Film pembuka Festival Film Lingkungan Seoul menempatkan AI di ruang paling pribadi: masa depan keluarga, budaya, dan bumi

Ketika festival lingkungan membuka layar dengan isu kecerdasan buatan
Festival film biasanya identik dengan karpet merah, tepuk tangan panjang, dan perbincangan soal sinematografi. Namun pembukaan Festival Film Lingkungan Internasional Seoul ke-23 pada 5 Juni justru menegaskan arah yang lebih gelisah sekaligus lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sedang mengubah masa depan manusia, termasuk masa depan lingkungan. Film pembuka yang dipilih adalah dokumenter berjudul AI: How I Learned to Stop Worrying and Love the End of the World, karya sutradara muda kelahiran 1993, Daniel Roher. Bukan sekadar tayangan teknologi, film ini mengajukan pertanyaan yang jauh lebih dekat dengan penonton: ketika dunia berubah begitu cepat karena AI, masihkah manusia merasa cukup percaya diri untuk membayangkan hari esok, membangun keluarga, dan menitipkan masa depan kepada generasi berikutnya?
Bagi pembaca Indonesia, keputusan festival lingkungan di Seoul ini menarik karena memperlihatkan bagaimana definisi “isu lingkungan” kini makin luas. Kalau dulu publik membayangkan film lingkungan sebagai kisah tentang hutan, laut, polusi, atau krisis iklim dalam pengertian yang sangat visual, kini panggung kebudayaan Korea mulai mengatakan bahwa server, data, komputasi, dan infrastruktur digital juga bagian dari persoalan lingkungan. Artinya, pembicaraan tentang AI tidak lagi bisa dipisahkan dari energi yang dikonsumsi pusat data, dari jejak karbon teknologi, dan dari pertanyaan tentang siapa yang diuntungkan atau dibebani oleh percepatan digital.
Di titik inilah film pembuka tersebut terasa penting. Ia tidak datang sebagai pamflet teknologi, juga bukan dongeng distopia yang hanya menakut-nakuti. Ia hadir di ruang yang lebih jujur: ruang kebingungan manusia modern. Ketika istilah AI begitu sering muncul dalam berita bisnis, industri hiburan, pendidikan, bahkan percakapan keluarga di grup WhatsApp, film ini mengajak penonton berhenti sejenak untuk bertanya, sesungguhnya kita sedang menuju ke mana?
Korea Selatan selama ini dikenal sangat cepat dalam mengadopsi teknologi baru, dan hal itu juga tampak di industri budayanya. Karena itu, ketika sebuah festival film lingkungan di Seoul menjadikan AI sebagai tema pembuka, yang sedang dipertontonkan bukan hanya selera artistik, melainkan juga perubahan cara masyarakat membaca zaman. Dalam konteks inilah film Daniel Roher bukan sekadar karya dokumenter, melainkan cermin dari kecemasan dan harapan yang sedang hidup di Korea hari ini.
Berangkat dari kegelisahan yang sangat personal: apakah pantas merencanakan masa depan?
Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada titik berangkatnya yang tidak muluk-muluk. Daniel Roher memulai bukan dari seminar teknologi, bukan dari jargon Silicon Valley, dan bukan pula dari ambisi untuk menjelaskan AI secara teknis kepada penonton. Ia memulai dari sesuatu yang sangat manusiawi: setelah bertemu pasangan dan mulai membayangkan kehidupan berkeluarga, ia dihantui pertanyaan tentang masa depan. Dunia sedang berubah cepat, AI berkembang dengan laju yang sulit diprediksi, dan ketidakpastian itu merembes ke pertanyaan paling dasar: seperti apa hidup anak-anak di masa depan jika mereka lahir ke dunia seperti ini?
Pertanyaan semacam ini sangat mudah dipahami oleh pembaca Indonesia. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, atau Medan, banyak pasangan muda kini sudah terbiasa membicarakan masa depan dengan nada campuran antara harapan dan cemas. Biaya hidup naik, perubahan iklim makin terasa, persaingan kerja makin ketat, dan teknologi bergerak lebih cepat daripada kemampuan banyak orang untuk menyesuaikan diri. Di tengah semua itu, keputusan membangun keluarga bukan lagi sekadar urusan pribadi. Ia menjadi soal kepercayaan terhadap masa depan dunia. Film ini tampaknya menangkap kegelisahan itu dengan sangat tepat.
