Hoengseong di Korea Selatan Uji Model Perawatan Lansia Berbasis AI dan IoT: Bukan Sekadar Alat Canggih, Tapi Disiplin Sehari-hari

Hoengseong di Korea Selatan Uji Model Perawatan Lansia Berbasis AI dan IoT: Bukan Sekadar Alat Canggih, Tapi Disiplin Se

Dari angka pengukuran ke kebiasaan harian: arah baru layanan kesehatan lansia

Di tengah pembicaraan global tentang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), sebuah kabupaten di Korea Selatan justru memberi contoh yang menarik: teknologi tidak selalu harus tampil megah dan rumit agar bermanfaat. Hoengseong, wilayah di Provinsi Gangwon, menjalankan program pengelolaan kesehatan lansia berbasis AI dan internet of things (IoT) yang saat ini diikuti total 330 warga berusia 65 tahun ke atas, termasuk 126 peserta baru tahun ini. Program ini dijalankan oleh dinas kesehatan setempat dengan pendekatan non-tatap muka, memanfaatkan perangkat seperti gelang pintar, alat pengukur tekanan darah, dan alat ukur gula darah yang terhubung ke aplikasi kesehatan bernama Today Health atau dalam bahasa Korea, Oneul Geongang.

Namun yang membuat program ini relevan untuk dibahas bukan semata karena ada unsur AI atau perangkat digital. Inti dari model Hoengseong justru terletak pada pergeseran cara pandang: kesehatan lansia tidak diletakkan hanya pada rutinitas mencatat angka tekanan darah atau kadar gula, melainkan pada kemampuan menjaga kebiasaan sederhana setiap hari. Minum obat tepat waktu, berjalan kaki, keluar rumah, makan tiga kali sehari, serta memeriksa tekanan darah atau gula darah secara rutin diperlakukan sebagai rangkaian tindakan yang saling berkaitan. Dengan kata lain, teknologi hadir bukan sebagai tujuan akhir, melainkan alat bantu agar kebiasaan itu tidak putus di tengah jalan.

Bagi pembaca Indonesia, pendekatan ini terasa dekat dengan persoalan yang juga kita hadapi. Banyak keluarga di kota maupun daerah bergantung pada anak atau cucu untuk memantau kesehatan orang tua yang sudah lanjut usia. Di satu sisi, alat kesehatan rumahan makin mudah ditemukan. Di sisi lain, tantangan terbesarnya sering kali bukan membeli alat, melainkan memastikan alat itu benar-benar digunakan secara teratur. Tak sedikit keluarga yang memiliki tensimeter digital di rumah, tetapi hanya dipakai ketika ada keluhan. Dalam konteks itulah, model Hoengseong menarik karena menempatkan disiplin kebiasaan harian sebagai pusat perhatian.

Di Korea Selatan, istilah “non-face-to-face” atau layanan non-tatap muka cukup umum digunakan untuk menggambarkan layanan yang tidak menuntut pertemuan langsung, tetapi tetap dipantau oleh tenaga profesional. Konsep ini menguat sejak pandemi, lalu berkembang menjadi bagian dari layanan publik. Dalam program Hoengseong, pendekatan non-tatap muka tidak berarti lansia dibiarkan sendirian berhadapan dengan gawai. Sebaliknya, data yang dikumpulkan melalui perangkat itu diperiksa secara berkala oleh tenaga kesehatan, yang lalu memberi konsultasi seminggu sekali. Kombinasi antara kemandirian pengguna dan pemantauan profesional inilah yang menjadi nyawa program.

Hoengseong sendiri bukan kota metropolitan seperti Seoul. Justru karena berada di tingkat kabupaten, program ini memperlihatkan bagaimana transformasi digital kesehatan bisa bergerak dari wilayah lokal. Hal ini penting dicatat, karena tantangan populasi menua bukan hanya persoalan kota besar. Di banyak negara Asia, termasuk Indonesia, daerah-daerah di luar pusat ekonomi juga menghadapi pertumbuhan jumlah warga lanjut usia, sementara akses layanan kesehatan tatap muka tidak selalu mudah dan merata.

