Festival Chimaek Daegu Kembali Digelar Awal Bulan Depan, Ambisi Baru Korea Selatan Menjual Musim Panas Lewat Ayam Goreng dan Bir

Daegu menyalakan lagi mesin festival musim panasnya
Kota Daegu di Korea Selatan bersiap menggelar kembali salah satu festival musim panas paling dikenal di negeri itu, Daegu Chimaek Festival, pada 1 hingga 5 bulan depan di Duryu Park, Distrik Dalseo. Pemerintah Kota Daegu mengumumkan bahwa ajang tahun ini menjadi penyelenggaraan ke-14 sejak pertama kali dimulai pada 2013. Dalam lebih dari satu dekade, festival ini tumbuh dari agenda daerah menjadi perhelatan berskala besar yang rutin menarik lebih dari satu juta pengunjung setiap tahun dan melibatkan berbagai perusahaan ayam goreng serta bir dari Korea Selatan.
Bagi pembaca Indonesia, nama “chimaek” mungkin sudah tidak asing, terutama bagi penggemar drama Korea. Istilah ini adalah gabungan dari kata “chikin” atau ayam goreng, dan “maekju” atau bir. Dalam keseharian masyarakat Korea, chimaek bukan sekadar pasangan menu, melainkan semacam bahasa sosial yang sangat mudah dipahami: santai, ramai, cocok untuk malam musim panas, dan lekat dengan kebiasaan berkumpul selepas kerja atau saat menonton pertandingan. Jika di Indonesia ada budaya makan sate di malam hari, nongkrong sambil minum es teh di kaki lima, atau euforia berburu kuliner di festival Ramadan, maka di Korea chimaek punya kedudukan budaya yang serupa sebagai pengalaman makan bersama yang terasa akrab dan populer.
Tahun ini, Daegu tidak hanya ingin mempertahankan reputasi festival kuliner musim panasnya, tetapi juga mendorong festival tersebut naik kelas. Pemerintah kota menyebut tahun ini sebagai titik awal “lompatan global”, sebuah frasa yang menunjukkan ambisi untuk menjadikan Daegu Chimaek Festival bukan sekadar pesta makan dan minum, melainkan panggung yang menyatukan industri, pariwisata, dan budaya dalam satu paket yang lebih besar. Di tengah semakin ketatnya persaingan antarkota di Korea Selatan untuk menarik wisatawan mancanegara, langkah ini memperlihatkan bagaimana festival lokal kini diposisikan sebagai alat branding kota yang serius.
Di sinilah Daegu menarik untuk dicermati. Selama ini, ketika publik Indonesia memikirkan Korea Selatan, yang paling dulu muncul biasanya Seoul dengan belanja, konser K-pop, dan istana-istananya; Busan dengan laut dan festival film; atau Pulau Jeju sebagai destinasi liburan. Daegu kerap berada di lapis kedua dalam imajinasi wisatawan asing. Namun justru dari festival seperti inilah kota-kota regional Korea mencoba berbicara lebih keras: bahwa pengalaman Korea tidak berhenti di ibu kota, dan bahwa kehidupan musim panas warga lokal juga layak dijadikan daya tarik wisata.
Mengapa chimaek begitu kuat sebagai simbol budaya populer Korea
Kekuatan utama Daegu Chimaek Festival ada pada kesederhanaannya. Ayam goreng dan bir adalah kombinasi yang tidak memerlukan penjelasan rumit. Bahkan bagi orang yang belum pernah berkunjung ke Korea sekali pun, dua elemen ini langsung bisa dibayangkan. Itulah sebabnya chimaek mudah diterjemahkan menjadi bahasa pariwisata global. Ia tidak serumit wisata sejarah, tidak menuntut pengetahuan budaya tingkat tinggi, tetapi tetap mampu menghadirkan pengalaman lokal yang terasa otentik.
