Jeju Menata Hutan Kota di Sekitar Air Terjun Eongtto, Dari Tempat Singgah Menjadi Ruang Tinggal yang Menjawab Krisis Iklim

Jeju memperluas fungsi alam, bukan sekadar menjual pemandangan
Pemerintah Kota Seogwipo di Pulau Jeju, Korea Selatan, memulai tahap kedua proyek pembangunan hutan kota yang terhubung dengan kawasan Air Terjun Eongtto. Langkah ini terlihat sederhana di atas kertas: menanam pohon, menata jalur jalan kaki, membangun titik pandang, dan menambah fasilitas istirahat. Namun di balik itu, ada gagasan yang jauh lebih besar, yakni mengubah ruang alam yang sebelumnya lebih banyak dipandang sebagai objek wisata menjadi infrastruktur hidup sehari-hari yang bisa dipakai warga sekaligus menjadi instrumen respons terhadap krisis iklim.
Menurut rencana pemerintah setempat, proyek tahap kedua ini dikerjakan di area sekitar 2 hektare dengan anggaran 2 miliar won, atau sekitar puluhan miliar rupiah jika dikonversi secara kasar. Setengah dari anggaran tersebut ditopang dana pemerintah pusat. Di area itu akan ditanam lebih dari 180 ribu pohon penyerap karbon, dibangun satu dek pandang ke arah air terjun, satu pergola, dan jalur pedestrian sepanjang 1,5 kilometer. Jika digabung dengan proyek tahap pertama yang selesai tahun lalu, total investasi untuk hutan kota ini mencapai 4,5 miliar won.
Bagi pembaca Indonesia, terutama yang akrab dengan perdebatan soal ruang terbuka hijau di Jakarta, Bandung, Surabaya, atau Yogyakarta, proyek ini menarik karena memperlihatkan cara pemerintah lokal di Korea membaca alam bukan hanya sebagai aset pariwisata, tetapi juga sebagai bagian dari pelayanan publik. Ini bukan semata urusan menanam pohon agar kawasan tampak hijau di brosur wisata. Yang dibangun adalah pengalaman ruang: tempat orang berjalan, berhenti, berteduh, memandang, dan pada akhirnya merasa terhubung dengan lingkungannya.
Dalam konteks Korea Selatan, terutama di Jeju yang selama ini dikenal sebagai pulau wisata, perubahan pendekatan seperti ini punya makna penting. Selama bertahun-tahun, banyak destinasi alam populer di Korea hidup dalam logika kunjungan cepat: datang, melihat, berfoto, lalu pindah ke tempat lain. Pemerintah Seogwipo tampaknya ingin menggeser pola itu. Air Terjun Eongtto tidak lagi diposisikan hanya sebagai spot yang dilihat dari kejauhan, melainkan sebagai inti dari ruang tinggal sementara, tempat orang sengaja melambatkan langkah.
Kalau di Indonesia kita mengenal bagaimana kawasan seperti Kebun Raya Bogor, Hutan Kota GBK, Taman Hutan Raya Djuanda, atau sejumlah taman tepi sungai di kota besar perlahan diberi fungsi baru sebagai ruang jeda warga urban, maka arah kebijakan di Seogwipo bisa dibaca dalam semangat serupa. Bedanya, Jeju menggabungkan lanskap khas pulau vulkanik, hutan tematik, dan air terjun ke dalam satu paket infrastruktur hijau yang sekaligus berbicara soal serapan karbon.
Apa itu hutan kota tanggap iklim dan mengapa konsep ini penting
Istilah yang dipakai pemerintah Seogwipo adalah “hutan kota tanggap iklim” atau dalam konteks Korea disebut proyek hutan kota untuk respons iklim. Istilah ini penting dijelaskan, karena bagi pembaca Indonesia konsep tersebut bisa terdengar teknokratis, seolah hanya program penghijauan biasa dengan nama yang lebih modern. Padahal, maknanya lebih spesifik.
