Festival Jalan Kaki di Namsan Tunjukkan Wajah Baru Wisata Seoul: Bukan Sekadar Lihat Ikon, tetapi Menyatu dengan Ritme Warga

Festival Jalan Kaki di Namsan Tunjukkan Wajah Baru Wisata Seoul: Bukan Sekadar Lihat Ikon, tetapi Menyatu dengan Ritme W

Namsan di tengah musim panas: ruang publik yang mempertemukan warga dan wisatawan

Seoul kembali memperlihatkan bagaimana sebuah kota besar bisa menjadikan ruang hijaunya sebagai panggung kehidupan urban yang hidup, inklusif, dan relevan bagi pariwisata masa kini. Pada Minggu pagi, 27 Juli, Wali Kota Seoul Oh Se-hoon menghadiri gelaran “2026 Namsan Summer Festival” di Baekbeom Square, kawasan Namsan, Distrik Jung, dan ikut melakukan peregangan massal serta berjalan bersama sekitar seribu warga dalam program “Namsan Fun & Walk”. Secara kasat mata, ini mungkin terlihat seperti acara jalan sehat yang sederhana. Namun jika dibaca lebih jauh, peristiwa ini menyimpan pesan penting tentang arah pengembangan kota Seoul: wisata tidak lagi semata soal mendatangi landmark, berbelanja, atau berfoto di tempat terkenal, melainkan juga mengalami langsung ritme hidup kota bersama warganya.

Bagi pembaca Indonesia, gambaran ini mungkin terasa dekat. Kita juga mengenal ruang publik yang menjadi titik temu antara aktivitas warga dan daya tarik wisata, mulai dari kawasan Sudirman saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor di Jakarta, Alun-alun Bandung yang selalu ramai, hingga Malioboro yang tidak hanya dikunjungi turis tetapi juga menjadi bagian dari keseharian warga Yogyakarta. Bedanya, Seoul tampak semakin sistematis mengemas ruang semacam itu menjadi pengalaman kota yang terencana, konsisten, dan terhubung dengan strategi pariwisata jangka panjang.

Namsan sendiri bukan nama asing bagi penggemar budaya Korea. Bukit atau gunung kecil di tengah Seoul ini dikenal luas karena menjadi lokasi Menara N Seoul, pemandangan kota dari ketinggian, jalur pejalan kaki, hingga citra romantis yang sering muncul dalam drama Korea. Namun peran Namsan sesungguhnya jauh lebih kompleks daripada sekadar latar foto. Ia adalah ruang hijau di pusat kota, tempat warga berolahraga, berjalan santai, beristirahat, dan menghabiskan waktu di sela kepadatan kawasan komersial Seoul. Ketika seribu orang berkumpul untuk peregangan bersama dan berjalan kaki di sana, yang tampil bukan hanya festival, melainkan potret kota yang sedang mendefinisikan ulang apa arti wisata urban.

Lokasi acara di Baekbeom Square juga punya makna tersendiri. Kawasan ini mudah dijangkau dari pusat kota, dekat dengan jaringan transportasi umum, dan secara simbolis menunjukkan bahwa pengalaman kota yang berkualitas tidak selalu harus dibangun dengan fasilitas raksasa atau perjalanan jauh ke pinggiran. Di Seoul, pengalaman itu bisa muncul dari ruang publik yang berada di jantung kota. Ini adalah pelajaran menarik bagi banyak kota di Asia, termasuk di Indonesia, bahwa daya tarik wisata dapat tumbuh dari kualitas trotoar, akses transportasi, kenyamanan plaza, dan kemampuan sebuah kota membuat warganya betah berada di ruang bersama.

Dari wisata “melihat” menjadi wisata “ikut merasakan”

Salah satu hal paling menarik dari festival ini adalah bagaimana ia merepresentasikan pergeseran cara orang menikmati kota. Selama bertahun-tahun, banyak kota besar di dunia menjual pariwisata lewat daftar tempat yang wajib dilihat: gedung ikonik, pasar terkenal, museum utama, kawasan belanja, atau tempat kuliner populer. Dalam model itu, wisatawan bergerak cepat dari satu titik ke titik lain, seolah sedang menuntaskan daftar. Namun acara seperti “Namsan Fun & Walk” menunjukkan pendekatan yang berbeda. Pengalaman kota tidak berhenti pada aktivitas melihat, tetapi bergeser menjadi ikut merasakan.

