Hirokazu Kore-eda Kembali ke Seoul, Membawa Film tentang Kehilangan dan Menegaskan Kedekatannya dengan Penonton Korea

Hirokazu Kore-eda Kembali ke Seoul, Membawa Film tentang Kehilangan dan Menegaskan Kedekatannya dengan Penonton Korea

Kedatangan yang terasa lebih dari sekadar promosi film

Sutradara Jepang Hirokazu Kore-eda kembali menyambangi Seoul setelah sekitar satu tahun, kali ini untuk memperkenalkan film terbarunya, Sheep in the Box atau Box no Naka no Hitsuji, yang dalam pemberitaan Korea disebut Sangja Sogui Yang. Kehadirannya di Korea Selatan bukan sekadar agenda promosi biasa yang lazim dijalani sineas internasional. Bagi publik Korea, dan juga bagi pembaca Indonesia yang mengikuti perkembangan sinema Asia Timur, kunjungan ini terasa punya lapisan makna yang lebih dalam: ada sejarah kerja sama, ada kedekatan emosional, dan ada pengakuan terbuka dari sang sutradara bahwa Korea adalah tempat yang ia simpan secara khusus di hatinya.

Dalam konferensi pers di Megabox COEX, Gangnam, Seoul, Kore-eda menyampaikan bahwa ia memiliki “kasih sayang yang istimewa” terhadap Korea. Pernyataan seperti ini mungkin terdengar sederhana, tetapi dalam lanskap perfilman Asia, kalimat semacam itu punya bobot tersendiri. Kore-eda bukan nama asing yang sedang mencoba membangun basis penggemar baru. Ia adalah sutradara mapan dengan reputasi internasional, pemenang penghargaan bergengsi, dan pembuat film yang telah lama dikenal lewat karya-karya tentang keluarga, kehilangan, ingatan, serta relasi manusia yang rapuh tetapi nyata.

Karena itu, saat ia berbicara tentang Korea dengan nada personal, publik tidak membacanya sebagai basa-basi promosi. Ada konteks kuat di belakangnya. Ia pernah bekerja bersama aktor-aktor Korea papan atas dalam film Broker, sebuah proyek yang bukan hanya mempertemukan dua industri film besar di Asia, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi penonton Korea. Di Indonesia, kita juga akrab dengan momen ketika kolaborasi lintas negara terasa lebih jujur daripada sekadar proyek pasar. Rasanya mirip ketika musisi atau sutradara asing datang ke Jakarta bukan hanya untuk manggung atau gala premiere, melainkan karena mereka benar-benar punya hubungan kreatif dengan talenta lokal. Sentimen itulah yang kini mengiringi kehadiran Kore-eda di Seoul.

Bagi Korea Selatan, kehadiran kembali Kore-eda menunjukkan satu hal penting: pasar film mereka bukan hanya besar secara komersial, tetapi juga diperhitungkan secara artistik. Penonton Korea dipandang mampu membaca lapisan emosi dan nuansa sinematik yang halus, sesuatu yang memang menjadi kekuatan utama film-film Kore-eda. Dengan kata lain, ini bukan sekadar soal siapa datang ke Seoul, melainkan tentang mengapa Seoul tetap menjadi kota yang penting untuk disinggahi dalam perjalanan sebuah film Asia.

Film baru tentang humanoid, tetapi intinya tetap soal luka keluarga

Film terbaru Kore-eda mengambil latar masa depan dekat, atau near future, dengan premis yang terdengar seperti fiksi ilmiah: sebuah pasangan suami istri yang berprofesi sebagai arsitek berhadapan dengan kehadiran humanoid, yakni robot berwujud manusia, yang menyerupai putra mereka yang telah meninggal dunia. Di tangan sutradara lain, premis ini bisa saja bergerak ke arah thriller teknologi, horor psikologis, atau drama distopia. Namun jika melihat rekam jejak Kore-eda, besar kemungkinan film ini justru menempatkan teknologi hanya sebagai pintu masuk menuju pertanyaan yang lebih manusiawi.