Dalam kebijakan kehutanan dan tata kota di Korea Selatan, hutan kota bukan sekadar ruang hijau pasif. Ia dirancang sebagai ruang yang punya fungsi ekologis dan sosial sekaligus. Fungsi ekologisnya meliputi penyerapan karbon, penurunan suhu mikro, pengurangan debu halus, dan penguatan keanekaragaman vegetasi. Fungsi sosialnya meliputi ruang jalan kaki, ruang teduh, tempat rekreasi ringan, dan sarana pemulihan psikologis warga yang hidup di lingkungan perkotaan atau kawasan dengan tekanan pariwisata tinggi.
Karena itu, kata “tanggap iklim” di sini tidak berdiri terpisah dari kata “hutan kota”. Ia bukan proyek lingkungan yang dibuat jauh dari warga, lalu diresmikan sebagai capaian angka. Sebaliknya, ia justru didekatkan ke keseharian. Warga bisa merasakan manfaat kebijakan iklim dalam bentuk yang sangat konkret: lebih banyak pohon, lebih banyak bayangan, jalur yang lebih nyaman untuk berjalan, dan ruang pandang yang memungkinkan orang menikmati lanskap tanpa harus terus bergerak.
Dalam banyak kota Asia, termasuk di Indonesia, kebijakan iklim sering terdengar abstrak. Istilah seperti net zero, emisi, atau penyerapan karbon kerap berhenti di dokumen resmi dan konferensi. Hutan kota seperti yang sedang dibangun di Seogwipo menawarkan bentuk komunikasi kebijakan yang lebih membumi. Orang mungkin tidak menghitung berapa ton karbon yang terserap setiap tahun, tetapi mereka tahu ada tempat yang lebih sejuk untuk berjalan sore, tempat duduk yang nyaman untuk lansia, dan lanskap yang mendorong keluarga menghabiskan waktu di luar ruang.
Di sinilah nilai penting proyek Eongtto. Ia menunjukkan bahwa adaptasi dan mitigasi iklim tidak selalu harus hadir dalam bentuk teknologi tinggi atau proyek raksasa. Kadang ia justru efektif ketika diterjemahkan menjadi ruang publik yang akrab. Dalam bahasa yang lebih sederhana, ini seperti pemerintah mengatakan: menghadapi krisis iklim bisa dimulai dari memperbaiki kualitas tempat kita berjalan dan bernapas.
Dari tahap pertama ke tahap kedua, infrastruktur hijau dibangun bertahap
Tahap kedua yang kini dimulai sebenarnya bukan proyek berdiri sendiri. Ia melanjutkan tahap pertama yang selesai pada tahun lalu. Pada tahap awal itu, pemerintah Seogwipo telah menggelontorkan 2,5 miliar won dengan komposisi pendanaan pusat sebesar 50 persen. Hasilnya antara lain penanaman sekitar 16 ribu pohon, pembangunan jalur pejalan kaki, lapangan rumput, dan fasilitas istirahat seperti gazebo atau paviliun sederhana.
Jika tahap pertama bisa disebut sebagai pembangunan kerangka dasar, maka tahap kedua adalah fase penguatan identitas ruang. Kali ini yang ditonjolkan bukan hanya penambahan vegetasi, melainkan hubungan yang lebih langsung dengan Air Terjun Eongtto sebagai pusat lanskap. Pemerintah kota ingin memastikan bahwa kawasan ini tidak terpecah antara hutan di satu sisi dan objek wisata di sisi lain. Semua elemen harus terasa sebagai satu pengalaman yang saling terhubung.
Pendekatan bertahap seperti ini patut dicermati. Banyak proyek ruang publik gagal terasa hidup karena dibangun sekaligus dalam logika penyelesaian cepat, tetapi minim pemikiran soal alur penggunaan. Seogwipo memilih model yang lebih berlapis. Pertama, membentuk fondasi ruang hijaunya. Kedua, memperkaya alasan orang datang dan bertahan lebih lama. Dari sudut pandang perencanaan kota, langkah semacam ini lebih memungkinkan evaluasi penggunaan sekaligus penyesuaian terhadap karakter kawasan.
