Jihyo TWICE Isi Lagu Kolaborasi Piala Dunia 2026, Saat K-pop dan Demam Sepak Bola Bertemu di Panggung Global

Jihyo TWICE Masuk Proyek Musik untuk Piala Dunia 2026
Jihyo, anggota grup K-pop TWICE, ikut ambil bagian sebagai pengisi vokal dalam lagu kolaborasi global berjudul Follow Me yang dipersiapkan menyambut Piala Dunia 2026 di Amerika Utara. Kabar ini diumumkan oleh JYP Entertainment pada 22 Juni, sekaligus menempatkan nama Jihyo di persimpangan dua kekuatan budaya populer dunia: K-pop dan sepak bola.
Lagu Follow Me sendiri telah dirilis secara resmi pada 12 Juni. Proyek ini dirancang sebagai karya kolaboratif yang bertujuan menghubungkan penggemar musik dan penggemar sepak bola dari berbagai negara. Dalam video musik yang kemudian dirilis, proyek ini juga menghadirkan figur-figur yang akrab bagi publik sepak bola internasional, termasuk legenda Brasil Ronaldo, pemain berdarah Maroko Brahim Diaz, dan gelandang Uruguay Federico Valverde.
Bagi pembaca Indonesia, kabar seperti ini menarik bukan semata karena nama Jihyo yang sudah sangat dikenal di kalangan penggemar Hallyu, tetapi juga karena sepak bola di Indonesia bukan sekadar olahraga. Ia adalah ruang emosi bersama. Dari obrolan warganet saat tim nasional bertanding, nonton bareng di kafe, sampai antusiasme pada ajang besar seperti Piala Dunia, sepak bola punya daya satukan massa yang sangat kuat. Ketika energi itu bertemu dengan K-pop—yang juga bertumpu pada kekuatan komunitas penggemar—hasilnya memang wajar bila langsung menyedot perhatian.
Dalam konteks itulah keterlibatan Jihyo menjadi relevan. Ia bukan hanya menyanyikan sebuah lagu baru, tetapi ikut mewakili bagaimana suara K-pop kini diposisikan dalam proyek-proyek global berskala besar. Jika dulu lagu tema atau lagu kolaborasi untuk event olahraga internasional identik dengan bintang pop Barat atau artis Latin, kini artis Korea Selatan juga menjadi bagian penting dari peta tersebut.
Hal ini menandai perubahan penting dalam industri hiburan global. K-pop tidak lagi dipahami semata sebagai gelombang musik dari Asia Timur yang kuat di pasar tertentu, melainkan sebagai bahasa budaya pop yang bisa dipakai untuk membangun suasana, identitas, dan keterhubungan pada event internasional, termasuk turnamen olahraga paling prestisius seperti Piala Dunia.
Mengapa Keterlibatan Jihyo Begitu Menarik?
Nama Jihyo punya bobot tersendiri di industri K-pop. Sebagai salah satu vokalis utama TWICE, ia dikenal dengan warna suara yang kuat, stabil, dan emosional. Dalam banyak penampilan panggung maupun rekaman, Jihyo kerap dianggap sebagai salah satu penyangga identitas musikal TWICE. Karena itu, ketika ia dilibatkan dalam proyek global seperti Follow Me, perhatian publik tidak berhenti pada fakta bahwa ada anggota grup K-pop yang bernyanyi. Yang dilihat orang adalah siapa penyanyinya, apa simbolismenya, dan bagaimana suaranya ditempatkan dalam proyek internasional.
TWICE sendiri merupakan salah satu grup perempuan paling berpengaruh dari Korea Selatan dalam satu dekade terakhir. Untuk pembaca Indonesia yang mungkin tidak mengikuti K-pop secara intens, TWICE bisa dipahami sebagai grup yang memiliki jangkauan global sangat kuat, dengan basis penggemar besar di Asia, Amerika, hingga Eropa. Lagu-lagu mereka kerap masuk percakapan populer, sementara para anggotanya dikenal luas bukan hanya sebagai idol, melainkan juga sebagai figur budaya pop internasional.
Dalam ekosistem K-pop, istilah “idol” sering dipakai untuk menyebut artis yang tidak hanya bernyanyi, tetapi juga tampil, membangun citra, berinteraksi dengan penggemar, dan mewakili sebuah sistem hiburan yang sangat terstruktur. Karena itu, saat seorang idol seperti Jihyo masuk ke proyek lintas-industri seperti ini, efeknya lebih luas daripada sekadar kontribusi vokal. Ada perluasan audiens, ada pertukaran simbol, dan ada penegasan bahwa K-pop kini hadir dalam ruang global yang sebelumnya didominasi format lain.
