Wajah ‘Midnight Diner’ Jepang Bawa Jeju ke Layar Pemirsa: Ketika Wisata Korea Dijual Lewat Rasa, Ritme Lambat, dan Kedekatan Emosional

Jeju masuk layar Jepang lewat wajah yang sudah akrab bagi penonton
Jeju kembali mencari jalan baru untuk berbicara kepada publik internasional, kali ini lewat medium yang terasa lebih akrab dan lebih halus ketimbang iklan wisata biasa. Pulau paling selatan Korea Selatan itu menjadi pusat sebuah program spesial wisata berdurasi satu jam yang diproduksi bersama pemerintah Provinsi Jeju, kantor cabang Fukuoka dari Organisasi Pariwisata Korea, Jeju Tourism Organization, dan stasiun televisi regional Jepang RKB Mainichi Broadcasting. Program ini dijadwalkan tayang pada 17 Mei malam, lalu akan diperluas jangkauannya melalui kanal YouTube resmi berita RKB.
Yang membuat proyek ini menarik bukan semata karena Jeju lagi-lagi dipromosikan ke luar negeri. Hal yang paling menonjol justru pilihan sosok yang diajak menjadi jembatan cerita: aktor Jepang Yutaka Matsushige. Bagi banyak penonton Asia, termasuk penikmat drama Jepang di Indonesia, nama Matsushige tidak bisa dilepaskan dari citranya sebagai figur yang tenang, membumi, dan sangat lekat dengan kisah tentang makanan. Ia dikenal luas lewat peran-peran yang membuat aktivitas makan tidak tampil sekadar sebagai rutinitas, melainkan pengalaman emosional yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Di titik inilah strategi promosi Jeju terasa cerdas. Alih-alih hanya menyuguhkan daftar destinasi, program tersebut menempatkan Jeju sebagai ruang yang dialami oleh seorang figur publik yang sudah dipercaya penonton. Penonton Jepang tidak diajak “mendengar iklan”, melainkan “mengikuti seseorang” yang mereka kenal saat berjalan, mencicipi, dan menikmati suasana pulau itu. Dalam logika media hari ini, pendekatan seperti ini jauh lebih efektif. Emosi lebih mudah terbangun ketika destinasi hadir melalui wajah yang familier.
Bagi pembaca Indonesia, pola seperti ini sebenarnya tidak asing. Kita pun sering melihat bagaimana satu figur publik bisa mengubah persepsi orang terhadap sebuah tempat. Ketika sebuah kawasan kuliner mendadak ramai setelah dikunjungi tokoh terkenal, atau sebuah kota menjadi destinasi incaran karena muncul di film dan serial populer, yang bekerja bukan cuma keindahan visual, tetapi juga efek kedekatan. Jeju tampaknya sedang memainkan mekanisme yang sama, hanya saja dengan kemasan lintas negara dan dengan aktor yang punya nilai budaya kuat di pasar Jepang.
Karena itulah, program ini layak dibaca bukan sekadar sebagai kabar pariwisata, melainkan sebagai bagian dari pergeseran cara Korea Selatan mengekspor citra daerahnya. Kalau selama ini Hallyu identik dengan idol, drama, dan film, kini yang ikut bergerak adalah lanskap lokal: hutan, laut, makanan, kafe, dan cara hidup yang lebih lambat.
Jeju dijual bukan sebagai tempat singgah, melainkan tempat untuk tinggal sejenak
Dalam keterangan yang beredar, program ini menekankan dua kata kunci utama: alam dan gastronomi. Jeju diperkenalkan sebagai pulau dengan hutan mistis, gunung, dan laut berwarna zamrud, sebuah wilayah yang pada 2007 tercatat sebagai Situs Warisan Alam Dunia UNESCO. Namun yang menarik, alam di sini tidak dipakai hanya sebagai latar pemandangan kartu pos. Jeju dibingkai sebagai ruang yang menyimpan “waktu”, tempat di mana ritme kehidupan terasa lebih pelan dan pengalaman perjalanan tidak diukur dari banyaknya lokasi yang dicentang dalam sehari.