Yang menarik, kegelisahan Roher tidak diubah menjadi drama berlebihan. Ia tidak memilih jalur sensasional yang menggambarkan AI sebagai monster yang pasti menghancurkan manusia. Sebaliknya, ia memperluas pertanyaan pribadinya dengan menemui para ahli AI dari berbagai negara. Sebagai sutradara, ia menggunakan perangkat yang paling ia kuasai, yakni dokumentasi dan percakapan, untuk menyelidiki apa sebenarnya yang sedang terjadi. Dengan cara itu, film ini menjembatani ruang privat dan ruang publik. Kekhawatiran seorang calon orang tua menjadi pintu masuk untuk diskusi global tentang teknologi, etika, dan kelangsungan hidup manusia.
Pendekatan seperti ini penting karena sering kali pembahasan AI terjebak dalam bahasa yang terlalu teknis atau terlalu abstrak. Kita mendengar istilah seperti otomatisasi, machine learning, generative AI, regulasi, atau produktivitas, tetapi tidak selalu paham hubungan langsungnya dengan kehidupan sehari-hari. Film ini, dari ringkasan yang tersedia, justru memilih bahasa yang lebih membumi: jika AI terus mengubah dunia kerja, pendidikan, relasi sosial, dan lingkungan, maka seperti apa dunia yang akan diwariskan kepada anak-anak? Itu pertanyaan yang jauh lebih dekat dengan meja makan keluarga daripada dengan panggung konferensi teknologi.
Mengapa AI justru cocok menjadi film pembuka festival lingkungan?
Di permukaan, keputusan memilih dokumenter AI sebagai pembuka festival lingkungan mungkin terasa tidak lazim. Banyak orang mungkin akan bertanya: apa hubungan langsung antara kecerdasan buatan dan festival film lingkungan? Bukankah isu lingkungan seharusnya bicara tentang sampah, emisi, banjir, kekeringan, atau konservasi alam? Tetapi justru di situlah letak pergeseran penting yang sedang ditunjukkan Seoul tahun ini. Lingkungan tidak lagi dibaca semata sebagai bentang alam yang harus diselamatkan, melainkan sebagai sistem besar tempat manusia, teknologi, energi, konsumsi, dan hasrat ekonomi saling terkait.
Salah satu pernyataan kunci dari penyelenggara festival menyebut bahwa AI dan lingkungan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Kalimat ini layak dibaca serius. Di balik kenyamanan menggunakan AI, ada infrastruktur komputasi raksasa yang memerlukan listrik besar, pendingin, perangkat keras, dan pusat data yang jejak ekologisnya nyata. Pada saat yang sama, AI juga sering dipromosikan sebagai alat untuk membantu memetakan kerusakan hutan, mengoptimalkan distribusi energi, memprediksi cuaca ekstrem, hingga meningkatkan efisiensi industri. Dengan kata lain, AI bisa menjadi sumber masalah sekaligus bagian dari solusi.
Kerangka berpikir semacam ini relevan pula bagi Indonesia. Kita hidup di negara yang setiap tahun menghadapi tantangan lingkungan yang sangat konkret: banjir di musim hujan, polusi udara di kawasan urban, ancaman krisis air di sejumlah daerah, kebakaran hutan, dan ketimpangan pembangunan infrastruktur. Dalam beberapa tahun terakhir, pembicaraan tentang solusi digital juga semakin sering masuk ke ruang kebijakan publik. Pemerintah daerah, kampus, perusahaan rintisan, hingga korporasi besar berlomba menggunakan data dan teknologi untuk membaca masalah. Tetapi pertanyaan yang belum selalu dibicarakan secara jernih adalah: seberapa besar biaya lingkungan dari teknologi itu sendiri, dan siapa yang menanggungnya?