Berjalan kaki bersama warga lokal, berhenti sejenak di ruang hijau, mengamati bagaimana orang Seoul menghabiskan pagi musim panas, semua itu menawarkan bentuk kedekatan yang lebih dalam terhadap sebuah kota. Inilah yang membuat acara semacam ini relevan bagi wisatawan asing, termasuk turis Indonesia yang berkunjung ke Korea Selatan. Banyak pelancong kini mencari pengalaman yang lebih personal dan lebih lambat, bukan hanya foto di lokasi populer. Mereka ingin tahu bagaimana sebuah kota bernapas. Namsan memberi gambaran itu: Seoul bukan hanya kota mal, kosmetik, K-pop, dan istana kerajaan, tetapi juga kota yang menyediakan ruang bagi jalan santai, istirahat, dan relasi yang sehat antara manusia dengan ruang publik.

Di Indonesia, tren serupa sebenarnya juga mulai terlihat. Semakin banyak orang saat bepergian tidak hanya mencari pusat belanja atau objek wisata besar, tetapi juga mencari taman kota, area pedestrian, pasar lokal, dan jalur santai yang memberi pengalaman lebih autentik. Karena itu, apa yang dilakukan Seoul lewat festival ini terasa relevan untuk dibaca dari perspektif kita. Kota yang nyaman untuk berjalan bukan cuma lebih ramah bagi warganya, tetapi juga lebih menarik bagi wisatawan.

Nama “Fun & Walk” sendiri menyiratkan upaya membingkai jalan kaki sebagai aktivitas rekreasi yang menyenangkan, bukan rutinitas olahraga yang berat. Ada pesan yang halus tetapi penting di sini: kota dapat dinikmati dengan tubuh yang bergerak perlahan. Dalam konteks pariwisata, ini berarti kota tak perlu selalu dipasarkan melalui sensasi yang besar dan serba cepat. Kadang, kekuatan sebuah destinasi justru terletak pada kesederhanaan yang dikelola dengan baik.

Namsan dan identitas Seoul sebagai kota besar yang tetap menyisakan jeda

Untuk memahami mengapa festival ini penting, kita perlu melihat posisi Namsan dalam geografi dan imajinasi kota Seoul. Seoul adalah ibu kota yang padat, cepat, dan modern. Distrik-distrik komersial, gedung tinggi, jalur kereta bawah tanah, pusat belanja, museum, kawasan budaya, dan lokasi hiburan bertumpuk dalam satu lanskap urban yang sangat aktif. Di tengah dinamika itu, Namsan berfungsi seperti paru-paru sekaligus ruang jeda. Ia memberi kesempatan pada warga dan pengunjung untuk menarik napas tanpa benar-benar keluar dari kota.

Bagi wisatawan Indonesia yang pernah ke Seoul, Namsan sering kali masuk dalam rute perjalanan karena letaknya strategis dan mudah dipadukan dengan destinasi lain seperti Myeongdong, istana-istana kerajaan, atau museum di pusat kota. Namun justru karena berada di lokasi yang sangat sentral, Namsan menjadi contoh menarik tentang bagaimana kota modern dapat mempertahankan akses terhadap ruang hijau. Ini berbeda dengan banyak kota besar yang memisahkan secara tegas area wisata, area bisnis, dan area rekreasi. Di Seoul, batas-batas itu lebih cair.

Dalam banyak drama Korea, Namsan sering tampil sebagai simbol romantisme atau panorama malam hari. Akan tetapi, dalam kehidupan nyata, nilainya sebagai ruang sehari-hari bisa jadi lebih penting. Orang datang bukan hanya untuk pemandangan, tetapi juga untuk berjalan, duduk santai, bercakap-cakap, dan menikmati suasana. Karena itu, festival musim panas yang melibatkan warga dalam jumlah besar sesungguhnya menegaskan fungsi ganda Namsan: ia adalah ikon kota sekaligus bagian dari kebiasaan hidup urban.

