ditentukan oleh sektor yang paling keras suaranya, tetapi bisa juga oleh sektor yang paling peka membaca kebutuhan manusia. Femtech, dalam konteks ini, bukan hanya istilah tren. Ia adalah pertanyaan serius tentang siapa yang memahami pasar, siapa yang mampu mengubah pengalaman hidup menjadi inovasi, dan siapa yang siap membawa isu perempuan dari ruang sunyi ke pusat strategi ekonomi.
Belum ada jaminan bahwa deklarasi arah ini otomatis berubah menjadi keberhasilan pasar. Tetapi sebagai sinyal, pesannya kuat. Korea Selatan ingin perusahaan perempuannya dilihat sebagai aktor teknologi dengan visi global. Dan bagi pembaca Indonesia, terutama yang selama ini mengikuti Korea lewat budaya populer, kabar ini layak dicatat sebagai bukti bahwa transformasi Korea tidak berhenti pada hiburan. Di balik gemerlap Hallyu, ada pergeseran lain yang sedang bekerja: pencarian model pertumbuhan baru yang lebih dekat dengan tubuh, kehidupan sehari-hari, dan kebutuhan nyata setengah populasi dunia.
댓글
댓글 쓰기