Saat 200 Relawan Turun ke Ladang Pyeongchang: Potret Korea Selatan yang Bekerja Diam-Diam Menjaga Pangan

Saat 200 Relawan Turun ke Ladang Pyeongchang: Potret Korea Selatan yang Bekerja Diam-Diam Menjaga Pangan

Dari Pyeongchang yang dikenal dunia, perhatian kini tertuju ke ladang

Nama Pyeongchang bagi banyak pembaca Indonesia mungkin langsung mengingatkan pada panggung besar, mulai dari citra Korea Selatan sebagai tuan rumah ajang internasional hingga lanskap pegunungan yang kerap muncul dalam promosi wisata. Namun, pada 19 Juni lalu, wilayah Daegwallyeong-myeon di Kabupaten Pyeongchang, Provinsi Gangwon, memperlihatkan wajah lain Korea yang jauh dari sorotan lampu. Di sana, lebih dari 200 orang berkumpul bukan untuk festival, konser, atau seremoni simbolik, melainkan untuk membantu pekerjaan sawah dan ladang yang sedang memasuki masa paling sibuk.

Menurut keterangan yang dirangkum dari laporan media Korea Selatan, Kantor Wilayah Gangwon dari National Agricultural Cooperative Federation atau NongHyup menggelar kegiatan “hari dukungan intensif tenaga kerja pedesaan” dalam program bertajuk “Nongsim Cheonsim”. Hadir dalam kegiatan itu antara lain Ketua NongHyup Kang Ho-dong, Kepala Wilayah Gangwon Kim Byeong-yong, kelompok ibu rumah tangga pedesaan, organisasi berbasis komunitas, serta relawan mahasiswa. Alih-alih datang untuk berfoto lalu pulang, mereka turun langsung ke kebun dan mengerjakan sejumlah pekerjaan yang sangat bergantung pada ketepatan waktu.

Pekerjaan yang dibantu pada hari itu meliputi penaburan benih lobak, penanaman bibit selada, serta pembersihan atau pemangkasan sulur pada tanaman stroberi. Tiga jenis pekerjaan itu terdengar sederhana bila dibaca sepintas. Namun dalam praktik pertanian, ketiganya merupakan tahapan yang menuntut ketelitian, ritme, dan tenaga manusia dalam jumlah cukup. Jika waktunya meleset, dampaknya bisa panjang, mulai dari pertumbuhan tanaman yang tidak optimal hingga beban biaya tambahan bagi petani.

Bagi pembaca Indonesia, peristiwa ini terasa dekat. Kita pun akrab dengan cerita petani yang berpacu dengan musim, harga tenaga kerja, dan cuaca yang kian sulit diprediksi. Jika di Jawa atau Sumatra orang mengenal masa tanam yang membuat semua orang di kampung ikut sibuk, di pedesaan Korea ada perasaan serupa: pada musim tertentu, hampir setiap tangan dibutuhkan. Dalam konteks itulah, kegiatan di Pyeongchang bukan sekadar bakti sosial, melainkan cerminan betapa rapuh sekaligus pentingnya rantai kerja pertanian yang menopang meja makan sehari-hari.

Makna “Nongsim Cheonsim”, semangat yang lebih dalam dari sekadar slogan

Istilah “Nongsim Cheonsim” mungkin terdengar asing bagi pembaca Indonesia. Secara sederhana, ungkapan itu dapat dipahami sebagai ajakan untuk menjaga hati pertanian dan hati kemanusiaan sekaligus. Dalam budaya Korea, penggunaan frasa semacam ini lazim untuk merangkum nilai moral dan sosial dalam satu semboyan yang mudah diingat. Ia bukan hanya nama program, melainkan penekanan bahwa urusan pertanian tidak bisa diperlakukan semata-mata sebagai persoalan produksi atau angka ekonomi.

Dalam keterangan yang disampaikan di lapangan, Kang Ho-dong menyebut Juni sebagai masa ketika petani berada dalam puncak kesibukan. Ia mengutip pepatah Korea yang kurang lebih bermakna, “bahkan tongkat pengorek api pun bangun untuk membantu bekerja.” Pepatah ini menarik bila dijelaskan kepada pembaca Indonesia. Maksudnya adalah pada musim tersibuk, hampir semua hal seolah harus ikut bekerja; sebuah gambaran hiperbolik yang menunjukkan betapa tingginya kebutuhan tenaga pada periode tertentu. Bagi orang Indonesia, nuansanya barangkali serupa dengan ungkapan bahwa saat panen atau musim tanam, seluruh isi rumah ikut turun tangan, dari orang tua sampai anak-anak muda yang sedang libur.