Di sinilah letak kekhasan Seoul yang layak dicatat. Banyak ibu kota besar menjual kebesaran bangunan atau kemewahan pusat perbelanjaan. Seoul tentu memiliki semua itu. Namun melalui acara seperti ini, Seoul juga mengirim pesan bahwa kualitas hidup, keberadaan ruang hijau, dan budaya berjalan kaki merupakan bagian dari citra kotanya. Dalam bahasa yang lebih sederhana, Seoul tampaknya ingin dikenal bukan hanya sebagai kota yang sibuk, tetapi juga kota yang memberi ruang untuk pelan-pelan.

Pidato Oh Se-hoon dan jejak kebijakan yang tidak dibangun dalam semalam

Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Seoul Oh Se-hoon mengatakan bahwa melalui proyek aktivasi Namsan yang dijalankan sejak 2009, ruang yang bisa dinikmati warga terus bertambah. Pernyataan ini penting karena menunjukkan bahwa festival yang berlangsung pada 27 Juli bukan acara yang berdiri sendiri. Ia merupakan hasil dari proses panjang kebijakan kota dalam mengelola kawasan Namsan agar makin fungsional, mudah diakses, dan bernilai bagi publik.

Kata kunci yang patut disorot adalah “aktivasi”. Dalam kebijakan perkotaan, ruang hijau tidak otomatis menjadi ruang publik yang hidup hanya karena pohonnya banyak atau lahannya luas. Sebuah taman atau kawasan bukit dalam kota baru benar-benar berguna ketika aksesnya nyaman, rutenya jelas, titik istirahat tersedia, konektivitasnya baik, dan program kegiatannya membuat orang ingin datang kembali. Artinya, yang dibangun bukan hanya fisik, tetapi juga kebiasaan dan kepercayaan publik terhadap ruang tersebut.

Bila ditarik ke konteks Indonesia, pelajaran ini terasa sangat relevan. Kita punya banyak ruang publik yang potensial, tetapi tidak semuanya aktif dan terawat secara konsisten. Kadang yang kurang bukan lahannya, melainkan kesinambungan kebijakan, kualitas pengelolaan, dan keberanian untuk menjadikan ruang hijau sebagai prioritas dalam agenda kota. Seoul lewat Namsan memberi contoh bahwa ruang publik bisa berubah menjadi aset wisata sekaligus aset sosial bila dikelola dengan visi jangka panjang.

Pernyataan Oh juga memperlihatkan cara pemerintah kota membingkai isu ini. Yang ditekankan bukan semata jumlah pengunjung, melainkan bertambahnya ruang yang dapat dinikmati warga. Ini penting, karena kota yang baik biasanya tidak memisahkan kepentingan warga dan turis secara kaku. Justru ketika warga menikmati kotanya sendiri, wisatawan akan melihat kehidupan kota yang lebih otentik. Festival yang melibatkan seribu warga di Namsan pada akhirnya bukan hanya acara pemerintahan, tetapi semacam etalase tentang bagaimana Seoul ingin dilihat: aktif, sehat, terbuka, dan berbasis ruang publik.

Musim panas, jalan kaki, dan perubahan selera wisata perkotaan

Festival musim panas di Namsan juga memperlihatkan bagaimana faktor musim dimanfaatkan sebagai bagian dari pengalaman kota. Di Korea Selatan, musim panas identik dengan suhu tinggi, hari yang panjang, dan aktivitas luar ruang yang meningkat meski cuaca bisa cukup lembap. Menggelar program jalan kaki di ruang hijau pada musim seperti ini bukan sekadar pilihan teknis, melainkan juga cara mengajak orang menikmati kota dengan ritme yang lebih lambat.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak kota di dunia menghadapi perubahan selera wisatawan. Orang mulai menghargai pengalaman yang lebih tenang, lebih berkelanjutan, dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari warga setempat. Taman kota, jalur pejalan kaki, kebun komunitas, pasar lokal, hingga ruang terbuka untuk festival kecil menjadi semakin penting. Wisata tidak lagi identik dengan konsumsi cepat atas banyak tempat, tetapi bisa berarti menghabiskan waktu lebih lama di satu area dan membangun koneksi yang lebih dalam dengan suasana sekitarnya.