Bagi penggemar TWICE, partisipasi Jihyo juga punya makna emosional. Mereka mendengar suara yang familiar dalam konteks yang baru. Ini mirip seperti ketika aktor Indonesia yang biasa bermain di layar lokal tiba-tiba tampil di film festival besar internasional; karya yang dibawa mungkin berbeda, tetapi rasa bangga publik tetap muncul karena ada representasi. Dalam kasus Jihyo, representasi itu datang dari K-pop, fandom, dan Korea Selatan sebagai kekuatan budaya.
Yang juga penting, keterlibatan Jihyo menunjukkan bahwa artis K-pop semakin sering diperlakukan sebagai sosok individual yang bisa bergerak di luar aktivitas grup. Walau identitasnya tetap lekat dengan TWICE, proyek semacam ini memperlihatkan bahwa kapasitas vokalnya dianggap layak berdiri sendiri dalam panggung kolaborasi global. Di situlah nilai simboliknya menguat.
Follow Me dan Strategi Menyatukan Dua Basis Penggemar
Secara konsep, Follow Me dirancang untuk menjembatani dua dunia besar: musik dan sepak bola. Judulnya sendiri sederhana, mudah diingat, dan mengandung pesan ajakan kolektif—ikut bersama, bergerak bersama, merasakan momentum bersama. Dalam dunia olahraga, pesan seperti ini sangat efektif karena selaras dengan semangat dukungan massal, kebersamaan, dan atmosfer stadion.
Lagu kolaborasi untuk event olahraga internasional biasanya tidak hanya mengejar kualitas musikal, tetapi juga fungsi emosional. Ia harus terdengar cukup universal untuk diterima di banyak negara, cukup enerjik untuk mewakili semangat kompetisi, dan cukup mudah diakses agar bisa beredar cepat di media sosial, video pendek, hingga siaran pendukung acara. Dari sudut pandang industri, ini adalah bentuk produk budaya yang harus bekerja di banyak medan sekaligus.
Dalam hal ini, proyek Follow Me menarik karena tidak menargetkan satu pasar spesifik. Kehadiran artis dari latar musik yang berbeda memperlihatkan upaya membangun suara yang lintas-bahasa dan lintas-komunitas. Artinya, lagu ini bukan dimaksudkan hanya untuk penggemar K-pop, bukan pula hanya untuk penonton sepak bola di satu kawasan tertentu. Ia hadir dengan logika global: siapa pun bisa masuk melalui pintu yang berbeda.
Strategi semacam ini sangat masuk akal pada era digital sekarang. Penggemar tidak lagi mengonsumsi budaya pop secara terpisah-pisah. Seseorang bisa menyukai Liga Champions, mengikuti akun fancam idol, mendengarkan lagu Latin, lalu menonton sorotan pertandingan di platform yang sama dalam satu hari. Perpindahan minat berjalan sangat cepat. Maka, proyek kolaborasi yang cerdas adalah proyek yang memahami tumpang tindih itu.
Di Indonesia, fenomena ini terasa jelas. Banyak penggemar K-pop yang juga akrab dengan sepak bola Eropa, dan banyak pula penggemar sepak bola yang tidak asing dengan lagu-lagu Korea karena paparan media sosial, drama Korea, atau teman sebaya. Itulah sebabnya kabar Jihyo menyanyikan lagu untuk Piala Dunia mudah menjadi perbincangan lintas komunitas. Percakapan tidak lagi terbagi tegas antara “anak bola” dan “anak K-pop”. Di dunia digital, batas itu makin cair.
Karena itu, Follow Me bisa dibaca sebagai proyek yang memahami ekosistem budaya kontemporer: fans tidak hidup dalam satu kotak identitas saja. Mereka bergerak luwes antara musik, olahraga, hiburan, dan media sosial. Proyek yang berhasil adalah proyek yang mampu menangkap mobilitas itu.
Peran RedOne dan Format Kolaborasi Global
Proyek ini dipimpin oleh RedOne, produser dan penulis lagu peraih Grammy yang selama ini dikenal lewat sejumlah karya pop internasional. Nama RedOne penting karena ia punya rekam jejak dalam merancang lagu yang berdaya jangkau luas dan mudah diterima oleh pasar global. Dalam proyek seperti Follow Me, sosok produser bukan hanya bekerja di balik layar secara teknis, tetapi juga menjadi penentu arah estetika dan strategi audiens.
