Ketika Keluarga Turut Masuk ke Arena Cinta: Eksperimen Baru Variety Show Korea ‘Hapsuk Matseon 2’

Ketika Keluarga Turut Masuk ke Arena Cinta: Eksperimen Baru Variety Show Korea ‘Hapsuk Matseon 2’

Bukan Lagi Sekadar Cari Jodoh, Melainkan Membaca Cara Keluarga Korea Melihat Cinta

Gelombang program kencan atau dating reality show dari Korea Selatan selama beberapa tahun terakhir sudah begitu akrab bagi penonton Indonesia. Dari tayangan yang menonjolkan chemistry antar peserta, strategi memilih pasangan, sampai dinamika satu rumah yang penuh ketegangan emosional, formatnya terus berkembang. Namun langkah terbaru SBS lewat musim kedua “Jasik Bangsaeng Project – Hapsuk Matseon” atau “Hapsuk Matseon 2” menawarkan sesuatu yang berbeda: bukan hanya anak dan orang tua yang ikut mengamati proses pencarian pasangan, melainkan seluruh keluarga ikut masuk ke dalam panggung cerita.

Menurut informasi yang diumumkan media Korea, program ini dijadwalkan tayang mulai 25 Juni. Yang menarik, sorotan utamanya bukan semata karena acara ini mendapat musim kedua, melainkan karena struktur dasarnya diubah cukup signifikan. Jika musim pertama menempatkan ibu dan anak dalam satu perjalanan mencari pasangan, musim kedua memperluas unit pesertanya menjadi “satu keluarga”. Dalam bahasa sederhana, yang tampil bukan lagi individu yang kebetulan punya keluarga, melainkan keluarga itu sendiri sebagai bagian aktif dari narasi.

Bagi pembaca Indonesia, konsep ini mungkin terasa unik, tetapi tidak sepenuhnya asing. Di banyak keluarga Indonesia, urusan asmara memang sering dianggap bukan murni persoalan dua orang. Ada pertimbangan restu orang tua, kecocokan latar belakang keluarga, cara seseorang bersikap di meja makan, hingga hal-hal yang kelihatannya sepele seperti sopan santun, cara berbicara, atau kebiasaan sehari-hari. Bedanya, jika di Indonesia hal itu lebih sering dibicarakan di ruang keluarga, lewat obrolan usai Lebaran, saat arisan, atau ketika pulang kampung, maka di “Hapsuk Matseon 2” seluruh proses itu justru dibuka menjadi tontonan nasional.

Karena itu, program ini layak dibaca bukan sekadar sebagai hiburan ringan, tetapi sebagai cermin dari cara masyarakat Korea memaknai hubungan romantis. Cinta, dalam format ini, tidak ditempatkan sebagai ruang privat sepenuhnya. Ia hadir sebagai keputusan personal yang sekaligus dibaca melalui kacamata keluarga. Di situlah eksperimen sebenarnya dimulai.

Perubahan Terbesar Musim Kedua: Yang Diubah Bukan Orangnya, Melainkan Satuan Relasinya

Secara permukaan, publik mungkin akan melihat perubahan musim kedua ini sebagai perluasan jumlah orang yang muncul di layar. Namun jika ditelaah lebih dalam, pembaruan paling penting justru bukan pada siapa yang tampil, melainkan pada bagaimana hubungan itu disusun. Di musim pertama, keluarga masih berfungsi sebagai pendamping dekat—terutama ibu—yang menyaksikan, memberi komentar, dan ikut merasakan kegugupan anak mereka. Di musim kedua, keluarga naik status menjadi pelaku utama yang sama pentingnya dengan peserta yang mencari pasangan.

