Di Antara Pesona dan Kekerasan, Dokumenter ‘Goreokui Ohu’ Mengajak Penonton Menatap Ulang Apa yang Disebut Tradisi

Ketika dokumenter tidak menawarkan jawaban mudah
Di tengah arus berita film internasional yang biasanya didominasi nama besar, festival, atau rekor box office, muncul satu judul yang justru memancing perbincangan karena tema dan cara pandangnya yang tidak nyaman sekaligus sulit diabaikan. Film dokumenter Korea-berita ini adalah Goreokui Ohu atau Afternoons of Solitude, sebuah karya yang menyorot dunia adu banteng Spanyol secara sangat dekat, sangat fisikal, dan sangat jujur. Film ini mengikuti sosok matador kelas dunia, Andres Roca Rey, bukan sekadar sebagai bintang arena, melainkan sebagai manusia yang berdiri tepat di titik pertemuan antara daya tarik pertunjukan, tradisi panjang, ketenaran publik, dan kekerasan yang nyata.
Bagi pembaca Indonesia, adu banteng mungkin lebih sering hadir sebagai pengetahuan umum dari film, serial, atau buku sejarah Eropa ketimbang pengalaman budaya yang dekat sehari-hari. Karena itu, film ini menarik bukan hanya karena ia membuka jendela ke tradisi Spanyol yang sudah berusia ratusan tahun, tetapi juga karena ia memaksa penonton bertanya: ketika sesuatu disebut budaya, sejauh mana kita siap menerima sisi kelamnya? Pertanyaan seperti ini sebenarnya tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Kita juga berkali-kali berdebat soal batas antara tradisi, hiburan, ritual, dan etika modern. Bedanya, dalam kasus Goreokui Ohu, perdebatan itu tidak diucapkan dengan ceramah panjang. Ia hadir lewat napas, tatapan, darah, sorak penonton, dan tubuh yang saling berhadapan di pasir arena.
Yang membuat film ini menonjol adalah keberaniannya untuk tidak buru-buru memihak dalam bentuk slogan. Ia tidak tampil sebagai film promosi adu banteng, tetapi juga tidak dibangun sebagai pamflet anti-tradisi yang menyelesaikan semuanya dalam satu kalimat moral. Sikap semacam ini justru membuat film terasa lebih menggugah. Penonton tidak diberi jarak aman untuk menilai dari luar. Mereka ditarik masuk, diajak melihat betapa megah sekaligus brutalnya sebuah pertunjukan yang oleh sebagian orang dianggap warisan budaya, tetapi oleh sebagian lain dilihat sebagai bentuk kekerasan terhadap hewan yang tak lagi bisa dibenarkan.
Dalam lanskap perfilman dokumenter global hari ini, pendekatan seperti itu penting. Kita hidup di era ketika banyak tayangan saling berebut perhatian dengan emosi instan: marah secepat mungkin, kagum secepat mungkin, lalu pindah ke topik lain. Goreokui Ohu tampaknya bergerak sebaliknya. Ia ingin penonton tinggal lebih lama di wilayah yang abu-abu, wilayah yang membuat kita tidak nyaman justru karena kita tidak bisa langsung mengategorikannya sebagai indah atau kejam saja.
Adu banteng: tradisi tua yang terus diperdebatkan
Untuk memahami mengapa film ini terasa mengguncang, penting terlebih dahulu memahami konteks adu banteng atau corrida de toros di Spanyol. Dalam tradisi ini, matador menghadapi banteng di arena dengan rangkaian tahapan yang sudah lama dibakukan sebagai pertunjukan publik. Bagi pendukungnya, adu banteng bukan sekadar hiburan. Ia dianggap sebagai seni, ritual, simbol keberanian, bahkan bagian dari identitas budaya nasional dan regional. Kostum matador yang rumit, gerak tubuh yang presisi, tata urutan pertunjukan, serta relasi antara manusia, hewan, dan kerumunan penonton selama ini dibingkai sebagai bentuk estetika tersendiri.
Namun di balik kemegahan itu, kritik terhadap adu banteng juga tidak pernah reda. Penolakan paling kuat datang dari kelompok pegiat hak-hak hewan dan mereka yang menilai bahwa tidak ada tradisi yang bisa menjadi alasan untuk mempertontonkan penderitaan hewan. Banteng dalam pertunjukan ini tidak sekadar diajak berkejaran atau diuji kekuatannya. Ia dilukai, diprovokasi, dilemahkan, lalu pada akhirnya diarahkan menuju kematian. Bagi banyak orang, fakta itu cukup untuk menutup ruang romantisasi. Dalam sudut pandang ini, adu banteng tidak lagi dapat dibaca sebagai budaya luhur, melainkan sebagai warisan lama yang harus ditinggalkan.