Keterlibatan RedOne memperlihatkan bahwa proyek ini disusun dengan logika industri pop global yang matang. Ia tahu bagaimana meramu identitas artis berbeda ke dalam satu karya yang tetap terdengar kohesif. Saat nama seperti Jihyo ditempatkan bersama French Montana, Ludmilla, dan Adriana C, yang sedang dibangun bukan sekadar daftar kolaborator, melainkan peta pendengar. Ada penggemar K-pop, ada penggemar hip-hop dan pop internasional, ada penikmat musik dari kawasan Amerika Latin, dan ada komunitas penggemar sepak bola yang akan masuk lewat video musiknya.
Bagi industri hiburan Korea, model kolaborasi seperti ini menegaskan posisi baru K-pop. Selama beberapa tahun terakhir, K-pop memang berkali-kali membuktikan bahwa ia sanggup menembus tangga lagu, tur dunia, dan pasar album global. Namun, keterlibatan dalam proyek yang terkait langsung dengan Piala Dunia membawa bobot simbolik berbeda. Ini bukan hanya soal pasar musik, tetapi tentang masuk ke salah satu panggung budaya massa paling besar di dunia.
Kita bisa membandingkannya dengan bagaimana musisi Indonesia merasa mendapat validasi besar ketika tampil di pembukaan event olahraga regional atau internasional. Ada dimensi representasi yang bekerja di sana. Musik menjadi duta suasana. Ia bukan sekadar hiburan pembuka, melainkan alat untuk menanamkan memori dan emosi bersama. Dalam skala lebih besar, itulah yang sedang dimainkan lewat Follow Me.
Kolaborasi lintas-negara seperti ini juga menunjukkan bahwa industri musik global kini tidak lagi terlalu terpaku pada batas bahasa. Selama energi lagu terasa, visualnya kuat, dan nama-nama yang terlibat punya daya tarik komunitas masing-masing, sebuah karya bisa bergerak luas. Dalam konteks itu, suara Jihyo berfungsi sebagai salah satu jangkar yang menghubungkan jutaan penggemar K-pop ke proyek yang lebih besar daripada batas industri hiburan Korea.
Ketika Bintang Sepak Bola Masuk Video Musik
Salah satu elemen yang membuat proyek ini cepat menarik perhatian adalah kemunculan nama-nama besar sepak bola dalam video musiknya. Ronaldo, Brahim Diaz, dan Federico Valverde bukan sekadar cameo yang dipasang demi sensasi. Kehadiran mereka menegaskan bahwa proyek ini memang dibangun untuk berdiri di titik temu antara industri musik dan olahraga.
Bagi penggemar sepak bola, wajah-wajah itu membawa otoritas emosional. Ronaldo, misalnya, adalah nama yang bahkan dikenal luas oleh publik Indonesia yang tidak mengikuti sepak bola secara mendalam. Ia mewakili memori generasi—era keemasan sepak bola Brasil, bintang global, dan ikon lintas-zaman. Sementara Brahim Diaz dan Valverde menghadirkan relevansi yang lebih kontemporer, terutama bagi penonton yang mengikuti sepak bola Eropa hari ini.
Masuknya para pesepak bola ke video musik menciptakan bentuk promosi silang yang sangat efektif. Penggemar Jihyo dan TWICE mungkin akan menonton video itu karena ingin mendengar lagu baru dan melihat idol favorit mereka. Sebaliknya, penggemar sepak bola mungkin mengklik video itu karena ada pemain yang mereka kenal. Pada akhirnya, keduanya bertemu di ruang yang sama, mengonsumsi produk budaya yang sama, lalu membicarakannya dari sudut pandang yang berbeda.
Fenomena ini sangat akrab dengan pola konsumsi media saat ini. Di media sosial, algoritma justru menyukai konten yang bisa menjangkau beberapa komunitas sekaligus. Sebuah video yang memadukan K-pop, musik global, dan bintang sepak bola punya peluang lebih besar untuk beredar luas. Ada unsur fandom, ada unsur nostalgia, ada unsur visual, dan ada momentum menuju event sebesar Piala Dunia.
Jika ditarik ke konteks Indonesia, format seperti ini mudah dimengerti. Kita tahu betapa besar atensi publik pada figur lintas-bidang. Ketika musisi populer berkolaborasi dengan atlet atau ketika selebritas muncul dalam kampanye olahraga, efek percakapannya sering kali meluas karena menjangkau publik yang tidak sepenuhnya sama. Proyek Follow Me bermain di mekanisme itu, hanya saja dengan skala global yang jauh lebih besar.
