Dari Adu Rasa ke Drama Bertahan Hidup: Mengapa Variety Show Koki Korea Kini Lebih Menjual Situasi daripada Masakan

Dari Adu Rasa ke Drama Bertahan Hidup: Mengapa Variety Show Koki Korea Kini Lebih Menjual Situasi daripada Masakan

Peta baru variety show kuliner Korea setelah ledakan “Black and White Chef”

Gelombang baru variety show kuliner Korea sedang bergerak cepat, dan arahnya terasa berbeda dari era “cookbang” yang selama ini akrab di telinga penggemar Hallyu. Jika dulu penonton disuguhi keseruan resep, teknik memasak, atau perburuan tempat makan enak, kini pusat gravitasinya bergeser. Yang dijual bukan semata-mata rasa terbaik di atas piring, melainkan situasi: tekanan kerja, benturan budaya, harga diri seorang profesional, ritme kerja tim, sampai proses jatuh-bangun ketika seorang koki harus memulai lagi dari nol.

Perubahan ini menguat setelah kesuksesan global serial variety Netflix “Black and White Chef”, yang menunjukkan bahwa tayangan memasak Korea tidak lagi harus dikonsumsi hanya dengan logika pasar domestik. Ketegangan dapur, visual makanan, persaingan profesi, dan emosi manusia di balik proses memasak ternyata jauh lebih mudah melintasi batas bahasa dibanding yang selama ini diduga. Dari sana, stasiun televisi terestrial, kanal kabel, televisi umum berlangganan, hingga platform OTT berlomba menghadirkan program masak dengan format yang lebih berani.

Dalam perkembangan terbaru di industri penyiaran Korea, muncul sejumlah acara yang memindahkan koki dari posisi aman sebagai pakar menjadi tokoh yang harus beradaptasi di lingkungan asing. Polanya menarik: sang koki tidak lagi berdiri tenang di depan kamera sambil menjelaskan bahan dan teknik, melainkan dilempar ke dapur yang aturannya tidak ia kuasai sepenuhnya. Ia bisa salah paham karena bahasa, tertinggal ritme kerja, atau mendapati reputasinya tidak otomatis berarti apa-apa di tempat baru.

Bagi penonton Indonesia, perubahan ini terasa dekat. Kita pun sudah terbiasa melihat bagaimana program kuliner bukan lagi sekadar soal “enak atau tidak”, tetapi juga soal cerita di balik makanan: kerasnya jam kerja dapur, tantangan buka usaha, drama pelayanan pelanggan, dan perjuangan orang-orang yang hidup dari keahlian memasak. Bedanya, Korea kini meramu semua itu dengan tata produksi yang rapi dan dramatis, lalu mengemasnya sebagai hiburan lintas negara. Hasilnya, tayangan kuliner mereka tidak lagi berhenti sebagai tontonan lapar mata, melainkan berkembang menjadi drama profesi yang mudah dipahami siapa pun, termasuk penonton Indonesia yang akrab dengan realitas UMKM, warung makan keluarga, dan kerasnya persaingan usaha kuliner.

Di titik inilah kita bisa melihat bahwa yang sedang berubah bukan hanya format program, tetapi juga cara Korea memperkenalkan makanannya kepada dunia. Makanan tetap penting, tentu saja. Namun emosi yang dijual sekarang lebih dekat dengan ketegangan, rasa malu, kehormatan profesi, kerja kolektif, dan kemampuan bertahan di lingkungan yang tidak ramah. Dengan kata lain, yang dipertontonkan bukan lagi sekadar hasil masakan, melainkan kemanusiaan di balik profesi koki.

“Undercover Chef” dan daya tarik ketika koki bintang harus jadi anak baru

Salah satu contoh paling menonjol dari perubahan ini adalah program tvN “Undercover Chef”, yang mulai tayang pada Mei lalu. Konsepnya sederhana, tetapi sangat efektif: koki-koki terkenal Korea seperti Sam Kim, Jeong Ji-seon, dan Kwon Sung-jun—yang juga dikenal dengan julukan “Napoli Mafia”—menyembunyikan identitas mereka lalu bekerja di restoran luar negeri sebagai staf dapur paling junior. Mereka masuk bukan sebagai selebritas, bukan sebagai juri, melainkan sebagai “anak bawang” yang harus mematuhi sistem di dapur orang lain.

