Bekas SMP di Korea Selatan Disulap Jadi Pusat Belajar Anak Usia Dini, Model yang Mengingatkan Indonesia pada Tantangan Revitalisasi Sekolah Desa

Bekas SMP di Korea Selatan Disulap Jadi Pusat Belajar Anak Usia Dini, Model yang Mengingatkan Indonesia pada Tantangan R

Dari sekolah yang tutup menjadi ruang tumbuh generasi baru

Di tengah perdebatan banyak negara soal nasib sekolah-sekolah kecil di daerah yang kehilangan murid, sebuah kabar dari Korea Selatan menarik perhatian. Kantor Pendidikan Provinsi Otonom Khusus Jeonbuk meresmikan sebuah fasilitas pendidikan anak usia dini di Sunchang, wilayah timur Jeonbuk, dengan memanfaatkan bekas kampus Gurlim Middle School atau SMP Gurlim yang sudah tidak lagi beroperasi. Tempat yang dulu menjadi ruang belajar remaja itu kini dihidupkan kembali sebagai pusat pengalaman terpadu khusus anak usia dini bernama Gurlim Early Childhood Comprehensive Learning Branch.

Peresmian dilakukan pada 14 Juli 2026. Yang membuat proyek ini menonjol bukan semata bangunannya yang baru, melainkan gagasan di baliknya: ruang pendidikan lama tidak dibongkar atau dibiarkan kosong, melainkan diberi fungsi baru untuk kelompok usia yang berbeda. Di atas lahan seluas 20.461 meter persegi, berdiri bangunan dua lantai dengan luas total 2.143 meter persegi. Total investasi yang digelontorkan mencapai 17,4 miliar won, atau jika dibaca dari kacamata Indonesia, nilainya setara ratusan miliar rupiah tergantung kurs. Fasilitas ini dirancang menampung hingga 200 anak per hari.

Bagi pembaca Indonesia, langkah ini terasa relevan. Kita pun akrab dengan cerita sekolah di daerah yang kehilangan murid karena urbanisasi, perubahan demografi, atau penggabungan lembaga pendidikan. Di banyak kabupaten, bangunan sekolah yang pernah ramai perlahan sepi. Ada yang tetap berdiri namun jarang dipakai, ada pula yang berubah fungsi secara sporadis. Yang dilakukan Jeonbuk memperlihatkan satu kemungkinan lain: bekas sekolah tidak harus menjadi simbol kemunduran desa, tetapi dapat diubah menjadi investasi sosial baru.

Dalam konteks Korea Selatan, isu ini berkait erat dengan penurunan angka kelahiran. Negara itu sejak lama bergulat dengan krisis demografi yang berdampak langsung pada dunia pendidikan, terutama di wilayah non-metropolitan. Ketika jumlah anak usia sekolah menurun, sekolah-sekolah kecil di daerah lebih rentan ditutup. Namun alih-alih berhenti pada penutupan, pemerintah daerah pendidikan di Jeonbuk mencoba memikirkan mata rantai berikutnya: jika anak usia SMP makin sedikit, bagaimana ruang yang tersisa tetap dapat melayani generasi berikutnya, yakni anak usia dini.

Keputusan itu menjadikan proyek di Sunchang lebih dari sekadar pembangunan fasilitas bermain. Ia adalah pernyataan kebijakan pendidikan, sekaligus upaya menjawab perubahan sosial dengan pendekatan yang konkret.

Mengapa bekas sekolah ini penting, bukan sekadar proyek bangunan baru

Salah satu aspek paling menarik dari proyek ini adalah “riwayat” ruangnya. Banyak fasilitas pendidikan atau rekreasi anak dibangun dari nol di lahan baru. Sementara itu, pusat pengalaman anak usia dini di Sunchang justru lahir dari bekas sekolah menengah yang sudah selesai menjalankan fungsi lamanya. Ada kesinambungan yang terasa simbolis: tempat itu tetap menjadi ruang belajar, hanya penggunanya yang berubah dari remaja menjadi anak-anak usia dini.

Dalam dunia kebijakan publik, perubahan fungsi semacam ini kerap dipandang lebih bermakna daripada sekadar pembangunan fisik. Sebab yang dipertahankan bukan cuma bangunannya, melainkan nilai sosialnya sebagai ruang komunal. Sekolah, di banyak masyarakat Asia termasuk Korea dan Indonesia, bukan sekadar tempat pelajaran formal. Ia adalah penanda kehadiran negara, pengikat komunitas, dan lambang harapan keluarga terhadap masa depan anak. Ketika sebuah sekolah tutup, yang hilang tidak cuma aktivitas belajar, tetapi juga denyut sosial sebuah lingkungan.

