Dari Fan ke Peneliti: Lulusan Master K-Culture Pertama di Korea Menandai Babak Baru Hallyu di Asia

Dari ruang fandom ke ruang akademik
Gelombang Hallyu selama ini kerap dibaca dari angka penjualan album, tiket konser yang ludes dalam hitungan menit, atau ramainya percakapan di media sosial setiap kali grup idola Korea merilis karya baru. Namun, ada perkembangan lain yang jauh lebih menarik dan mungkin punya dampak jangka panjang: budaya populer Korea kini makin diakui sebagai bidang kajian yang berdiri sendiri di dunia akademik. Itu terlihat dari kabar lahirnya lulusan program magister pertama di Korea Selatan yang secara spesifik menyandang nama “K-Culture and Entertainment”. Sosok yang mencatat sejarah itu bukan mahasiswa lokal, melainkan Abigail Jasmine Lyamo, 29 tahun, mahasiswa asal Filipina.
Dalam lanskap pendidikan tinggi, detail semacam ini penting. Selama bertahun-tahun, K-pop, drama Korea, fandom, industri pertunjukan, dan ekosistem hiburan Korea biasanya dibahas di bawah payung yang lebih luas seperti studi media, manajemen seni, industri budaya, atau komunikasi. Kini, istilah “K-Culture” dan “Entertainment” muncul langsung dalam nama gelar. Artinya, apa yang selama ini dianggap tren budaya populer atau fenomena industri telah naik kelas menjadi subjek pendidikan dan riset yang diakui secara lebih tegas.
Bagi pembaca Indonesia, perkembangan ini terasa relevan. Kita hidup di kawasan yang menjadi salah satu pasar terbesar Hallyu di dunia. Antrean konser di Jakarta, ledakan penjualan merchandise, hingga ramainya festival kebudayaan Korea menunjukkan bahwa hubungan Asia Tenggara dengan budaya pop Korea bukan lagi gejala sesaat. Karena itu, ketika Korea Selatan mulai memformalkan K-culture sebagai medan akademik yang mandiri, kita sebetulnya sedang menyaksikan perubahan besar: fandom tidak lagi hanya bicara selera, tetapi juga pengetahuan, profesi, dan strategi industri.
Kasus Abigail juga memperlihatkan pergeseran yang makin nyata. Penggemar internasional kini bukan sekadar konsumen yang menonton dari jauh. Mereka belajar bahasa Korea, pindah negara untuk studi, meneliti perilaku pasar, dan bercita-cita masuk ke jantung industri hiburan itu sendiri. Dalam konteks inilah kelulusan seorang mahasiswi Filipina sebagai pemegang gelar master K-Culture and Entertainment pertama di Korea menjadi simbol penting dari arah baru Hallyu.
Abigail Lyamo dan perjalanan yang akrab bagi generasi Hallyu
Kisah Abigail mudah dipahami oleh banyak penggemar Asia, termasuk di Indonesia. Ia mengaku mulai menjadi penggemar K-pop sekitar 2010 setelah mengenal SHINee. Setelah itu, ia mengikuti artis lain seperti EXO, NCT DREAM, dan SEVENTEEN. Bagi generasi yang tumbuh bersama internet, jalur seperti ini sangat familier: mula-mula menyukai satu grup, lalu masuk lebih dalam ke dunia variety show, konten di balik layar, konser, budaya fandom, sampai akhirnya mengenal industri di baliknya.
Di Indonesia, pola itu juga terlihat jelas. Banyak anak muda awalnya tertarik karena lagu atau koreografi, lalu berlanjut pada ketertarikan terhadap bahasa, makanan, gaya berpakaian, hingga cara industri hiburan Korea membangun kedekatan dengan penggemar. Tidak sedikit yang kemudian mengambil kursus bahasa Korea, menjadi penerjemah konten, membuka usaha merchandise, bekerja di promotor konser, atau meneliti budaya fandom di kampus. Karena itu, perjalanan Abigail terasa bukan sebagai kisah yang jauh, melainkan cerminan dari transformasi yang juga kita lihat di Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, hingga Makassar.