Di sinilah letak kekuatan format tersebut. Seorang koki yang di negaranya dipandang sebagai veteran, saat berada di dapur asing mendadak harus belajar ulang hal-hal mendasar. Bahasa menjadi penghalang, budaya kerja berbeda, standar komunikasi berubah, dan tempo kerja bisa jauh lebih brutal dari perkiraan. Penonton akhirnya tidak terpaku pada plating yang cantik atau pujian atas cita rasa, tetapi mengikuti momen-momen canggung sebelum hidangan itu lahir: salah instruksi, panik saat rush hour, rasa tersinggung karena keahlian tidak langsung diakui, lalu upaya pelan-pelan untuk membuktikan diri.

Secara dramaturgi, format ini cerdas karena sekaligus membongkar dan membangun kembali otoritas seorang koki. Gelar “chef terkenal” ditanggalkan terlebih dahulu. Nama besar disisihkan. Ia masuk dari tangga terbawah, lalu harus menunjukkan bahwa keahliannya memang nyata, bukan sekadar hasil popularitas televisi. Buat penonton, ini menghasilkan kepuasan emosional yang lebih kompleks daripada kompetisi rasa biasa. Kita tidak hanya menyaksikan siapa yang lebih jago, melainkan juga siapa yang sanggup menahan ego, belajar ulang, dan bertahan di bawah tekanan.

Dalam konteks pembaca Indonesia, premis seperti ini mudah dipahami karena sangat dekat dengan pengalaman sosial kita sendiri. Banyak orang pernah merasakan harus membuktikan diri lagi ketika pindah tempat kerja, masuk lingkungan baru, atau bekerja dengan standar yang berbeda. Bahkan dalam dunia kuliner lokal, seorang koki hotel belum tentu otomatis cocok ketika harus turun ke usaha kaki lima yang menuntut kecepatan tinggi, begitu pula sebaliknya. Pengalaman profesional selalu terikat pada konteks. Dan “Undercover Chef” bermain tepat di wilayah itu.

Program ini juga menggeser citra koki dari figur yang serba tahu menjadi pekerja yang rapuh tetapi gigih. Itu penting, karena penonton masa kini cenderung lebih mudah terhubung dengan figur yang manusiawi daripada sosok ahli yang terlalu sempurna. Ketika seorang koki terkenal salah langkah di dapur asing, penonton tidak selalu menertawakan. Yang muncul justru empati: ternyata menjadi ahli pun tidak membuat seseorang kebal dari rasa gugup, malu, dan harus belajar lagi dari awal.

Mengapa rating naik: penonton ternyata membeli kisah pertumbuhan, bukan sekadar resep

Kenaikan performa “Undercover Chef” di Korea memperlihatkan bahwa strategi ini bukan eksperimen kosong. Program itu memulai penayangan dengan rating nasional 2,3 persen menurut Nielsen Korea, lalu terus menanjak hingga mencatat rekor tertinggi 4,6 persen pada awal bulan ini. Industri juga mencatat bahwa acara tersebut memimpin slot waktunya selama tujuh pekan berturut-turut di antara kanal kabel dan televisi umum berlangganan.

Angka seperti itu sulit dijelaskan bila kita hanya memakai kacamata “penonton suka makanan”. Tayangan memasak sudah sangat banyak, dan pasar Korea termasuk salah satu yang paling jenuh untuk format kompetisi kuliner. Artinya, ada hal lain yang membuat penonton bertahan. Jawabannya tampaknya terletak pada struktur cerita pertumbuhan. Para koki tidak hanya diminta memasak, tetapi harus menuntaskan misi: dalam waktu lima hari, mereka harus menaikkan masakan mereka menjadi menu utama di restoran setempat. Ada tenggat. Ada risiko gagal. Ada standar orang lain yang harus dilampaui.

Tenggat waktu seperti ini bekerja sangat efektif dalam bahasa variety show modern. Ia menciptakan tekanan naratif. Penonton paham bahwa waktu terbatas membuat setiap kesalahan terasa mahal. Sementara itu, dapur lokal di negara asing menjadi ruang pengujian baru. Bukan lagi juri studio yang menilai dengan komentar formal, melainkan realitas lapangan yang tanpa kompromi. Apakah tim setempat bisa menerima mereka? Apakah pelanggan mau membeli? Apakah ritme kerja mereka bisa menyesuaikan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membangun suspense.