Perubahan ini penting karena dating show pada umumnya dibangun dari satu fondasi klasik: individu bertemu individu lain, lalu penonton diajak mengamati tarik-menarik rasa, kecanggungan, harapan, dan pilihan. Format seperti itu menempatkan emosi personal sebagai pusat gravitasi. “Hapsuk Matseon 2” justru menggeser titik beratnya. Yang diuji bukan hanya apakah dua orang saling tertarik, tetapi juga bagaimana ketertarikan itu dibaca, disambut, dicurigai, atau didukung oleh orang-orang terdekat mereka.

Dalam konteks Korea, ini menarik karena keluarga memiliki posisi yang sangat kuat dalam kehidupan sosial. Meski generasi muda Korea kian modern, mandiri, dan terbuka terhadap gaya hidup urban, keluarga tetap menjadi salah satu pusat legitimasi penting dalam banyak keputusan hidup, termasuk soal hubungan jangka panjang dan pernikahan. Karena itu, ketika keluarga dibawa ke dalam format acara, yang dimunculkan bukan sekadar tambahan karakter, tetapi keseluruhan jaringan makna di sekitar hubungan tersebut.

Untuk penonton Indonesia, pendekatan ini bisa terasa dekat. Banyak orang di sini tumbuh dengan kalimat-kalimat seperti “yang menikah memang kamu, tapi yang berkeluarga kan bukan kamu sendiri” atau “pacaran itu bukan cuma cocok sama orangnya, tapi juga sama keluarganya”. Kalimat seperti itu punya daya resonansi yang kuat dengan konsep “Hapsuk Matseon 2”. Bedanya, program ini mengemas hal yang biasanya terjadi di balik pintu rumah menjadi format reality show yang terstruktur.

Karena keluarga bukan lagi pelengkap, maka ruang konflik, kehangatan, dan kejutan pun otomatis melebar. Satu peserta bisa tampak menawan bagi calon pasangan, tetapi belum tentu langsung diterima secara emosional oleh keluarga pasangan tersebut. Sebaliknya, seseorang yang pada awalnya tidak terlalu menonjol dalam relasi romantis bisa justru mendapat nilai lebih karena mampu membangun percakapan hangat dengan anggota keluarga lain. Dalam format seperti ini, cinta tidak lagi berdiri sendirian; ia harus bernegosiasi dengan relasi sosial yang lebih luas.

Mengapa Format Ini Menarik di Tengah Kejenuhan Dating Show Korea

Industri hiburan Korea sangat piawai dalam membaca kapan sebuah genre mulai menunjukkan gejala kelelahan. Dating show Korea sendiri sudah melewati banyak variasi: tinggal bersama dalam satu rumah, pertemuan orang asing dalam suasana liburan, konsep mantan kekasih yang dipertemukan kembali, hingga format yang menekankan strategi ketimbang romansa. Semua itu menunjukkan bahwa pasar sebenarnya sudah sangat padat. Tantangannya, bagaimana membuat penonton merasa sedang menonton sesuatu yang baru tanpa harus benar-benar meninggalkan DNA genre tersebut.

Di titik inilah keputusan menghadirkan “seluruh keluarga” terasa strategis. Bukan teknologi yang diperbesar, bukan skala produksi yang dibikin lebih mewah, melainkan struktur relasinya yang diubah. Ini langkah yang cerdas, karena dating show hidup dari observasi perilaku manusia. Saat pola interaksinya diubah, rasa baru bisa muncul meski bahan dasarnya tetap sama: pertemuan, ketertarikan, kebimbangan, dan pilihan.

Korea Selatan beberapa tahun terakhir juga menunjukkan kecenderungan untuk membuat konten hiburan yang semakin sadar pada konteks sosial. Acara-acara mereka tidak hanya menjual momen manis, tetapi juga mengangkat lapisan-lapisan budaya: etika pergaulan, tekanan sosial, perbedaan generasi, sampai nilai keluarga. Karena itu, “Hapsuk Matseon 2” bisa dibaca sebagai upaya memperluas medan cerita dari sekadar “siapa suka siapa” menjadi “bagaimana sebuah hubungan diterima di dalam ekosistem sosialnya”.

