Jeju Sulap Ruang Kosong Rumah Sewa Publik Jadi Kelas Malam Lansia, Model Layanan Sosial yang Relevan untuk Indonesia

Ketika Malam di Hunian Publik Berubah Menjadi Ruang Belajar
Di tengah citra Pulau Jeju sebagai destinasi wisata populer Korea Selatan dengan lanskap alam yang indah, ada cerita lain yang jauh dari kartu pos liburan. Jeju kini memperlihatkan wajah yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari warganya: ruang kosong di kompleks perumahan sewa publik diubah menjadi tempat belajar malam bagi warga lanjut usia. Menurut keterangan yang disampaikan Jeju Development Corporation pada 23 September, perusahaan pembangunan daerah itu akan menjalankan program dukungan pendidikan literasi malam bagi lansia di ruang tak terpakai dalam kompleks rumah sewa publik “Maeumeon Samdo 1st” di Samdo 1-dong, Kota Jeju.
Nama program ini adalah “Uri Olle Byeolbit Tteurak”. Secara sederhana, program tersebut ditujukan untuk membantu lansia yang masih mengalami kesulitan membaca dan menulis, terutama mereka yang sulit mengikuti kelas pada siang hari karena alasan pekerjaan, urusan keluarga, atau kondisi pribadi lain. Dengan kata lain, yang diubah bukan hanya fungsi ruang, tetapi juga cara layanan publik membaca ritme hidup warga. Jika biasanya program pendidikan dan kesejahteraan berlangsung pada jam kerja normal, Jeju justru mencoba membuka pintu di waktu yang sering diabaikan: malam hari.
Kabar ini mungkin terdengar sederhana. Namun justru di situlah letak pentingnya. Dalam banyak masyarakat yang menua, termasuk Korea Selatan dan Indonesia, persoalan literasi dasar di kalangan lansia kerap tersembunyi di balik stigma dan rasa sungkan. Banyak orang tua yang tidak nyaman mengakui bahwa mereka kesulitan membaca pengumuman, mengisi formulir, memahami petunjuk rumah sakit, atau mengenali informasi transportasi. Akibatnya, hambatan literasi tidak selalu tampak sebagai isu pendidikan semata, melainkan juga isu akses terhadap layanan dasar, martabat pribadi, dan partisipasi sosial.
Apa yang dilakukan Jeju memperlihatkan satu pendekatan yang menarik: masalah warga tidak selalu harus dijawab dengan gedung baru, program besar, atau slogan mewah. Kadang solusi justru muncul dari penataan ulang sumber daya yang sudah ada. Ruang yang semula menganggur di lingkungan hunian publik diberi fungsi baru sebagai ruang belajar. Ini adalah bentuk layanan sosial yang membumi, dekat dengan tempat tinggal warga, dan menyesuaikan diri dengan realitas hidup mereka.
Bagi pembaca Indonesia, model seperti ini terasa relevan. Kita sudah lama akrab dengan gagasan bahwa balai warga, posyandu, aula kelurahan, atau ruang serbaguna rusun bisa menjadi pusat kegiatan masyarakat. Namun kasus di Jeju memberi penekanan baru: bukan sekadar menyediakan tempat berkumpul, melainkan mengubah hunian publik menjadi simpul layanan sosial yang benar-benar menjawab kebutuhan spesifik penghuninya. Jika diterjemahkan ke konteks Indonesia, logikanya mirip dengan ketika rumah susun, balai RW, atau aula kampung bukan hanya dipakai saat rapat warga atau acara 17-an, tetapi juga menjadi ruang belajar yang terjadwal dan mudah dijangkau bagi kelompok yang paling rentan tertinggal.
Apa Itu Pendidikan Literasi bagi Lansia dan Mengapa Masih Penting
Dalam konteks berita ini, pendidikan literasi bukan berarti kursus akademik formal atau program mengejar ijazah. Yang dimaksud adalah kemampuan dasar membaca dan menulis yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Jeju Development Corporation menjelaskan bahwa program ini disiapkan untuk memberi pendidikan literasi dasar sekaligus mendukung adaptasi warga lansia dalam kehidupan harian serta partisipasi sosial mereka. Fokusnya bukan pada nilai ujian, melainkan pada kemandirian hidup.