Di balik pepatah tersebut, tersimpan satu kenyataan penting: pertanian tetap sangat ditentukan oleh kalender alam. Meski Korea Selatan identik dengan teknologi tinggi, transportasi modern, dan budaya pop global, sektor pertaniannya masih tunduk pada ritme musim yang tidak bisa dinegosiasikan. Benih harus ditanam pada waktu yang tepat, bibit harus dipindah saat kondisinya sesuai, dan perawatan tanaman harus dilakukan sebelum terlambat. Dalam dunia kota, keterlambatan satu atau dua hari kadang masih bisa dikejar. Dalam dunia pertanian, keterlambatan bisa berarti penurunan hasil atau bahkan kegagalan pada satu siklus produksi.

Karena itu, ketika NongHyup menggunakan istilah yang menekankan “hati” dalam mendampingi pertanian, yang ingin ditegaskan sebenarnya adalah pentingnya solidaritas sosial terhadap sektor yang sering kali tidak terlihat. Seperti di Indonesia, banyak orang menikmati sayur segar di pasar swalayan atau memesan makanan melalui aplikasi tanpa benar-benar memikirkan kerja panjang di belakangnya. Program semacam ini seakan mengingatkan bahwa hasil pertanian lahir dari pekerjaan fisik yang berulang, presisi, dan kerap dilakukan di bawah tekanan waktu.

Mengapa pekerjaan seperti menanam lobak dan merapikan stroberi begitu penting

Pada hari kegiatan di Daegwallyeong-myeon, relawan membantu tiga jenis pekerjaan: menabur benih lobak, menanam bibit selada, dan menghilangkan sulur atau batang tertentu pada stroberi. Dari sudut pandang pertanian, ini bukan daftar kerja acak. Ketiganya mewakili tahapan awal dan perawatan yang menentukan hasil akhir. Penaburan benih menentukan fondasi pertumbuhan. Penanaman bibit memastikan tanaman masuk ke fase berikutnya dalam kondisi stabil. Sementara itu, perawatan pada stroberi merupakan pekerjaan yang tampak kecil, tetapi sangat penting untuk mengarahkan energi tanaman ke pertumbuhan yang diinginkan.

Jenis-jenis pekerjaan seperti ini menunjukkan bahwa modernisasi pertanian tidak selalu berarti semua proses dapat digantikan mesin. Di banyak komoditas hortikultura, sentuhan manusia tetap diperlukan. Daun yang harus dipilah, batang yang harus dipangkas, atau bibit yang harus ditanam pada jarak tertentu sering kali sulit ditangani sepenuhnya oleh alat. Maka, ketika tenaga kerja berkurang, bagian yang paling terdampak justru pekerjaan-pekerjaan detail yang tidak selalu terlihat dalam statistik.

Daegwallyeong sendiri dikenal sebagai wilayah dataran tinggi di Gangwon. Dalam konteks Korea Selatan, kawasan seperti ini identik dengan pertanian dataran tinggi yang memasok aneka sayuran. Bagi pembaca Indonesia, konsep ini dapat dibayangkan seperti daerah berhawa sejuk yang menjadi sentra sayur di pegunungan, misalnya Lembang di Jawa Barat, Dieng di Jawa Tengah, atau kawasan tertentu di Batu, Jawa Timur. Perbedaannya tentu ada pada iklim dan struktur pertanian, tetapi gambaran umumnya serupa: wilayah sejuk yang sangat penting bagi pasokan hortikultura.

Karena itu, apa yang terjadi di Pyeongchang tidak bisa dibaca sebagai peristiwa lokal yang kecil. Saat pekerjaan di lahan tertunda di daerah sentra produksi, dampaknya bisa menjalar sampai distribusi pangan yang lebih luas. Dalam skala tertentu, isu tenaga kerja di desa berhubungan langsung dengan stabilitas pasokan dan harga. Di Indonesia, kita sudah sering melihat bagaimana gangguan cuaca atau distribusi dapat memengaruhi harga cabai, bawang, atau beras. Di Korea Selatan, tantangannya memiliki bentuk sendiri, tetapi logikanya sama: pertanian adalah urusan lapangan yang konsekuensinya terasa hingga meja makan perkotaan.

