Kim Gi-uk, Penjaga Setia Radio Musik Korea Selama Setengah Abad, Wafat: Dari Era Emas Siaran hingga Radio Komunitas

Kim Gi-uk, Penjaga Setia Radio Musik Korea Selama Setengah Abad, Wafat: Dari Era Emas Siaran hingga Radio Komunitas

Kepergian seorang pekerja sunyi di balik suara yang menemani generasi

Dunia penyiaran Korea Selatan berduka setelah Kim Gi-uk, sosok senior yang selama hampir 50 tahun menggarap program radio musik, meninggal dunia pada 9 Juli dini hari di Seoul akibat pendarahan otak. Ia wafat pada usia 78 tahun. Kabar duka ini mungkin tidak langsung mengguncang publik internasional seperti wafatnya aktor atau penyanyi besar, tetapi bagi mereka yang memahami sejarah budaya populer Korea, nama Kim Gi-uk menempati posisi penting: ia adalah salah satu orang di balik layar yang membantu membentuk cara musik Korea didengar, dikenang, dan dicintai masyarakat.

Bagi pembaca Indonesia, posisi Kim Gi-uk bisa dibayangkan seperti para produser radio legendaris yang membesarkan acara musik pada masa ketika radio menjadi teman utama di rumah, di warung, di mobil, hingga di pos ronda. Sebelum algoritma platform digital menentukan apa yang kita dengar, ada manusia-manusia dengan intuisi, pengetahuan musik, dan kepekaan sosial yang menyusun lagu demi lagu untuk mengiringi ritme hidup pendengarnya. Kim Gi-uk adalah salah satu figur semacam itu di Korea Selatan.

Menurut keterangan keluarga dan rekan-rekannya, Kim Gi-uk menutup hidupnya bukan sebagai tokoh yang sudah lama menjauh dari profesinya, melainkan sebagai pekerja media yang terus aktif hingga akhir. Bahkan beberapa hari sebelum wafat, ia masih menggarap siaran musik yang menjadi bagian dari hidupnya selama puluhan tahun. Fakta ini membuat kepergiannya terasa sangat simbolis: seorang produser radio yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk menjaga siaran, pada akhirnya benar-benar berpulang dari tengah tugas yang selama ini ia cintai.

Kisah hidupnya juga menyentuh satu hal yang sering luput dalam pembicaraan tentang Hallyu atau gelombang budaya Korea. Ketika dunia hari ini mengenal K-pop lewat konser stadion, fancam, media sosial, dan platform streaming, akar pertumbuhan budaya populer Korea sesungguhnya dibangun juga oleh medium yang jauh lebih intim: radio. Dan Kim Gi-uk adalah salah satu penjaga utama akar itu.

Lima dekade mengawal radio musik Korea, dari TBC hingga KBS

Kim Gi-uk lahir pada 1948 di Masan, wilayah di Provinsi Gyeongsang Selatan. Ia menempuh pendidikan di Gyeongbok High School dan kemudian mengambil jurusan jurnalistik dan penyiaran di Universitas Kyung Hee. Jalur pendidikan itu membawanya masuk ke dunia radio pada pertengahan 1970-an, saat ia mulai berkarier di TBC Radio. Pada masa itu, radio masih menjadi medium yang sangat berpengaruh dalam membangun popularitas penyanyi dan menyebarkan lagu-lagu baru ke masyarakat luas.

Karier Kim Gi-uk kemudian bertaut dengan salah satu titik penting dalam sejarah penyiaran Korea Selatan, yakni restrukturisasi besar industri media pada 1980. Setelah integrasi dan perubahan lanskap penyiaran nasional, ia melanjutkan kiprahnya di KBS, khususnya di KBS 2 Radio dan 2FM. Di sana, ia terlibat dalam penggarapan sejumlah program yang memperlihatkan keluasan seleranya sebagai produser: dari program musik populer sampai acara yang menggabungkan hiburan dengan ritme keseharian pendengar.