Fenomena tersebut mengingatkan pada bagaimana publik Indonesia menikmati program kompetisi yang memberi ruang pada perjalanan seseorang, bukan hanya hasil akhirnya. Dalam banyak ajang pencarian bakat di Indonesia, penonton sering kali lebih setia pada kontestan yang terlihat berkembang ketimbang yang sejak awal tampak sempurna. Ada kepuasan emosional ketika menyaksikan seseorang jatuh, belajar, lalu bangkit. Pola yang sama kini bekerja di variety show koki Korea.

Dengan demikian, rating “Undercover Chef” dapat dibaca sebagai sinyal bahwa penonton ingin melihat bagaimana seorang profesional menegosiasikan ulang identitasnya. Masakan hanyalah pintu masuk. Yang sesungguhnya ditonton adalah proses menjadi relevan kembali di dunia yang asing. Ini membuat tayangan kuliner terasa lebih besar dari urusan dapur. Ia menjadi kisah tentang kerja, harga diri, adaptasi, dan kemampuan manusia bertahan dalam sistem yang tidak dibangun untuk dirinya.

Dari “cookbang” ke survival: makanan kini menjadi medium untuk bicara soal kerja

Selama bertahun-tahun, “cookbang”—gabungan dari kata “cook” dan “bangsong” atau siaran—menjadi istilah penting dalam budaya televisi Korea. Format ini menekankan proses memasak sebagai tontonan, sering kali dipadukan dengan obrolan santai, tips resep, dan pendekatan yang akrab di ruang keluarga. Ada juga “meokbang”, yakni konten makan yang menonjolkan pengalaman menyantap makanan secara langsung. Kedua format itu lama mendominasi lanskap hiburan kuliner Korea dan sangat berpengaruh di Asia, termasuk di Indonesia.

Namun tren baru memperlihatkan bahwa industri Korea sedang bergerak ke tahap berikutnya. Makanan tidak ditinggalkan, tetapi fungsinya berubah. Ia menjadi medium untuk membicarakan kerja. Bukan hanya kerja kreatif dalam meracik resep, melainkan juga kerja fisik, kerja emosional, kerja tim, dan kerja komersial. Di dapur restoran, seorang koki harus bisa menerima instruksi, mengelola stres, menjaga relasi dengan rekan kerja, dan peka pada kebutuhan bisnis. Semua itu kini masuk ke layar sebagai bagian utama cerita.

Perubahan ini tampak jelas pada format-format terbaru yang mulai bermunculan setelah kesuksesan “Black and White Chef”. Ada program yang memakai skenario penyamaran seperti “Undercover Chef”. Ada pula yang lebih menekankan kompetisi bisnis, misalnya “Street Restaurant Fighter” dari tvN yang diperkenalkan bulan lalu, di mana pertarungan tidak berhenti pada penilaian rasa. Ukuran keberhasilannya adalah penjualan. Dengan kata lain, pertanyaannya bergeser dari “siapa memasak paling enak?” menjadi “siapa bisa menjual makanan ini di pasar nyata?”

Perubahan itu relevan dengan iklim zaman. Di era platform digital, penonton internasional belum tentu mengenal semua nama koki Korea, tetapi mereka paham tekanan menjadi pegawai baru, rasa ingin diakui setelah berbuat salah, dan ketegangan ketika performa diukur dengan angka penjualan. Itulah emosi universal yang mudah menembus batas budaya. Korea tampak semakin piawai mengubah materi lokal menjadi pengalaman emosional yang universal.

Bagi penonton Indonesia, pendekatan ini juga terasa lebih membumi. Dunia kuliner kita sangat lekat dengan realitas dagang. Sebuah makanan tidak cukup hanya “enak menurut juri”; ia harus laku, punya pelanggan, dan sanggup bertahan. Dari warteg, angkringan, kedai kopi susu, sampai restoran keluarga, logika yang bekerja adalah pertemuan antara rasa, efisiensi, dan kelangsungan usaha. Karena itu, ketika variety show Korea mulai memasukkan unsur kerja dan dagang secara lebih nyata, ia menjadi lebih mudah dibaca oleh penonton Asia, termasuk Indonesia, yang akrab dengan nilai pragmatis semacam itu.

Wibawa koki tidak hilang, tetapi diuji ulang di ruang yang lebih jujur

Salah satu aspek paling menarik dari tren ini adalah cara ia memperlakukan figur koki selebritas. Dalam banyak acara lama, koki tampil sebagai otoritas: ahli yang menjelaskan, menilai, atau memamerkan keterampilan tingkat tinggi. Pola itu masih punya penonton, tetapi daya pikatnya mulai terbatas. Industri tampaknya sadar bahwa publik sekarang lebih tertarik melihat bagaimana seseorang menghadapi ketidakpastian ketimbang hanya menikmati kepastian keahliannya.