Dalam budaya populer Korea, chimaek hadir sangat konsisten. Ia muncul dalam drama, variety show, siaran olahraga, sampai percakapan sehari-hari. Kita bisa mengingat bagaimana banyak drama Korea menjadikan adegan makan ayam goreng sambil minum bir sebagai momen pelepas stres, perayaan kecil, atau ruang untuk obrolan intim antartokoh. Dari situlah chimaek akhirnya menjadi semacam ikon gaya hidup urban Korea. Ia tidak mewah, tetapi justru karena itu mudah diterima. Mirip bagaimana mi instan, kopi susu gula aren, atau ayam geprek di Indonesia berkembang menjadi bagian dari ritme hidup kota, chimaek di Korea punya kedekatan emosional dengan publiknya.
Untuk wisatawan asing, daya tarik ini bertambah kuat karena Korea memang berhasil mengemas makanan sehari-harinya menjadi bagian dari Hallyu. Orang tidak hanya datang untuk melihat lokasi syuting drama atau membeli album idola K-pop, tetapi juga ingin ikut merasakan apa yang dimakan, diminum, dan dirayakan warga setempat. Festival chimaek menawarkan pengalaman itu dalam bentuk yang paling langsung: datang ke ruang terbuka, duduk bersama kerumunan, mencicipi aneka ayam goreng dan bir, lalu menyerap suasana musim panas Korea sebagaimana dirasakan masyarakatnya sendiri.
Bagi pembaca Indonesia, ini menarik karena ada kemiripan pola konsumsi budaya. Kita juga mengenal bagaimana makanan tertentu bisa menjadi identitas suasana. Misalnya, angkringan sering merepresentasikan malam yang santai dan egaliter di Yogyakarta atau Solo. Begitu pula bakso malam, seafood tenda, atau jagung bakar di kawasan pantai yang langsung memunculkan bayangan tempat, cuaca, dan pergaulan. Chimaek bekerja dengan logika yang sama. Karena itu, festival ini sesungguhnya bukan hanya soal makanan, melainkan tentang menjual suasana hidup sebuah kota.
Duryu Park dan pentingnya ruang terbuka dalam festival kota
Lokasi penyelenggaraan festival, Duryu Park di Distrik Dalseo, juga bukan detail yang bisa dianggap kecil. Dalam festival perkotaan, lokasi adalah bagian dari narasi. Ruang terbuka seperti taman kota memberi dua keuntungan sekaligus: kapasitas besar untuk menampung pengunjung dan latar visual yang mendukung pengalaman musim panas. Orang tidak sekadar datang untuk membeli makanan, tetapi untuk berlama-lama, berjalan, bertemu orang, menonton acara, dan merasakan atmosfer kota yang lebih hidup dari biasanya.
Jika dibandingkan dengan konteks Indonesia, kita bisa membayangkan bagaimana ruang publik seperti alun-alun, taman kota, atau kawasan car free day sering berubah fungsi menjadi panggung budaya sementara. Ketika sebuah acara berlangsung di ruang yang mudah diakses dan akrab dengan warga, acara itu cenderung terasa lebih demokratis. Ia tidak eksklusif. Siapa pun bisa datang, bahkan sekadar ingin melihat-lihat suasana. Ini penting dalam festival yang menargetkan jumlah pengunjung besar.
Duryu Park dalam konteks Daegu menjalankan fungsi serupa. Ia menjadi panggung di mana kota menunjukkan dirinya kepada warga lokal sekaligus pengunjung luar daerah dan wisatawan asing. Orang yang datang ke festival pada akhirnya tidak hanya mengingat rasa ayam goreng atau merek bir yang dicoba, tetapi juga mengingat lanskap taman, keramaian malam, pencahayaan acara, musik, cuaca panas musim panas, dan lalu-lalang manusia. Semua elemen itu membentuk memori wisata yang lebih kuat daripada pengalaman makan di restoran tertutup.
Di banyak kota Asia, termasuk di Indonesia, tantangan festival musim panas atau musim kemarau adalah bagaimana mengubah cuaca panas dari hambatan menjadi bagian dari keseruan. Daegu tampaknya paham benar soal ini. Kota tersebut dikenal memiliki musim panas yang cukup terik, sehingga festival chimaek justru diposisikan sebagai cara untuk menikmati, bukan menghindari, panas kota. Logika ini mirip dengan cara banyak kota di Indonesia mengolah kondisi cuaca menjadi identitas acara, misalnya festival pantai, pasar malam, atau pesta kuliner luar ruang yang justru ramai saat langit cerah dan malam terasa panjang.