Pembaca Indonesia barangkali bisa membayangkan bedanya antara taman yang sekadar selesai dibangun dengan taman yang benar-benar dipakai. Ruang hijau yang baik tidak hanya bergantung pada luas lahan. Ia ditentukan oleh akses, rasa aman, kenyamanan berjalan, kualitas tempat berteduh, dan keberadaan titik yang membuat orang ingin berhenti. Dalam istilah sehari-hari, taman yang bagus adalah taman yang membuat kita betah, bukan hanya kagum lima menit lalu pulang.
Karena itu, tambahan seperti jalur 1,5 kilometer, pergola, dan dek pandang bukan detail kecil. Justru elemen-elemen itulah yang mengubah kawasan dari “ruang hijau” menjadi “ruang hidup”. Di banyak kota, persoalannya bukan semata kekurangan taman, melainkan kurangnya taman yang benar-benar dirancang untuk dipakai berulang kali. Seogwipo tampak memahami bahwa keberhasilan proyek bukan hanya diukur saat peresmian, tetapi dari seberapa sering orang kembali.
Air Terjun Eongtto: dari titik lihat menjadi ruang tinggal
Air Terjun Eongtto sendiri adalah salah satu lanskap alam yang lekat dengan citra Seogwipo. Dalam banyak materi wisata Korea, kawasan air terjun di Jeju sering tampil sebagai simbol alam pulau yang dramatis: tebing, vegetasi lebat, dan suara air yang memberi kesan lepas dari ritme kota. Namun proyek terbaru ini memperlihatkan perubahan cara pandang pemerintah daerah terhadap objek alam semacam itu.
Alih-alih menempatkan air terjun hanya sebagai objek visual yang dikunjungi singkat, pemerintah Seogwipo ingin menjadikannya inti dari kawasan tinggal sementara, atau dalam istilah pariwisata, destinasi berbasis pengalaman menetap. Orang tidak hanya datang untuk memotret air terjun lalu pergi. Mereka diajak masuk ke ruang yang memiliki ritme: berjalan pelan melalui jalur hutan, berhenti di pergola, memandang dari dek observasi, menikmati perubahan vegetasi, lalu mungkin mengulang rute itu pada musim yang berbeda.
Konsep ini penting dalam industri wisata modern. Daya tarik sebuah destinasi hari ini tidak cukup ditopang oleh satu pemandangan ikonik. Pengunjung juga menilai bagaimana mereka bergerak di dalam kawasan, seberapa nyaman tempatnya, apakah ada ruang istirahat, dan apakah suasananya memberi pengalaman yang khas. Dalam bahasa yang lebih akrab bagi pembaca Indonesia, orang sekarang tidak hanya mencari “bagus buat foto”, tetapi juga “enak buat lama-lama”.
Jeju paham betul perubahan perilaku wisatawan ini. Pulau itu selama ini menjadi semacam “Bali-nya Korea”, meski tentu keduanya punya sejarah, ekologi, dan skala pariwisata yang berbeda. Seperti Bali, Jeju hidup dari perpaduan antara citra alam, budaya lokal, dan pengalaman berlibur. Tantangannya juga mirip: bagaimana menjaga keseimbangan antara pelestarian dan komersialisasi, antara kenyamanan warga dan kebutuhan wisatawan, serta antara promosi destinasi dan daya dukung lingkungan.
Di titik itu, proyek Eongtto menjadi menarik. Ia tidak menambah hotel, pusat belanja, atau atraksi buatan. Yang diperkuat justru kualitas ruang alami itu sendiri. Ini memberi pesan bahwa peningkatan daya saing wisata tidak selalu harus berarti pembangunan fisik besar-besaran. Terkadang, yang dibutuhkan justru penataan yang lebih halus: membuat jalur yang baik, memperbaiki titik pandang, menanam vegetasi yang tepat, dan memberi ruang teduh yang manusiawi.
Menanam 180 ribu pohon: simbol, fungsi, dan tantangan di lapangan
Salah satu angka yang paling menonjol dari proyek tahap kedua ini adalah rencana penanaman lebih dari 180 ribu pohon penyerap karbon. Angka sebesar itu tentu memancing perhatian, apalagi jika dibandingkan dengan luas area proyek yang sekitar 2 hektare. Dalam pemberitaan resmi, penanaman ini ditekankan sebagai langkah memperkuat fungsi serapan karbon sekaligus membangun lanskap hutan tematik yang terhubung dengan air terjun.