Bagi pembaca Indonesia yang tumbuh pada era radio FM berjaya, kita tentu akrab dengan jenis program yang bukan sekadar memutar lagu, tetapi juga membentuk suasana hidup. Ada acara pagi yang menemani orang berangkat kerja, program malam untuk mahasiswa dan pekerja lembur, serta siaran akhir pekan yang terasa seperti ruang keluarga versi udara. Di Korea, program-program seperti itulah yang ikut dibangun oleh Kim Gi-uk. Ia bukan penyanyi, bukan pula pembawa acara yang wajahnya terpampang di televisi, tetapi keputusan-keputusannya mengenai lagu apa yang diputar, penyiar seperti apa yang cocok untuk jam tertentu, dan nada seperti apa yang ingin dibangun dalam sebuah acara, ikut menentukan pengalaman mendengar jutaan orang.

Inilah sebabnya kehadiran figur seperti Kim Gi-uk penting dibaca bukan hanya sebagai biografi seorang pekerja media, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah budaya. Saat lagu-lagu Korea belum mendunia seperti sekarang, radio adalah gerbang utama yang mempertemukan artis dengan publik. Siapa yang diputar, kapan diputar, dan dalam konteks emosional seperti apa lagu itu diperkenalkan, bisa memengaruhi nasib sebuah karya. Dalam konteks itu, produser radio memiliki peran yang mirip kurator sekaligus editor budaya.

Mengapa sosok produser radio begitu penting dalam budaya pop Korea

Dalam industri hiburan modern, perhatian publik sering tersedot pada mereka yang tampil di depan kamera. Namun, radio sejak awal bekerja dengan logika yang berbeda. Ia mengandalkan keintiman suara, imajinasi, dan konsistensi rasa. Karena itu, produser radio memegang pengaruh besar meski tidak kasatmata. Kim Gi-uk dikenang para koleganya sebagai sosok yang bukan hanya panjang pengalaman, melainkan juga berwibawa dalam membentuk karakter program. Seorang juniornya di dunia penyiaran bahkan menyebutnya seperti “godfather” di ranah acara musik dan hiburan radio.

Istilah itu bukan sekadar pujian personal. Sebutan tersebut mencerminkan bagaimana Kim Gi-uk dipahami sebagai orang yang menguasai “bahasa” radio: kapan musik harus diberi ruang, kapan obrolan penyiar perlu diperpanjang, kapan emosi pendengar harus dijaga dengan lagu yang akrab, dan kapan sebuah program harus membuka pintu pada tren baru. Kemampuan seperti ini tidak lahir dalam semalam. Ia terbentuk dari pengalaman panjang membaca publik, memahami perubahan selera generasi, dan tetap menjaga identitas siaran.

Di Indonesia, kita pernah mengalami masa ketika radio bukan cuma alat hiburan, melainkan ruang pembentukan budaya populer. Penyiar radio membesarkan lagu-lagu pop, dangdut, rock, bahkan indie; pendengar menunggu chart mingguan; salam-salam dibacakan; permintaan lagu menjadi semacam interaksi sosial. Korea Selatan juga mengalami fase serupa, dan Kim Gi-uk adalah bagian dari generasi yang menghidupkan masa itu. Karena itu, saat ia wafat, yang hilang bukan hanya satu nama dalam struktur organisasi media, tetapi juga satu ingatan kolektif tentang bagaimana radio dulu membesarkan musik.

Ia tercatat pernah menggarap program seperti “Good Morning Pops” yang dibawakan Oh Seong-sik, serta “Volume Up” yang pernah dipandu Yvonne. Nama dua program ini memberi petunjuk tentang luasnya spektrum garapan Kim Gi-uk: dari konten yang beririsan dengan pembelajaran bahasa dan budaya populer global, hingga program yang lekat dengan sensibilitas anak muda. Ini menandakan bahwa ia tidak bekerja dalam ruang sempit, melainkan memahami radio sebagai medium yang menyatu dengan perubahan sosial, aspirasi generasi muda, dan kebutuhan sehari-hari pendengar.