Karena itu, program-program baru tidak menghancurkan wibawa koki, melainkan mengujinya di ruang yang lebih jujur. Sam Kim, Jeong Ji-seon, atau Kwon Sung-jun tetaplah koki dengan reputasi tinggi di Korea. Tetapi ketika identitas mereka disembunyikan di dapur asing, reputasi itu tidak lagi menjadi tameng. Yang berbicara hanyalah kemampuan aktual, disiplin, dan etos kerja. Di sana, keahlian menjadi sesuatu yang harus dibuktikan lagi dari nol.

Formula ini sangat efektif secara emosional. Penonton menyaksikan keretakan kecil pada sosok ahli: kebingungan, salah langkah, ragu, bahkan kehilangan muka. Tetapi justru dari situ muncul penghormatan baru. Ketika seorang profesional bersedia turun kelas demi belajar ulang, ia tampak lebih kuat, bukan lebih lemah. Wibawa tidak lagi lahir dari jarak, melainkan dari kerendahan hati untuk memulai lagi.

Dalam budaya Asia, termasuk Indonesia, tema seperti ini punya resonansi yang kuat. Kita mengenal nilai “rendah hati”, “mau belajar”, dan “tidak besar kepala” sebagai kualitas yang dihargai. Maka ketika koki terkenal Korea diperlihatkan harus kembali menjadi junior, penonton tidak melihatnya sebagai penghinaan, melainkan sebagai ujian karakter. Siapa yang benar-benar ahli akan tetap terlihat, bukan karena titel, tetapi karena cara ia bekerja ketika tidak ada privilese yang melindungi.

Di sisi lain, format seperti ini juga membuat tayangan terasa lebih ramah bagi penggemar. Kesalahan yang dilakukan peserta bukan sekadar bahan olok-olok. Ia berubah menjadi titik empati. Penonton ikut tegang, ikut berharap, bahkan ikut puas ketika mereka akhirnya diterima oleh tim atau berhasil menempatkan menu mereka di restoran. Itulah sebabnya program koki kini terasa makin dekat dengan drama pertumbuhan, bukan sekadar variety show makanan.

OTT dan televisi bergerak bersamaan karena format ini cocok untuk dua dunia sekaligus

Menariknya, ledakan program kuliner baru tidak hanya terjadi di satu jalur distribusi. Televisi terestrial, kanal kabel, televisi umum berlangganan, dan OTT sama-sama bergerak. Ini menunjukkan bahwa makanan sebagai materi hiburan memiliki kelenturan tinggi. Ia bisa tampil sangat lokal, tetapi sekaligus mudah diinternasionalkan. Dalam ekosistem media yang terfragmentasi, kemampuan seperti ini sangat berharga.

Untuk OTT, kuncinya adalah konsep yang tajam dan misi yang mudah dipahami lintas bahasa. Penonton global mungkin tidak mengerti detail semua bumbu Korea, tetapi mereka paham kompetisi, tenggat waktu, konflik tim, dan rasa terasing di tempat kerja. Karena itu, program seperti “Black and White Chef” atau “Undercover Chef” punya potensi besar di platform global. Visual makanan membantu, tetapi yang benar-benar menahan penonton tetaplah konflik manusianya.

Sementara untuk televisi, terutama di pasar Korea yang kompetitif, program harus sanggup menjaga ritme mingguan dan menarik penonton di slot waktu tertentu. Fakta bahwa “Undercover Chef” terus mencetak kenaikan rating menunjukkan bahwa format ini bukan hanya cocok untuk penonton maraton di OTT, tetapi juga efektif untuk konsumsi siaran reguler. Setiap episode bisa ditutup dengan cliffhanger kecil: apakah koki akan diterima, apakah menu akan lolos, apakah tim akan kompak, apakah target akan tercapai.

Dari sudut pandang industri, ini nyaris paket lengkap. Ada visual yang kuat, ada konflik yang universal, ada elemen budaya lintas negara, ada ruang bagi pembentukan karakter, dan ada kemungkinan viral melalui cuplikan pendek di media sosial. Cuplikan seorang koki terkenal dimarahi kepala dapur asing, misalnya, punya daya sebar yang tinggi bahkan tanpa konteks panjang. Penonton langsung menangkap dramanya.