Bagi penonton Indonesia yang sudah akrab dengan drama Korea dan variety show, pergeseran ini menarik karena menawarkan pengalaman menonton yang tidak melulu bertumpu pada adegan romantis. Ada potensi observasi budaya yang lebih kaya. Misalnya, bagaimana orang tua Korea mengungkapkan kekhawatiran mereka? Seberapa terbuka saudara kandung memberi penilaian? Bagaimana generasi muda merespons campur tangan keluarga tanpa terlihat melawan? Semua pertanyaan itu bisa menjadi bahan bacaan sosial yang sama menariknya dengan kemungkinan pasangan yang terbentuk.

Dengan kata lain, jika dating show lain menjual kupu-kupu di perut, “Hapsuk Matseon 2” tampaknya ingin menjual sesuatu yang lebih membumi: relasi, kebiasaan, dan benturan nilai yang memang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah maraknya konten hiburan yang sering mengejar sensasi cepat, pendekatan seperti ini berpotensi terasa lebih segar justru karena dekat dengan kenyataan.

Keluarga sebagai Pendukung Sekaligus Penilai: Ketegangan yang Sangat Korea, Tapi Juga Akrab bagi Indonesia

Ada satu lapisan yang membuat format ini memiliki daya tarik dramatis tinggi: keluarga adalah orang terdekat, tetapi pada saat yang sama bisa menjadi penilai paling keras. Dalam banyak budaya Asia, termasuk Korea dan Indonesia, keluarga tidak selalu menolak hubungan anaknya secara frontal. Sering kali yang muncul justru pengamatan halus, komentar kecil, atau ekspresi wajah yang menyimpan banyak arti. Dari luar tampak tenang, tetapi di dalamnya penuh pembacaan.

Itulah sebabnya kehadiran seluruh keluarga berpotensi menciptakan ketegangan yang lebih subtil ketimbang acara yang hanya menonjolkan pertengkaran atau kompetisi terbuka. Penonton bisa melihat bagaimana proteksi orang tua bekerja, bagaimana saudara kandung membaca “red flag”, atau bagaimana perbedaan kebiasaan sehari-hari mulai terlihat ketika dua keluarga saling memperhatikan. Dalam masyarakat seperti Korea, yang masih memberi tempat besar pada tata krama dan harmoni sosial, tegangan semacam ini bisa sangat menarik justru karena tidak selalu meledak secara verbal.

Indonesia pun punya pengalaman kultural yang mirip. Banyak kisah asmara di sini tidak otomatis diuji pada tahap “saling suka”, melainkan baru benar-benar serius ketika masuk ke fase “keluarganya seperti apa?”. Dalam obrolan santai di warung kopi atau grup keluarga, pertanyaan tentang latar belakang keluarga, cara didik orang tua, hingga kecocokan nilai hidup kerap muncul jauh sebelum hari pernikahan. Karena itu, penonton Indonesia kemungkinan besar tidak akan kesulitan memahami emosi dasar yang dibawa acara ini.

Yang membedakan adalah bagaimana Korea menjadikannya sebagai bahasa televisi. Bila selama ini banyak dating show menempatkan keluarga sebagai narasumber tambahan atau panel komentator dari kejauhan, “Hapsuk Matseon 2” memilih membawa mereka ke pusat kejadian. Konsekuensinya, setiap momen romantis berpotensi langsung disusul respons sosial. Adegan yang seharusnya sederhana—seperti memilih duduk di sebelah siapa, siapa yang lebih dulu menyapa, atau bagaimana seseorang membantu membereskan meja—bisa bermakna jauh lebih besar ketika disaksikan anggota keluarga.

