Maraton Keluarga Tanpa Garis Start: Cara Baru Seoul Mengajak Ayah dan Anak Bergerak Bersama

Olahraga keluarga yang lahir dari ritme kota besar

Di tengah berita olahraga yang biasanya dipenuhi skor, transfer pemain, atau sorotan liga besar, Seoul menghadirkan kabar yang terasa jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: sebuah maraton non-tatap muka yang mempertemukan ayah dan anak dalam satu tim. Program ini bernama “Aja Runner”, singkatan dari istilah Korea yang merujuk pada “ayah-anak pelari”, dan akan digelar selama dua pekan, mulai 22 Juni hingga 5 Juli, atas inisiatif Pemerintah Kota Seoul bersama Seoul Family Center.

Kalau dibaca sekilas, ini mungkin terdengar seperti agenda komunitas biasa. Namun jika dilihat lebih dalam, konsepnya menarik karena menempatkan olahraga bukan sebagai arena adu cepat, melainkan sebagai medium membangun hubungan keluarga. Dalam format ini, ayah dan anak tidak dituntut menaklukkan jarak tertentu demi peringkat, melainkan diajak menentukan target mereka sendiri, lalu menyelesaikannya bersama. Penekanan utamanya bukan pada siapa yang paling unggul, tetapi pada proses kebersamaan selama dua minggu itu.

Bagi pembaca Indonesia, gagasan ini mudah dipahami karena punya kedekatan dengan pengalaman keseharian kita. Di banyak kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, atau Yogyakarta, tantangan keluarga modern tidak jauh berbeda dengan Seoul: jam kerja panjang, waktu bersama anak yang makin sempit, dan kebutuhan mencari aktivitas bersama yang tidak selalu harus mahal atau rumit. Dalam konteks itu, maraton keluarga model Seoul terasa relevan. Ia menawarkan sesuatu yang sederhana—lari, jalan cepat, atau aktivitas fisik ringan—tetapi dibungkus dengan pesan sosial yang kuat.

Seoul sendiri adalah kota dengan kepadatan tinggi, ritme hidup cepat, dan ruang publik yang terus diupayakan agar ramah warga. Maka ketika pemerintah kota di sana memilih pendekatan olahraga keluarga yang fleksibel, keputusan itu bukan kebetulan. Mereka tampaknya sadar bahwa banyak keluarga tidak punya kemewahan waktu untuk datang ke satu lokasi, berkumpul pada satu jam tertentu, lalu mengikuti lomba konvensional. Karena itu, format non-tatap muka dipilih: setiap keluarga bebas berlari di lingkungan masing-masing, pada waktu yang paling cocok dengan jadwal mereka.

Di situlah nilai beritanya muncul. Ini bukan sekadar acara lari. Ini adalah upaya merancang ulang cara masyarakat memaknai olahraga di tengah tekanan hidup urban. Jika maraton biasanya identik dengan garis start, peluit, nomor dada, dan catatan waktu, maka “Aja Runner” justru menggeser fokus ke pengalaman sehari-hari yang lebih personal. Keluarga menjadi pusat, bukan podium. Dan justru karena itulah, program seperti ini layak diperhatikan.

Dari kompetisi ke koneksi: yang dikejar bukan catatan waktu

Salah satu hal paling menonjol dari program ini adalah pergeseran cara pandang terhadap olahraga. Dalam banyak ajang lari, ukuran keberhasilan hampir selalu diringkas dalam angka: berapa kilometer yang ditempuh, berapa menit yang dibutuhkan, dan posisi berapa saat finis. “Aja Runner” mengambil jalan berbeda. Pemerintah Kota Seoul menekankan bahwa yang lebih penting bukan kecepatan, melainkan bagaimana ayah dan anak menetapkan tujuan bersama lalu menjalaninya sampai selesai.

Pendekatan seperti ini terasa segar, terutama di era ketika banyak aktivitas justru berubah menjadi ajang pembuktian diri di media sosial. Kita sering melihat budaya olahraga yang tanpa sadar menjadi sangat kompetitif: pamer pace, pamer jarak, pamer jumlah kalori terbakar. Tidak ada yang salah dengan motivasi itu, tetapi ia bisa membuat olahraga terasa jauh bagi mereka yang baru memulai, anak-anak, atau keluarga yang sekadar ingin aktif bersama. Seoul tampaknya ingin menurunkan ambang masuk itu serendah mungkin.