K-pop dan Sepak Bola: Dua Budaya Massa yang Sama-Sama Kuat
Alasan proyek seperti ini terasa masuk akal sebenarnya sederhana: K-pop dan sepak bola sama-sama dibangun di atas energi kolektif. Keduanya hidup dari dukungan komunitas, ritual partisipasi, dan identitas bersama. Dalam K-pop, kita mengenal budaya fandom yang sangat aktif—streaming, voting, membeli album, membuat proyek ulang tahun artis, hingga memproduksi konten penggemar. Dalam sepak bola, kita mengenal nyanyian tribun, jersey, rivalitas, hingga tradisi nonton bareng yang menciptakan rasa memiliki.
Keduanya juga sangat kuat di ranah digital. Fandom K-pop dikenal cepat mengorganisasi dukungan secara online, sementara penggemar sepak bola juga sangat aktif menciptakan percakapan, meme, analisis pertandingan, dan reaksi real-time. Maka ketika dua budaya ini dipertemukan, yang terjadi bukan sekadar tumpang tindih audiens, melainkan potensi ledakan interaksi.
Di Indonesia, kita bisa melihat kemiripan karakter itu dengan cukup jelas. Antusiasme penggemar K-pop di kota-kota besar sering tampak dalam acara cup sleeve, konser, atau fan gathering. Sementara itu, gairah sepak bola hadir di mana-mana, dari stadion, warung kopi, hingga linimasa media sosial setiap kali ada laga penting. Keduanya membentuk ikatan komunal yang kuat. Mungkin medium dan simbolnya berbeda, tetapi semangat dasarnya serupa: merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Karena itu, kehadiran Jihyo di lagu bertema Piala Dunia bukan sesuatu yang terasa dipaksakan. Justru sebaliknya, ia tampak alami dalam lanskap budaya pop global saat ini. Musik memberi emosi dan ritme, sepak bola memberi momentum dan skala. Saat digabungkan, keduanya bisa menghasilkan pengalaman yang mudah dibagikan lintas negara.
Ini juga menunjukkan bagaimana K-pop telah melampaui fungsi hiburan semata. Ia kini menjadi salah satu perangkat budaya yang dapat dipakai untuk membingkai event global, membangun antusiasme, dan memperluas jangkauan pesan. Dengan kata lain, K-pop bukan lagi tamu di panggung dunia; ia sudah menjadi bagian dari tata panggung itu sendiri.
Apa Arti Kabar Ini bagi Penggemar Indonesia?
Bagi penggemar Indonesia, kabar tentang Jihyo dalam Follow Me menyimpan beberapa lapis makna. Pertama, ini adalah pengakuan bahwa artis K-pop yang akrab dengan keseharian penggemar Indonesia kini bergerak makin jauh dalam ekosistem hiburan global. Kedua, ini memperlihatkan bahwa Piala Dunia 2026 bahkan jauh sebelum kick-off sudah mulai dibangun bukan hanya lewat promosi olahraga, tetapi juga lewat narasi budaya pop.
Ketiga, ada unsur kedekatan emosional yang sulit diabaikan. Indonesia memang tidak tampil di Piala Dunia, tetapi publik Indonesia selalu punya hubungan kuat dengan turnamen itu sebagai penonton, komentator, sekaligus pencipta euforia. Maka ketika ada elemen K-pop yang ikut mewarnai persiapan menuju turnamen tersebut, penggemar di sini otomatis punya satu pintu masuk tambahan untuk ikut merasakan atmosfernya lebih awal.
Dari sisi industri, ini juga bisa menjadi pengingat bahwa masa depan hiburan sangat bertumpu pada kolaborasi lintas-sektor. Musik, olahraga, video pendek, dan fandom digital akan semakin sering bertemu dalam satu proyek yang sama. Batas-batas lama antarindustri makin kabur. Yang menang bukan hanya mereka yang punya produk bagus, tetapi mereka yang mampu menciptakan percakapan lintas-komunitas.
Pada akhirnya, kabar tentang Jihyo ini penting bukan karena ia harus dibaca sebagai pencapaian final dari sebuah proyek, melainkan karena ia memperlihatkan arah gerak budaya pop dunia. Seorang vokalis dari grup K-pop papan atas Korea Selatan kini menjadi bagian dari lagu kolaborasi yang dikaitkan dengan pesta sepak bola terbesar di planet ini. Di dalam satu karya, ada suara musik, citra atlet, strategi industri, dan emosi fandom yang saling bertaut.
Bagi pembaca Indonesia yang hidup di tengah derasnya arus hiburan global, ini adalah cerita yang mudah dipahami sekaligus relevan. Seperti halnya orang Indonesia bisa ramai membicarakan pertandingan tim nasional pada malam hari lalu berganti membahas comeback idol keesokan paginya, dunia sekarang memang bergerak dalam irama budaya yang saling bersilangan. Dan di persimpangan itulah Jihyo, TWICE, serta Follow Me kini berdiri.
댓글
댓글 쓰기