Di banyak negara, termasuk Korea Selatan, generasi lansia tumbuh dalam situasi sejarah yang berbeda dengan generasi muda sekarang. Sebagian dari mereka melewati masa sulit ketika akses pendidikan belum merata, ketika keluarga harus mendahulukan kerja dibanding sekolah, atau ketika peran sosial tertentu membuat pendidikan formal tidak menjadi prioritas. Akibatnya, ada warga lanjut usia yang sampai hari ini belum sepenuhnya nyaman membaca teks panjang, menulis informasi pribadi, atau memahami dokumen administratif.
Masalah ini tidak boleh dipandang remeh. Di zaman sekarang, literasi dasar terhubung langsung dengan kemampuan menjalani hidup secara mandiri. Dari membaca jadwal bus, memahami aturan kesehatan, menafsirkan tagihan, mengenali pengumuman lingkungan, sampai menulis data pada formulir administrasi, semuanya membutuhkan keterampilan membaca dan menulis. Jika kemampuan itu terbatas, seseorang lebih mudah terisolasi, lebih bergantung pada bantuan orang lain, dan lebih rentan tersisih dari arus informasi publik.
Indonesia sesungguhnya mengenal persoalan serupa, meski konteksnya berbeda. Di sejumlah daerah, terutama pada generasi yang lebih tua, pengalaman putus sekolah atau akses pendidikan yang terbatas masih menyisakan tantangan literasi. Karena itu, ketika Jeju memosisikan pendidikan literasi lansia sebagai bagian dari layanan hunian sosial, pesannya jelas: urusan baca tulis bukan hanya milik sekolah dasar. Ia adalah hak dasar yang menentukan apakah seseorang bisa menjalani hari tua dengan percaya diri atau tidak.
Yang menarik, program di Jeju tidak sekadar melihat lansia sebagai penerima bantuan pasif. Mereka diposisikan sebagai warga yang masih punya keinginan belajar, berkembang, dan terlibat dalam kehidupan sosial. Perspektif ini penting. Dalam banyak kebijakan sosial, kelompok lansia sering hanya dibayangkan dalam bingkai kesehatan, bantuan tunai, atau perawatan. Padahal kebutuhan mereka juga mencakup akses terhadap pengetahuan, rasa percaya diri, dan kesempatan untuk tetap menjadi bagian aktif dari komunitas.
Jika dibaca lebih jauh, pendidikan literasi juga menyentuh aspek psikologis. Kemampuan memahami tulisan sederhana atau menulis sesuatu dengan tangan sendiri bisa memulihkan rasa harga diri. Bagi seseorang yang selama ini selalu meminta tolong untuk membaca pengumuman atau mengisi formulir, keberhasilan kecil seperti mengenali kata, menulis nama, atau memahami instruksi dapat menjadi pengalaman yang sangat berarti. Dalam masyarakat yang makin bergantung pada teks, simbol, dan informasi administratif, literasi bukan kemewahan, melainkan syarat untuk tetap merasa utuh sebagai warga.
Mengapa Kelas Malam Menjadi Kunci
Bagian yang paling menonjol dari inisiatif Jeju ini justru ada pada kata “malam”. Program tersebut ditujukan antara lain bagi lansia yang sulit mengikuti kegiatan pada siang hari karena pekerjaan atau urusan pribadi. Sekilas, ini terdengar sebagai soal jadwal belaka. Tetapi dalam praktik layanan publik, pengaturan waktu sering menjadi batas tak terlihat yang menentukan siapa bisa ikut dan siapa tersisih.
Ada anggapan umum bahwa lansia pasti lebih luang pada siang hari. Kenyataannya tidak selalu demikian. Sebagian masih bekerja, baik formal maupun informal. Sebagian lagi membantu menjaga cucu, mengurus rumah tangga, menjalani rutinitas pengobatan, atau bergantung pada jadwal anggota keluarga yang mengantar mereka. Ketika semua program dipusatkan pada jam kerja biasa, orang-orang yang sesungguhnya membutuhkan justru bisa tertinggal.
