Kim Jaejoong Ambil Jalur Paling Berani: Dari Panggung K-Pop ke Horor Lintas Korea-Jepang dalam ‘Shinsa: Bisikan Roh Jahat’

Kim Jaejoong Ambil Jalur Paling Berani: Dari Panggung K-Pop ke Horor Lintas Korea-Jepang dalam ‘Shinsa: Bisikan Roh Jaha

Kim Jaejoong memilih peran yang jauh dari zona nyaman

Nama Kim Jaejoong selama ini lebih lekat dengan citra bintang Hallyu yang serba glamor: penyanyi dengan basis penggemar global, performer dengan panggung besar, sekaligus aktor yang beberapa kali membuktikan diri lewat drama dan film. Karena itu, kabar terbarunya terasa menonjol. Dalam film horor Korea terbaru berjudul Shinsa: Bisikan Roh Jahat, Jaejoong tidak datang sebagai sosok romantis, idola penuh pesona, atau karakter aman yang sudah akrab di mata publik. Ia justru mengambil peran sebagai baksu mudang, yakni dukun laki-laki dalam tradisi perdukunan Korea, yang menelusuri kasus hilangnya mahasiswa di Kobe, Jepang.

Bagi pembaca Indonesia, keputusan ini menarik bukan hanya karena menyangkut transformasi seorang selebritas besar, melainkan juga karena menunjukkan arah baru K-konten yang kian berani mencampur genre, simbol budaya, dan pasar lintas negara. Jika selama ini penonton Indonesia akrab dengan drama Korea romantis, thriller kriminal, atau film horor yang menonjolkan kutukan dan trauma keluarga, proyek ini hadir dengan campuran yang lebih tidak lazim: spiritualitas lokal Korea bertemu atmosfer horor Jepang yang dikenal dingin, sunyi, dan merayap pelan.

Kim Jaejoong menyampaikan langsung semangat proyek ini dalam sesi jumpa pers film yang digelar di CGV Yongsan I’Park Mall, Seoul, pada 8 Juni 2026. Menurutnya, ciri khas horor Jepang yang sudah lama dikenal publik bisa berpadu secara menarik dengan horor Korea dan melahirkan karya dengan rasa baru. Pernyataan itu penting. Ia menandakan bahwa film ini tidak sekadar menjual nama besar pemain, melainkan juga ingin menekankan eksperimen artistik pada level genre.

Di tengah persaingan konten Asia yang semakin ketat, langkah seperti ini dapat dibaca sebagai strategi yang cerdas. Sama seperti industri hiburan Indonesia yang kini makin sering menggabungkan unsur lokal dengan pendekatan global agar bisa menembus pasar lebih luas, industri Korea juga tampak sadar bahwa audiens internasional tidak lagi cukup disuguhi formula lama. Mereka mencari sesuatu yang akrab, tetapi tetap memberi kejutan. Di titik itulah peran Jaejoong menjadi sangat penting: ia adalah wajah yang familiar, dibawa masuk ke dunia cerita yang justru asing dan tidak nyaman.

Transformasi seperti ini biasanya menjadi momen penentu dalam karier seorang bintang. Publik tidak lagi hanya menilai apakah ia populer, tetapi apakah ia mampu merobek ekspektasi yang selama ini melekat padanya. Dalam konteks itu, Shinsa: Bisikan Roh Jahat tampak seperti perjudian yang matang: berisiko, tetapi berpotensi memberi bobot baru pada karier Kim Jaejoong sebagai aktor.

Mengenal sosok baksu mudang, dukun laki-laki dalam tradisi Korea

Salah satu unsur paling menarik dari film ini adalah profesi karakter yang dimainkan Jaejoong. Ia memerankan Myungjin, seorang baksu mudang. Istilah ini mungkin belum familier bagi banyak pembaca Indonesia, meski kita sebenarnya tidak asing dengan konsep perantara spiritual dalam budaya sendiri. Dalam tradisi Korea, mudang merujuk pada praktisi spiritual atau dukun yang menjalankan ritual untuk berkomunikasi dengan roh, membaca pertanda, atau membantu menyelesaikan persoalan yang dianggap tidak bisa dijelaskan sepenuhnya dengan logika sehari-hari. Sementara baksu merujuk pada dukun laki-laki.