Kedekatan dengan Cho Yong-pil dan saksi hidup tumbuhnya musik populer Korea

Salah satu aspek yang paling banyak dibicarakan setelah kabar wafatnya Kim Gi-uk adalah kedekatannya dengan penyanyi legendaris Cho Yong-pil. Bagi masyarakat Korea, Cho Yong-pil adalah nama besar yang lintas generasi, sosok yang bisa disejajarkan dengan musisi nasional yang tetap dihormati dari masa ke masa. Jika di Indonesia orang membicarakan figur yang melampaui zamannya seperti Chrisye, Ebiet G. Ade, atau Rhoma Irama dalam pengaruh yang berbeda-beda, maka Cho Yong-pil di Korea berada dalam kategori ikon besar yang jejaknya sangat panjang.

Bahwa Kim Gi-uk dikenal sebagai salah satu produser yang sangat dekat dengan Cho Yong-pil menunjukkan betapa intens hubungan antara radio dan industri musik pada masa itu. Radio bukan sekadar saluran promosi satu arah. Ia adalah tempat percakapan budaya, ruang pembentukan kepercayaan, sekaligus jembatan antara seniman dan pendengarnya. Produser yang dipercaya musisi besar biasanya bukan hanya piawai teknis, tetapi juga punya integritas, kepekaan artistik, dan kemampuan menjaga relasi jangka panjang.

Pada 2024, ketika penulis Hong Seong-gyu menerbitkan buku biografi yang menyoroti masa muda Cho Yong-pil, Kim Gi-uk menulis rekomendasi untuk buku tersebut. Dari sana tampak bahwa ia bukan sekadar orang radio yang kebetulan mengenal penyanyi terkenal, melainkan bagian dari lingkar sejarah yang menyaksikan langsung perkembangan musik Korea dari dekat. Ia berada di titik temu antara studio penyiaran, artis, penulis, dan pendengar.

Bagi pembaca Indonesia, kedekatan seperti ini penting dipahami sebagai bukti bahwa ekosistem budaya populer yang sehat tidak dibangun oleh artis saja. Ia juga ditopang oleh editor musik, produser radio, penulis lirik, sutradara acara, hingga orang-orang yang paham bagaimana membawa karya ke tengah publik dengan cara yang tepat. Dalam beberapa dekade terakhir, Hallyu sering dibaca sebagai kemenangan sistem industri hiburan Korea yang modern dan rapi. Namun, kisah Kim Gi-uk mengingatkan bahwa sebelum semuanya menjadi sangat global dan digital, ada generasi pekerja media yang membangun fondasinya lewat kerja harian yang nyaris tak terlihat.

Dari penyiaran nasional ke radio komunitas, tetap setia pada pendengar

Hal yang membuat perjalanan Kim Gi-uk terasa makin istimewa adalah pilihannya setelah pensiun dari KBS. Alih-alih benar-benar berhenti, ia terus bekerja di Gwanak FM, sebuah radio berbasis komunitas di kawasan Gwanak, Seoul. Di sana ia menjabat sebagai penanggung jawab pemrograman dan kemudian kepala divisi radio. Sejak 2009 hingga belakangan ini, ia terus terlibat aktif dalam menggarap program-program musik seperti “Live Gayo Toktok” dan “Memory Music Cafe”.

Langkah ini penting karena memperlihatkan bahwa bagi Kim Gi-uk, radio bukan sekadar karier di lembaga besar, melainkan medium pelayanan publik. Perpindahan dari penyiaran nasional ke radio lokal mencerminkan idealisme yang jarang dibicarakan dalam industri hiburan: bahwa media paling bermakna bukan selalu yang paling besar, melainkan yang paling dekat dengan kehidupan pendengarnya. Jika di Indonesia kita mengenal kekuatan radio daerah atau radio komunitas yang tetap hidup karena kedekatan mereka dengan warga, maka posisi Gwanak FM bisa dipahami dalam semangat yang mirip.