Karena itu, langkah festival di Seoul terasa seperti isyarat bahwa diskusi lingkungan abad ini memang tidak cukup jika hanya berhenti pada ajakan menanam pohon atau mengurangi plastik. Semua itu tetap penting, tetapi dunia juga harus mulai memikirkan dampak ekologis dari dunia digital yang terus membesar. Dalam konteks budaya, pemilihan film pembuka ini juga menunjukkan bahwa festival film tidak lagi sekadar ruang apresiasi estetika. Ia berubah menjadi arena pembentukan kesadaran publik, tempat teknologi diterjemahkan ke dalam bahasa yang bisa dirasakan manusia biasa.
Korea Selatan dan perubahan wajah industri hiburan di era AI
Alasan lain mengapa dokumenter ini mendapat perhatian besar di Korea adalah karena AI sudah masuk ke jantung industri budayanya. Di Korea Selatan, teknologi bukan hanya alat bantu produksi, melainkan sudah menjadi tema cerita, sumber eksperimen visual, dan bahan diskusi etika. Dalam lanskap seperti itu, film Daniel Roher hadir pada saat yang tepat, ketika publik Korea tidak lagi memandang AI sebagai sesuatu yang jauh, melainkan sebagai sesuatu yang sudah menyentuh pengalaman menonton, mendengar musik, hingga membayangkan relasi antarmanusia.
Pada hari yang sama, perhatian terhadap AI di ranah hiburan Korea juga diperkuat oleh berita lain mengenai karya sineas Jepang Hirokazu Kore-eda, The Sheep in the Box, yang mengangkat layanan humanoid untuk merekonstruksi orang yang sudah meninggal. Gagasan ini terdengar seperti fiksi ilmiah, tetapi sesungguhnya menyentuh persoalan yang sangat emosional: sampai sejauh mana teknologi bisa meniru kehadiran orang yang kita cintai? Apakah AI dapat memberi penghiburan, atau justru memperpanjang luka kehilangan? Dalam karya seperti itu, AI tidak lagi dibicarakan sebagai efisiensi kerja, melainkan sebagai cermin batas-batas kemanusiaan.
Di sisi lain, dunia musik juga bergerak ke arah yang sama. Video musik lagu Dress2Kill dari duo hip-hop bersaudara Lil Cherry dan Goldbuuda disebut diproduksi sepenuhnya dengan AI. Ini memberi sinyal yang jelas bahwa AI bukan hanya bahan cerita di layar, tetapi juga sudah menjadi bagian dari proses kreatif itu sendiri. Pertanyaan pun berkembang: jika gambar, gerak, dan visual dapat dihasilkan oleh AI, bagaimana nasib pekerja kreatif? Apakah AI akan memperluas kemungkinan artistik, atau justru menekan nilai kerja manusia di balik produksi budaya?
Bagi pembaca Indonesia yang mengikuti Hallyu, fenomena ini penting dicermati karena industri hiburan Korea sering menjadi rujukan tren Asia, bahkan global. Apa yang ramai diperdebatkan di Seoul hari ini, bukan tidak mungkin akan muncul lebih nyata di Jakarta besok lusa. Kita sudah melihat bagaimana AI mulai digunakan untuk subtitel otomatis, penerjemahan cepat, pembuatan konten promosi, pengolahan visual, hingga suara sintetis. Dalam beberapa kasus, efisiensi memang meningkat. Tetapi bersama itu muncul pula persoalan hak cipta, kualitas artistik, keaslian ekspresi, dan posisi pekerja kreatif manusia. Festival film yang mengangkat isu ini berarti sedang menempatkan budaya di garis depan diskusi publik, bukan sekadar menjadi penonton perkembangan teknologi.
Di antara ketakutan dan optimisme: memahami istilah “apocalypse optimist”
Judul dokumenter ini sendiri sudah memancing rasa ingin tahu: bagaimana seseorang bisa menjadi “optimis terhadap kiamat” atau lebih tepatnya seorang yang tetap memelihara optimisme di tengah bayang-bayang kehancuran? Istilah itu memang provokatif. Ia menghadirkan ketegangan batin yang sangat sesuai dengan situasi dunia saat ini. Di satu sisi, manusia disuguhi begitu banyak alasan untuk khawatir: perubahan iklim, perang, ketimpangan ekonomi, disrupsi kerja akibat otomatisasi, dan derasnya informasi yang membuat masa depan tampak tidak stabil. Di sisi lain, manusia juga tidak sepenuhnya kehilangan keyakinan bahwa kemajuan sains dan teknologi dapat membantu menyelesaikan problem besar.