Jika di Indonesia masyarakat mengenal berbagai figur spiritual dengan nama dan fungsi yang berbeda-beda tergantung daerah—mulai dari dukun, pawang, orang pintar, hingga tokoh adat yang memimpin ritual tertentu—maka baksu mudang dalam konteks Korea juga berada di ruang yang serupa: wilayah antara kepercayaan tradisional, ritual, trauma kolektif, dan rasa takut yang tidak selalu kasatmata. Bedanya, dalam sinema Korea, figur seperti ini kerap diposisikan bukan hanya sebagai sumber misteri, tetapi juga sebagai pembaca kebenaran yang tersembunyi.

Itulah sebabnya karakter Myungjin tidak bisa dianggap sebagai tempelan eksotis belaka. Ia membawa fungsi dramatik yang kuat. Dalam banyak karya horor Korea, dunia gaib bukan sekadar alat untuk mengejutkan penonton, melainkan pintu untuk menyingkap luka lama, kebohongan yang ditutup rapat, atau kecemasan sosial yang dipendam sebuah komunitas. Sosok dukun menjadi penting karena ia punya akses ke sesuatu yang tak dapat dijangkau tokoh biasa.

Bila diterjemahkan ke selera penonton Indonesia, pendekatan ini sebenarnya punya kemiripan dengan sejumlah film horor lokal yang menempatkan tokoh spiritual sebagai penghubung antara dunia nyata dan ancaman tak terlihat. Namun, film Korea umumnya memberi lapisan psikologis dan simbolik yang lebih tebal: ritual bukan hanya adegan seram, melainkan cara membaca sejarah, rasa bersalah, dan retaknya relasi manusia. Karena itu, ketika seorang bintang dengan persona populer seperti Kim Jaejoong memerankan baksu mudang, publik bisa berharap bahwa film ini tidak berhenti di level penampilan, tetapi juga menuntut pendalaman karakter yang serius.

Peran seperti ini menuntut aktor bekerja dengan tubuh, tatapan, tempo bicara, dan aura yang meyakinkan. Ia harus tampak seperti orang yang hidup di dua dunia sekaligus: dunia rasional tempat investigasi kasus berlangsung, dan dunia lain yang tak semua orang bisa pahami. Tantangan itulah yang membuat pilihan Jaejoong terasa berani. Ia meninggalkan citra aman untuk masuk ke figur simbolik yang sarat muatan budaya dan emosional.

Horor Korea bertemu horor Jepang, formula yang menjanjikan rasa baru

Pernyataan Kim Jaejoong soal percampuran K-horor dan J-horor bukan sekadar slogan promosi. Dalam peta sinema Asia, Korea dan Jepang memang punya tradisi horor yang sama-sama kuat, tetapi berkembang dengan bahasa yang berbeda. Horor Jepang dikenal piawai membangun ketakutan lewat keheningan, suasana sehari-hari yang perlahan menjadi ganjil, ruang yang terasa lembap dan menyimpan jejak, serta kehadiran ancaman yang sering kali tidak dijelaskan secara tuntas. Penonton dibuat resah bukan karena banyak ledakan adegan, melainkan karena rasa tak nyaman yang menempel lama.

Sementara itu, horor Korea cenderung menonjolkan tensi emosional yang lebih tegas. Ada kemarahan, duka, dendam, luka keluarga, atau retak sosial yang menjadi bahan bakar cerita. Dunia gaib dalam horor Korea kerap terasa dekat dengan persoalan manusia yang sangat konkret. Karena itu, film horor Korea sering kali menyisakan kesedihan atau kepedihan sosial, bukan hanya ketakutan.

Jika dua tradisi ini benar-benar dipertemukan dengan cermat, hasilnya bisa sangat menarik. Bayangkan atmosfer mencekam ala Jepang yang menumpuk pelan, lalu dipadukan dengan ledakan emosional dan simbolisme ritual ala Korea. Bagi penonton Indonesia yang belakangan semakin kritis terhadap film horor Asia, kombinasi ini berpotensi memunculkan pengalaman menonton yang segar. Apalagi penonton Indonesia juga punya sejarah kedekatan dengan dua kutub tersebut: kita tumbuh dengan ketertarikan pada film-film horor Jepang yang dingin dan mengganggu, tetapi juga akrab dengan narasi horor yang sarat unsur keluarga, kutukan, dan spiritualitas seperti yang banyak hadir di Asia Tenggara.

Dari sisi industri, percampuran ini juga menunjukkan bagaimana K-konten kini bekerja. Dulu, istilah Hallyu sering diasosiasikan dengan ekspor budaya Korea yang relatif tegas identitasnya. Kini, ketika pasar global makin terbuka dan penonton makin terbiasa menyerap konten lintas bahasa, identitas itu justru bergerak lebih cair. Karya Korea tidak harus berdiri sendiri sebagai “murni Korea” untuk tetap terasa kuat. Ia bisa menyerap elemen luar, selama tetap punya pusat emosi dan strategi penceritaan yang jelas.