Artinya, target setiap keluarga bisa berbeda-beda. Ada keluarga yang mungkin menetapkan tujuan sederhana, seperti berjalan kaki 20 menit setiap sore selama dua minggu. Ada pula yang menjadikan momen ini untuk mengajak anak bersepeda kecil-kecilan di taman, berlari ringan di kompleks, atau membangun kebiasaan bangun pagi pada akhir pekan. Keberagaman target itulah yang menjadi kekuatan format ini. Ia tidak memaksa semua orang masuk ke standar yang sama.

Dalam kacamata sosial, model seperti ini penting karena mengubah olahraga dari ruang eksklusif menjadi ruang inklusif. Tidak semua ayah pernah punya pengalaman berolahraga rutin. Tidak semua anak menyukai aktivitas fisik yang intens. Dan tidak semua keluarga nyaman dengan suasana lomba besar yang ramai dan melelahkan. Dengan membiarkan peserta menyesuaikan ritme dengan kondisi masing-masing, program ini terasa lebih ramah bagi keluarga biasa—bukan hanya untuk mereka yang sudah terbiasa ikut fun run atau half marathon.

Di Indonesia, kita sebenarnya juga akrab dengan bentuk-bentuk kebersamaan seperti jalan pagi keluarga, car free day, atau senam bersama di lingkungan perumahan. Namun yang menarik dari Seoul adalah cara kegiatan sederhana itu diberi narasi baru: bukan sekadar olahraga, melainkan perjalanan bersama antara ayah dan anak. Di tengah budaya urban yang kerap menjadikan kehadiran fisik orang tua sebagai barang mewah, ide ini terasa kuat. Kebersamaan tidak perlu menunggu liburan panjang atau pergi ke tempat wisata. Ia bisa dimulai dari langkah kecil di sekitar rumah.

Makna “match caregiving” dan mengapa peran ayah menjadi sorotan

Di balik acara ini ada istilah penting dari Korea yang patut dijelaskan, yaitu “match caregiving” atau dalam konteks Korea dikenal sebagai gagasan pengasuhan setara. Intinya, tanggung jawab merawat anak tidak dibebankan pada satu pihak saja, biasanya ibu, melainkan dibagi bersama oleh kedua orang tua atau anggota keluarga yang menjadi pengasuh. Dalam program “Aja Runner”, pesan ini diterjemahkan melalui pasangan ayah dan anak yang bergerak sebagai satu tim.

Ini menarik karena di banyak masyarakat Asia, termasuk Korea Selatan dan Indonesia, pembagian peran domestik masih sering berlangsung tidak seimbang. Meski situasi terus berubah, gambaran lama tentang ayah sebagai pencari nafkah utama dan ibu sebagai pengasuh utama masih cukup kuat. Akibatnya, kedekatan emosional antara ayah dan anak kadang tumbuh lebih lambat, bukan karena tidak ada kasih sayang, melainkan karena waktu dan peran sehari-hari tidak memberi cukup ruang.

Program dari Seoul ini seolah mengatakan bahwa keterlibatan ayah tidak harus dimulai dari hal besar. Tidak perlu selalu berbentuk nasihat panjang, hadiah mahal, atau acara khusus yang rumit. Menemani anak berlari kecil di taman, menunggu mereka lelah lalu menyemangati, atau menandai kemajuan di buku misi bisa menjadi bentuk pengasuhan yang nyata. Ada sentuhan simbolik yang kuat di sana: tubuh ikut hadir, waktu benar-benar diberikan, dan perhatian tercurah secara langsung.

Bagi pembaca Indonesia, pesan ini terasa sangat dekat. Kita sering mendengar ungkapan bahwa anak butuh “quality time” dengan orang tua. Tetapi pada praktiknya, kualitas itu sering kali sulit diwujudkan jika tidak ada aktivitas yang konkret. Banyak ayah ingin terlibat lebih aktif, tetapi tidak selalu tahu harus mulai dari mana. Maraton non-tatap muka seperti ini menawarkan jawaban yang membumi: mulai saja dari bergerak bersama. Sederhana, murah, dan bisa disesuaikan dengan usia anak.