Yang membedakan Abigail adalah bagaimana ia mengubah antusiasme itu menjadi jalur akademik dan profesional. Ia merupakan lulusan De La Salle University di Filipina dengan latar belakang kewirausahaan. Saat pandemi Covid-19 membatasi mobilitas dunia, ia justru memanfaatkan masa itu untuk belajar bahasa Korea di lembaga bahasa. Keputusan itu menunjukkan bahwa Hallyu bukan hanya konsumsi hiburan, tetapi juga dapat mengubah arah hidup seseorang secara konkret. Dari sana, ia masuk sebagai mahasiswa angkatan pertama program K-Culture and Entertainment di Sungshin Women’s University, program yang baru dibuka pada 2024.
Jalur yang ia tempuh menarik karena mempertemukan beberapa unsur sekaligus: fandom, pembelajaran bahasa, studi industri, dan impian bekerja di lapangan. Abigail menyatakan ingin tetap berada di Korea untuk menambah pengalaman praktis terkait konser K-pop setelah lulus, dan suatu hari menjadi sutradara atau pengarah pertunjukan. Pernyataan ini penting dibaca secara serius. Ia menandakan bahwa K-pop telah berkembang menjadi ruang yang mampu melahirkan aspirasi profesi lintas negara. Dulu orang mungkin cukup bermimpi menonton konser idolanya dari dekat. Kini, ada penggemar yang ingin berdiri di balik panggung, mengatur tata produksi, alur pertunjukan, dan pengalaman penonton.
Mengapa nama gelar “K-Culture and Entertainment” begitu penting
Sepintas, kelulusan satu mahasiswa mungkin terlihat seperti kabar kampus biasa. Tetapi di baliknya ada makna yang lebih besar tentang bagaimana sebuah negara memandang industrinya sendiri. Penamaan gelar adalah pernyataan institusional. Ketika universitas berani menempatkan “K-Culture” dan “Entertainment” di garis depan, itu berarti mereka melihat budaya pop Korea bukan lagi sebagai topik pelengkap, melainkan medan keilmuan yang cukup kuat untuk berdiri sendiri.
Hal ini patut dicermati karena selama ini keberhasilan K-pop sering dibahas dalam bahasa ekonomi semata: devisa, ekspor budaya, pariwisata, promosi produk, dan penguatan citra nasional. Semua itu memang benar, tetapi tidak cukup. Di lapangan, K-pop adalah gabungan dari musik, koreografi, teknologi visual, platform digital, hubungan artis dan penggemar, strategi tur dunia, penjualan merchandise, produksi video, desain panggung, sampai tata kelola komunitas fandom. Kompleksitas sebesar ini memang membutuhkan perangkat analisis yang lebih khusus.
Kalau di Indonesia kita terbiasa mendengar istilah seperti ekonomi kreatif, industri musik, atau studi budaya populer, maka Korea tampaknya sedang melangkah lebih jauh dengan menamai bidang tersebut secara lebih spesifik sesuai realitas industrinya. Ini mirip ketika sebuah tren yang awalnya dianggap sementara akhirnya diakui sebagai ekosistem mapan. Dalam bahasa sehari-hari, K-pop mungkin terasa dekat dengan hiruk-pikuk fandom. Tetapi bagi kampus dan industri, ia kini diperlakukan sebagai objek riset serius yang menyangkut produksi, distribusi, konsumsi, dan kebijakan.
Tentu, satu gelar baru tidak otomatis mengubah seluruh struktur industri. Tidak tepat juga bila kita langsung menyimpulkan bahwa dunia akademik Korea sudah sepenuhnya direvolusi oleh Hallyu. Namun, kasus pertama selalu punya daya simbolik yang besar. Ia menjadi penanda awal, titik rujukan, dan kemungkinan model bagi program serupa di masa mendatang. Terlebih lagi, pemegang gelar pertama itu adalah mahasiswa asing. Fakta ini menegaskan bahwa pengetahuan tentang K-pop tidak lagi diproduksi hanya dari dalam Korea, tetapi juga oleh mereka yang hidup sebagai audiens globalnya.