Dalam format seperti ini, penilaian atas seseorang tidak lagi hanya datang dari aura romantis, tetapi juga dari hal-hal yang sangat domestik. Apakah ia sabar? Apakah ia menghormati orang yang lebih tua? Apakah ia bisa membuat percakapan mengalir? Semua itu mungkin terdengar seperti daftar klasik yang sering terdengar di keluarga Asia, tetapi justru di situlah kekuatannya. Acara ini berpotensi membuat penonton merasa, “Ini bukan cuma soal kencan, ini soal bagaimana seseorang masuk ke dunia orang lain.”

Peran Tiga Pembawa Acara: Menjaga Eksperimen Tetap Akrab bagi Penonton

SBS mempertahankan trio pembawa acara dari musim pertama, yakni Seo Jang-hoon, Lee Yo-won, dan Kim Yo-han. Di atas kertas, keputusan ini terlihat sederhana. Namun dalam program dengan perubahan format yang cukup mendasar, mempertahankan host yang sama punya fungsi penting: memberi rasa akrab di tengah eksperimen.

Dalam variety show Korea, pembawa acara bukan sekadar orang yang membacakan alur. Mereka sering berperan sebagai jembatan emosi antara peserta dan penonton. Mereka memberi konteks, menurunkan tensi ketika adegan terlalu canggung, atau justru menyorot detail yang mungkin lolos dari perhatian penonton. Pada program yang menggabungkan cinta dan keluarga, fungsi itu menjadi lebih vital karena materi ceritanya mudah bergeser menjadi terlalu sensitif atau terlalu menghakimi jika tidak ditangani dengan tepat.

Seo Jang-hoon membawa citra sebagai mantan atlet basket yang kini mapan sebagai figur variety show dengan gaya bicara lugas dan observasi tajam. Lee Yo-won, sebagai aktris, kerap memberi sudut pandang yang lebih tenang dan reflektif. Sementara Kim Yo-han, yang bergerak di dunia musik sekaligus akting, mewakili sensibilitas pop yang lebih dekat dengan generasi muda. Kombinasi ini memberi keseimbangan yang cukup menarik: ada otoritas, ada empati, dan ada sentuhan ringan yang membuat program tidak terasa berat.

Bagi penonton Indonesia, peran host seperti ini dapat diibaratkan sebagai moderator obrolan keluarga besar yang tahu kapan harus bercanda, kapan harus menahan komentar, dan kapan harus mengangkat persoalan serius tanpa membuat suasana pecah. Kalau format acara ini pada dasarnya berisiko menghadirkan terlalu banyak suara, maka pembawa acara adalah penata lalu lintas narasinya.

Keputusan mempertahankan host lama juga mengisyaratkan bahwa SBS tampaknya tidak ingin musim kedua terasa seperti program yang sama sekali asing. Ada kesinambungan yang dipertahankan agar penonton lama masih punya pegangan. Dalam industri televisi, ini penting. Perubahan yang terlalu drastis bisa membuat penonton kehilangan rasa memiliki, tetapi perubahan yang terlalu kecil membuat acara terasa hanya mengulang diri. “Hapsuk Matseon 2” mencoba berjalan di antara dua kutub itu: mengubah pusat relasi, tetapi menjaga wajah yang memandu penonton tetap sama.

Di Tengah Dorongan Teknologi dan Konten Global, SBS Justru Kembali ke Hubungan yang Paling Dasar

Menariknya, eksperimen format keluarga ini hadir pada saat industri hiburan Korea juga sedang bergerak ke banyak arah sekaligus. Di satu sisi, dunia hiburan Korea semakin agresif mengeksplorasi teknologi, dari konten berbasis kecerdasan buatan hingga strategi distribusi global melalui platform digital. Di sisi lain, stasiun-stasiun televisi besar juga terus merapikan strategi organisasi dan pengembangan kontennya untuk menghadapi kompetisi yang makin ketat.