Dari pesta makan menjadi strategi industri dan pariwisata
Salah satu poin paling penting dari pengumuman tahun ini adalah perubahan arah festival. Pemerintah Kota Daegu menegaskan bahwa festival akan dikelola dengan semangat menggabungkan industri, pariwisata, dan budaya. Artinya, chimaek tidak lagi hanya ditempatkan sebagai hiburan massal, melainkan sebagai ekosistem ekonomi yang bisa mempertemukan perusahaan, wisatawan, dan citra kota dalam satu jalur.
Ini bukan langkah yang mengejutkan bila melihat tren terbaru di Korea Selatan. Banyak pemerintah daerah kini semakin sadar bahwa festival harus punya nilai ekonomi yang terukur. Sekadar ramai belum cukup. Festival yang berhasil adalah festival yang mampu menghadirkan transaksi, promosi industri, pergerakan wisatawan, serta eksposur kota secara berkelanjutan. Karena itu, keterlibatan berbagai perusahaan ayam goreng dan bir dalam Daegu Chimaek Festival sangat strategis. Bagi pelaku industri, festival adalah kesempatan untuk bertemu konsumen secara langsung. Pengalaman mencicipi di lokasi, suasana kerumunan, dan asosiasi emosional dengan acara besar sering kali lebih efektif dibanding promosi digital biasa.
Dari sisi pariwisata, festival semacam ini juga memberi alasan yang sangat jelas untuk datang pada waktu tertentu. Dalam industri wisata, kalender adalah segalanya. Kota yang memiliki agenda tahunan kuat akan lebih mudah masuk ke rencana perjalanan wisatawan. Orang tidak lagi bertanya, “Apa yang bisa dilakukan di Daegu?” melainkan “Kapan waktu terbaik pergi ke Daegu?” dan festival menjadi jawabannya. Ini penting terutama bagi kota-kota yang tidak selalu berada di daftar teratas wisatawan asing.
Bagi Indonesia, pendekatan ini sebenarnya bukan hal asing. Banyak daerah juga berusaha mengangkat festival lokal menjadi motor ekonomi, entah lewat kuliner, musik, kerajinan, atau tradisi. Bedanya, Korea Selatan cenderung sangat sistematis dalam menghubungkan festival dengan citra nasional dan arus wisata internasional. Daegu Chimaek Festival memperlihatkan model tersebut dengan cukup jelas: produk yang sederhana, branding yang kuat, dan target pasar yang luas.
Ambisi “lompatan global” yang diusung Daegu tahun ini pada dasarnya menunjukkan bahwa kota itu ingin memperluas pembacaan atas festivalnya. Chimaek ingin dibaca bukan hanya sebagai kesukaan warga Korea, tetapi sebagai konten wisata dunia yang mudah dipahami. Dalam era media sosial dan video pendek, kombinasi ayam goreng, bir, panggung acara, kerumunan besar, dan suasana taman malam memang punya semua elemen visual yang diperlukan untuk menyebar cepat lintas negara.
Kekuatan festival yang berulang: 14 tahun membangun kebiasaan publik
Penyelenggaraan ke-14 juga layak diberi perhatian khusus. Dalam dunia festival, umur panjang adalah modal reputasi. Acara yang bertahan lebih dari satu dekade menandakan adanya dua hal: dukungan publik dan kemampuan organisasi untuk terus menyesuaikan diri. Daegu Chimaek Festival yang dimulai pada 2013 dan terus menarik lebih dari satu juta pengunjung setiap tahun telah melewati fase uji coba. Ia bukan lagi eksperimen, melainkan tradisi modern yang ditunggu-tunggu.
Pengulangan tahunan seperti ini sangat penting dalam membentuk kebiasaan wisata. Ketika sebuah festival selalu hadir pada musim yang sama, publik akan mulai mengaitkan kota tersebut dengan momen tertentu. Dalam kasus Daegu, musim panas dan chimaek menjadi dua kata yang saling menguatkan. Itulah yang dalam bahasa branding disebut sebagai asosiasi yang tertanam. Begitu orang mendengar Daegu, ada peluang besar mereka langsung mengingat festival ayam dan bir. Dalam jangka panjang, asosiasi semacam ini jauh lebih berharga daripada promosi sesaat.