Dengan membuka kelas pada malam hari, Jeju seolah menggeser pusat gravitasi layanan: bukan warga yang dipaksa menyesuaikan diri dengan lembaga, melainkan lembaga yang mencoba menyesuaikan diri dengan kehidupan warga. Dalam bahasa kebijakan sosial, ini menunjukkan pendekatan yang lebih responsif dan lebih peka terhadap kenyataan sehari-hari. Hambatan partisipasi tidak selalu berupa biaya atau jarak; kadang yang paling menentukan adalah soal waktu.
Bagi pembaca Indonesia, isu ini sangat mudah dipahami. Kita sering melihat program bagus di atas kertas, tetapi pesertanya sedikit karena waktu pelaksanaannya tidak cocok. Misalnya pelatihan warga yang diselenggarakan pada jam ketika ibu-ibu masih berdagang, pekerja informal masih mencari nafkah, atau lansia masih menunggu anggota keluarga pulang untuk membantu mobilitas mereka. Karena itu, keputusan Jeju untuk memilih malam hari layak dilihat sebagai inovasi kecil dengan dampak potensial yang besar.
Selain itu, kelas malam memberi makna simbolik yang kuat. Malam biasanya dipandang sebagai waktu istirahat, waktu sepi, atau bahkan waktu yang tidak produktif dalam layanan publik. Jeju justru mengubahnya menjadi waktu belajar. Ini menciptakan gambaran yang hangat: di tengah kompleks hunian yang mungkin biasanya tenang setelah senja, ada ruang yang menyala dan dipakai untuk membaca, menulis, dan belajar bersama. Dalam istilah jurnalistik, inilah sisi human interest yang membuat sebuah kebijakan terasa hidup.
Tentu, dari informasi yang tersedia belum ada rincian tentang berapa peserta yang akan ikut, berapa kali pertemuan digelar, atau seperti apa kurikulum kelasnya. Namun fakta yang sudah terkonfirmasi tetap penting: Jeju Development Corporation menjalankan pendidikan literasi malam dengan memanfaatkan ruang kosong di rumah sewa publik, dan sasaran utamanya adalah lansia yang sulit mengakses kelas pada siang hari. Dari situ saja sudah terlihat arah kebijakannya, yakni menurunkan hambatan ruang sekaligus hambatan waktu.
Ruang Kosong Perumahan Publik sebagai Aset Sosial
Salah satu pelajaran paling menarik dari kasus ini adalah cara Jeju memandang ruang kosong. Dalam banyak proyek properti atau pengelolaan hunian, ruang yang tidak terpakai kerap dianggap sekadar sisa fasilitas. Ia dijaga, dibersihkan, dan mungkin sesekali dipikirkan pemanfaatannya. Namun di Jeju, ruang kosong itu dibaca sebagai kemungkinan sosial. Ia bukan sekadar area yang belum dimanfaatkan, melainkan aset yang bisa menjawab kebutuhan warga.
Di kompleks “Maeumeon Samdo 1st”, ruang tak terpakai tersebut akan berfungsi sebagai tempat belajar. Pendekatan ini menunjukkan bahwa hunian publik tidak lagi dipahami semata sebagai tempat berteduh yang stabil bagi kelompok tertentu, tetapi juga sebagai infrastruktur komunitas. Artinya, fungsi rumah sewa publik melebar: dari memberi tempat tinggal menjadi turut menyediakan dukungan sosial, pendidikan, dan penguatan relasi warga.
Konsep ini relevan untuk dibaca dari sudut pandang Indonesia. Di kota-kota besar kita, rumah susun sederhana sewa, perumahan bersubsidi, atau bahkan kompleks hunian pegawai sering memiliki ruang komunal yang pemanfaatannya belum optimal. Ada aula yang sesekali dipakai rapat, ada pojok serbaguna yang kadang kosong, ada ruang bersama yang hidup-mati tergantung inisiatif pengelola. Kasus Jeju mengingatkan bahwa ruang seperti itu bisa punya fungsi yang jauh lebih strategis jika dihubungkan langsung dengan masalah riil warga.