Di saat industri media bergerak ke arah video pendek, platform besar, dan metrik digital, Kim Gi-uk justru mempertahankan radio sebagai ruang interaksi langsung. Radio lokal memiliki karakter khas: ia lebih personal, lebih membumi, dan lebih cepat menangkap denyut kawasan tempat ia hidup. Ia bukan sekadar memutar lagu, tetapi juga menemani warga menjalani hari, menyapa komunitas setempat, dan menciptakan rasa akrab. Bahwa seorang veteran dengan pengalaman dari jaringan nasional memilih bertahan di ruang seperti ini menunjukkan keyakinannya pada nilai dasar penyiaran.

Seorang koleganya di Gwanak FM mengenang bahwa Kim Gi-uk bahkan tetap bekerja pada hari libur seperti Hari Buruh. Ia disebut pernah berkata, kurang lebih, bahwa saat orang lain beristirahat, justru penyiaran harus tetap berjalan. Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi menyiratkan etos profesi yang kuat. Radio, dalam pandangannya, bukan pekerjaan kantor yang selesai saat jam pulang. Ia adalah janji untuk hadir. Sama seperti petugas layanan publik yang tetap bertugas ketika masyarakat membutuhkan informasi, produser radio melihat siaran sebagai bagian dari tanggung jawab sosial.

Wafat setelah tetap bekerja sampai akhir, simbol pengabdian pada medium radio

Ada sisi yang sangat menyentuh dari kabar duka ini. Menurut keterangan rekan kerjanya, beberapa hari sebelum wafat Kim Gi-uk masih menggarap siaran selama sekitar tiga jam untuk dua program musiknya. Tak lama setelah itu, ia dilaporkan tidak lagi bangun dari tempat tidur, lalu meninggal dunia di rumah sakit. Dalam dunia jurnalistik maupun penyiaran, momen seperti ini hampir selalu meninggalkan kesan mendalam: seseorang berpulang ketika masih menjalankan panggilannya.

Tentu romantisasi atas kerja tanpa henti tidak selalu sehat bila ditempatkan dalam konteks modern yang juga bicara soal keseimbangan hidup. Namun dalam kasus Kim Gi-uk, fakta bahwa ia tetap aktif hingga akhir memperlihatkan kedalaman hubungan pribadinya dengan radio. Ia bukan sekadar bertahan karena kebiasaan atau status, melainkan terus mengambil bagian dalam proses kreatif yang menjadi inti hidupnya. Di tengah banyaknya perubahan teknologi, ia tetap setia pada bentuk komunikasi yang mengandalkan suara, ritme, dan kedekatan emosional.

Bila seorang aktor wafat, publik biasanya segera mengenang film-filmnya. Bila penyanyi wafat, orang memutar kembali lagu-lagunya. Tetapi ketika produser radio wafat, warisan yang ditinggalkan lebih halus dan tersebar. Warisan itu hadir dalam selera siaran, dalam cara pendengar belajar menikmati musik, dalam kebiasaan mendengar yang tertanam diam-diam, dan dalam standar profesional yang diwariskan kepada generasi lebih muda. Itulah jenis peninggalan yang dibawa Kim Gi-uk.

Karena itu, berita duka ini tidak hanya relevan bagi kalangan internal penyiaran Korea. Ia juga relevan bagi siapa saja yang ingin memahami bagaimana budaya populer tumbuh. Tidak semua pahlawan budaya berdiri di panggung. Ada yang justru memastikan lampu panggung menyala, suara sampai ke rumah-rumah, dan nama-nama baru mendapat ruang untuk didengar.