Tiga beban besar petani Korea: menua, mahalnya tenaga kerja, dan cuaca ekstrem

Pernyataan yang disampaikan pihak NongHyup dalam kegiatan ini menyoroti tiga masalah yang kini menekan pertanian Korea Selatan, yakni penuaan penduduk desa, kenaikan biaya tenaga kerja, dan anomali iklim. Tiga hal ini penting dicatat karena menunjukkan bahwa krisis tenaga kerja pedesaan bukan persoalan tunggal. Ia adalah hasil pertemuan antara perubahan demografi, tekanan ekonomi, dan ketidakpastian lingkungan.

Pertama, soal penuaan. Seperti banyak negara Asia Timur, Korea Selatan menghadapi struktur penduduk yang menua sangat cepat. Anak muda cenderung terkonsentrasi di kota-kota besar seperti Seoul, Incheon, atau Busan, sementara desa kehilangan tenaga usia produktif. Dalam jangka panjang, ini membuat pertanian bergantung pada petani berusia lanjut yang secara fisik semakin berat menghadapi pekerjaan lapangan. Bagi Indonesia, isu ini belum muncul dengan derajat yang sama di semua daerah, tetapi gejalanya bukan hal asing. Kita juga melihat semakin banyak anak muda desa yang lebih tertarik bekerja di kota atau sektor non-pertanian.

Kedua, biaya tenaga kerja. Ketika tenaga dari dalam rumah tangga atau komunitas lokal tak lagi cukup, petani harus mencari pekerja tambahan. Masalahnya, ongkos untuk memperoleh tenaga tersebut terus meningkat. Dalam situasi harga hasil pertanian tidak selalu stabil, kenaikan biaya kerja bisa langsung menekan keuntungan petani. Ini bukan hanya soal nominal upah, melainkan juga soal ketersediaan orang yang mau bekerja di ladang. Di banyak negara, termasuk Indonesia, pekerjaan pertanian sering dianggap berat, kurang prestise, dan tidak menjanjikan secara ekonomi bagi generasi muda.

Ketiga, perubahan cuaca dan iklim ekstrem. Bagi petani, cuaca bukan latar belakang, melainkan faktor penentu. Hujan yang datang di luar pola, suhu yang berubah tajam, atau musim yang makin sulit diprediksi dapat memengaruhi jadwal tanam, kualitas hasil, dan risiko kerusakan. Korea Selatan dalam beberapa tahun terakhir juga menghadapi tantangan cuaca yang semakin tidak menentu. Ketika iklim sulit dibaca, pekerjaan pertanian justru perlu dilakukan lebih cepat dan lebih presisi. Artinya, kebutuhan tenaga kerja pada periode singkat tertentu menjadi makin penting.

Jika digabungkan, ketiga faktor ini menciptakan tekanan berlapis. Petani menua, pekerja semakin mahal, sementara alam semakin tidak dapat diprediksi. Dari sinilah kegiatan dukungan tenaga kerja seperti di Pyeongchang mendapat makna yang lebih besar. Ia bukan solusi permanen untuk seluruh persoalan struktural, tetapi menjadi bentuk intervensi sosial yang bisa membantu petani melewati periode kritis.

Relawan mahasiswa dan kelompok komunitas: ketika desa tidak dibiarkan bekerja sendirian

Salah satu aspek paling menarik dari kegiatan ini adalah komposisi pesertanya. Selain pegawai NongHyup, hadir pula kelompok perempuan berbasis pedesaan, organisasi komunitas, dan relawan mahasiswa. Kehadiran mahasiswa penting dibaca bukan hanya sebagai tambahan tenaga, tetapi juga sebagai jembatan antara generasi muda dan realitas pertanian yang kerap jauh dari kehidupan sehari-hari mereka.