Misalnya, jika diterapkan secara kreatif di Indonesia, ruang komunal hunian bisa menjadi tempat kelas literasi digital untuk lansia, bimbingan administrasi kependudukan, kelas membaca dasar, atau pendampingan layanan kesehatan. Kuncinya bukan pada kemegahan fasilitas, melainkan pada kecocokan antara fungsi ruang dan kebutuhan pengguna. Di sinilah Jeju memberi contoh penting tentang efisiensi kebijakan: memperluas layanan tanpa harus selalu membangun dari nol.
Lebih dari itu, penggunaan ruang di dalam area tempat tinggal juga membantu mengurangi hambatan psikologis. Bagi banyak lansia, pergi ke lembaga luar, kantor pemerintah, atau pusat pelatihan yang asing bisa terasa melelahkan atau mengintimidasi. Sebaliknya, jika ruang belajarnya berada di lingkungan yang sudah mereka kenal, rasa canggung bisa berkurang. Mereka tidak harus menempuh perjalanan jauh, tidak perlu menghadapi tempat yang terasa formal, dan lebih mungkin datang karena suasananya dekat dengan keseharian.
Dalam konteks Jeju sebagai wilayah kepulauan, kedekatan layanan dengan tempat tinggal juga memiliki arti tersendiri. Aksesibilitas dalam kehidupan pulau sering menjadi perhatian penting karena mobilitas tidak selalu sesederhana di pusat kota besar. Meski berita ini hanya merujuk pada satu lokasi spesifik di Samdo 1-dong dan tidak boleh langsung digeneralisasi sebagai kebijakan menyeluruh, contoh ini tetap menunjukkan bagaimana layanan berbasis kedekatan dapat menjadi solusi yang sangat praktis.
Nama Program yang Sarat Nuansa Lokal Jeju
Program ini diberi nama “Uri Olle Byeolbit Tteurak”. Bagi pembaca Indonesia, nama ini menarik karena memuat lapisan makna budaya lokal. Kata “olle” sangat lekat dengan Jeju. Secara umum, istilah ini merujuk pada jalan kecil atau jalur khas yang berkaitan dengan kehidupan kampung di Jeju, dan dalam beberapa tahun terakhir juga dikenal luas melalui jalur wisata jalan kaki “Jeju Olle Trail”. Sementara “byeolbit” berarti cahaya bintang, dan “tteurak” dapat dipahami sebagai halaman kecil atau ruang pekarangan yang akrab dan hangat.
Jika dirangkai, nama itu menghadirkan kesan yang puitis: sebuah halaman kecil tempat warga belajar di bawah cahaya malam, dengan identitas Jeju yang tetap terasa kuat. Ini bukan sekadar label program, tetapi juga cara menghadirkan suasana. Dalam kebijakan publik Korea, penggunaan nama yang mengandung nuansa lokal kerap dipakai untuk mendekatkan program dengan identitas wilayah dan emosi warga. Jadi, layanan sosial tidak terasa dingin dan birokratis, melainkan akrab dengan lingkungan setempat.
Di Indonesia, kita pun mengenal tradisi serupa. Banyak program komunitas terasa lebih membumi ketika memakai istilah lokal, entah dari bahasa daerah, sapaan kampung, atau simbol budaya setempat. Bayangkan bedanya antara “kelas literasi lansia” dengan nama yang lebih dekat secara emosional, misalnya memakai istilah yang mengingatkan pada teras rumah, pendopo, surau, atau balai kampung. Nama bukan segala-galanya, tetapi ia bisa membantu warga merasa bahwa program ini milik mereka, bukan sekadar paket dari atas.