Lebih jauh lagi, pendekatan ini juga penting dari sisi kebijakan publik. Saat pemerintah kota memberi panggung pada partisipasi ayah, ada sinyal bahwa urusan pengasuhan bukan semata urusan privat di dalam rumah, melainkan bagian dari kepentingan sosial yang layak didukung. Kota tidak hanya membangun jalan dan transportasi, tetapi juga bisa mendorong relasi keluarga yang lebih sehat melalui program komunitas. Dalam konteks negara maju seperti Korea Selatan yang sedang menghadapi tantangan demografi dan perubahan struktur keluarga, pesan seperti ini punya bobot tersendiri.

Jika dibandingkan dengan Indonesia, pembahasannya juga relevan. Kita kerap merayakan Hari Ayah Nasional, membicarakan figur “ayah siaga”, atau menyoroti pentingnya peran ayah dalam tumbuh kembang anak. Namun dukungan programatik yang konkret masih belum merata. Karena itu, kabar dari Seoul ini bisa dibaca bukan hanya sebagai berita gaya hidup, melainkan juga sebagai contoh bagaimana kebijakan keluarga bisa dikemas dengan cara yang ringan, tidak menggurui, dan mudah diikuti warga.

Format non-tatap muka yang realistis untuk keluarga modern

Satu aspek yang membuat “Aja Runner” terasa modern adalah formatnya yang non-tatap muka. Peserta tidak wajib berkumpul di satu titik, tidak perlu datang ke stadion atau taman kota tertentu, dan tidak harus menyesuaikan diri dengan satu jadwal yang sama. Mereka bebas memilih lokasi serta waktu berolahraga selama periode dua minggu acara berlangsung. Dalam kehidupan keluarga masa kini, fleksibilitas semacam ini justru menjadi kunci.

Bayangkan keluarga dengan anak usia sekolah yang punya jadwal les, ayah yang bekerja sampai malam, atau keluarga yang hanya punya waktu luang di akhir pekan. Jika acara lari diadakan secara konvensional, kemungkinan besar banyak yang akan mundur sebelum mendaftar. Namun dengan sistem yang lentur, setiap keluarga bisa menyusun pola yang paling masuk akal. Bisa pagi sebelum sekolah, bisa malam di sekitar apartemen, bisa Sabtu pagi di taman kota, atau Minggu sore sambil menikmati udara luar.

Dari sudut pandang kebiasaan sehat, struktur dua minggu ini juga menarik. Ia tidak berhenti pada euforia satu hari acara, melainkan mendorong konsistensi. Dalam dunia olahraga, membangun rutinitas memang lebih penting daripada aksi sesekali yang spektakuler. Seorang anak yang terbiasa berjalan atau berlari bersama ayah selama dua minggu berpotensi membawa kebiasaan itu lebih lama ketimbang anak yang hanya sekali ikut lomba besar lalu selesai. Pengalaman berulang menciptakan ikatan yang lebih kuat.

Format ini juga mengatasi salah satu masalah utama kota-kota besar: mobilitas. Warga urban sering kelelahan oleh perjalanan itu sendiri. Pergi ke lokasi acara, mencari parkir, menyesuaikan transportasi umum, dan menembus keramaian kadang membuat niat sehat justru terasa melelahkan. Dengan model non-tatap muka, beban itu berkurang. Lingkungan sekitar rumah menjadi arena olahraga yang sah. Jalan kompleks, trotoar dekat sungai, jalur di taman kecil, bahkan lintasan sederhana di lapangan sekolah dapat berubah menjadi ruang kebersamaan keluarga.

Seoul tentu punya karakter kotanya sendiri, tetapi logika ini sangat cocok pula untuk Indonesia. Di Jakarta, misalnya, tidak semua keluarga bisa rutin pergi ke Gelora Bung Karno atau taman besar. Namun banyak yang masih bisa meluangkan waktu berjalan di lingkungan rumah, car free day, atau ruang terbuka hijau terdekat. Di kota-kota satelit, pola serupa juga terjadi. Karena itu, format non-tatap muka bukan sekadar solusi teknis, melainkan cerminan pemahaman bahwa kebiasaan sehat harus menyesuaikan hidup warga, bukan sebaliknya.

Setelah pandemi, masyarakat global juga makin akrab dengan model partisipasi jarak jauh. Mulai dari kelas olahraga daring, tantangan langkah harian, hingga virtual run, semuanya menunjukkan bahwa rasa kebersamaan tidak selalu bergantung pada pertemuan fisik dalam jumlah besar. “Aja Runner” memanfaatkan pelajaran itu, tetapi mengarahkannya ke tujuan yang lebih intim: mempererat hubungan ayah dan anak.