Kita bisa melihat paralelnya di Indonesia. Beberapa acara menjadi identitas tempat karena berlangsung berulang dan konsisten, bukan semata karena skalanya besar. Yang diingat publik bukan hanya acaranya, tetapi juga kapan dan di mana acara itu selalu hadir. Konsistensi ini membentuk rasa memiliki. Warga lokal menanti, pelaku usaha bersiap, dan wisatawan mulai memasukkan agenda itu ke rencana perjalanan. Daegu tampaknya telah berhasil menciptakan pola itu melalui festival chimaek.
Tentu, jumlah pengunjung yang besar tidak otomatis berarti kualitas festival selalu sempurna. Namun angka lebih dari satu juta pengunjung tetap penting dibaca sebagai indikator daya tarik yang stabil. Dalam bahasa sederhana, festival ini terbukti mampu mengumpulkan massa, menggerakkan konsumsi, dan menciptakan percakapan publik. Dari sinilah wajar jika pemerintah kota kini merasa percaya diri untuk mendorong level berikutnya: internasionalisasi.
Pada tahap ini, pertanyaan yang paling menarik bukan lagi apakah festival ini populer, melainkan bagaimana Daegu mengelola popularitas itu agar menghasilkan citra kota yang lebih kuat. Sebab dalam persaingan pariwisata modern, festival yang sukses tidak cukup hanya ramai. Ia harus meninggalkan kesan yang jelas tentang siapa kota itu, bagaimana ia ingin dikenal, dan pengalaman apa yang membedakannya dari kota lain.
Apa arti festival ini bagi gelombang Hallyu dan wisatawan Indonesia
Bagi publik Indonesia yang mengikuti Hallyu, Daegu Chimaek Festival menawarkan pintu masuk yang berbeda dari jalur yang selama ini dominan. Banyak orang mengenal Korea melalui drama, musik, fashion, atau produk kecantikan. Namun festival daerah seperti ini mengajak wisatawan masuk ke sisi lain: kehidupan musiman warga Korea yang nyata, ramai, dan tidak selalu berpusat pada selebritas. Justru di situ letak daya tariknya. Pengalaman ini terasa lebih membumi.
Dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata Hallyu memang berkembang. Awalnya banyak perjalanan bertumpu pada lokasi syuting drama, konser K-pop, atau belanja barang resmi artis. Kini spektrumnya semakin luas: orang datang untuk kursus singkat bahasa Korea, wisata kuliner, pengalaman hanbok, hingga festival musiman. Daegu Chimaek Festival masuk ke kategori terakhir, tetapi dengan satu kelebihan penting: sangat mudah diakses secara emosional. Tidak perlu menjadi penggemar berat K-pop untuk menikmatinya.
Bagi wisatawan Indonesia, ada juga aspek adaptasi budaya yang perlu dipahami. Di Korea Selatan, konsumsi bir merupakan bagian lazim dari budaya makan bersama orang dewasa, terutama dalam konteks festival musim panas. Karena itu, pengalaman chimaek di sana memang lekat dengan suasana menikmati ayam goreng sambil minum bir di ruang terbuka. Namun esensi festival ini sebenarnya lebih luas dari sekadar minumannya. Yang dijual adalah suasana berkumpul, energi kota, dan rasa ikut hadir dalam momen musiman masyarakat Korea. Bagi wisatawan yang tidak mengonsumsi alkohol, daya tarik festival tetap bisa dibaca dari sisi kuliner, tontonan, dan pengalaman budaya kota.
Yang juga membuat festival ini relevan untuk pembaca Indonesia adalah kemampuannya menjelaskan Korea di luar gambaran glamor Seoul. Dalam peta budaya Hallyu, kota-kota regional semakin penting. Mereka menjadi wajah lain Korea yang lebih dekat dengan keseharian. Daegu, melalui festival chimaek, sedang berusaha memanfaatkan momen itu. Jika strategi ini berhasil, bukan tidak mungkin kota-kota lain di Korea akan semakin agresif mendorong festival lokal sebagai produk wisata global.