Dalam masyarakat urban modern, termasuk di Korea Selatan, hubungan antara konsumen muda dan sektor pertanian semakin tidak langsung. Sayur hadir dalam bentuk rapi di supermarket, makanan siap saji datang lewat layanan antar, dan proses produksi di hulu nyaris tak terlihat. Ketika mahasiswa turun langsung ke ladang, mereka tidak hanya membantu petani, melainkan juga mengalami sendiri bahwa pangan tidak lahir secara instan. Ada ritme kerja, ada ketergantungan pada cuaca, dan ada kebutuhan akan keterampilan manual yang sering diremehkan.

Dari perspektif sosial, model seperti ini juga menunjukkan pentingnya “solidaritas tangan”, yakni bantuan nyata dalam bentuk kerja fisik. Bukan cuma donasi, bukan cuma kampanye, tetapi kehadiran orang-orang yang benar-benar memungut, menanam, merapikan, dan menyelesaikan pekerjaan di lahan. Bagi pembaca Indonesia, ini mudah dipahami karena mirip semangat gotong royong yang dulu sangat kuat di desa-desa: membantu tetangga saat panen, mendirikan rumah, atau membersihkan saluran air sebelum musim hujan. Bedanya, di Korea Selatan semangat itu kini semakin banyak diorganisasi oleh lembaga dan jaringan sipil untuk menutup kekosongan tenaga kerja yang makin nyata.

Keikutsertaan kelompok ibu rumah tangga dan organisasi komunitas juga memperlihatkan bahwa kerja pertanian tidak berdiri sendiri dari jejaring sosial di sekitarnya. Dalam banyak masyarakat Asia, perempuan memegang peran penting dalam menjaga keberlanjutan komunitas desa, baik melalui kerja domestik, pengelolaan ekonomi rumah tangga, maupun partisipasi sosial. Ketika mereka dilibatkan dalam kegiatan dukungan pertanian, pesan yang muncul adalah bahwa pertanian bukan hanya urusan petani laki-laki di lahan, melainkan urusan bersama yang berkaitan dengan kehidupan komunitas secara keseluruhan.

Bila ditarik lebih jauh, kegiatan semacam ini juga bisa menjadi cara Korea Selatan menjembatani jarak psikologis antara kota dan desa. Di tengah dominasi citra Korea sebagai negeri K-pop, drama, kosmetik, dan teknologi, desa mudah sekali terpinggirkan dari imajinasi generasi mudanya sendiri. Maka, menghadirkan mahasiswa ke kebun sayur dan ladang stroberi adalah pengingat bahwa di balik modernitas Korea, ada ekonomi pangan yang tetap membutuhkan kerja manusia, kebersamaan, dan keberpihakan kebijakan.

Bukan hanya satu lokasi: lebih dari 1.000 orang bergerak di seluruh Gangwon

Kegiatan di Pyeongchang memang menonjol karena melibatkan lebih dari 200 orang di satu lokasi. Namun yang tak kalah penting, pada hari yang sama lebih dari 1.000 pegawai dan relawan di bawah jejaring NongHyup disebut turut membantu petani di berbagai wilayah Provinsi Gangwon. Angka ini memberi gambaran bahwa dukungan tenaga kerja tidak dilakukan secara sporadis, melainkan sebagai gerakan terkoordinasi yang menyesuaikan dengan kebutuhan musim.

Bagi pembaca Indonesia, ini mirip dengan operasi gotong royong berskala provinsi yang dilakukan secara serentak di beberapa titik sentra produksi. Efek terbesarnya bukan hanya jumlah orang yang hadir, tetapi kecepatan respons. Dalam pertanian, terutama hortikultura, waktu sering lebih berharga daripada ukuran bantuan. Seratus orang yang datang tepat saat petani membutuhkan bisa jauh lebih berarti ketimbang bantuan besar yang datang terlambat.

Meski demikian, data yang tersedia dari kegiatan ini tidak merinci berapa jumlah lahan yang terbantu, berapa banyak rumah tangga tani yang menerima bantuan, atau berapa luas area kerja yang berhasil diselesaikan. Itu berarti pembacaan yang paling hati-hati adalah melihat nilai kegiatan ini dari fakta yang tersedia: skala partisipasi, jenis pekerjaan yang dilakukan, dan konteks krisis tenaga kerja yang dihadapi pedesaan. Dari tiga hal itu saja, sudah tampak bahwa Korea Selatan sedang berusaha menata bentuk dukungan sosial yang lebih cepat, lebih terorganisasi, dan lebih dekat dengan kebutuhan lapangan.