Dalam suasana seperti itu, “Hapsuk Matseon 2” terasa seperti pilihan yang nyaris berlawanan arah dengan obsesi industri terhadap skala dan kebaruan teknis. Program ini tidak menjual dunia futuristik, tidak bertumpu pada efek visual, dan tidak mengandalkan premis yang rumit. Yang dipilih justru sesuatu yang sangat dasar: keluarga. Dari perspektif editorial, ini menarik karena menunjukkan bahwa pembaruan format tidak selalu harus datang dari teknologi atau gimmick besar. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah sudut pandang baru terhadap relasi yang sudah sangat akrab.

Jika ditarik ke pembacaan yang lebih luas, langkah ini juga menunjukkan bahwa industri hiburan Korea paham satu hal penting: globalisasi tidak otomatis berarti meninggalkan kekhasan lokal. Justru sebaliknya, penonton internasional sering tertarik pada konten Korea karena terasa spesifik secara budaya. Mereka ingin melihat bagaimana masyarakat Korea makan bersama, berbicara dengan orang tua, mengekspresikan rasa sungkan, atau menegosiasikan hubungan personal dalam kerangka sosial. “Hapsuk Matseon 2” punya potensi kuat di titik ini karena premisnya sederhana, tetapi sarat muatan budaya.

Penonton Indonesia yang mengikuti Hallyu pun biasanya tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga pengalaman memahami keseharian Korea. Sebab itu, acara seperti ini bisa punya nilai lebih. Ia tidak hanya menawarkan pertanyaan “siapa jadi pasangan siapa”, tetapi juga membuka ruang untuk membaca kultur keluarga Korea secara lebih dekat. Dalam konteks konsumsi budaya populer, itulah nilai tambah yang membuat sebuah tayangan menonjol di antara lautan konten serupa.

Akankah Acara Ini Memilih Sensasi atau Justru Pengamatan yang Lebih Halus?

Pertanyaan yang paling menarik menjelang penayangan tentu bukan hanya soal format, melainkan bagaimana format itu akan dieksekusi. Menghadirkan seluruh keluarga ke dalam dating show membuka dua kemungkinan yang sangat berbeda. Di satu sisi, ini bisa menjadi bahan bakar empuk bagi televisi yang ingin mengejar konflik, air mata, dan benturan antar generasi. Di sisi lain, ini juga bisa menjadi ruang observasi yang lebih halus, lebih manusiawi, dan lebih kaya secara sosial.

Sejauh informasi yang tersedia, SBS menonjolkan keunikan “seluruh keluarga ikut tampil” sebagai titik pembeda utamanya. Belum ada penekanan bahwa acara ini akan mengandalkan kompetisi ekstrem atau pertikaian besar sebagai jualan utama. Karena itu, ada peluang bahwa “Hapsuk Matseon 2” akan bergerak lebih dekat ke mode observasi ketimbang sensasi. Jika itu yang dipilih, program ini bisa memberi ritme berbeda dibanding banyak dating show yang cenderung bergerak cepat dan mengejar momen viral.

Bentuk pengamatan seperti ini justru sering lebih bertahan lama di ingatan penonton. Adegan kecil—cara seseorang menyapa ibu calon pasangan, cara saudara kandung saling melindungi, atau bagaimana satu keluarga menafsirkan keheningan keluarga lain—bisa jauh lebih membekas daripada ledakan konflik sesaat. Televisi Korea cukup terampil dalam mengolah momen mikro seperti ini menjadi bahan cerita yang emosional tetapi tidak murahan.

Tentu ada risiko. Jika pengemasan terlalu hati-hati, acara bisa terasa datar. Jika terlalu agresif, pesan sosialnya tenggelam dalam sensasi. Tantangan produksi musim kedua ini ada pada keseimbangan tersebut. Namun justru di sanalah nilai eksperimennya. SBS tampaknya sedang menguji apakah penonton masih punya selera terhadap format yang tidak hanya menawarkan debar asmara, tetapi juga membaca cinta sebagai bagian dari kehidupan sosial yang lebih luas.