Isi penelitian: konser K-pop sebagai pengalaman budaya dan strategi bisnis
Tesis Abigail berjudul tentang konsumsi konser di kalangan fandom K-pop di Korea dan Filipina serta strategi perencanaan pihak penyelenggara. Judul ini sendiri sudah memberi petunjuk bahwa penelitiannya tidak berhenti pada rasa suka terhadap idola, melainkan masuk ke pertanyaan yang sangat relevan bagi industri hiburan. Ada dua sumbu utama dalam penelitian itu: bagaimana penggemar mengonsumsi pengalaman konser, dan bagaimana promotor atau penyelenggara merancang strategi untuk menjawab pasar.
Konser K-pop memang bukan sekadar acara musik. Ia adalah pengalaman budaya yang lengkap. Penonton tidak hanya datang untuk mendengar lagu secara langsung, melainkan juga untuk mengalami momen komunal bersama fandom, menampilkan identitas lewat light stick atau dress code, membeli merchandise resmi, membuat konten media sosial, dan merasakan kedekatan emosional dengan artis. Dari luar, ini mungkin terlihat seperti perilaku konsumsi biasa. Namun, bagi peneliti budaya dan industri, setiap unsur itu punya makna: bagaimana loyalitas dibangun, bagaimana nilai ekonomi diciptakan, dan bagaimana ingatan kolektif penggemar terbentuk.
Dalam konteks Indonesia, pembaca bisa membandingkannya dengan euforia konser grup besar di Jakarta yang sering dimulai jauh sebelum hari-H. Perburuan tiket, diskusi layout venue, jual beli barang fanmade, proyek ulang tahun artis, hingga budaya menukar freebies di lokasi acara sudah menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri. Fenomena serupa juga terjadi di berbagai negara Asia Tenggara, meski dengan warna lokal yang berbeda-beda. Itulah mengapa pendekatan komparatif antara Korea dan Filipina menjadi menarik.
Dengan membandingkan dua negara, Abigail pada dasarnya menggarisbawahi satu hal: K-pop memang global, tetapi cara ia dialami tidak pernah sepenuhnya seragam. Respons penggemar dipengaruhi kondisi lokal, daya beli, kebiasaan menghadiri pertunjukan, infrastruktur venue, promotor, bahkan budaya antri dan etika menonton. Di satu negara, penggemar mungkin sangat aktif dalam proyek-proyek terorganisasi; di negara lain, pengalaman konser lebih kuat ditopang oleh spontanitas komunitas. Di satu pasar, penonton mungkin menuntut produksi panggung megah; di pasar lain, interaksi artis dengan penonton justru jadi faktor yang paling menentukan kesan mendalam.
Dari sisi penyelenggara, penelitian seperti ini juga penting karena konser K-pop kini merupakan bisnis bernilai tinggi dengan risiko besar. Harga tiket, ukuran venue, jadwal tur, sistem benefit, keamanan, promosi digital, dan pengalaman penonton di lokasi menjadi unsur yang harus dirancang presisi. Kesalahan membaca karakter pasar bisa berdampak pada penjualan maupun citra promotor. Karena itu, riset akademik yang menghubungkan perspektif penggemar dengan strategi perencana acara sangat mungkin memberi masukan yang berguna bagi industri nyata.