Di sinilah letak daya tarik karya tersebut. Humanoid dalam film ini tampaknya bukan sekadar alat pencerita, melainkan cermin untuk melihat bagaimana manusia memperlakukan duka. Apa yang terjadi ketika rasa kehilangan bertemu kemungkinan “pengganti”? Apakah kehadiran sosok yang menyerupai orang tercinta bisa menjadi penghiburan, atau justru memperpanjang luka? Sejauh mana cinta keluarga berkaitan dengan tubuh, memori, kebiasaan, suara, dan hal-hal tak kasatmata yang tidak bisa ditiru mesin?

Pertanyaan semacam ini terasa sangat relevan untuk penonton Indonesia. Di tengah kehidupan yang semakin akrab dengan kecerdasan buatan, otomatisasi, dan teknologi digital, kita juga mulai sering berhadapan dengan persoalan etis yang sebelumnya hanya hidup dalam film atau novel. Namun Kore-eda tampaknya tidak ingin membahas teknologi dengan bahasa yang dingin atau akademis. Ia tetap kembali pada ruang yang paling ia kuasai: keluarga. Dalam banyak masyarakat Asia, termasuk Indonesia dan Korea, keluarga bukan sekadar unit sosial, melainkan pusat identitas, tempat nilai diwariskan, dan ruang pertama seseorang belajar tentang cinta sekaligus kehilangan.

Karena itu, film ini kemungkinan akan terasa dekat walaupun premisnya tidak realistis dalam pengertian sehari-hari. Penonton mungkin tidak pernah bertemu robot yang menyerupai anggota keluarga yang telah tiada, tetapi hampir semua orang memahami apa artinya merindukan seseorang, menolak kenyataan, atau diam-diam berharap waktu bisa diputar ulang. Justru di titik itulah film semacam ini bekerja: bukan membuat kita percaya pada teknologinya, melainkan membuat kita percaya pada emosinya.

Jika diringkas, Sheep in the Box tampaknya adalah film tentang batas-batas manusia: batas antara mengingat dan melepaskan, antara menerima dan menggantikan, antara yang hidup dan yang hanya tampak hidup. Itu wilayah yang selama ini sangat akrab dalam sinema Kore-eda. Maka meski berbalut gagasan futuristik, film ini tampaknya tetap berdiri kokoh sebagai drama tentang kekosongan di dalam rumah, meja makan, dan hati orang-orang yang ditinggalkan.

Kore-eda dan keluarga sebagai tema yang tak pernah selesai dibicarakan

Bagi penonton yang mengikuti perjalanan karya Kore-eda, tema keluarga bukan hal baru. Ia sudah lama dikenal sebagai sutradara yang lihai merekam hubungan paling intim sekaligus paling rumit dalam kehidupan sehari-hari. Ia tidak selalu memotret keluarga ideal; justru sebaliknya, ia tertarik pada keluarga yang retak, keluarga yang terbentuk secara tidak biasa, keluarga yang menyimpan rahasia, atau keluarga yang dipersatukan oleh keadaan. Tetapi dari situlah kekuatan film-filmnya muncul: ia menunjukkan bahwa hubungan manusia tidak pernah sesederhana status biologis atau definisi hukum.

Di banyak filmnya, Kore-eda seolah mengajak penonton melihat bahwa yang membuat seseorang menjadi keluarga bukan hanya darah, melainkan perhatian, kebiasaan, pengorbanan, dan pilihan untuk tetap tinggal. Sensibilitas seperti ini terasa dekat dengan masyarakat Indonesia. Di sini, konsep keluarga juga sering melampaui definisi sempit. Ada kedekatan dengan tante yang terasa seperti ibu kedua, ada tetangga yang dianggap saudara, ada kakek-nenek yang membesarkan cucu, ada pula keluarga yang tetap bertahan meski dipenuhi luka yang tak pernah benar-benar dibicarakan.

Maka ketika Kore-eda membuat film tentang humanoid yang menyerupai anak yang sudah meninggal, yang sebenarnya ia lakukan adalah memperluas pertanyaan lama dalam bentuk baru. Jika keluarga terbentuk dari ingatan dan ikatan emosional, lalu bagaimana ketika teknologi hadir dan meniru sosok yang kita rindukan? Apakah ikatan itu tetap otentik? Atau justru kita makin sadar bahwa manusia tidak bisa disalin begitu saja?