Bagaimana program ini bekerja dan apa yang sebenarnya dipantau

Menurut otoritas kesehatan Hoengseong, peserta program yang berusia 65 tahun ke atas mendapat dukungan perangkat pengukuran kesehatan, antara lain smart band, alat pengukur tekanan darah, dan alat ukur gula darah. Informasi dari perangkat tersebut lalu dihubungkan ke aplikasi Oneul Geongang. Dalam praktiknya, aplikasi ini berfungsi sebagai tempat pencatatan kesehatan harian peserta. Data dari berbagai alat tidak berdiri sendiri, melainkan dikumpulkan dalam satu alur pemantauan.

Yang menarik, sistem ini tidak dibangun hanya untuk mengarsipkan angka. Setiap peserta diberi tugas kesehatan yang disesuaikan dengan kebutuhannya. Ada yang perlu fokus pada kepatuhan minum obat, ada yang didorong lebih rajin berjalan kaki, ada pula yang perlu menjaga keteraturan makan dan pemantauan gula darah. Artinya, program ini tidak menerapkan rumus seragam bagi semua lansia. Pendekatannya lebih personal: tugas kesehatan ditentukan berdasarkan kondisi dan kebiasaan masing-masing individu.

Bila diterjemahkan ke dalam konteks keseharian, sistem ini mirip dengan buku catatan kesehatan yang lebih modern. Bedanya, catatan itu terhubung ke perangkat digital dan bisa dilihat oleh petugas kesehatan. Seorang peserta bisa mengetahui apakah hari itu ia sudah bergerak cukup banyak, apakah ia sudah memeriksa tekanan darah, atau apakah pola hariannya menunjukkan ada bagian yang mulai terlewat. Di saat yang sama, tenaga kesehatan di puskesmas versi Korea dapat meninjau catatan tersebut secara berkala dan melanjutkannya dalam bentuk konsultasi.

Di Indonesia, mekanisme serupa mungkin langsung mengingatkan pada perpaduan antara Posyandu lansia, Puskesmas, dan peran keluarga. Bedanya, pada model Hoengseong, sebagian pemantauan dipindahkan ke ruang digital. Jika biasanya anak mengingatkan ibu atau ayah lewat telepon untuk minum obat, maka di sini fungsi pengingat dan pelacakan diperkuat oleh aplikasi dan perangkat. Jika biasanya petugas kesehatan hanya bertemu warga saat kunjungan atau pemeriksaan berkala, maka di sini ada data mingguan yang bisa dipakai untuk melihat pola, bukan sekadar kondisi sesaat.

Meski menggunakan istilah AI dan IoT, materi yang tersedia tidak merinci secara teknis sejauh mana kecerdasan buatan digunakan dalam pengambilan keputusan klinis. Yang lebih jelas terlihat adalah fungsi sistem sebagai penghubung data dan pengingat kebiasaan. Karena itu, penting untuk tidak membesar-besarkan unsur teknologinya seolah-olah mesin mengambil alih peran tenaga kesehatan. Justru yang tampak dominan adalah tata kelola perilaku harian: teknologi menjadi alat untuk memastikan rutinitas sederhana tetap berlangsung.

Mengapa “keluar rumah” dan “jalan kaki” dipisahkan sebagai tugas yang berbeda

Salah satu detail paling menarik dari program ini adalah pemisahan antara tugas “berjalan kaki setiap hari” dan “keluar rumah setiap hari”. Bagi sebagian orang, kedua hal itu mungkin terdengar sama. Namun dalam perawatan lansia, keduanya punya makna berbeda. Berjalan kaki berkaitan dengan aktivitas fisik, sedangkan keluar rumah menyentuh dimensi yang lebih luas: ritme hidup, interaksi sosial, paparan lingkungan, dan upaya agar seseorang tidak terjebak dalam isolasi harian.