Pendekatan ini sangat relevan dengan tren wisata global pascapandemi. Banyak pelancong kini tidak lagi puas dengan model perjalanan yang serba cepat dan padat agenda. Mereka mencari pengalaman yang lebih personal: menginap lebih lama, makan dengan tenang, berjalan tanpa terburu-buru, dan merasa benar-benar hadir di tempat yang dikunjungi. Dalam bahasa promosi pariwisata Korea, konsep ini sering diterjemahkan ke istilah “healing”, sebuah kata serapan bahasa Inggris yang di Korea dipakai sangat luas untuk menggambarkan pemulihan diri lewat alam, ketenangan, dan jeda dari rutinitas.
Bagi pembaca Indonesia, istilah “healing” tentu sudah akrab. Dalam percakapan sehari-hari di media sosial kita, kata itu nyaris menjadi bahasa umum—meski artinya kadang bergeser dari pemulihan emosional menjadi sekadar liburan singkat. Di Korea, nuansanya sedikit lebih spesifik. “Healing trip” biasanya merujuk pada perjalanan yang menekankan ketenangan, udara bersih, lanskap alami, dan aktivitas yang tidak terlalu menuntut energi sosial. Jeju sangat cocok ditempatkan dalam narasi tersebut.
Itulah sebabnya program ini menyorot lokasi-lokasi seperti Seongsan Ilchulbong dan Seogwipo Healing Forest. Seongsan Ilchulbong, atau yang kerap dijuluki Sunrise Peak, adalah salah satu ikon Jeju yang paling dikenal. Ini merupakan kawah tuf hasil aktivitas vulkanik purba dan menjadi salah satu penanda geografis sekaligus visual terkuat pulau tersebut. Sementara Seogwipo Healing Forest mewakili sisi lain Jeju: hutan sebagai ruang pemulihan, tempat orang datang bukan untuk dikejutkan, melainkan untuk menenangkan diri.
Jika dipikir-pikir, narasi ini punya resonansi kuat bagi pembaca Indonesia. Banyak orang Indonesia menyukai Bali bukan semata karena pantainya, tetapi karena gabungan suasana, budaya singgah, makanan, dan ritme yang terasa lebih longgar dibanding kota besar. Jeju, dalam program ini, diposisikan dengan logika yang mirip: bukan hanya pulau yang indah dipotret, tetapi pulau yang enak dihayati. Ini penting, karena wisata masa kini sering kali tidak lagi dijual berdasarkan “apa yang harus dilihat”, melainkan “seperti apa rasanya berada di sana”.
Kekuatan Yutaka Matsushige: makanan sebagai pintu masuk yang paling manusiawi
Pemilihan Yutaka Matsushige sebagai figur utama dalam program ini bukan keputusan acak. Kekuatan Matsushige terletak pada citra layar yang sangat khas. Ia bukan tipe bintang yang menjual kemewahan berlebihan atau sensasi dramatis. Sebaliknya, ia dikenal sebagai representasi keseharian—seseorang yang bisa membuat satu meja makan, satu mangkuk sederhana, atau satu sudut kota terasa hangat dan bermakna. Dalam konteks promosi Jeju, citra seperti ini sangat berharga.
Ketika seorang aktor yang identik dengan pengalaman kuliner mengunjungi Jeju dan memperkenalkan bahan-bahan lokal serta hidangan khas setempat, pesan yang diterima penonton menjadi jauh lebih organik. Makanan di sini bukan sekadar daftar menu, tetapi hasil dari lingkungan: dari laut, dari tanah vulkanik, dari iklim, dan dari tradisi hidup masyarakat pulau. Dengan kata lain, kuliner dipakai sebagai bahasa untuk menjelaskan Jeju itu sendiri.
Logika seperti ini sangat efektif, karena makanan adalah medium budaya yang paling cepat dimengerti lintas negara. Penonton mungkin belum tahu detail sejarah Jeju, belum paham struktur sosialnya, atau belum pernah mendengar nama beberapa wilayahnya. Namun ketika mereka melihat bahan segar, cara penyajian yang khas, atau ekspresi puas seseorang saat makan, hubungan emosional langsung terbentuk. Ini adalah bahasa universal.