Kore-eda juga terkenal tidak tergesa-gesa dalam bercerita. Ia lebih suka membiarkan suasana tumbuh dari gestur kecil: cara seseorang menatap, jeda sebelum menjawab, hening di ruang makan, atau percakapan yang terdengar biasa tetapi menyimpan emosi besar. Untuk penonton yang terbiasa dengan film serba cepat, pendekatan ini mungkin terasa pelan. Namun bagi penggemar drama keluarga yang matang, justru ritme tenang itu memberi ruang untuk merenung. Ibarat menikmati lagu sendu yang liriknya baru terasa menampar setelah didengar beberapa kali, film Kore-eda sering meninggalkan kesan yang datang belakangan.

Pernyataan sang sutradara agar penonton juga “melihat hal-hal yang tidak tampak” menjadi petunjuk penting untuk membaca film ini. Maksudnya bisa sangat luas: yang tidak tampak bisa berupa duka yang belum selesai, rasa bersalah yang disembunyikan, atau kasih sayang yang tidak pernah terucap. Ini bukan ajakan untuk memecahkan teka-teki, melainkan undangan untuk lebih peka pada lapisan emosi yang tidak selalu dijelaskan lewat dialog. Dalam budaya Asia, termasuk Indonesia, banyak perasaan penting justru disampaikan melalui diam. Kore-eda tampaknya memahami betul bahasa diam itu.

Kombinasi pemain yang menarik, dari Ayase Haruka hingga wajah muda yang memikul peran paling rumit

Film ini juga menyita perhatian karena jajaran pemainnya. Ayase Haruka, salah satu aktris paling dikenal di Jepang, dipercaya memerankan Otone. Ia adalah figur yang punya kemampuan menghadirkan kelembutan sekaligus kekuatan emosional tanpa perlu tampil berlebihan. Untuk drama dengan tema kehilangan, kehadirannya memberi jaminan bahwa karakter ibu atau istri dalam cerita ini tidak akan jatuh menjadi sosok satu dimensi yang hanya berfungsi untuk menangis. Ayase punya reputasi sebagai aktris yang bisa membuat emosi terasa alamiah, sesuatu yang sangat dibutuhkan dalam film dengan tema sensitif seperti ini.

Yang juga menarik adalah kehadiran Daigo, anggota duo komedi Chidori, sebagai Kensuke. Pilihan ini mungkin mengejutkan bagi sebagian penonton di luar Jepang. Namun justru di situlah daya tariknya. Wajah yang identik dengan komedi sering kali membawa sensasi keseharian yang kuat. Dalam drama keluarga, terutama ala Kore-eda, nuansa hidup sehari-hari jauh lebih penting daripada kemegahan akting yang demonstratif. Seorang suami, ayah, atau anggota keluarga dalam film semacam ini harus terasa seperti manusia yang bisa ditemui di dunia nyata, bukan sekadar karakter yang didesain untuk mengantar klimaks.

Penempatan aktor dengan latar komedi juga membuka kemungkinan hadirnya momen-momen ringan yang membuat film tidak tenggelam dalam kesedihan total. Ini penting, karena duka yang paling meyakinkan justru sering hadir di tengah rutinitas: saat makan, berbincang sekenanya, atau mencoba menjalani hari seperti biasa. Dalam konteks itu, sentuhan aktor komedi dapat memberi kontras yang memperkaya emosi, bukan mengganggunya.

Sementara itu, peran humanoid yang menyerupai anak laki-laki yang telah meninggal dimainkan oleh Kuwaki Rimu. Peran ini barangkali menjadi poros paling sulit dalam keseluruhan film. Jika dimainkan terlalu datar, karakter itu akan terasa dingin dan semata-mata seperti mesin. Jika terlalu manusiawi, premis film bisa kehilangan ketegangan filosofisnya. Pemeran humanoid harus berdiri di garis yang sangat tipis: cukup hidup untuk mengguncang keluarga yang ditinggalkan, tetapi cukup asing untuk mengingatkan penonton bahwa ada sesuatu yang tak bisa benar-benar kembali.