Bagi Indonesia, perkembangan ini juga memberi pelajaran penting tentang bagaimana konten kuliner bisa berkembang melampaui formula wisata makan atau demo resep. Kita punya kekayaan gastronomi yang luar biasa, dari rendang sampai papeda, dari gudeg sampai coto Makassar. Tetapi jika ingin bicara ke audiens yang lebih luas, mungkin yang perlu diperkuat bukan hanya visual makanannya, melainkan kisah kerja, identitas, dan perjuangan orang-orang di balik makanan itu. Korea menunjukkan bahwa dapur bisa menjadi panggung yang sangat kuat untuk menceritakan manusia.

Apa arti tren ini bagi Hallyu dan penonton Indonesia

Perubahan arah variety show koki Korea pada akhirnya penting dibaca sebagai bagian dari evolusi Hallyu itu sendiri. Gelombang Korea tidak lagi hanya mengandalkan idol, drama romantis, atau serial thriller berproduksi besar. Ia juga hidup dari kemampuan mengolah tema sehari-hari menjadi cerita yang terasa global. Dapur, restoran, dan makanan adalah keseharian yang sangat lokal. Tetapi ketika dibingkai sebagai cerita tentang adaptasi, etika kerja, gengsi profesi, dan pertarungan ekonomi, tema itu berubah menjadi bahasa universal.

Untuk penonton Indonesia, tren ini menjanjikan dua hal sekaligus. Pertama, ada jendela baru untuk memahami Korea di luar glamor industri hiburannya. Kita melihat bagaimana budaya kerja, hierarki dapur, relasi senior-junior, dan cara profesi dihormati di sana. Istilah seperti “maknae”, yang secara umum berarti anggota termuda atau paling junior dalam sebuah kelompok, mendapat konteks baru ketika dibawa ke dapur profesional. Menjadi “maknae” bukan sekadar lucu-lucuan seperti di variety show idol, tetapi posisi kerja yang menuntut kepatuhan, kecepatan, dan daya tahan mental.

Kedua, tren ini membuat pengalaman menonton menjadi lebih inklusif. Bahkan mereka yang bukan penggemar berat kuliner Korea atau tidak hafal nama chef ternama tetap bisa masuk ke ceritanya. Seorang penonton di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, atau Medan mungkin tidak tahu detail teknik masak tertentu, tetapi akan langsung paham arti tekanan ketika harus membuktikan diri di lingkungan baru. Itulah jembatan emosional yang membuat konten Korea terus relevan di banyak negara.

Ke depan, bukan hal mustahil jika semakin banyak program kuliner Korea menggabungkan elemen survival, bisnis, perjalanan, dan lintas budaya. Selama ini, televisi kuliner sering dianggap aman tetapi mudah repetitif. Kini Korea menemukan cara untuk memperbaruinya: bukan dengan meninggalkan makanan, melainkan dengan menempatkan makanan di tengah konflik manusia yang lebih besar. Penonton tidak lagi hanya bertanya, “Masakannya enak atau tidak?” Mereka mulai bertanya, “Bagaimana orang ini bertahan, belajar, dan akhirnya diakui?”

Pada akhirnya, inilah kekuatan baru variety show koki Korea. Ia tidak berhenti pada sensasi visual atau godaan rasa. Ia menawarkan drama profesi yang terasa nyata, kadang pahit, kadang memalukan, tetapi justru karena itu sangat memikat. Di tengah banjir konten global, format seperti ini punya peluang besar untuk terus tumbuh, sebab ia menyentuh sesuatu yang dekat dengan semua orang: keinginan untuk dihargai kembali ketika kita berada di tempat yang tidak mengenal siapa kita.

Source: Original Korean article - Trendy News Korea

댓글

이 블로그의 인기 게시물

Di Balik Konflik HYBE, ADOR, dan Min Hee-jin: Saat NewJeans Menjadi Pusat Perebutan IP, Kreativitas, dan Kuasa di Industri K-pop

Korban yang Tersisa Lima: Saat Korea Selatan Masuk Fase Penentuan dalam Merawat, Mencatat, dan Mengajarkan Sejarah Jugun Ianfu

Korea Selatan Kalah Tipis dari Austria, tetapi PR Sebenarnya Ada di Sepertiga Akhir: Saat Son Heung-min dan Lee Kang-in Belum Cukup