Dalam budaya Korea, seperti juga di Indonesia, lansia yang tinggal sendiri atau menghabiskan banyak waktu di rumah menghadapi risiko keterasingan sosial. Karena itu, “keluar rumah” dapat dibaca bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga sinyal bahwa seseorang masih terhubung dengan dunianya. Bisa jadi hanya berjalan ke halaman, mampir ke toko sekitar, atau bertemu tetangga. Dari sisi kesehatan masyarakat, tindakan kecil seperti ini penting karena menjaga keberlangsungan rutinitas dan perasaan memiliki tujuan harian.

Pembaca Indonesia tentu akrab dengan gagasan bahwa kesehatan orang tua tidak hanya ditentukan oleh obat. Banyak keluarga memahami bahwa kakek atau nenek yang rajin bergerak, ikut pengajian, menyapa tetangga, atau sekadar duduk di teras sambil berinteraksi cenderung lebih bersemangat. Dalam logika itulah, tugas “keluar rumah” menjadi masuk akal. Ia mengukur lebih dari jumlah langkah; ia menyentuh kualitas kehidupan sehari-hari.

Memisahkan dua tugas tersebut juga menunjukkan bahwa pengelola program berusaha membaca lansia sebagai manusia utuh, bukan sekadar kumpulan angka medis. Seseorang mungkin berhasil memenuhi target langkah karena mondar-mandir di dalam rumah, tetapi belum tentu cukup aktif secara sosial. Sebaliknya, seseorang bisa keluar rumah tetapi tetap memerlukan dorongan untuk meningkatkan aktivitas fisik. Dengan memisahkan keduanya, petugas kesehatan punya bahan yang lebih rinci untuk memahami pola hidup peserta.

Tentu saja, dari informasi yang tersedia, tidak ada klaim bahwa kebiasaan keluar rumah otomatis memperbaiki penyakit tertentu. Tidak ada data klinis rinci yang dipublikasikan mengenai seberapa jauh tugas-tugas harian ini menurunkan tekanan darah atau kadar gula darah. Tetapi justru di situlah kehati-hatian program ini perlu dibaca. Fokusnya bukan menjanjikan hasil instan, melainkan membangun sistem yang membantu lansia mempertahankan perilaku sehat secara konsisten.

Peran manusia tetap penting: seminggu sekali dipantau, seminggu sekali diajak bicara

Salah satu kritik paling umum terhadap digitalisasi layanan kesehatan adalah kekhawatiran bahwa teknologi akan membuat hubungan antar-manusia menjadi dingin dan mekanis. Program Hoengseong tampaknya mencoba menghindari jebakan itu. Tenaga profesional di dinas kesehatan setempat dilaporkan memeriksa data kesehatan peserta sekali seminggu dan melanjutkannya dengan konsultasi. Jadi, setelah perangkat mengumpulkan informasi, tetap ada manusia yang membaca, menafsirkan, dan mendampingi.

Skema seperti ini penting karena penggunaan alat kesehatan di rumah sering menghadapi masalah keberlanjutan. Di banyak kasus, semangat tinggi hanya muncul pada pekan-pekan awal. Setelah itu, gelang pintar tersimpan di laci, alat tensi kehabisan baterai, atau aplikasi tidak lagi dibuka. Karena itu, kehadiran petugas yang rutin memantau data bukan hanya berfungsi sebagai pengawasan, tetapi juga sebagai penguat motivasi. Peserta merasa ada yang memperhatikan perkembangan mereka, dan catatan harian yang mereka buat bukan sekadar angka yang mengendap di layar.

Dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia, pola ini bisa dibandingkan dengan efek psikologis ketika seseorang lebih disiplin berolahraga karena tahu pelatih atau dokter akan menanyakan progresnya. Rasa diawasi secara positif dapat mendorong kepatuhan. Bagi lansia, terlebih yang mungkin belum sepenuhnya akrab dengan teknologi, relasi dengan tenaga kesehatan juga memberi rasa aman. Mereka tidak dipaksa menjadi “pasien digital” yang harus memecahkan semuanya sendiri.