Karena itu, pengalihan fungsi menjadi pusat belajar anak usia dini memberi pesan bahwa negara tidak meninggalkan tempat tersebut. Hanya bentuk layanannya yang disesuaikan dengan kebutuhan baru. Bila di Indonesia publik sering menyambut hangat program revitalisasi pasar tradisional, taman kota, atau balai warga karena dianggap menghidupkan kembali ruang bersama, maka dalam kasus Jeonbuk, logikanya mirip: ruang lama diberi kehidupan baru agar tetap berguna bagi masyarakat sekitar.

Tentu perubahan ini bukan perkara menempelkan papan nama baru. Ruang untuk anak usia dini membutuhkan rancangan yang berbeda total dibanding sekolah menengah. Anak kecil perlu sirkulasi yang aman, area bergerak yang bebas, ruang eksplorasi sensorik, fasilitas sanitasi yang ramah anak, dan perpaduan aktivitas dalam-ruang serta luar-ruang. Jadi, yang dilakukan Jeonbuk bukan mempertahankan fungsi lama secara pasif, melainkan menyusun ulang tujuan ruang berdasarkan tahap perkembangan penggunanya.

Itulah sebabnya proyek ini dinilai punya bobot sosial dan pendidikan sekaligus. Bekas sekolah tidak diperlakukan sebagai bangunan sisa, melainkan sebagai fondasi untuk kebutuhan pendidikan yang berbeda. Dalam bahasa yang lebih dekat bagi pembaca Indonesia, ini seperti mengubah gedung lama yang pernah berjasa menjadi pusat layanan yang kembali relevan bagi warga hari ini.

Konsepnya bukan playground biasa: alam, kreativitas, dan literasi digital

Fasilitas baru di Sunchang disebut sebagai pusat pengalaman terpadu untuk anak usia dini. Kata “terpadu” di sini penting. Ia menandakan bahwa tempat ini bukan taman bermain indoor biasa, bukan pula sekadar ruang penitipan anak dengan beberapa alat permainan. Menurut otoritas pendidikan Jeonbuk, rancangan tempat ini menggabungkan permainan ramah alam dengan pendidikan masa depan, sehingga anak-anak dapat menumbuhkan kepekaan ekologis, kreativitas, dan kemampuan digital secara alami melalui proses bermain.

Bagi pembaca Indonesia, istilah seperti “kepekaan ekologis” mungkin terdengar akademis. Sederhananya, ini adalah kemampuan anak untuk merasa dekat dengan alam, memahami lingkungannya, dan membangun kebiasaan yang tidak memusuhi alam sejak kecil. Di Korea, konsep ini makin sering masuk ke desain pendidikan anak seiring meningkatnya perhatian pada perubahan iklim, kualitas hidup, dan pentingnya pengalaman langsung di luar layar. Jadi, anak bukan hanya diajak mengenal huruf atau angka, melainkan juga tekstur tanah, ritme musim, tumbuhan, air, dan interaksi sosial lewat kegiatan yang membumi.

Yang juga menarik adalah cara Jeonbuk meletakkan unsur digital. Mereka tidak memisahkan dunia alam dan dunia teknologi sebagai dua kutub yang saling meniadakan. Sebaliknya, keduanya justru digabungkan dalam alur bermain. Ini sejalan dengan tren pendidikan anak usia dini di banyak negara maju, yakni memperlakukan teknologi bukan sebagai hafalan perangkat, melainkan alat bantu eksplorasi. Anak tidak dipaksa “belajar digital” seperti orang dewasa belajar aplikasi kantor, tetapi diperkenalkan pada pengalaman yang melatih rasa ingin tahu, pemecahan masalah, dan adaptasi terhadap lingkungan belajar masa depan.

Di Indonesia, perdebatan tentang anak kecil dan gawai sering berhenti pada soal durasi layar. Itu memang penting. Namun proyek seperti di Sunchang memperlihatkan diskusi yang lebih maju: bagaimana teknologi diperkenalkan dalam format yang sesuai perkembangan anak, tidak menggusur pengalaman tubuh dan alam, tetapi justru melengkapinya. Dengan kata lain, yang dikejar bukan anak cepat mahir perangkat, melainkan anak tumbuh dengan imajinasi, rasa aman saat bereksplorasi, dan kesiapan menghadapi ekosistem belajar abad ke-21.