Filipina sebagai pasar Hallyu, dan pelajaran bagi Indonesia
Filipina disebut sebagai salah satu pasar K-pop utama di Asia Tenggara, dengan populasi lebih dari 100 juta jiwa dan basis penggemar yang aktif. Negara itu juga menarik karena pengaruh Hallyu di sana tidak berhenti pada konsumsi, tetapi turut mendorong lahirnya grup idola lokal dan model produksi yang terinspirasi dari Korea. Fenomena ini memperlihatkan bahwa K-pop bekerja bukan hanya sebagai komoditas ekspor, tetapi juga sebagai pemantik perubahan di industri hiburan lokal.
Indonesia sesungguhnya berada dalam situasi yang tidak terlalu berbeda. Kita menyaksikan bagaimana gaya pelatihan idol, format survival show, budaya fandom terorganisasi, dan pola promosi digital ala Korea mulai memengaruhi ekosistem hiburan nasional. Kehadiran konser-konser besar di Jakarta juga menunjukkan bahwa Indonesia adalah pasar yang sangat diperhitungkan. Bahkan, bagi sebagian promotor regional, Jakarta sudah lama menjadi salah satu destinasi penting dalam tur Asia.
Karena itu, penelitian yang dilakukan Abigail sebetulnya juga membuka jendela bagi pembaca Indonesia untuk merenungkan pertanyaan serupa. Apa yang membuat penggemar Indonesia rela mengeluarkan biaya besar demi satu pengalaman konser? Bagaimana promotor membaca sensitivitas harga, kenyamanan venue, akses transportasi, dan tuntutan pengalaman premium? Sejauh mana unsur lokal—mulai dari budaya komunal sampai gaya komunikasi di media sosial—membentuk pengalaman konser K-pop di Indonesia?
Di sinilah pentingnya melihat Asia Tenggara bukan sekadar “pasar luar negeri” dari sudut pandang Seoul. Kawasan ini memiliki dinamika sendiri, dan penggemarnya bukan kelompok pasif yang hanya menerima produk jadi. Mereka aktif menafsirkan, merespons, bahkan memengaruhi arah industri. Bahwa peneliti pertama dalam program master K-Culture ini berasal dari Filipina menjadi pengingat bahwa masa depan studi Hallyu kemungkinan besar akan semakin dibentuk oleh suara-suara dari luar Korea.
Soal “unsur Korea”: global tetapi tidak kehilangan akar
Salah satu bagian paling menarik dari kisah ini adalah pesan bahwa K-pop sebaiknya tetap menjaga “unsur Korea”-nya. Di tengah ekspansi global yang semakin agresif, isu ini memang menjadi perdebatan penting. Semakin besar pasar internasional, semakin kuat pula dorongan untuk menyesuaikan produk dengan selera global. Kolaborasi lintas negara, penggunaan bahasa Inggris yang lebih dominan, strategi promosi yang berpusat pada pasar Barat, dan pembentukan grup dengan komposisi multinasional adalah gejala yang sudah lama kita lihat.
Namun, pertanyaan mendasarnya sederhana: jika semua diseragamkan demi pasar global, apa yang masih membuat K-pop terasa sebagai K-pop? Daya tarik Hallyu sejak awal justru lahir dari kombinasi yang khas—sistem pelatihan yang intens, produksi visual yang sangat rapi, koreografi yang sinkron, pendekatan fan service yang terstruktur, serta identitas budaya Korea yang hadir baik secara terang-terangan maupun halus. Unsur itu tidak selalu harus berupa hanbok atau musik tradisional. Kadang ia hadir dalam cara bercerita, etos kerja produksi, relasi antara artis dan komunitas penggemar, hingga estetika panggung yang dibangun.
Bagi audiens Indonesia, isu ini mudah dipahami karena kita juga sering berdebat soal modernisasi budaya sendiri. Dalam musik, film, atau kuliner, pertanyaan serupa selalu muncul: bagaimana menjadi mendunia tanpa kehilangan jati diri? Maka, ketika penggemar internasional seperti Abigail justru menekankan pentingnya unsur Korea, pesannya patut dicatat. Globalisasi ternyata tidak selalu berarti penghapusan identitas. Justru, banyak penggemar menyukai K-pop karena ada sesuatu yang terasa berbeda, khas, dan tidak sepenuhnya bisa ditemukan di industri pop lain.