Dari sudut pandang kebijakan publik, model ini menunjukkan bahwa inovasi digital yang efektif bukanlah yang menghilangkan tenaga manusia, melainkan yang membagi peran secara lebih cerdas. Teknologi mengurus pencatatan berulang dan pengumpulan data. Tenaga kesehatan mengurus penilaian, komunikasi, dan penyesuaian. Pembagian tugas seperti ini penting, apalagi ketika sumber daya layanan kesehatan terbatas dan jumlah warga lansia terus bertambah.

Meski begitu, ada satu catatan yang patut diperhatikan. Otoritas setempat menyebut program ini memperoleh tingkat kepuasan yang tinggi, tetapi data rinci mengenai persentase kepuasan atau hasil surveinya belum dipaparkan. Karena itu, laporan mengenai respons positif peserta sebaiknya dibaca secara proporsional. Yang sudah pasti dapat dikonfirmasi adalah jumlah partisipan: 330 orang secara keseluruhan, termasuk 126 peserta baru tahun ini. Angka itu menunjukkan program berjalan dengan skala yang cukup nyata untuk ukuran tingkat kabupaten.

Tekanan darah, gula darah, dan makan tiga kali sehari: pelajaran tentang penyakit kronis

Program Hoengseong juga menarik karena tidak memisahkan pengukuran biometrik dari perilaku makan. Peserta yang mendapat alat pengukur tekanan darah dan gula darah tidak hanya diminta mencatat hasil, tetapi juga diarahkan untuk menjaga rutinitas makan tiga kali sehari. Dalam bahasa sederhana, program ini berusaha menyambungkan “angka di alat” dengan “kebiasaan di meja makan”.

Hal ini sangat relevan untuk penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes, yang dalam praktik sehari-hari memang tidak bisa ditangani dengan satu intervensi tunggal. Minum obat penting, tetapi pola makan juga penting. Mengecek tekanan darah penting, tetapi keteraturan aktivitas fisik dan asupan makanan juga menentukan. Dengan menjadikan makan tiga kali sehari sebagai bagian dari tugas kesehatan, program ini menyampaikan pesan yang cukup jelas: pemantauan medis dan ritme hidup tidak boleh dipisahkan.

Bagi masyarakat Indonesia, pesan seperti ini terasa akrab. Kita mengenal ungkapan bahwa orang tua harus “jangan telat makan” atau “jangan lupa obat”. Meski terdengar sederhana, dua hal itu sering justru menjadi titik lemah dalam pengelolaan penyakit kronis. Ada lansia yang rajin minum obat tetapi melewatkan sarapan. Ada yang rutin cek gula darah tetapi pola makannya tidak teratur. Ada pula yang makan teratur namun kurang bergerak. Karena itu, menyatukan berbagai komponen ini ke dalam satu layanan adalah langkah yang patut dicermati.

Secara kebetulan yang menarik, di hari yang sama dengan kabar dari Hoengseong, lembaga pertanian di Seoul juga mengumumkan program edukasi bagi kelompok usia paruh baya terkait pencegahan penyakit kronis melalui bahan pangan musiman. Program itu membahas pengelolaan pola makan untuk hipertensi dan diabetes, termasuk diet rendah garam dan rendah gula. Meski target usia dan formatnya berbeda, kedua kasus ini memperlihatkan satu arah yang sama di Korea Selatan: penyakit kronis dipandang bukan sebagai urusan rumah sakit saja, melainkan urusan keseharian, dari langkah kaki sampai menu makan.

Ini juga memberi pelajaran bagi Indonesia, terutama ketika beban penyakit tidak menular terus meningkat. Dalam banyak keluarga, pengelolaan diabetes atau hipertensi masih sangat reaktif: baru serius ketika hasil pemeriksaan memburuk. Padahal yang lebih sulit, dan lebih penting, adalah menjaga perilaku kecil setiap hari. Program Hoengseong seolah mengingatkan bahwa keberhasilan perawatan sering bukan lahir dari satu tindakan besar, melainkan dari pengulangan tindakan kecil yang dilakukan terus-menerus.