Kehadiran Kuwaki Rimu bersama Kore-eda dalam kunjungan ke Seoul juga bisa dibaca sebagai sinyal bahwa peran ini sangat sentral. Bagi publik Korea, ini memberi kesempatan untuk melihat lebih dekat wajah baru yang memikul tanggung jawab besar dalam film yang emosinya bertumpu pada kehadiran satu sosok “pengganti”. Dalam sinema, sering kali karakter yang paling sedikit bicara justru paling menentukan suhu film. Besar kemungkinan, humanoid inilah yang akan menjadi titik tempat penonton menaruh rasa iba, cemas, sekaligus pertanyaan moral.

Mengapa Korea merasa dekat dengan Kore-eda setelah era “Broker”

Alasan lain mengapa kedatangan Kore-eda ke Seoul disambut dengan perhatian besar adalah jejak yang ia tinggalkan lewat Broker. Film itu bukan sekadar proyek kolaborasi internasional biasa. Dengan melibatkan Song Kang-ho, Kang Dong-won, dan IU, Kore-eda masuk ke ruang budaya Korea bukan sebagai pengamat dari jauh, melainkan sebagai kreator yang bersentuhan langsung dengan aktor, kru, dan sensibilitas lokal. Hasilnya, publik Korea melihat bahwa ia tidak memperlakukan industri mereka hanya sebagai pasar atau eksotika, tetapi sebagai mitra artistik yang setara.

Pengalaman tersebut membuat nama Kore-eda terasa akrab di Korea. Ia memang sutradara Jepang, tetapi kehadirannya tidak dibaca sepenuhnya sebagai sosok luar. Ada rasa kedekatan yang terbangun karena ia pernah menciptakan karya bersama talenta Korea dan menghasilkan momen penting, termasuk kemenangan Song Kang-ho di Festival Film Cannes. Bagi penonton, rekam jejak seperti ini menciptakan kepercayaan emosional. Mereka merasa sudah mengenal cara pandang sang sutradara, sekaligus melihat bahwa ia juga berusaha mengenal Korea dari dekat.

Fenomena ini menarik jika dilihat dari Indonesia. Di tengah Hallyu yang begitu kuat, publik kita kerap memandang Korea sebagai eksportir budaya yang dominan. Namun peristiwa seperti kedatangan Kore-eda menunjukkan bahwa Korea juga menjadi ruang dialog budaya, tempat sineas dari negara lain datang untuk bertukar rasa, ide, dan respons penonton. Dengan kata lain, Korea kini bukan hanya produsen hiburan global, tetapi juga salah satu pusat percakapan sinema Asia.

Kore-eda sendiri menyebut bahwa ia senang bisa datang ke Korea bersama salah satu aktornya karena film ini tayang lebih awal di sana. Ucapan itu penting. Artinya, Korea diposisikan bukan sebagai tujuan rilis sekunder, melainkan sebagai pasar yang dinilai siap memberi respons cepat dan serius. Dalam logika industri, keputusan rilis awal tentu berkaitan dengan strategi distribusi. Tetapi dalam logika budaya, ada makna lain: penonton Korea dianggap cukup penting untuk dilibatkan lebih dulu dalam pembicaraan tentang film ini.

Hubungan seperti inilah yang membuat kunjungan Kore-eda terasa hangat. Ia datang membawa film Jepang, tetapi percakapannya dengan publik Korea berlangsung di atas fondasi yang sudah dibangun sebelumnya. Ada memori bersama, ada penghormatan timbal balik, dan ada keyakinan bahwa film yang bicara pelan pun masih punya ruang di tengah hiruk-pikuk industri hiburan yang sering mengejar sensasi cepat.

Apa maknanya bagi penonton Indonesia dan pembaca budaya pop Asia

Bagi pembaca Indonesia, kabar ini menarik bukan hanya karena menyangkut satu sutradara besar, melainkan karena menunjukkan arah baru konsumsi budaya Asia di kawasan. Selama ini perhatian publik sering tersedot pada idol K-pop, drama hit, box office raksasa, atau kontroversi selebritas. Semua itu sah dan memang menjadi bagian penting dari ekosistem Hallyu. Namun kedatangan Kore-eda ke Seoul mengingatkan bahwa percakapan budaya Korea tidak berhenti pada industri hiburan arus utama. Ada pula ruang bagi film yang lirih, kontemplatif, dan menuntut kepekaan emosional dari penontonnya.