Dari ringkasan cerita yang tersedia, dokumenter ini tampaknya tidak memilih posisi ekstrem. Ia tidak memuja AI sebagai penyelamat mutlak, tetapi juga tidak menaruhnya semata sebagai ancaman. Posisi seperti ini justru lebih menarik karena mencerminkan kenyataan. Hampir semua teknologi besar dalam sejarah manusia membawa dua wajah sekaligus. Internet, misalnya, membuka akses informasi yang luar biasa, tetapi juga memunculkan banjir hoaks, pengawasan digital, dan kelelahan mental. Demikian pula AI: ia bisa membantu riset medis, efisiensi energi, atau akses pendidikan, tetapi juga bisa memperlebar ketimpangan dan memproduksi risiko baru yang belum sepenuhnya dipahami.
Dalam konteks jurnalistik budaya, istilah “apocalypse optimist” juga bisa dibaca sebagai potret psikologis generasi sekarang. Banyak orang muda hidup dalam suasana yang kontradiktif. Mereka tahu dunia sedang menghadapi krisis, tetapi tetap dituntut produktif, kreatif, adaptif, dan optimistis. Mereka cemas soal masa depan, tetapi tetap harus bekerja, mencicil rumah, membesarkan anak, dan menjalani hidup seolah semuanya terkendali. Film ini tampaknya memotret kondisi itu: optimisme bukan berarti tidak melihat ancaman, melainkan tetap bergerak sambil sadar bahwa ancamannya nyata.
Di Indonesia, kita akrab dengan jenis optimisme seperti ini. Lihat saja bagaimana masyarakat tetap melanjutkan hidup di tengah cuaca ekstrem, kemacetan, polusi, tekanan ekonomi, dan perubahan sosial yang cepat. Ada semacam ketahanan sehari-hari yang membuat orang tetap membuka warung, berangkat kerja, menyiapkan sekolah anak, dan merancang masa depan, meski berita sering terasa suram. Karena itu, premis film ini sesungguhnya punya resonansi kuat bagi pembaca lokal. Ia membicarakan dunia yang besar, tetapi lewat emosi yang sangat dekat.
Film festival sebagai ruang publik, bukan sekadar tempat menonton
Pemilihan film pembuka ini juga menunjukkan perubahan fungsi festival film dalam masyarakat Korea. Festival bukan lagi hanya agenda budaya tahunan untuk kalangan sinefil atau insan perfilman. Ia makin terlihat sebagai ruang publik tempat isu-isu sosial penting diperkenalkan, dipertajam, lalu diperdebatkan. Jika dulu panggung budaya sering dianggap terpisah dari percakapan kebijakan, hari ini batas itu semakin cair. Film, musik, dan serial televisi justru kerap lebih cepat menangkap kegelisahan zaman dibanding pidato resmi atau laporan teknokratis.
Dalam kasus Seoul, keputusan menempatkan AI di depan panggung festival lingkungan dapat dibaca sebagai pernyataan bahwa budaya memiliki peran penting dalam menerjemahkan isu yang kompleks. Tidak semua orang akan membaca riset tentang konsumsi energi pusat data atau regulasi AI. Tetapi banyak orang bersedia menonton film yang bercerita tentang seorang sutradara yang mempertanyakan masa depan keluarganya. Di sanalah kekuatan budaya bekerja: ia membuat hal yang rumit menjadi bisa dirasakan, bukan hanya dipahami.
Pola serupa sebenarnya juga terlihat di Indonesia, meski dalam bentuk yang berbeda. Banyak diskusi publik yang justru lebih hidup ketika dipantik oleh film dokumenter, serial, atau karya kreatif ketimbang oleh dokumen kebijakan. Penonton lebih mudah terhubung dengan isu ketika ada wajah, pengalaman, dan cerita yang bisa diikuti. Karena itu, apa yang dilakukan festival di Seoul bisa menjadi pelajaran menarik: isu teknologi tidak harus selalu dibahas dengan bahasa seminar, tetapi bisa dibuka lewat narasi manusiawi yang memancing empati dan refleksi.