Di media sosial, potensi festival seperti ini juga sangat besar. Visual ayam goreng renyah, gelas bir dingin, lampu panggung, kerumunan malam, dan taman kota yang penuh pengunjung adalah kombinasi yang mudah viral. Untuk generasi wisatawan muda Indonesia yang kerap menyusun itinerary berdasarkan apa yang terlihat menarik di TikTok, Instagram, atau YouTube, Daegu Chimaek Festival punya paket yang sangat kompetitif. Ia fotogenik, mudah dicerna, dan terasa “Korea banget” tanpa harus terlalu formal.
Ujian berikutnya bagi Daegu: dari ramai menjadi berkesan
Meski demikian, ambisi global selalu membawa tantangan tersendiri. Ketika sebuah festival ingin memperluas jangkauan internasional, yang diuji bukan hanya kapasitas penyelenggaraan, tetapi juga kemampuan menyampaikan identitas yang jelas. Daegu sudah memiliki fondasi kuat: festival mapan, jumlah pengunjung besar, dan konsep yang sederhana tetapi efektif. Tantangan berikutnya adalah bagaimana semua itu diterjemahkan menjadi pengalaman yang benar-benar berkesan bagi pengunjung luar negeri.
Dalam konteks ini, arah yang diambil Daegu masuk akal. Penggabungan industri, wisata, dan budaya memberi kerangka yang lebih kokoh dibanding sekadar acara makan-makan. Industri memberi keberlanjutan ekonomi, wisata memberi arus pengunjung, dan budaya memberi makna. Jika tiga unsur ini berjalan seimbang, festival dapat berkembang menjadi identitas kota, bukan hanya agenda tahunan.
Sampai saat ini, informasi yang diumumkan pemerintah kota masih berada pada level jadwal, lokasi, skala, dan arah umum festival. Rincian program belum dijelaskan dalam bahan yang tersedia. Karena itu, pembacaan yang paling akurat untuk saat ini adalah melihat festival ini sebagai pernyataan strategi: Daegu sedang menyiapkan dirinya untuk berbicara kepada audiens yang lebih luas, termasuk wisatawan internasional yang mungkin sebelumnya tidak menjadikan kota ini sebagai tujuan utama.
Bila dibaca dari kacamata pembaca Indonesia, langkah Daegu terasa relevan dengan perkembangan pariwisata Asia saat ini. Kota-kota tidak lagi cukup mengandalkan objek wisata tetap. Mereka perlu menciptakan momentum, kalender, dan pengalaman yang bisa membuat orang sengaja datang pada waktu tertentu. Daegu Chimaek Festival adalah contoh bagaimana sebuah kota memakai hal yang sangat sehari-hari—ayam goreng dan bir—untuk membangun narasi besar tentang musim panas, kebersamaan, dan identitas lokal.
Pada akhirnya, daya tarik utama festival ini justru terletak pada kesederhanaannya. Tidak semua pengalaman wisata harus megah atau eksotis. Kadang yang paling kuat justru momen yang terasa dekat dengan kehidupan: duduk di taman, makan bersama, mendengar riuh orang banyak, dan merasakan denyut kota pada musim tertentu. Itulah yang sedang dijual Daegu kepada dunia melalui chimaek. Dan untuk publik Indonesia yang selama ini mengenal Korea lewat layar kaca, festival ini menawarkan satu kemungkinan baru: melihat Korea bukan hanya sebagai panggung hiburan, tetapi sebagai ruang hidup yang dirayakan lewat kebiasaan paling sederhana.
Ketika festival ini dibuka pada 1 hingga 5 bulan depan, yang dipertaruhkan bukan hanya jumlah porsi ayam atau gelas bir yang terjual. Yang sedang diuji adalah seberapa jauh Daegu bisa mengubah festival lokal menjadi bahasa wisata global yang efektif. Jika berhasil, chimaek akan semakin kukuh bukan cuma sebagai istilah populer Korea, melainkan juga sebagai simbol bagaimana sebuah kota mengemas budaya sehari-hari menjadi magnet internasional.
댓글
댓글 쓰기