Ketika medali, nomor dada, dan buku misi punya arti lebih dalam

Penyelenggara menyiapkan sejumlah perlengkapan bagi peserta, mulai dari medali penyelesaian, buku misi, nomor dada, hingga pelindung pergelangan tangan untuk olahraga. Sekilas, ini bisa terlihat seperti elemen standar dari event lari. Tetapi dalam acara non-tatap muka yang menekankan proses, benda-benda tersebut justru memainkan peran penting sebagai pengikat pengalaman.

Dalam dunia keluarga, hal-hal kecil yang berwujud sering kali bertahan lama di ingatan. Anak bisa lupa berapa kilometer yang ditempuh, tetapi mereka mungkin akan mengingat nomor dada yang dipakai bersama ayah, atau medali yang digantung di kamar setelah dua minggu berusaha. Bagi orang tua, benda seperti itu dapat menjadi simbol bahwa mereka pernah benar-benar menyediakan waktu, tenaga, dan perhatian untuk anak. Jadi, nilai barangnya bukan pada harga, melainkan pada pengalaman yang menempel padanya.

Buku misi adalah bagian yang paling menarik. Ini bukan sekadar alat pencatatan, melainkan sarana refleksi. Dalam buku itu, keluarga bisa menandai progres, menuliskan target, atau sekadar mengingat hari-hari ketika mereka berhasil bergerak bersama. Dalam pendekatan pendidikan anak, alat seperti ini penting karena membantu membentuk rasa pencapaian yang sehat. Anak belajar bahwa keberhasilan tidak selalu datang dari menang atas orang lain, tetapi dari komitmen terhadap tujuan yang disepakati bersama.

Nomor dada juga punya efek psikologis tersendiri. Meski tidak ada garis start besar atau penonton di pinggir jalan, nomor itu memberi sensasi bahwa mereka sedang menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Ada rasa resmi, ada rasa bangga, ada rasa “kami ikut acara”. Dalam konteks partisipasi warga, sensasi sederhana seperti ini justru meningkatkan keterikatan. Orang merasa hadir, bukan sekadar diajak.

Kita bisa membandingkannya dengan berbagai kegiatan komunitas di Indonesia yang sukses karena memperhatikan detail pengalaman, bukan hanya program utama. Misalnya, lomba 17 Agustus yang sederhana pun terasa meriah karena ada simbol, atribut, dan cerita yang melekat. Begitu pula acara jalan sehat keluarga yang sering diadakan sekolah atau lingkungan tempat tinggal. Ketika ada kaus, nomor peserta, kupon, atau hadiah kenang-kenangan, pengalaman menjadi lebih hidup. Seoul tampaknya memahami prinsip itu dan menerapkannya pada kegiatan keluarga modern.

Yang juga penting, penyelenggara membuka pendaftaran melalui situs Family Seoul dengan sistem siapa cepat dia dapat. Ini memberi kesan bahwa acara tersebut memang dirancang sebagai program partisipatif yang serius, bukan kegiatan simbolik belaka. Ada mekanisme, ada target peserta, dan ada ritme keterlibatan yang dibangun sejak tahap pendaftaran. Di mata keluarga muda, terutama yang terbiasa dengan budaya digital, proses seperti ini terasa natural dan mudah diakses.

Apa yang bisa dipelajari Indonesia dari inisiatif Seoul

Kabar dari Seoul ini tentu tidak harus dibaca sebagai sesuatu yang hanya relevan bagi Korea Selatan. Justru menarik karena menawarkan inspirasi yang bisa diterjemahkan ke banyak konteks, termasuk Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, minat masyarakat Indonesia terhadap olahraga rekreasional meningkat cukup pesat. Fun run, sepeda santai, hiking keluarga, hingga kelas olahraga di ruang publik makin populer. Namun sebagian besar kegiatan itu masih berpusat pada event sesaat, bukan pada perubahan kebiasaan keluarga yang berkelanjutan.