Pendekatan ini juga menegaskan posisi bermain sebagai inti pembelajaran. Dalam banyak budaya Asia, termasuk Indonesia dan Korea, orang tua kadang masih tergoda mengukur kualitas pendidikan dari seberapa cepat anak bisa membaca, berhitung, atau menghafal. Padahal dalam pendidikan anak usia dini, bermain bukan lawan dari belajar. Bermain justru merupakan cara belajar itu sendiri. Saat anak bergerak, menyentuh, membangun, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi, di situlah fondasi kreativitas, regulasi emosi, kerja sama, dan kepercayaan diri tumbuh.

Karena itu, pusat pengalaman di Sunchang layak dibaca sebagai bagian dari perubahan filosofi pendidikan, bukan hanya urusan arsitektur fasilitas.

Sunchang dan Namwon sebagai poros layanan bersama di wilayah timur Jeonbuk

Fasilitas ini terutama ditujukan untuk anak-anak dari taman kanak-kanak dan daycare di wilayah timur Jeonbuk, terutama Sunchang dan Namwon. Dari sini terlihat bahwa proyek tersebut tidak didesain untuk melayani satu institusi tertentu, melainkan berfungsi sebagai pusat bersama. Dengan kapasitas 200 anak per hari, tempat itu memungkinkan berbagai lembaga pendidikan anak usia dini berbagi akses terhadap fasilitas yang mungkin sulit dibangun sendiri-sendiri.

Model ini menarik jika dibandingkan dengan situasi di Indonesia. Banyak lembaga PAUD, TK, dan kelompok bermain di daerah bekerja dengan sumber daya terbatas. Tidak semua punya halaman luas, fasilitas eksplorasi luar ruang, apalagi sarana pembelajaran tematik yang lengkap. Akibatnya, kualitas pengalaman anak bisa sangat bergantung pada kemampuan masing-masing lembaga. Kalau satu wilayah punya fasilitas komunal yang dirancang baik dan dapat diakses bergilir oleh banyak sekolah atau daycare, ketimpangan pengalaman belajar berpotensi diperkecil.

Dalam logika kebijakan wilayah, keberadaan pusat seperti ini juga memperkuat konektivitas antar-daerah. Sunchang, yang dikenal sebagai kawasan yang lebih tenang dan dekat dengan lanskap pedesaan, tidak hanya menjadi lokasi fisik bangunan, tetapi juga simpul layanan pendidikan untuk kawasan sekitar. Namwon dan daerah lain di timur Jeonbuk dapat ikut menikmati manfaatnya. Artinya, satu bangunan tidak berdiri untuk kebanggaan lokal semata, melainkan menjadi infrastruktur pendidikan kawasan.

Aspek ini penting karena Korea Selatan, seperti juga Indonesia, menghadapi kesenjangan antara pusat dan daerah. Fasilitas pendidikan terbaik kerap terkonsentrasi di kota besar. Ketika provinsi berinvestasi cukup besar untuk membangun pusat anak usia dini di bekas sekolah daerah, ada pesan politik yang jelas: kualitas layanan publik tidak boleh hanya menjadi hak keluarga di wilayah metropolitan.

Bagi masyarakat Indonesia, pendekatan semacam ini mengingatkan pada kebutuhan membangun ekosistem pendidikan yang tidak terlalu Jawa-sentris atau kota-sentris. Di level wacana, kita sering membicarakan pemerataan. Namun pemerataan butuh bentuk nyata: transportasi yang mendukung, fasilitas bersama yang bisa dipakai lintas sekolah, serta keberanian pemerintah daerah mengubah aset lama menjadi ruang layanan baru. Jeonbuk memberi satu contoh bagaimana aset pendidikan yang tadinya kehilangan fungsi justru bisa disambungkan kembali ke kebutuhan masa kini.

Apa yang sesungguhnya dibangun: investasi pada tahun-tahun awal kehidupan

Pernyataan Kepala Kantor Pendidikan Jeonbuk, Cheon Hoseong, memberi petunjuk penting soal arah kebijakan ini. Ia menekankan bahwa masa kanak-kanak awal adalah titik awal paling penting bagi pembelajaran dan pertumbuhan sepanjang hayat. Ia juga berharap pusat di Gurlim menjadi ruang tempat bermain dan belajar menyatu di tengah alam, sekaligus tempat setiap anak menumbuhkan kemungkinan dirinya masing-masing dan bersiap menghadapi masa depan.