Yang menarik, model seperti ini juga menunjukkan peran lembaga koperasi pertanian di Korea. NongHyup bukan sekadar organisasi ekonomi, melainkan institusi yang dalam banyak kasus berfungsi sebagai penghubung antara petani, komunitas, dan pemerintah daerah. Dalam konteks Indonesia, peran seperti ini mengingatkan pada pentingnya kelembagaan pertanian lokal yang benar-benar aktif di lapangan, bukan hanya hadir di atas kertas. Saat lembaga mampu mengerahkan orang, membaca kebutuhan musim, dan menghubungkan berbagai kelompok sosial, efeknya bisa terasa langsung bagi petani.

Apa arti kabar ini bagi pembaca Indonesia

Bagi pembaca Indonesia yang selama ini mengikuti Korea Selatan lewat film, drama, musik, atau tren gaya hidup, berita dari Pyeongchang menawarkan sudut pandang yang berbeda. Korea yang terlihat di layar biasanya bergerak cepat, urban, dan glamor. Namun berita ini memperlihatkan Korea yang sangat membumi: petani yang dikejar musim, komunitas yang turun membantu, dan lembaga pertanian yang berusaha menjaga ritme kerja desa agar tidak patah.

Dalam arti tertentu, kisah ini justru terasa dekat dengan pengalaman Indonesia. Kita paham bahwa sektor pertanian sering menjadi fondasi yang kurang mendapat sorotan, padahal paling menentukan. Saat harga pangan naik, barulah perhatian publik tersentak. Padahal persoalan di hulunya sudah lama menumpuk: usia petani, sulitnya regenerasi, mahalnya ongkos produksi, dan ancaman cuaca yang kian tak menentu. Itulah sebabnya kabar dari Gangwon relevan bukan hanya sebagai berita luar negeri, melainkan juga sebagai cermin kawasan Asia yang sama-sama sedang mencari cara menjaga desa tetap hidup.

Dari sudut jurnalistik, nilai berita ini terletak pada kenyataan bahwa sebuah negara modern tetap harus mengandalkan solidaritas paling dasar: tenaga manusia yang hadir tepat waktu. Di balik segala kemajuan teknologi, ada pekerjaan yang belum bisa sepenuhnya digantikan mesin. Di balik pasar modern, ada tangan yang harus menanam satu per satu. Dan di balik citra global Korea, ada desa-desa yang masih bekerja mengikuti detak musim.

Pada akhirnya, kegiatan dukungan tenaga kerja di Pyeongchang mungkin memang berlangsung hanya sehari. Namun pesannya lebih panjang dari itu. Ia mengingatkan bahwa ketahanan pangan tidak dibangun hanya oleh kebijakan makro atau teknologi canggih, melainkan juga oleh jejaring sosial yang bersedia turun tangan ketika petani kekurangan tenaga. Dalam bahasa yang sangat Indonesia, inilah gotong royong versi Korea: terorganisasi, pragmatis, dan hadir saat ladang benar-benar membutuhkannya.

Jika ada pelajaran yang bisa dipetik pembaca Indonesia dari kisah ini, mungkin itu adalah satu hal sederhana: negeri yang modern sekalipun tidak bisa memunggungi desa. Karena pada akhirnya, semangkuk sayur, seikat selada, atau stroberi yang tiba di meja makan selalu berawal dari kerja sunyi di lahan, dari orang-orang yang jarang masuk sorotan, dan dari solidaritas yang mau kotor oleh tanah demi menjaga pangan tetap tersedia.

Source: Original Korean article - Trendy News Korea

댓글

이 블로그의 인기 게시물

Di Balik Konflik HYBE, ADOR, dan Min Hee-jin: Saat NewJeans Menjadi Pusat Perebutan IP, Kreativitas, dan Kuasa di Industri K-pop

Korban yang Tersisa Lima: Saat Korea Selatan Masuk Fase Penentuan dalam Merawat, Mencatat, dan Mengajarkan Sejarah Jugun Ianfu

Korea Selatan Kalah Tipis dari Austria, tetapi PR Sebenarnya Ada di Sepertiga Akhir: Saat Son Heung-min dan Lee Kang-in Belum Cukup