Dari sisi komunikasi kebijakan, angka besar selalu penting. Ia memberi kesan keseriusan dan skala. Namun dalam praktik pembangunan hutan kota, yang lebih menentukan sesungguhnya bukan hanya jumlah bibit yang ditanam, melainkan jenis tanaman, tingkat hidup setelah penanaman, perawatan jangka menengah, kecocokan dengan ekosistem lokal, serta bagaimana vegetasi itu berinteraksi dengan alur kunjungan manusia.
Di Indonesia, pengalaman penghijauan kota juga sering menunjukkan hal yang sama. Menanam ribuan pohon saat seremoni jauh lebih mudah daripada memastikan pohon itu tumbuh sehat lima tahun kemudian. Karena itu, keberhasilan proyek Eongtto nantinya tidak akan hanya diukur dari angka awal, melainkan dari kualitas hutan yang benar-benar terbentuk. Apakah pohon-pohon itu memberi naungan? Apakah komposisinya mendukung lanskap Jeju? Apakah ruang yang dihasilkan terasa alami, bukan sekadar padat tanaman?
Meski demikian, secara kebijakan, langkah Seogwipo tetap layak dicatat sebagai upaya menyatukan dua kepentingan yang sering dipisahkan: fungsi ekologi dan pengalaman warga. Penanaman pohon besar-besaran memberi fondasi ekologis, sementara jalur pejalan kaki dan fasilitas istirahat memastikan ruang itu tidak menjadi hutan yang terasing dari manusia. Ini penting, sebab ruang hijau yang ditinggalkan penggunanya cenderung kehilangan legitimasi sosial. Orang harus merasa memiliki alasan untuk datang.
Dengan kata lain, proyek ini bekerja pada dua lapis sekaligus. Lapisan pertama adalah lapis lingkungan: menyerap karbon, memperbaiki kualitas udara, dan menambah tutupan vegetasi. Lapisan kedua adalah lapis keseharian: tempat orang berjalan pagi, melepas lelah, mengantar anak, atau sekadar diam sejenak. Justru pada pertemuan dua lapis inilah nilai hutan kota tanggap iklim paling terasa.
Apa pelajaran untuk kota-kota Indonesia
Bagi Indonesia, kisah dari Seogwipo ini seharusnya tidak dibaca sekadar sebagai kabar pembangunan taman di negeri orang. Ada pelajaran penting tentang bagaimana ruang alam yang sudah ada bisa ditingkatkan nilainya tanpa harus diubah menjadi kawasan komersial yang berlebihan. Banyak daerah di Indonesia memiliki air terjun, hutan kota, bantaran sungai, dan perbukitan yang indah, tetapi belum seluruhnya dikelola sebagai ruang publik berkualitas.
Sering kali kita terjebak pada dua pilihan ekstrem. Di satu sisi, kawasan alam dibiarkan apa adanya tanpa infrastruktur dasar yang memadai, sehingga akses tidak nyaman dan pengalaman pengunjung terbatas. Di sisi lain, kawasan alam justru dibangun terlalu agresif hingga kehilangan karakter. Proyek Eongtto menawarkan jalan tengah: alam tetap menjadi pusat, sementara intervensi manusia hadir untuk memperhalus akses dan memperpanjang pengalaman tinggal.
Pelajaran lain adalah pentingnya pembangunan bertahap dan pendanaan bersama. Pemerintah Seogwipo mengerjakan proyek ini dalam dua fase, dengan sokongan anggaran dari pemerintah pusat. Bagi daerah-daerah di Indonesia, model semacam ini relevan. Penguatan ruang hijau tidak harus menunggu mega proyek. Ia bisa dimulai dari pembenahan dasar, lalu ditingkatkan sedikit demi sedikit, asalkan arah besarnya jelas dan konsisten.