Pernyataan seperti ini mungkin terdengar normatif, tetapi sesungguhnya mencerminkan pergeseran besar dalam cara negara melihat pendidikan. Dulu, perhatian publik sering menumpuk pada jenjang yang menghasilkan nilai ujian, prestasi kompetisi, atau peluang masuk universitas. Kini, makin banyak pemerintah daerah dan peneliti pendidikan menekankan bahwa fondasi paling menentukan justru dibangun jauh lebih awal, pada usia ketika anak belajar mengenali diri, lingkungan, bahasa, gerak, emosi, dan relasi sosial.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, kualitas pengalaman anak sebelum masuk sekolah dasar sangat memengaruhi cara ia belajar di masa depan. Anak yang tumbuh dalam lingkungan aman, kaya stimulasi, dan memberi ruang eksplorasi cenderung memiliki rasa ingin tahu, kemampuan berinteraksi, dan kesiapan belajar yang lebih baik. Karena itu, investasi di usia dini bukan sekadar urusan pengasuhan, tetapi strategi jangka panjang untuk kualitas sumber daya manusia.

Indonesia sebenarnya juga mulai bergerak ke arah ini lewat penguatan PAUD holistik integratif, kampanye pengasuhan berbasis keluarga, hingga perhatian terhadap stunting yang dikaitkan dengan kualitas tumbuh kembang anak. Namun tantangannya masih besar. Di banyak tempat, PAUD masih dipandang sebagai tahap “persiapan calistung”, bukan fase pembangunan fondasi perkembangan. Dalam praktik sehari-hari, orang tua kerap bertanya apakah anak sudah cepat membaca, bukan apakah ia nyaman bereksplorasi, mampu berkomunikasi, atau punya ketahanan emosi.

Karena itu, proyek di Jeonbuk menarik bukan lantaran bangunannya megah, melainkan karena ia mewujudkan sebuah keyakinan pendidikan ke dalam ruang fisik. Bangunan, halaman, alur aktivitas, dan kapasitas layanan semuanya dirancang untuk mendukung pemahaman bahwa anak kecil belajar paling baik ketika bermain, bergerak, bersentuhan dengan alam, dan diberi kebebasan untuk mencoba. Jika diterjemahkan ke konteks Indonesia, ini semacam pengingat bahwa kualitas pendidikan anak usia dini tidak cukup diukur dari seragam lucu atau lomba wisuda, tetapi dari pengalaman harian yang membentuk cara anak memandang dunia.

Pelajaran bagi Indonesia: ketika sekolah desa menurun, apakah semua harus berakhir?

Ada satu lapisan lain yang membuat kisah dari Sunchang ini penting bagi pembaca Indonesia, yakni persoalan desa, migrasi, dan masa depan ruang publik. Banyak wilayah di Indonesia mengalami perubahan demografi: penduduk usia muda bergerak ke kota, keluarga kecil menjadi lebih umum, dan fasilitas umum di sejumlah daerah tidak lagi seramai dulu. Dalam situasi seperti itu, bangunan sekolah yang kehilangan murid kerap memunculkan dilema. Dirawat mahal, dibongkar sayang, dibiarkan kosong juga mengundang masalah.

Model Jeonbuk menunjukkan bahwa jawaban tidak selalu harus berupa komersialisasi atau pembiaran. Bekas sekolah dapat diubah menjadi pusat pembelajaran anak, balai pelatihan warga, pusat budaya lokal, perpustakaan komunitas, atau layanan lintas generasi—tentu sesuai kebutuhan daerah masing-masing. Kuncinya adalah melihat bangunan sebagai aset sosial, bukan beban administratif semata.

Untuk Indonesia, kemungkinan ini sangat terbuka, apalagi banyak daerah memiliki kekayaan alam dan budaya yang bisa diintegrasikan ke dalam pendidikan anak. Bayangkan jika bekas sekolah di kawasan pegunungan diubah menjadi pusat eksplorasi alam untuk PAUD dan SD awal; atau sekolah lama di sentra kerajinan disulap menjadi ruang belajar sensori yang mengenalkan tekstil, bambu, tanah liat, dan musik tradisional secara aman bagi anak. Dalam konteks kita, pendidikan masa depan tidak harus selalu tampil serba digital dan steril. Justru ia bisa sangat lokal, berakar pada lingkungan sekitar, namun tetap modern dalam pendekatan belajar.