Dalam pengertian itulah Shinsa: Bisikan Roh Jahat tampak relevan. Ia bukan hanya film baru seorang bintang, tetapi cermin dari arah baru industri: kolaboratif, lintas batas, dan sadar bahwa genre adalah bahasa global. Sama seperti musik pop Indonesia kini berani meminjam idiom Korea, Barat, dan lokal sekaligus tanpa kehilangan identitas, sinema Korea pun tengah bergerak ke ranah yang serupa.

Kobe, kuil tua, dan kasus mahasiswa hilang: ruang cerita yang sarat simbol

Latar cerita film ini juga patut dicermati. Kisah bermula dari proyek regenerasi desa Korea-Jepang yang melibatkan para mahasiswa. Mereka kemudian menuju sebuah kuil tua yang terbengkalai di Kobe, kota pelabuhan di Prefektur Hyogo, Jepang. Setelah itu, satu per satu menghilang. Situasi mulai bergerak ketika Yumi, manajer proyek tersebut, menghubungi senior kampusnya, Myungjin, untuk membantu menelusuri apa yang sebenarnya terjadi.

Secara dramatik, set-up ini kuat karena memadukan dua lapisan ketegangan sekaligus: misteri kriminal dan ancaman supranatural. Hilangnya mahasiswa memberi jangkar realistis pada cerita. Penonton punya pertanyaan yang konkret: siapa yang hilang, di mana mereka, apa penyebabnya, dan siapa yang bertanggung jawab. Namun, kehadiran kuil tua dan tokoh baksu mudang menandakan bahwa jawaban film ini kemungkinan tidak akan berhenti pada penjelasan rasional semata.

Kuil tua atau ruang ibadah yang ditinggalkan merupakan simbol yang sangat efektif dalam horor Asia Timur. Tempat seperti itu menyimpan lapisan makna: sisa keyakinan lama, memori yang tidak dirawat, hubungan manusia dengan yang sakral yang terputus, dan sejarah yang secara fisik masih ada tetapi secara sosial sudah ditinggalkan. Dalam film horor, ruang semacam ini menciptakan ketegangan karena ia berada di antara dua dunia: pernah dianggap suci, tetapi kini terlantar; pernah ramai oleh ritual, tetapi kini dikuasai sunyi.

Bagi penonton Indonesia, simbolisme ini mudah dipahami. Dalam banyak cerita rakyat maupun film horor lokal, tempat yang terbengkalai—rumah tua, bangunan kosong, area ritual yang tak lagi dijaga—sering menjadi wadah bagi ketakutan kolektif. Kita terbiasa dengan gagasan bahwa ruang menyimpan jejak. Yang membedakan hanyalah bahasa budaya yang dipakai untuk menjelaskannya.

Menariknya lagi, film ini tidak menempatkan semua tokoh pada garis yang sama. Yumi hadir sebagai manajer proyek, figur yang mewakili bahasa modern: perencanaan, kerja lapangan, pembangunan, tujuan yang konkret. Sementara Myungjin datang dari wilayah tradisi dan intuisi spiritual. Pertemuan dua cara membaca dunia ini sangat potensial. Satu sisi ingin memecahkan masalah melalui fakta dan tindakan; sisi lain memahami bahwa tidak semua peristiwa dapat dibuka hanya dengan prosedur biasa. Ketegangan itu bisa menjadi jantung cerita, dan bila ditulis dengan baik, akan memberi lapisan makna yang lebih kaya daripada sekadar adegan menakutkan.

Bukan sekadar comeback, melainkan pernyataan arah karier

Untuk seorang artis sekelas Kim Jaejoong, pilihan proyek selalu dibaca lebih dari satu lapis. Penonton tentu melihatnya sebagai kabar film baru, tetapi industri membacanya sebagai sinyal. Ke mana seorang bintang ingin membawa namanya? Apakah ia memilih bertahan di area aman yang menjaga popularitas, atau justru masuk ke wilayah yang mungkin tidak langsung nyaman bagi penggemar, tetapi penting untuk pertumbuhan artistik?

Dari rekam jejaknya, Jaejoong bukan nama baru dalam dunia akting. Ia pernah memerankan karakter dengan spektrum yang beragam, dari tokoh keras hingga figur dengan latar profesi spesifik. Namun, karakter Myungjin punya bobot simbolik yang berbeda. Ini bukan tipe peran yang hanya bergantung pada ketampanan layar atau karisma bintang. Ia menuntut kehadiran yang lebih gelap, lebih misterius, dan lebih tertahan.