Di Indonesia, kita juga sangat paham bagaimana sebuah daerah bisa melekat di ingatan justru karena rasa. Yogyakarta diingat lewat gudeg, Padang lewat rendang, Makassar lewat coto, Bandung lewat budaya jajannya. Orang bisa lupa nama jalan, tetapi ingat rasa makanan dan suasana saat menikmatinya. Jeju tampaknya ingin masuk ke benak penonton Jepang dengan mekanisme yang sama: lewat sensasi yang membekas, bukan lewat brosur.
Selain itu, ada faktor penting lain, yakni fandom. Bagi penggemar drama Jepang, melihat Matsushige berjalan di Jeju bukan cuma menonton acara wisata, tetapi juga mengikuti semacam narasi lanjutan dari persona yang sudah mereka sukai. Begitu penonton merasa, “Kalau dia menikmati tempat ini, saya juga ingin mencobanya,” maka promosi berhasil masuk ke wilayah yang lebih dalam: keinginan untuk meniru pengalaman. Dalam industri budaya populer, ini adalah salah satu bentuk konversi paling berharga—dari penonton menjadi calon pengunjung.
Karena itu, kehadiran Matsushige memperlihatkan bagaimana promosi daerah kini semakin bergantung pada storytelling yang personal. Aktor tidak lagi hanya tampil sebagai bintang tamu, melainkan sebagai alat interpretasi. Jeju dibaca melalui mata dan tubuhnya: langkahnya di jalur hutan, reaksinya terhadap makanan, dan ketenangannya saat menikmati lanskap.
Igeta Hiroe melengkapi sisi Jeju yang lebih cerah, ringan, dan fotogenik
Program spesial itu tidak hanya mengandalkan satu nada. Selain Matsushige, hadir pula Igeta Hiroe, pembawa acara sekaligus aktris yang membangun sisi lain dari citra Jeju. Jika Matsushige mewakili kedalaman, rasa, dan perjalanan yang kontemplatif, Igeta membawa lapisan yang lebih ringan: laut berwarna emerald, sinar matahari, pengalaman wisata yang menyenangkan, dan eksplorasi kafe-kafe dengan atmosfer khas.
Pembagian peran seperti ini penting. Dalam promosi destinasi modern, satu tempat hampir selalu dijual lewat beberapa emosi sekaligus. Ada sisi yang tenang dan ada sisi yang cerah; ada pengalaman yang intim dan ada yang mudah dibagikan di media sosial. Jeju memahami hal itu. Pulau ini tidak hanya ingin dikenal sebagai tempat untuk “menepi”, tetapi juga sebagai destinasi yang estetis, segar, dan relevan dengan gaya berwisata generasi muda.
Kehadiran kafe dalam narasi perjalanan Jeju juga bukan detail remeh. Di Korea Selatan, budaya kafe telah berkembang menjadi fenomena sosial dan visual yang sangat kuat. Kafe bukan lagi sekadar tempat minum kopi, melainkan ruang pengalaman: perpaduan arsitektur, pemandangan, desain interior, musik, pencahayaan, dan kesempatan untuk berfoto. Di Jeju, budaya ini berkembang lebih jauh karena lanskap alamnya memberi panggung yang sangat mendukung. Banyak kafe dibangun untuk memaksimalkan panorama laut, ladang, atau garis cakrawala pulau.
Bagi wisatawan Indonesia, konsep ini sangat mudah dipahami. Kita pun melihat bagaimana kafe-kafe di kawasan seperti Puncak, Lembang, Ubud, atau pinggir pantai Bali sering dipilih bukan semata karena menunya, tetapi karena suasana dan pengalaman visual yang ditawarkan. Tempat seperti itu menjadi bagian dari itinerary, bukan pelengkap. Dalam hal ini, Jeju dan banyak destinasi populer di Indonesia berbagi logika konsumsi yang sama: wisatawan ingin duduk lebih lama, memotret lebih banyak, dan merasa terhubung dengan suasana sekitar.
Igeta, dengan citra yang lebih cerah dan segar, membantu menerjemahkan sisi Jeju tersebut kepada penonton Jepang. Ia menghadirkan lapisan “aspirational”, yakni bentuk perjalanan yang tampak menyenangkan untuk diikuti. Bila Matsushige mengajak penonton merasakan kedalaman Jeju, Igeta membuat pulau itu tampak ramah, ringan, dan mudah didekati. Kombinasi keduanya menghasilkan gambaran yang lebih utuh: Jeju bukan hanya pulau untuk pencari ketenangan, tetapi juga untuk mereka yang menginginkan liburan estetis dan penuh momen kecil yang menyenangkan.