Bagi pembaca Indonesia, perubahan ini mudah dipahami. Kita juga menyaksikan bagaimana destinasi yang ramah pejalan kaki dan punya ruang terbuka berkualitas sering meninggalkan kesan lebih kuat daripada tempat yang ramai tetapi melelahkan. Saat orang bepergian, mereka tidak hanya mencari “yang viral”, tetapi juga “yang nyaman”. Namsan menempati titik temu antara keduanya: cukup ikonik untuk menarik wisatawan, cukup akrab untuk dipakai warga sehari-hari.

Jalan kaki dalam konteks Korea juga menarik karena terkait dengan budaya kota yang sangat mengandalkan transportasi publik. Banyak warga Seoul terbiasa berpindah dari satu titik ke titik lain dengan kombinasi kereta bawah tanah, bus, dan berjalan kaki. Karena itu, aktivitas berjalan bukan hal yang asing atau eksklusif. Dalam banyak kasus, berjalan adalah bagian normal dari kehidupan urban. Ketika pengalaman harian semacam itu dikemas menjadi festival, yang muncul adalah bentuk pariwisata yang tidak terasa dibuat-buat.

Ini berbeda dengan pendekatan wisata yang hanya menonjolkan panggung besar atau atraksi spektakuler. Seoul, melalui festival Namsan, seolah ingin mengatakan bahwa pengalaman kota dapat dibangun dari aktivitas yang sangat manusiawi dan sederhana: meregangkan tubuh, berjalan bersama, mengamati sekitar, lalu menikmati ruang hijau di tengah ibu kota. Bagi kota-kota yang ingin menjadi destinasi berkelas dunia, ini adalah pengingat bahwa infrastruktur rasa nyaman sering kali sama pentingnya dengan infrastruktur fisik.

Isyarat menuju Seoul International Garden Show dan perluasan makna ruang hijau

Oh Se-hoon juga menyebut bahwa Seoul akan memperluas ruang hijau dan area istirahat agar warga bisa menikmati kualitas hidup sehari-hari, dengan momentum menuju Seoul International Garden Show yang akan digelar di Namsan tahun depan. Pernyataan ini membuka babak berikutnya dari peran Namsan. Jika festival musim panas menekankan partisipasi warga melalui jalan kaki, maka pameran taman internasional kelak berpotensi memperluas narasi itu ke soal budaya taman, lanskap, dan kualitas lingkungan perkotaan.

Dalam konteks Korea, konsep taman atau “garden” bukan sekadar dekorasi. Ia bisa berkaitan dengan cara kota merawat estetika, ekologi, kenyamanan, dan pengalaman sosial dalam satu kesatuan. Bagi pembaca Indonesia, ini mungkin bisa dibayangkan sebagai gabungan antara taman kota, ruang rekreasi publik, dan pernyataan identitas sebuah kota. Bila dikelola serius, taman bukan hanya tempat singgah, melainkan juga medium pendidikan, wisata, dan peningkatan kualitas hidup.

Penyebutan agenda tahun depan menunjukkan bahwa Seoul tidak melihat Namsan hanya sebagai lokasi acara musiman. Ada upaya menempatkannya dalam strategi yang lebih luas: ruang hijau sebagai elemen inti dari kota yang layak huni sekaligus menarik untuk dikunjungi. Ini penting karena dalam banyak pembahasan pariwisata, ruang hijau sering dianggap pelengkap, bukan pusat cerita. Padahal bagi wisatawan modern, kualitas ruang terbuka bisa sangat menentukan pengalaman bepergian.