Dalam kasus Jeju, nama “Uri Olle Byeolbit Tteurak” juga menegaskan bahwa yang sedang dibangun bukan hanya ruang belajar teknis, tetapi ruang sosial. Kata-kata seperti “olle”, “cahaya bintang”, dan “halaman” mengesankan kehangatan, kedekatan, dan rasa bertetangga. Ini penting karena pendidikan literasi untuk lansia sering kali lebih efektif jika berlangsung dalam suasana aman, tidak menghakimi, dan penuh dukungan. Orang belajar lebih baik ketika mereka merasa dihormati.
Dari sudut pandang peliputan budaya Korea, detail semacam ini layak dicatat. Ia memperlihatkan bahwa Jeju tidak hanya menjual citra eksotis untuk turis, melainkan juga merawat identitas lokal dalam desain layanan publiknya. Bagi pembaca Indonesia yang akrab dengan pentingnya nuansa lokal dalam kehidupan komunitas, pendekatan tersebut pasti terasa tidak asing. Kita pun tahu bahwa program yang menyentuh hati warga sering lahir dari bahasa yang mereka kenali, bukan semata dari istilah administratif yang kaku.
Dari Rumah ke Partisipasi Sosial: Arah Baru Layanan Hunian
Jeju Development Corporation menyebut inisiatif ini sebagai bagian dari “layanan sosial perumahan” yang baru. Istilah ini penting untuk diperhatikan karena menunjukkan pergeseran cara pandang terhadap hunian publik. Rumah tidak lagi dilihat hanya sebagai bangunan tempat seseorang tidur dan berlindung, tetapi sebagai titik temu antara kebutuhan hidup sehari-hari dan dukungan dari institusi publik.
Dalam skema seperti ini, tempat tinggal menjadi pintu masuk untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang lebih luas: pendidikan dasar, kesehatan, relasi sosial, hingga partisipasi warga. Pendidikan literasi untuk lansia adalah salah satu contohnya. Ketika kemampuan membaca dan menulis membaik, seseorang tidak hanya menjadi lebih mudah memahami pengumuman atau mengisi formulir. Ia juga lebih mungkin berani terlibat, bertanya, menyampaikan pendapat, dan hadir dalam ruang sosial sebagai subjek yang aktif.
Manfaat sosialnya bisa sangat panjang. Lansia yang lebih percaya diri memahami informasi publik akan lebih mudah mengakses layanan kesehatan, bantuan sosial, atau kegiatan komunitas. Mereka juga berpeluang lebih besar menjaga kemandirian sehari-hari, yang pada gilirannya mengurangi ketergantungan penuh pada keluarga. Dalam masyarakat Asia, termasuk Korea dan Indonesia, hal ini sangat berarti karena keluarga sering memikul beban pengasuhan lintas generasi secara bersamaan.
Lebih jauh lagi, program seperti ini membantu melawan kesepian sosial. Banyak lansia tinggal dekat dengan orang lain, tetapi tetap merasa terputus dari komunitas karena kurangnya akses, rasa minder, atau minimnya kegiatan yang relevan. Ruang belajar di dalam kompleks hunian dapat menjadi titik pertemuan yang alami. Di sana, proses belajar kemungkinan besar berjalan beriringan dengan percakapan, dukungan sesama peserta, dan tumbuhnya jejaring kecil yang memperkuat rasa memiliki terhadap lingkungan.
Jika ditarik ke Indonesia, pembahasan ini terasa sangat aktual. Kota-kota kita menghadapi tantangan urbanisasi, penuaan penduduk, dan ketimpangan akses layanan. Kebijakan perumahan sering berhenti pada penyediaan unit fisik, padahal penghuni juga memerlukan ekosistem sosial yang memampukan mereka bertahan dan berkembang. Dari sinilah model Jeju memberi inspirasi: kualitas hunian tidak hanya diukur dari dinding, atap, dan tarif sewa, tetapi juga dari seberapa jauh hunian itu menjadi jembatan menuju kehidupan sosial yang lebih layak.