Mengapa pasar Jepang, khususnya Kyushu, penting bagi Jeju
Fakta bahwa program ini diproduksi bersama stasiun televisi regional Jepang di kawasan Kyushu juga patut dicermati. Secara geografis, Kyushu adalah salah satu wilayah Jepang yang relatif dekat dengan Korea Selatan. Kedekatan ini membuat Korea, termasuk Jeju, lebih mudah dibayangkan sebagai tujuan perjalanan realistis, bukan destinasi yang terasa terlalu jauh atau rumit dijangkau. Dalam industri pariwisata, jarak psikologis sering kali sama pentingnya dengan jarak geografis.
Di sinilah siaran regional memainkan peran tersendiri. Televisi regional biasanya memiliki hubungan lebih dekat dengan kebiasaan, selera, dan pola konsumsi audiens setempat. Konten wisata yang hadir lewat kanal seperti ini cenderung terasa lebih personal daripada kampanye besar yang bersifat nasional dan generik. Untuk penonton Kyushu, Jeju bisa diposisikan sebagai opsi liburan yang “masuk akal”—cukup dekat, cukup unik, dan cukup berbeda untuk menghadirkan pengalaman luar negeri tanpa terasa terlalu asing.
Dari sudut pandang Korea Selatan, Jepang tetap merupakan pasar yang penting dan kompleks. Hubungan kedua negara memang selalu dipengaruhi sejarah, politik, dan dinamika publik yang naik turun. Namun di level budaya populer dan konsumsi sehari-hari, pertukaran tetap berlangsung aktif. Musik, drama, makanan, kosmetik, dan gaya hidup terus bergerak melintasi batas. Karena itu, promosi Jeju melalui figur budaya Jepang justru terasa strategis: ia meminimalkan jarak emosional dan memperbesar kemungkinan penerimaan.
Setelah tayang di televisi, video program juga akan diunggah ke YouTube resmi RKB. Langkah ini memperluas umur konten. Program tidak berhenti sebagai tayangan satu malam, tetapi berpotensi hidup lebih lama lewat potongan video, algoritma rekomendasi, dan pembagian ulang di media sosial. Dalam era digital, dampak promosi wisata memang jarang hadir secara instan. Yang lebih sering terjadi adalah akumulasi citra: satu video mengingatkan, satu cuplikan memancing rasa ingin tahu, satu nama aktor menarik penonton baru, lalu perlahan terbentuk asosiasi yang kuat terhadap sebuah tempat.
Bisa jadi, hasilnya tidak langsung terlihat dalam lonjakan wisatawan pada minggu berikutnya. Namun bagi sebuah daerah, proses pembentukan imajinasi publik inilah yang paling berharga. Tempat yang terus muncul dalam konteks positif, estetis, dan emosional akan lebih mudah masuk daftar destinasi impian orang. Jeju tampaknya sangat sadar akan mekanisme tersebut.
Dari Hallyu ke “locality”: saat daerah menjadi tokoh utama dalam gelombang budaya Korea
Kabar tentang program Jeju ini juga menarik jika dibaca dalam konteks yang lebih luas, yaitu evolusi Hallyu atau Korean Wave. Selama dua dekade terakhir, dunia mengenal Korea Selatan terutama lewat drama, K-pop, film, dan selebritas. Namun gelombang terbaru menunjukkan sesuatu yang berbeda: yang ikut dipromosikan bukan hanya bintang dan cerita, tetapi juga ruang-ruang lokal tempat kisah itu terasa mungkin. Kota, distrik, pulau, pasar, kafe, jalur pejalan kaki, hingga hutan mulai tampil sebagai karakter penting.
Fenomena ini sebenarnya juga terlihat di banyak karya Korea belakangan. Penonton tidak lagi hanya mengingat siapa tokohnya, tetapi juga ingin tahu di mana adegan itu diambil, kafe apa yang muncul, pulau mana yang menjadi latar, dan makanan apa yang disantap. Industri pariwisata lalu bergerak cepat membaca peluang tersebut. Daerah-daerah di Korea mulai sadar bahwa mereka tidak harus menunggu menjadi lokasi syuting drama besar untuk dikenal. Mereka bisa lebih proaktif dengan membangun konten sendiri, menggandeng penyiar, selebritas, dan platform digital.