Ini juga menjadi pengingat bahwa pembaca Indonesia semakin matang dalam mengikuti budaya populer Asia. Penonton kita sekarang tidak hanya mengonsumsi apa yang viral di media sosial, tetapi juga semakin akrab dengan festival film, sutradara auteur, dan karya-karya yang bergerak di wilayah abu-abu emosi. Dalam beberapa tahun terakhir, terlihat jelas bahwa diskusi soal film Asia di Indonesia makin beragam. Nama-nama seperti Kore-eda tidak lagi hanya dikenal oleh komunitas sinema terbatas, tetapi juga mulai masuk ke percakapan penonton umum yang mencari tontonan dengan bobot emosional.

Ada kemungkinan film seperti Sheep in the Box juga akan menemukan resonansi yang kuat di Indonesia karena tema utamanya universal. Soal keluarga, kehilangan, dan keinginan untuk mempertahankan yang sudah pergi adalah pengalaman yang melintasi bahasa maupun negara. Dalam budaya kita, duka sering diproses secara kolektif melalui keluarga besar, tradisi doa, atau ingatan yang dipelihara bertahun-tahun. Karena itu, gagasan tentang sosok yang menyerupai orang yang telah meninggal bisa memicu renungan yang sangat personal bagi banyak orang.

Selain itu, film ini juga datang pada saat dunia semakin akrab dengan pertanyaan tentang kecerdasan buatan. Kita mulai menyaksikan bagaimana mesin menulis, berbicara, menggambar, bahkan meniru suara manusia. Di tengah perkembangan itu, karya seperti film baru Kore-eda penting karena mengajak kita bertanya bukan hanya “apa yang bisa dilakukan teknologi”, tetapi juga “apa yang seharusnya tidak digantikan teknologi”. Pertanyaan ini relevan bagi siapa pun, dari Seoul sampai Jakarta.

Pada akhirnya, kembalinya Hirokazu Kore-eda ke Seoul memperlihatkan satu hal yang sederhana tetapi penting: di tengah industri hiburan Asia yang bergerak cepat, film yang mengandalkan kehalusan perasaan masih punya tempat istimewa. Korea menyambutnya bukan hanya sebagai tamu, tetapi sebagai kreator yang telah menjalin hubungan emosional dengan penonton mereka. Dan bagi kita di Indonesia, kabar ini layak dicermati karena menunjukkan bahwa percakapan budaya Asia hari ini semakin kaya, semakin lintas batas, dan semakin terbuka untuk karya-karya yang berani membahas luka manusia dengan cara yang pelan namun dalam.

Jika mengikuti isyarat sang sutradara, mungkin cara terbaik menyambut film ini memang bukan dengan menunggu kejutan besar di permukaan, melainkan dengan kesiapan untuk melihat “yang tak tampak”: sisa duka dalam sebuah rumah, kerinduan yang tidak pernah selesai, dan pertanyaan lama tentang apakah cinta bisa benar-benar digantikan. Di situlah, seperti banyak karya Kore-eda sebelumnya, kemungkinan besar kekuatan film ini akan tinggal paling lama.

Source: Original Korean article - Trendy News Korea

댓글

이 블로그의 인기 게시물

Di Balik Konflik HYBE, ADOR, dan Min Hee-jin: Saat NewJeans Menjadi Pusat Perebutan IP, Kreativitas, dan Kuasa di Industri K-pop

Korban yang Tersisa Lima: Saat Korea Selatan Masuk Fase Penentuan dalam Merawat, Mencatat, dan Mengajarkan Sejarah Jugun Ianfu

Korea Selatan Kalah Tipis dari Austria, tetapi PR Sebenarnya Ada di Sepertiga Akhir: Saat Son Heung-min dan Lee Kang-in Belum Cukup