Selain itu, ada aspek budaya yang menarik. Korea Selatan beberapa tahun terakhir semakin serius mempromosikan keseharian yang lebih ramah pejalan kaki, lebih dekat dengan alam, dan lebih peka terhadap kualitas ruang publik. Ini sejalan dengan perubahan gaya hidup urban generasi muda dan keluarga kecil. Di Indonesia, tren serupa juga terlihat. Orang makin mencari taman kota yang teduh, jalur jogging yang nyaman, dan tempat rekreasi keluarga yang tidak selalu identik dengan mal. Karena itu, pengembangan ruang hijau seperti di Eongtto sebenarnya berbicara pada kebutuhan yang universal.
Jika ada satu hal yang menonjol dari proyek ini, itu adalah cara Seogwipo menerjemahkan isu global ke dalam pengalaman lokal. Krisis iklim, serapan karbon, dan keberlanjutan bukan diletakkan sebagai jargon yang jauh dari warga. Semuanya dijelmakan dalam ruang yang bisa disentuh dan dipakai. Di tengah kota-kota yang semakin panas dan semakin cepat, gagasan semacam ini terasa relevan juga bagi pembaca Indonesia: bahwa kebijakan lingkungan terbaik sering kali adalah kebijakan yang membuat hidup sehari-hari terasa lebih layak.
Jeju sedang merumuskan masa depan pariwisata yang lebih pelan
Pada akhirnya, proyek hutan kota Eongtto bukan hanya soal penghijauan. Ia juga merupakan isyarat mengenai arah masa depan Jeju sebagai destinasi. Pulau ini tampaknya semakin menyadari bahwa kekuatan utamanya bukan sekadar banyaknya atraksi, melainkan kualitas hubungan antara manusia dan lanskap. Ketika wisatawan datang ke Jeju, mereka tidak hanya membeli tiket pesawat dan kamar hotel. Mereka mencari rasa: tenang, lapang, sejuk, dan jeda dari kepadatan hidup sehari-hari.
Dengan memperluas fungsi kawasan air terjun menjadi ruang tinggal yang nyaman, Seogwipo sedang membangun bentuk pariwisata yang lebih pelan dan lebih dalam. Ini bukan model wisata yang mengandalkan kehebohan sesaat, melainkan pengalaman yang tertanam dalam ingatan. Orang mungkin lupa jumlah fasilitas yang ada, tetapi mereka akan mengingat bagaimana rasanya berjalan di bawah rindang pohon, mendengar suara air, dan berhenti di titik pandang yang tepat.
Dari sudut pandang pembangunan kota, langkah ini juga menunjukkan bahwa kualitas hidup warga tidak harus dipertentangkan dengan kepentingan wisata. Jika dirancang cermat, ruang yang nyaman untuk warga justru akan menjadi ruang yang menarik bagi pengunjung. Inilah barangkali kekuatan utama proyek Eongtto: ia menolak memisahkan fungsi lingkungan, fungsi sosial, dan fungsi ekonomi. Ketiganya dipertemukan dalam skala ruang yang nyata.
Total anggaran 4,5 miliar won untuk dua tahap pembangunan memang tidak kecil. Namun nilai proyek ini tampaknya tidak berhenti pada angka. Yang lebih penting adalah preseden kebijakan yang dibangunnya. Seogwipo memberi contoh bahwa kota dengan modal alam kuat tidak harus terus mengejar pembangunan spektakuler. Ada kalanya yang dibutuhkan justru ketelitian dalam merawat tempat, memperhalus akses, dan menata ruang agar manusia ingin kembali berkali-kali.
Bila tahap kedua selesai sesuai rencana, kawasan Eongtto akan menjadi contoh bagaimana kota kecil hingga menengah di Korea Selatan menerjemahkan agenda iklim ke dalam lanskap yang bisa dinikmati sehari-hari. Bagi pembaca Indonesia, terutama yang mengikuti perkembangan Korea tidak hanya dari drama, musik, dan kecantikan, tetapi juga dari cara negara itu mengelola ruang hidup, kabar ini menunjukkan sisi lain Hallyu yang lebih sunyi namun penting: budaya merawat kota, menghormati alam, dan menjadikan kenyamanan publik sebagai bagian dari identitas modern.
댓글
댓글 쓰기