Jeju adalah contoh yang sangat siap untuk model ini. Pulau tersebut sudah memiliki modal visual yang kuat, identitas kuliner yang jelas, dan citra internasional yang cukup mapan. Yang dibutuhkan hanyalah cara baru untuk terus menyegarkan persepsi publik. Program bersama RKB dan dua figur Jepang ini menunjukkan satu hal: masa depan promosi destinasi bukan cuma soal memamerkan keindahan, tetapi soal membangun relasi emosional antara tempat dan audiens.
Bagi pembaca Indonesia yang mengikuti Hallyu, perkembangan seperti ini layak diperhatikan. Ia menunjukkan bahwa budaya populer Korea tidak berhenti pada konsumsi layar. Ada fase lanjutan yang makin penting, yakni ketika penonton didorong untuk bergerak dari menonton menjadi mengalami. Dari menyukai aktor menjadi menelusuri tempat yang ia kunjungi. Dari menyukai makanan di layar menjadi ingin mencicipinya langsung. Ini adalah perluasan industri budaya ke industri pengalaman.
Kalau diterjemahkan secara sederhana, Jeju dalam program ini bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah undangan. Undangan untuk berjalan lebih lambat, makan lebih sadar, melihat alam dengan ritme yang tidak tergesa, dan menemukan Korea lewat sisi yang lebih lokal. Di tengah dunia promosi yang sering bising dan seragam, pendekatan seperti ini terasa lebih halus—dan justru karena itu, bisa jadi lebih melekat.
Jeju dan pelajaran bagi industri pariwisata Asia, termasuk Indonesia
Ada satu pelajaran penting dari strategi Jeju yang relevan pula bagi Indonesia. Promosi tempat tidak selalu harus dibangun dengan jargon besar, klaim bombastis, atau montase cepat yang penuh slogan. Kadang yang lebih efektif justru pendekatan yang sederhana: pilih figur yang tepat, cari sudut pandang yang jujur, dan biarkan makanan, lanskap, serta ritme lokal berbicara. Penonton saat ini cenderung lebih percaya pada pengalaman yang terasa nyata daripada pesan promosi yang terlalu gamblang.
Indonesia memiliki banyak daerah yang sebenarnya bisa dipromosikan dengan logika serupa. Bayangkan bila satu wilayah dikenalkan lewat perjalanan seorang aktor yang identik dengan kuliner, atau lewat figur yang punya kredibilitas dalam gaya hidup lambat, budaya kopi, atau petualangan alam. Daerah akan terasa lebih hidup karena ditafsirkan melalui manusia, bukan hanya kamera drone. Dalam bahasa media, yang dibangun bukan hanya exposure, tetapi narasi.
Jeju memang punya keunggulan sebagai destinasi yang sudah matang. Namun keberhasilan kampanye semacam ini tidak semata soal fasilitas atau popularitas awal. Yang lebih penting adalah kemampuan membaca apa yang dicari publik hari ini: kedekatan, pengalaman inderawi, dan cerita yang bisa dibawa pulang. Dalam hal ini, program Jeju bersama RKB cukup berhasil merumuskan pesan yang sederhana namun kuat: pulau ini indah, tetapi keindahannya tidak berhenti di mata; ia terasa dalam makanan, udara, langkah kaki, dan waktu yang berjalan lebih pelan.
Pada akhirnya, program ini mungkin bukan peristiwa sebesar peluncuran drama global atau konser stadion. Namun justru dalam skala yang lebih senyap itulah kita bisa melihat arah baru industri budaya Korea. Daerah-daerah lokal mulai tampil sebagai panggung utama, dan selebritas dipakai bukan hanya untuk menarik perhatian, tetapi untuk memberi makna pada sebuah tempat. Jeju sedang menunjukkan bahwa promosi wisata terbaik hari ini bukanlah mengatakan, “Datanglah ke sini,” melainkan membuat orang berpikir, “Saya ingin merasakan itu juga.”
댓글
댓글 쓰기