Bila Seoul berhasil menghubungkan festival musim panas, budaya berjalan kaki, dan pameran taman internasional dalam satu narasi yang utuh, maka Namsan akan makin kuat sebagai simbol kota yang tidak hanya modern, tetapi juga sadar pentingnya keseimbangan. Dalam persaingan antar-kota global, citra seperti ini sangat berharga. Sebuah kota bisa punya gedung tinggi dan pusat belanja, tetapi belum tentu punya ruang jeda yang benar-benar hidup. Namsan memberi Seoul keunggulan itu.

Mengapa kabar ini penting bagi pembaca Indonesia

Bagi pembaca Indonesia yang mengikuti Hallyu, berita seperti ini mungkin terasa lebih sunyi dibanding kabar comeback idol, drama baru, atau pembukaan destinasi belanja. Namun justru di sinilah nilai beritanya. Gelombang budaya Korea tidak hanya dibangun oleh industri hiburan, tetapi juga oleh cara Korea Selatan memperkenalkan gaya hidup, tata kota, dan pengalaman ruang publik yang membuat orang ingin datang, tinggal lebih lama, dan kembali lagi.

Ketika orang Indonesia bepergian ke Seoul, mereka tentu masih akan mengunjungi istana, kawasan belanja, restoran, atau lokasi syuting drama. Tetapi pengalaman kota yang paling membekas sering kali datang dari momen kecil: berjalan di jalur yang nyaman, duduk di taman yang tertata, melihat warga lokal berolahraga, atau menyadari bahwa sebuah kota besar tetap menyediakan ruang untuk bernapas. Itulah yang ditawarkan Namsan melalui festival ini.

Ada pula pelajaran yang bisa dibawa pulang. Kota yang baik untuk wisatawan biasanya adalah kota yang juga baik untuk warganya sendiri. Jika trotoarnya layak, ruang hijau mudah diakses, transportasi publik terhubung, dan ruang terbuka diprogram dengan kegiatan yang menarik, maka kota tersebut secara alami menjadi lebih atraktif. Dalam hal ini, Seoul menampilkan formula yang tampak sederhana tetapi tidak mudah diwujudkan: menjadikan keseharian warga sebagai bagian dari daya tarik wisata.

Tentu, fakta yang terkonfirmasi dari peristiwa ini tetap terbatas pada kehadiran Oh Se-hoon pada 27 Juli pagi, partisipasi sekitar seribu orang, kegiatan peregangan bersama, berjalan di jalur “Namsan Fun & Walk”, serta pernyataan mengenai aktivasi Namsan sejak 2009 dan rencana perluasan ruang hijau menjelang pameran taman internasional tahun depan. Detail program lanjutan atau bentuk pengelolaan berikutnya masih perlu menunggu pengumuman resmi lebih lanjut. Namun bahkan dalam batas fakta yang tersedia, pesan utamanya sudah cukup jelas.

Festival jalan kaki di Namsan menunjukkan bahwa Seoul sedang menguatkan identitasnya sebagai kota tempat kehidupan sehari-hari bisa menjadi konten wisata. Bukan dalam arti dibuat-buat, melainkan karena keseharian itu sendiri memang menarik ketika ruang publiknya bekerja dengan baik. Di tengah dunia pariwisata yang sering sibuk mengejar hal paling gemerlap, Seoul justru mengingatkan bahwa kadang yang paling berkesan adalah kota yang membuat orang nyaman berjalan kaki, berhenti sejenak, lalu merasa menjadi bagian dari ritmenya.

Source: Original Korean article - Trendy News Korea

댓글

이 블로그의 인기 게시물

Di Balik Konflik HYBE, ADOR, dan Min Hee-jin: Saat NewJeans Menjadi Pusat Perebutan IP, Kreativitas, dan Kuasa di Industri K-pop

Korban yang Tersisa Lima: Saat Korea Selatan Masuk Fase Penentuan dalam Merawat, Mencatat, dan Mengajarkan Sejarah Jugun Ianfu

Korea Selatan Kalah Tipis dari Austria, tetapi PR Sebenarnya Ada di Sepertiga Akhir: Saat Son Heung-min dan Lee Kang-in Belum Cukup