Lebih jauh lagi, langkah ini menandai bahwa industri hiburan Korea kini semakin sadar akan tanggung jawab sosialnya. Di tengah reputasi Hallyu yang kuat sebagai mesin ekspor budaya, ada upaya untuk menunjukkan bahwa hiburan Korea juga mampu menjadi ruang berpikir. Ia tidak berhenti pada konsumsi, tren, atau estetika, melainkan ikut memetakan kecemasan global. Itu sebabnya kabar tentang film pembuka ini patut dibaca bukan hanya sebagai berita perfilman, tetapi sebagai penanda arah budaya Korea kontemporer.
Apa artinya bagi penonton Indonesia yang hidup di tengah ledakan AI?
Bagi penonton Indonesia, berita dari Seoul ini terasa dekat karena perdebatan soal AI juga semakin nyata di sini. Di kampus, AI mulai dipakai untuk riset dan tugas. Di kantor, AI masuk ke layanan pelanggan, desain presentasi, pengolahan data, hingga perekrutan. Di industri kreatif, AI mulai menyentuh ilustrasi, penulisan awal naskah, pembuatan video pendek, dan editing suara. Di rumah, AI hadir dalam bentuk yang lebih kasual: rekomendasi konten, chatbot, terjemahan instan, atau aplikasi yang membantu pekerjaan sehari-hari. Teknologi ini datang tanpa banyak upacara, lalu perlahan mengubah kebiasaan.
Namun justru karena ia hadir begitu cepat, masyarakat kerap belum sempat mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah AI membuat hidup lebih baik untuk semua orang, atau hanya untuk sebagian orang yang sudah punya akses dan modal? Apakah ia mengurangi beban lingkungan, atau justru menambah konsumsi energi? Apakah AI memperluas kreativitas, atau justru mengikis ruang kerja manusia? Dan yang paling sederhana tetapi paling tajam: masa depan macam apa yang sedang kita bangun bersama?
Film dokumenter seperti karya Daniel Roher penting karena ia mengembalikan percakapan ke level manusia. Ia mengingatkan bahwa di balik semua istilah futuristik, ada orang-orang yang sedang menimbang masa depan anak, kualitas hidup keluarga, dan keberlanjutan bumi. Untuk pembaca Indonesia, sudut pandang ini terasa relevan karena masyarakat kita pun sedang hidup dalam transisi besar: digitalisasi melaju, tetapi persoalan dasar seperti pendidikan, ketimpangan akses, dan ketahanan lingkungan masih sangat nyata. AI mungkin menjanjikan banyak hal, tetapi ia tidak datang ke ruang kosong. Ia masuk ke masyarakat yang sudah punya persoalan sosial sendiri.
Karena itu, kabar dari Seoul ini lebih dari sekadar informasi festival film. Ia adalah pengingat bahwa pembicaraan tentang AI harus melibatkan etika, budaya, dan pengalaman sehari-hari, bukan hanya investasi dan inovasi. Jika Korea hari ini menggunakan festival film untuk membuka diskusi semacam itu, maka Indonesia pun sebetulnya punya kebutuhan yang sama: ruang publik yang mampu membahas teknologi secara lebih matang, lebih kritis, tetapi juga lebih dekat dengan kehidupan nyata.
Pada akhirnya, kekuatan film pembuka Festival Film Lingkungan Internasional Seoul ini terletak pada keberaniannya menanyakan hal yang sering kita tunda. Di tengah kebisingan promosi teknologi, ia bertanya tentang kepercayaan. Percaya pada masa depan, percaya pada kemampuan manusia mengelola ciptaannya, dan percaya bahwa kebudayaan masih bisa menjadi tempat untuk berpikir bersama. Dalam dunia yang semakin cepat, mungkin justru pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang paling mendesak untuk dijaga.
댓글
댓글 쓰기