Perlu dicatat, berdasarkan informasi yang tersedia, belum ada rincian lanjutan tentang ekspansi program ke lokasi lain atau target jangka panjangnya. Karena itu, pelaporan yang bertanggung jawab harus berhenti pada fakta yang telah diumumkan. Namun bahkan dalam batas informasi tersebut, arah kebijakannya sudah cukup terbaca: hunian publik di Jeju sedang didorong untuk berfungsi sebagai basis layanan yang lebih dekat, lebih luwes, dan lebih sensitif terhadap kebutuhan nyata penghuninya.
Pelajaran untuk Indonesia dari Kisah Kecil di Jeju
Ada alasan mengapa berita lokal seperti ini penting untuk dibaca dari Jakarta, Surabaya, Bandung, Makassar, hingga kota-kota kecil di Indonesia. Ia menunjukkan bahwa inovasi sosial tidak selalu datang dalam bentuk proyek raksasa. Kadang perubahan dimulai dari satu ruang kosong, satu kelompok warga, dan satu keputusan sederhana untuk menyesuaikan layanan dengan jam hidup masyarakat.
Indonesia tentu memiliki konteks berbeda dengan Jeju. Struktur pemerintahan, pola hunian, dan tantangan literasinya tidak sama. Namun prinsip dasarnya bisa dipetik. Pertama, layanan publik akan lebih efektif jika dekat dengan tempat tinggal warga. Kedua, jadwal layanan harus mempertimbangkan kenyataan hidup penerimanya, bukan semata kenyamanan institusi. Ketiga, ruang yang sudah tersedia dapat diaktifkan kembali untuk fungsi sosial yang lebih bermakna. Keempat, kelompok lansia layak diperlakukan sebagai warga yang tetap punya hasrat belajar dan hak untuk berkembang.
Bila diterapkan secara kreatif, pelajaran ini bisa beresonansi dengan banyak kebutuhan di Indonesia. Di kawasan rusun, misalnya, ruang serbaguna bisa dipakai untuk kelas baca tulis dasar, pelatihan penggunaan ponsel untuk layanan kesehatan digital, atau pendampingan membaca dokumen administrasi. Di desa, balai dusun bisa dihidupkan sebagai kelas malam bagi warga lanjut usia yang selama ini malu belajar di ruang formal. Di wilayah perkotaan padat, aula kecil di lingkungan RT atau RW bisa menjadi “teras belajar” yang benar-benar dekat dengan warga.
Yang tidak kalah penting, berita dari Jeju ini mengingatkan kita bahwa pembangunan sosial yang baik selalu berangkat dari martabat manusia. Orang tua yang kesulitan membaca bukan objek belas kasihan. Mereka adalah warga yang berhak mendapat kesempatan kedua, ketiga, atau bahkan pertama untuk menguasai keterampilan dasar yang selama ini terlewat. Ketika negara atau lembaga publik membuka ruang belajar yang ramah, dekat, dan sesuai waktu hidup mereka, yang dipulihkan bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga rasa percaya diri dan posisi mereka di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, kisah dari Jeju ini bukan sekadar tentang kelas malam. Ini adalah cerita tentang bagaimana ruang tinggal bisa diubah menjadi ruang bertumbuh, bagaimana waktu yang sepi bisa menjadi waktu yang memberdayakan, dan bagaimana kebijakan publik yang tampak kecil dapat menyentuh inti kehidupan sehari-hari. Jeju mungkin dikenal dunia lewat laut, angin, dan jalur olle-nya. Tetapi kali ini, pulau itu juga memperlihatkan sesuatu yang tak kalah penting: upaya tenang untuk memastikan para lansia tidak tertinggal dalam dunia yang terus bergerak cepat.
Bagi Indonesia, itu adalah pengingat yang layak direnungkan. Saat kita berbicara tentang kota ramah lansia, perumahan layak, atau inklusi sosial, jawaban kadang tidak harus selalu megah. Bisa jadi jawabannya ada pada lampu yang menyala di satu ruang kecil pada malam hari, ketika beberapa orang tua duduk bersama, belajar membaca, menulis, dan pelan-pelan mengambil kembali kendali atas hidup mereka.
댓글
댓글 쓰기