Pelajaran bagi era Hallyu: akar K-culture tidak lahir dari panggung saja

Hari ini, ketika Hallyu menjadi bagian dari konsumsi budaya sehari-hari di Indonesia, publik kita lebih akrab dengan idol group, drama Korea, variety show, dan konser megah. Banyak anak muda Indonesia mengenal Korea lewat BTS, BLACKPINK, TWICE, NewJeans, atau serial drama di platform streaming. Namun kisah Kim Gi-uk memberi pengingat penting bahwa kejayaan K-culture bukan fenomena instan yang muncul tiba-tiba karena media sosial. Ada sejarah panjang infrastruktur budaya di belakangnya, dan radio adalah salah satu pilar yang sangat menentukan.

Sebelum lagu Korea diputar serentak secara global, ada masa ketika radio memperkenalkan penyanyi kepada publik Korea satu per satu. Sebelum fandom terorganisasi di internet, ada pendengar yang mengenal artis dari suara penyiar dan daftar putar yang disusun dengan hati-hati. Sebelum konten video menjadi pusat promosi, ada siaran yang menumbuhkan rasa dekat antara musisi dan masyarakat. Dalam rantai panjang itu, produser seperti Kim Gi-uk bekerja sebagai penyambung utama.

Untuk pembaca Indonesia, ini juga menjadi cermin menarik. Kita pun memiliki sejarah radio yang sangat kaya, dari siaran musik populer, sandiwara radio, hingga program interaktif yang membentuk memori generasi. Di tengah dominasi platform digital, kisah Kim Gi-uk seperti mengajak kita menoleh lagi pada pertanyaan yang lebih mendasar: siapa sebenarnya yang membentuk selera budaya kita, dan medium apa yang paling intim menemani kita? Jawabannya sering kali bukan yang paling viral, melainkan yang paling setia hadir.

Kepergian Kim Gi-uk juga membuka ruang penghormatan bagi para pekerja kreatif belakang layar lain yang selama ini menopang industri budaya Korea. Jika dunia mengagumi hasil akhir berupa lagu hit, artis besar, dan gelombang ekspor budaya, maka penghormatan pada figur seperti dia adalah cara untuk mengakui seluruh ekosistem yang membuat keajaiban itu mungkin terjadi.

Pada akhirnya, duka atas wafatnya Kim Gi-uk adalah duka atas berakhirnya satu generasi yang mengalami langsung transformasi media dari radio analog, siaran nasional, FM populer, hingga radio komunitas di era digital. Tetapi warisannya tidak berhenti di ruang kenangan. Ia hidup dalam sejarah radio Korea, dalam hubungan hangat antara musik dan pendengar, dan dalam kesadaran bahwa budaya besar selalu dibangun oleh tangan-tangan yang tidak selalu terlihat.

Kim Gi-uk mungkin bukan nama yang paling akrab di telinga publik Indonesia. Namun setelah menelusuri jejak hidupnya, jelas bahwa ia adalah salah satu saksi penting tumbuhnya musik populer Korea dari medium paling sederhana: suara yang mengudara. Di zaman ketika segala sesuatu bergerak cepat dan visual menjadi pusat perhatian, kisahnya mengingatkan bahwa kedekatan sejati kadang justru lahir dari hal yang paling sederhana—suara manusia, pilihan lagu yang tepat, dan komitmen untuk terus hadir bagi pendengar.

Source: Original Korean article - Trendy News Korea

댓글

이 블로그의 인기 게시물

Di Balik Konflik HYBE, ADOR, dan Min Hee-jin: Saat NewJeans Menjadi Pusat Perebutan IP, Kreativitas, dan Kuasa di Industri K-pop

Korban yang Tersisa Lima: Saat Korea Selatan Masuk Fase Penentuan dalam Merawat, Mencatat, dan Mengajarkan Sejarah Jugun Ianfu

Korea Selatan Kalah Tipis dari Austria, tetapi PR Sebenarnya Ada di Sepertiga Akhir: Saat Son Heung-min dan Lee Kang-in Belum Cukup