Dari sisi industri, ini adalah sinyal strategis. Adaptasi terhadap pasar lokal memang penting, tetapi menjaga identitas inti sama pentingnya. Keseimbangan antara lokalisasi dan otentisitas akan menjadi tantangan besar bagi K-pop ke depan. Promotor, agensi, dan kreator harus memahami bahwa penggemar internasional bukan hanya mengejar kemudahan akses, tetapi juga mencari pengalaman yang mereka anggap punya karakter Korea yang kuat.
Ketika fandom melahirkan profesi dan keahlian
Kelulusan Abigail juga menandai perubahan status sosial fandom itu sendiri. Selama bertahun-tahun, penggemar budaya pop sering diremehkan sebagai kelompok emosional, konsumtif, atau terlalu larut dalam hiburan. Pandangan seperti ini tidak sepenuhnya hilang, termasuk di Indonesia. Namun realitas di lapangan menunjukkan hal berbeda. Fandom modern adalah ruang produksi pengetahuan: ada yang menerjemahkan konten, mengelola proyek komunitas, membuat analisis penjualan, mempelajari strategi promosi, hingga memahami detail teknis pertunjukan dengan tingkat keseriusan tinggi.
Ketika penggemar kemudian masuk ke ruang akademik dan industri, batas antara “penonton” dan “pelaku” menjadi semakin tipis. Abigail adalah contoh paling jelas dari pergeseran itu. Ia tidak berhenti pada posisi penikmat, tetapi meneliti perilaku audiens dan bercita-cita menjadi profesional di bidang konser. Ini menunjukkan bahwa Hallyu telah menciptakan jalur mobilitas baru, terutama bagi generasi muda Asia yang tumbuh bersama internet, platform streaming, dan jejaring komunitas lintas negara.
Di Indonesia, gejala ini juga terus terlihat. Ada anak muda yang memulai dari mengelola fanbase, lalu masuk ke dunia event, pemasaran digital, media hiburan, penerjemahan, hingga riset akademik. Dalam arti tertentu, ekosistem Hallyu telah menjadi sekolah informal bagi banyak keterampilan: komunikasi komunitas, desain visual, editing video, logistik acara, negosiasi brand, sampai pemahaman perilaku konsumen. Jika sebelumnya pengalaman fandom dianggap tidak relevan di luar dunia hiburan, sekarang justru banyak aspek yang bisa diterjemahkan menjadi kompetensi profesional.
Karena itu, kelahiran pemegang gelar master K-Culture and Entertainment pertama di Korea tidak layak dipandang sekadar sebagai kisah unik. Ia mencerminkan perubahan zaman, ketika budaya populer global tidak hanya menciptakan pasar, tetapi juga membentuk pendidikan, pekerjaan, dan cita-cita generasi muda. Bahwa tokoh pertama dalam cerita ini berasal dari Asia Tenggara menambah dimensi penting: kawasan kita bukan penonton di pinggir arena, melainkan bagian aktif dari pembentukan masa depan Hallyu.
Pada akhirnya, kisah Abigail Lyamo berbicara tentang lebih dari sekadar satu kelulusan. Ia menunjukkan bahwa konser K-pop kini bisa dibaca sebagai praktik budaya, strategi bisnis, dan objek ilmu pengetahuan sekaligus. Ia juga menegaskan bahwa penggemar internasional membawa perspektif yang tak kalah penting dibanding pelaku industri di Korea sendiri. Di tengah arus globalisasi budaya yang makin cepat, kisah seperti ini menjadi pengingat bahwa hubungan antara Asia Tenggara dan Korea Selatan sudah berkembang jauh melampaui konsumsi hiburan. Ia telah menjadi hubungan pertukaran pengetahuan, aspirasi profesi, dan pencarian identitas budaya di era global.
댓글
댓글 쓰기