Bagi penonton Indonesia, format semacam ini berpotensi terasa relevan karena menyentuh pengalaman yang sangat dekat dengan keseharian kita. Di banyak rumah, cinta memang jarang berdiri dalam ruang hampa. Ada orang tua yang diam-diam menilai, ada saudara yang memberi sinyal, ada keluarga besar yang menunggu kepastian. Jika “Hapsuk Matseon 2” mampu menangkap lapisan-lapisan itu dengan jujur dan tidak berlebihan, program ini bisa menjadi salah satu contoh menarik bagaimana variety show Korea terus menemukan cara baru untuk bercerita tentang hal yang sebenarnya sangat tua: pertemuan antar manusia, dan dunia yang ikut datang bersama mereka.

Sinyal Pasar Jelang Tayang 25 Juni dan Arti Pentingnya bagi Gelombang Hallyu

Jadwal tayang pada 25 Juni menandakan bahwa proyek ini bukan lagi sebatas ide pengembangan format, melainkan sudah masuk tahap pertarungan nyata di hadapan publik. Dalam sistem acara musiman, musim kedua selalu penting karena menjadi titik penentuan: apakah sebuah format cukup lentur untuk berkembang, atau justru berhenti sebagai gimmick sesaat. Dalam kasus “Hapsuk Matseon”, SBS tampaknya memilih jalan yang cukup berani—mempertahankan nama dan sebagian identitas lama, tetapi menggeser jantung penceritaannya.

Dari sudut pandang pasar, itu adalah strategi yang masuk akal. Penonton lama tetap punya alasan untuk kembali karena ada kesinambungan, sementara penonton baru bisa tertarik karena ada pembeda yang jelas. Di era ketika potongan video singkat di media sosial sering menentukan nasib sebuah acara, konsep yang mudah dijelaskan tetapi kaya makna budaya punya peluang lebih besar untuk menembus pasar internasional. “Dating show yang diikuti seluruh keluarga” adalah premis yang sederhana, mudah dipahami, dan langsung memancing rasa ingin tahu.

Untuk arus Hallyu di Indonesia, tayangan seperti ini juga penting karena memperluas gambaran tentang hiburan Korea. Selama ini publik Indonesia sangat akrab dengan K-pop, drama romantis, atau variety show komedi yang enerjik. Kehadiran program seperti “Hapsuk Matseon 2” menambah satu lapis lagi: Korea sebagai ruang yang terus merundingkan hubungan antara modernitas dan nilai keluarga. Ini membuat konsumsi budaya Korea menjadi lebih kaya, tidak berhenti pada idol dan visual, tetapi juga menyentuh cara masyarakatnya membicarakan cinta, kedewasaan, dan penerimaan sosial.

Pada akhirnya, yang membuat “Hapsuk Matseon 2” menarik bukan sekadar siapa pesertanya atau pasangan mana yang akan terbentuk. Yang lebih penting adalah gagasan di baliknya: bahwa kisah cinta di televisi Korea kini tidak lagi cukup dibingkai sebagai urusan dua hati. Ia mulai diperlakukan sebagai peristiwa sosial, tempat keluarga hadir bukan hanya untuk merestui di akhir cerita, tetapi sejak awal ikut membentuk jalan ceritanya. Dan dalam masyarakat Asia seperti Korea maupun Indonesia, gagasan itu terasa jauh lebih realistis daripada yang mungkin ingin kita akui.

Source: Original Korean article - Trendy News Korea

댓글

이 블로그의 인기 게시물

Di Balik Konflik HYBE, ADOR, dan Min Hee-jin: Saat NewJeans Menjadi Pusat Perebutan IP, Kreativitas, dan Kuasa di Industri K-pop

Korban yang Tersisa Lima: Saat Korea Selatan Masuk Fase Penentuan dalam Merawat, Mencatat, dan Mengajarkan Sejarah Jugun Ianfu

Korea Selatan Kalah Tipis dari Austria, tetapi PR Sebenarnya Ada di Sepertiga Akhir: Saat Son Heung-min dan Lee Kang-in Belum Cukup