Di sinilah “Aja Runner” memberi pelajaran. Pertama, olahraga keluarga akan lebih mudah diikuti jika formatnya fleksibel. Kedua, pesan sosial—dalam hal ini keterlibatan ayah dalam pengasuhan—bisa disisipkan secara elegan tanpa terasa menggurui. Ketiga, kegiatan sehat tidak harus megah untuk punya dampak. Justru ketika disesuaikan dengan ritme keseharian warga, peluang bertahannya menjadi lebih besar.

Bayangkan jika konsep serupa dikembangkan di Indonesia oleh pemerintah kota, sekolah, komunitas RW, atau pusat layanan keluarga. Misalnya, program “Ayah-Anak Melangkah Bersama” selama dua minggu yang memungkinkan keluarga mencatat aktivitas jalan pagi, bersepeda, atau lari santai di lingkungan masing-masing. Targetnya tidak harus seragam. Yang penting adalah kontinuitas, pendampingan, dan rasa bahwa keluarga menjadi tim. Dengan dukungan platform digital sederhana, buku misi, atau insentif simbolis, dampaknya bisa cukup luas.

Tentu ada tantangan. Tidak semua wilayah punya trotoar yang aman, ruang terbuka hijau yang memadai, atau budaya berjalan kaki yang kuat. Namun justru karena itu, pendekatan fleksibel menjadi penting. Aktivitas bisa disesuaikan dengan kondisi setempat. Di kawasan perumahan, keluarga bisa memanfaatkan lapangan kecil atau jalan kompleks. Di desa, jalur sekitar rumah atau area persawahan bisa menjadi ruang gerak yang alami. Intinya bukan meniru bentuk luar acara Seoul secara mentah, melainkan menangkap semangatnya: membangun kebiasaan sehat melalui relasi keluarga.

Di level budaya populer, berita seperti ini juga memperlihatkan sisi lain Hallyu yang jarang dibicarakan. Selama ini perhatian publik Indonesia terhadap Korea Selatan sering tertuju pada K-pop, drama, mode, dan kuliner. Padahal, gelombang budaya Korea juga mencakup cara negara itu mengelola kehidupan urban, komunitas warga, dan kebijakan keluarga. Dalam arti tertentu, “Aja Runner” adalah bagian dari wajah Korea kontemporer yang lebih tenang tetapi tidak kalah penting: negara yang berusaha menjawab problem sosial melalui program yang dekat dengan keseharian.

Pada akhirnya, kekuatan berita ini ada pada kesederhanaannya. Tidak ada bintang olahraga besar. Tidak ada hadiah spektakuler. Tidak ada ketegangan pertandingan kelas dunia. Tetapi ada satu gagasan yang sangat manusiawi: bahwa olahraga bisa menjadi bahasa cinta dalam keluarga. Dan di kota sepadat Seoul, gagasan itu terasa sangat relevan. Di Indonesia pun, pesan itu mudah diterima. Sebab di tengah jadwal yang padat, kemacetan, dan tuntutan hidup sehari-hari, banyak keluarga sesungguhnya tidak mencari acara yang luar biasa. Mereka hanya butuh alasan yang baik untuk kembali berjalan bersama.

Itulah mengapa program seperti ini layak menjadi berita. Ia mengingatkan bahwa olahraga bukan hanya milik stadion, atlet elit, atau pencari rekor pribadi. Olahraga juga hidup di trotoar dekat rumah, di taman kecil sore hari, di langkah pendek anak yang masih belajar konsisten, dan di ayah yang memilih melambat agar bisa berlari sejajar. Dari sana, sebuah kota bisa membangun bukan cuma warga yang lebih sehat, tetapi juga keluarga yang lebih terhubung. Dan mungkin, di masa ketika banyak orang merasa terlalu sibuk untuk hadir sepenuhnya bagi orang terdekat, itu adalah kemenangan yang jauh lebih besar daripada sekadar finis paling cepat.

Source: Original Korean article - Trendy News Korea

댓글

이 블로그의 인기 게시물

Di Balik Konflik HYBE, ADOR, dan Min Hee-jin: Saat NewJeans Menjadi Pusat Perebutan IP, Kreativitas, dan Kuasa di Industri K-pop

Korban yang Tersisa Lima: Saat Korea Selatan Masuk Fase Penentuan dalam Merawat, Mencatat, dan Mengajarkan Sejarah Jugun Ianfu

Korea Selatan Kalah Tipis dari Austria, tetapi PR Sebenarnya Ada di Sepertiga Akhir: Saat Son Heung-min dan Lee Kang-in Belum Cukup