Di sinilah taruhannya besar. Banyak idol yang beralih atau memperluas karier ke akting, tetapi tidak semua mendapat peran yang benar-benar menguji kemampuan. Kadang mereka hanya ditempatkan pada karakter yang masih dekat dengan citra publiknya. Peran baksu mudang justru bergerak ke arah sebaliknya. Ia bisa memutus kenyamanan itu. Jika berhasil, publik akan melihat Jaejoong bukan hanya sebagai penyanyi yang sesekali berakting, melainkan aktor yang sanggup menanggung dunia film yang berat dan tidak mudah.

Bagi penggemar lama, ini juga bisa menjadi pengalaman menarik. Mereka yang selama ini mengikuti Jaejoong dari musik, konser, variety show, hingga drama akan menyaksikan sisi yang lebih asing. Dalam industri hiburan, justru momen ketika seorang bintang merobohkan citranya sendiri sering kali paling berkesan. Ada rasa ingin tahu yang besar: bagaimana suara, gestur, dan energi panggung yang selama ini dikenal akan diterjemahkan ke dalam karakter dukun laki-laki yang mengejar jejak kehilangan di kota asing?

Kalau dilihat lebih luas, langkah ini terasa sejalan dengan tren banyak artis Korea generasi awal Hallyu yang kini berusaha memperpanjang usia karier melalui pilihan karya yang lebih tajam. Popularitas lintas negara memberi mereka modal, tetapi yang menentukan daya tahan tetaplah kualitas keputusan artistik. Dalam hal itu, Shinsa: Bisikan Roh Jahat bisa menjadi salah satu proyek paling penting dalam fase terbaru perjalanan Kim Jaejoong.

Apa maknanya bagi pembaca Indonesia dan pasar budaya Asia?

Bagi pembaca Indonesia, berita ini menarik karena berada di persimpangan beberapa hal yang sangat dekat dengan konsumsi budaya kita saat ini. Pertama, antusiasme terhadap Hallyu di Indonesia tetap tinggi, dan Kim Jaejoong adalah nama yang sudah lama memiliki tempat di kalangan penggemar gelombang Korea. Kedua, genre horor di Indonesia sedang berada dalam fase yang sangat hidup. Film horor lokal terus mendominasi bioskop, sementara penonton juga aktif mengikuti karya-karya Asia lain melalui platform streaming maupun festival film. Ketiga, ada ketertarikan yang makin besar terhadap cerita-cerita yang menggabungkan unsur lokal dan internasional secara seimbang.

Karena itu, film seperti ini punya peluang untuk dibaca bukan hanya sebagai produk hiburan, melainkan juga sebagai studi kecil tentang bagaimana budaya populer Asia saling memengaruhi. Korea membawa tradisi shamanisme dan struktur emosionalnya. Jepang menyumbang atmosfer ruang, keheningan, dan rasa asing yang khas. Lalu publik internasional—termasuk Indonesia—menjadi penikmat yang membaca hasil persilangan itu dengan pengalaman budayanya sendiri.

Dalam konteks Indonesia, penjelasan semacam ini penting karena tidak semua pembaca akrab dengan istilah atau latar yang digunakan. Kota Kobe, misalnya, bukan sekadar latar eksotis. Sebagai kota pelabuhan dengan sejarah modernisasi dan pertemuan budaya, Kobe memberi nuansa yang berbeda dibanding kota-kota Jepang yang lebih sering muncul di film arus utama. Kuil tua yang ditinggalkan di wilayah seperti itu menambah rasa kontras: modernitas berada sangat dekat dengan sisa keyakinan lama. Kontras seperti ini sangat efektif untuk genre horor.

Dari sisi pasar, proyek ini juga mengingatkan bahwa masa depan konten Asia kemungkinan akan semakin lintas batas. Jika dulu audiens dibagi cukup tegas antara penggemar drama Korea, anime Jepang, atau film lokal, kini pola konsumsi makin cair. Satu penonton bisa menonton semuanya dalam satu minggu. Maka, karya yang mampu meminjam kekuatan berbagai tradisi punya keunggulan kompetitif tersendiri. Ia bisa terasa akrab bagi banyak kelompok penonton sekaligus.