Apa arti 330 peserta bagi masa depan layanan kesehatan daerah

Jumlah 330 peserta mungkin tidak terdengar besar jika dibandingkan dengan populasi kota-kota raksasa. Namun dalam kebijakan kesehatan lokal, angka ini justru penting karena menunjukkan keberlangsungan layanan. Dari total itu, ada peserta baru dan ada pula peserta yang mendaftar kembali. Kehadiran peserta yang kembali bergabung menandakan bahwa program ini tidak berhenti sebagai proyek coba-coba satu musim. Ada kesinambungan penggunaan, setidaknya pada level partisipasi.

Di balik angka itu, ada pelajaran tentang bagaimana pemerintah daerah memposisikan teknologi. Hoengseong tidak sekadar membagikan perangkat lalu menyebut dirinya modern. Model yang tampak di sini adalah model pendampingan: alat kesehatan diberikan, data dikumpulkan, tugas harian disusun secara personal, lalu tenaga profesional memeriksa dan berkonsultasi secara berkala. Kalau diringkas, teknologi dipakai untuk merapikan kebiasaan, bukan untuk menggantikan perhatian.

Untuk Indonesia, gagasan ini bisa menjadi bahan refleksi yang menarik, terutama di tengah dorongan transformasi digital layanan publik. Sering kali digitalisasi dipahami sebagai soal aplikasi dan dashboard. Padahal, seperti terlihat pada kasus Hoengseong, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah teknologi itu membuat warga lebih mudah menjalani hidup sehat setiap hari? Apakah petugas kesehatan justru lebih mampu mendampingi, bukan semakin jauh? Dan apakah lansia merasa dibantu, bukan dibebani?

Tentu, model semacam ini juga memiliki tantangan. Literasi digital lansia tidak selalu sama. Ketersediaan internet, kemampuan menggunakan aplikasi, kenyamanan memakai gelang pintar, hingga konsistensi pengukuran mandiri menjadi faktor penentu. Belum lagi isu privasi data kesehatan yang di banyak negara makin sensitif. Karena itu, keberhasilan program semacam ini tidak boleh diukur dari seberapa canggih perangkat yang dibagikan, melainkan dari seberapa berkelanjutan penggunaan dan pendampingannya.

Pada akhirnya, kabar dari Hoengseong menunjukkan satu hal yang sederhana tetapi penting: dalam perawatan lansia, teknologi terbaik belum tentu yang paling rumit, melainkan yang paling membantu orang menjaga kebiasaan baik. Minum obat tepat waktu, berjalan kaki, keluar rumah, makan teratur, dan memantau kondisi tubuh mungkin terdengar seperti nasihat klasik yang sudah lama kita dengar dari orang tua, dokter, atau kader kesehatan. Bedanya, Hoengseong mencoba menyusunnya ke dalam sistem yang lebih rapi dan terpantau. Dan justru di situlah letak nilainya.

Di era ketika AI sering dibayangkan sebagai sesuatu yang futuristis dan jauh dari kehidupan sehari-hari, program ini memberi contoh yang membumi. AI dan IoT di sini bukan panggung utama. Tokoh utamanya tetap lansia, kebiasaan harian mereka, dan hubungan mereka dengan tenaga kesehatan. Jika model seperti ini terus berkembang, pelajaran terbesarnya bukan bahwa masa depan kesehatan harus serba otomatis, melainkan bahwa teknologi publik yang baik adalah teknologi yang membantu manusia menjalani rutinitas sehat dengan lebih konsisten, lebih terukur, dan lebih manusiawi.

Source: Original Korean article - Trendy News Korea

댓글

이 블로그의 인기 게시물

Di Balik Konflik HYBE, ADOR, dan Min Hee-jin: Saat NewJeans Menjadi Pusat Perebutan IP, Kreativitas, dan Kuasa di Industri K-pop

Korban yang Tersisa Lima: Saat Korea Selatan Masuk Fase Penentuan dalam Merawat, Mencatat, dan Mengajarkan Sejarah Jugun Ianfu

Korea Selatan Kalah Tipis dari Austria, tetapi PR Sebenarnya Ada di Sepertiga Akhir: Saat Son Heung-min dan Lee Kang-in Belum Cukup