Tentu saja, meniru mentah-mentah model Korea tidak realistis. Kapasitas anggaran, tata kelola, dan kebutuhan masyarakat berbeda. Namun nilai paling penting dari kasus Sunchang bukan angka investasinya, melainkan cara berpikirnya: ketika kebutuhan berubah, fungsi aset publik bisa diubah secara kreatif tanpa melepaskan tujuan pendidikan. Ini pelajaran yang relevan untuk banyak pemerintah daerah di Indonesia yang sedang mencari bentuk pemanfaatan bangunan lama agar tetap hidup dan berguna.

Lebih jauh lagi, proyek ini juga mengingatkan bahwa pendidikan yang baik selalu punya dimensi ruang. Kita terlalu sering membahas kurikulum, nilai, dan guru, tetapi lupa bahwa tempat belajar ikut membentuk kualitas pengalaman anak. Ruang yang aman, lapang, ramah alam, dan mengundang rasa ingin tahu akan menghasilkan ritme belajar yang berbeda dibanding ruang yang sempit, kaku, dan sepenuhnya berpusat pada instruksi.

Ketika masa lalu dan masa depan bertemu di satu halaman sekolah

Pusat pengalaman anak usia dini di bekas SMP Gurlim pada akhirnya berdiri sebagai simbol pertemuan antara masa lalu dan masa depan. Masa lalu hadir dalam jejak sebuah sekolah yang pernah menjalankan fungsi penting bagi komunitas. Masa depan muncul dalam visi baru tentang pendidikan anak: lebih peka pada alam, lebih menghargai permainan sebagai sarana belajar, dan lebih siap mengenalkan anak pada dunia yang akan terus berubah.

Nilai proyek ini tidak berhenti pada hari peresmiannya. Ujian sebenarnya baru dimulai setelah pintu dibuka: bagaimana fasilitas itu dikelola, bagaimana anak-anak benar-benar mengalami pembelajaran yang menyenangkan, bagaimana lembaga-lembaga di wilayah timur Jeonbuk memanfaatkannya secara merata, dan bagaimana tujuan besar seperti kreativitas, kepekaan ekologis, serta kesiapan digital diterjemahkan dalam kegiatan sehari-hari. Bangunan sebesar apa pun hanya menjadi kulit jika pengalaman di dalamnya tidak hidup.

Namun sebagai gagasan kebijakan, langkah Jeonbuk patut dicatat. Ia menawarkan narasi tandingan terhadap kesan suram yang sering melekat pada sekolah tutup. Alih-alih dianggap akhir dari sebuah cerita, penutupan sekolah bisa menjadi titik balik untuk merancang fungsi baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan generasi berikutnya. Dalam hal ini, bekas SMP di Sunchang bukan monumen kehilangan murid, melainkan laboratorium kecil tentang bagaimana sebuah wilayah membayangkan masa depannya.

Bagi pembaca Indonesia yang mengikuti perkembangan Korea tidak hanya lewat drama, K-pop, atau tren kecantikan, kabar seperti ini menunjukkan sisi lain Hallyu yang jarang masuk sorotan: inovasi kebijakan sosial dan pendidikan di tingkat lokal. Ini bukan berita glamor, tetapi justru di sinilah kualitas sebuah masyarakat sering terlihat—pada cara mereka memperlakukan anak kecil, ruang publik, dan bangunan yang pernah berjasa.

Jika kelak lebih banyak wilayah di Asia, termasuk Indonesia, mulai memikirkan ulang nasib sekolah-sekolah yang sepi murid dengan pendekatan serupa, maka kisah dari Sunchang bisa dibaca sebagai inspirasi yang datang dari tempat yang tidak berisik. Sebuah sekolah yang tutup, sebuah halaman yang dihidupkan lagi, dan sekelompok anak kecil yang kini mendapat ruang baru untuk bermain, belajar, dan membayangkan dunia.

Source: Original Korean article - Trendy News Korea

댓글

이 블로그의 인기 게시물

Di Balik Konflik HYBE, ADOR, dan Min Hee-jin: Saat NewJeans Menjadi Pusat Perebutan IP, Kreativitas, dan Kuasa di Industri K-pop

Korban yang Tersisa Lima: Saat Korea Selatan Masuk Fase Penentuan dalam Merawat, Mencatat, dan Mengajarkan Sejarah Jugun Ianfu

Korea Selatan Kalah Tipis dari Austria, tetapi PR Sebenarnya Ada di Sepertiga Akhir: Saat Son Heung-min dan Lee Kang-in Belum Cukup