Apakah itu menjamin filmnya akan sukses? Tentu tidak. Pada akhirnya, semua kembali pada eksekusi: naskah, ritme, atmosfer, akting, dan kemampuan sutradara menyatukan elemen-elemen yang berbeda tanpa membuatnya terasa tempelan. Namun, sebagai premis dan strategi, Shinsa: Bisikan Roh Jahat sudah memberi alasan kuat untuk diperhatikan. Ia datang dengan bintang besar, karakter yang tidak biasa, latar yang sarat simbol, dan gagasan genre yang sedang relevan dengan arah industri.

Bila film ini berhasil, dampaknya bisa lebih luas daripada sekadar respons positif pada satu judul. Ia dapat memperkuat keyakinan bahwa K-konten masih memiliki ruang ekspansi yang lebar, bukan hanya melalui skala produksi atau nama besar, tetapi lewat keberanian mencampur bahasa budaya dan tradisi horor Asia. Dan bagi Indonesia—pasar yang sangat responsif terhadap dua hal sekaligus, yakni Hallyu dan horor—karya seperti ini berpotensi menemukan penonton yang antusias.

Menunggu apakah eksperimen ini benar-benar menghasilkan sesuatu yang baru

Pada akhirnya, yang membuat Shinsa: Bisikan Roh Jahat layak dipantau bukan cuma nama Kim Jaejoong. Daya tarik utamanya justru terletak pada pertanyaan yang lebih besar: bisakah film ini menawarkan bentuk horor baru yang terasa segar, tanpa kehilangan kedalaman budaya yang menjadi fondasinya? Itu tantangan yang tidak ringan. Banyak film menjual campuran genre dan kolaborasi lintas negara, tetapi tidak semuanya berhasil menyatukan elemen-elemen tersebut menjadi pengalaman sinematik yang utuh.

Dari materi yang sudah terungkap, film ini setidaknya punya beberapa modal kuat. Ada karakter sentral yang berani, ada kasus hilangnya mahasiswa yang langsung memberi dorongan naratif, ada latar kuil tua di Kobe yang sarat atmosfer, dan ada perjumpaan antara logika modern dengan tradisi spiritual. Bila semua itu ditangani dengan disiplin, hasilnya bisa menjadi salah satu karya horor Asia yang patut diperhitungkan ketika tayang.

Bagi Kim Jaejoong sendiri, film ini tampak seperti sebuah pernyataan bahwa ia tidak ingin hanya berjalan di jalur yang aman. Ia memilih menghadapi ruang yang lebih gelap, lebih simbolik, dan mungkin lebih berisiko, tetapi justru karena itu lebih menjanjikan secara artistik. Di industri hiburan yang bergerak cepat dan mudah melupakan, keputusan seperti ini sering kali menjadi pembeda antara bintang yang hanya bertahan lewat nostalgia dan seniman yang terus menemukan bentuk baru.

Pembaca Indonesia patut menaruh perhatian karena perkembangan seperti ini memberi gambaran tentang ke mana Hallyu bergerak setelah bertahun-tahun menjadi kekuatan budaya global. Gelombang Korea tidak berhenti pada lagu mudah diingat atau drama romantis yang membuat penonton baper. Ia terus bereksperimen, masuk ke wilayah yang lebih gelap, lebih campur, dan lebih kompleks. Dalam lanskap itulah Shinsa: Bisikan Roh Jahat berdiri: sebagai film yang mencoba memadukan ketakutan, tradisi, dan identitas Asia Timur ke dalam satu paket yang ditujukan untuk penonton masa kini.

Masih terlalu dini untuk menyebutnya sebagai tonggak baru. Namun satu hal sudah jelas: lewat proyek ini, Kim Jaejoong sedang mempertaruhkan lebih dari sekadar popularitas. Ia mempertaruhkan kemungkinan untuk dibaca ulang, bukan hanya sebagai ikon Hallyu, tetapi sebagai aktor yang berani mengambil peran paling ganjil justru ketika publik sudah merasa paling mengenalnya.

Source: Original Korean article - Trendy News Korea

댓글

이 블로그의 인기 게시물

Di Balik Konflik HYBE, ADOR, dan Min Hee-jin: Saat NewJeans Menjadi Pusat Perebutan IP, Kreativitas, dan Kuasa di Industri K-pop

Korban yang Tersisa Lima: Saat Korea Selatan Masuk Fase Penentuan dalam Merawat, Mencatat, dan Mengajarkan Sejarah Jugun Ianfu

Korea Selatan Kalah Tipis dari Austria, tetapi PR Sebenarnya Ada di Sepertiga Akhir: Saat Son Heung-min dan Lee Kang-in Belum Cukup