Perdebatan seperti ini terasa akrab bagi pembaca Indonesia, meskipun objeknya berbeda. Di Indonesia, pembicaraan soal budaya juga kerap berhadapan dengan pertanyaan etika baru: apakah semua yang diwariskan masa lalu harus dipertahankan? Bagaimana bila suatu praktik dianggap sakral oleh satu kelompok, tetapi dipandang problematis oleh kelompok lain? Kita pernah melihat perdebatan serupa dalam diskusi soal pertunjukan tradisi, perlakuan terhadap hewan dalam acara tertentu, hingga cara industri hiburan membungkus sesuatu yang sensasional sebagai “bagian dari kebudayaan”. Karena itu, film tentang adu banteng ini sebenarnya berbicara tentang isu yang lebih luas daripada Spanyol semata. Ia menyentuh persoalan universal: ketika warisan budaya bertemu perubahan moral zaman.
Yang menarik, Goreokui Ohu tidak menjelaskan semuanya dengan gaya ensiklopedis. Ia tidak sibuk memberi definisi panjang tentang sejarah adu banteng. Justru lewat pengamatan langsung terhadap arena, film ini memperlihatkan mengapa tradisi itu bisa tampak memesona bagi sebagian orang. Ada tata gerak, ada aura ketenaran, ada suasana kolektif yang membakar emosi. Tapi pada saat bersamaan, film juga tidak menutupi harga yang harus dibayar oleh hewan yang dijadikan pusat pertunjukan. Di sinilah kekuatan utamanya: penonton dipaksa merasakan dua hal yang bertolak belakang pada saat yang sama.
Andres Roca Rey, bintang arena yang tidak dipoles menjadi pahlawan tunggal
Di pusat film ini berdiri Andres Roca Rey, salah satu nama besar dalam dunia adu banteng kontemporer. Kamera mengikuti dirinya dengan intens: dari proses persiapan, perjalanan menuju arena, interaksi dengan tim, sampai pertemuannya dengan penggemar. Sekilas, struktur seperti ini bisa mengingatkan kita pada film dokumenter olahraga atau potret selebritas, di mana tokoh utama disusun sedemikian rupa agar tampak heroik. Tetapi dari informasi yang beredar tentang film ini, pendekatan sutradara justru lebih rumit daripada sekadar membangun citra seorang juara.
Roca Rey memang ditampilkan sebagai figur publik. Ada momen ketika ia berfoto dengan penggemar, ada aura bintang yang melekat pada dirinya, dan ada kesan bahwa ia adalah tokoh yang dinanti-nantikan seperti artis besar sebelum naik panggung. Pembaca Indonesia mungkin bisa membayangkan semacam gabungan antara atlet elite, selebritas, dan pelaku ritual yang semua ekspektasinya dibebankan ke satu tubuh. Namun film ini tidak berhenti di lapisan glamor itu. Ia juga menangkap wajah yang tegang, tubuh yang harus dipersiapkan dengan disiplin, serta pakaian matador yang rumit dan tak mudah dikenakan sendirian. Detail seperti ini penting karena menunjukkan bahwa figur yang sering dipuja publik itu sesungguhnya masuk ke arena melalui proses yang penuh tekanan.
Kamera kemudian membawa penonton pada paradoks terbesar dari seorang matador: ia adalah subjek yang aktif, yang mengendalikan pertunjukan, tetapi sekaligus tubuh yang terus-menerus berada dalam bahaya. Dalam banyak budaya populer, figur yang dekat dengan risiko sering mudah diberi aura kepahlawanan. Namun film ini tampaknya tidak menyerah pada pola sesederhana itu. Roca Rey tidak diangkat menjadi sosok suci yang kebal kritik. Sebaliknya, ia hadir sebagai manusia yang karismatik sekaligus terjerat dalam sistem kekerasan yang membuat ketenarannya mungkin.
Inilah lapisan yang menjadikan film tersebut relevan bagi pembaca Indonesia yang terbiasa melihat bagaimana industri hiburan membentuk citra tokoh. Di layar, publik sering diajak mengagumi keberanian, kerja keras, dan karisma seseorang, tanpa selalu diajak memikirkan struktur di belakangnya. Goreokui Ohu tampaknya membongkar hal itu. Ia tidak menolak bahwa ada keterampilan, disiplin, dan daya pikat pada diri Roca Rey. Tetapi film juga tidak membiarkan pesona itu menutupi kenyataan bahwa seluruh pertunjukan bertumpu pada konfrontasi yang berujung luka dan kematian.
Kedekatan kamera yang mengubah tontonan menjadi pengalaman fisik
Salah satu elemen yang paling banyak dibicarakan dari film ini adalah cara pengambilan gambar dan tata suaranya. Sutradara disebut memasang mikrofon nirkabel atau pin microphone pada tokoh-tokoh di sekitar arena sehingga penonton tidak hanya mendengar kata-kata, tetapi juga napas, gerak kecil, hingga atmosfer yang biasanya hilang dalam dokumentasi dari kejauhan. Pilihan teknis ini terdengar sederhana, tetapi dampaknya besar. Adu banteng tidak lagi hadir sebagai postcard eksotis dari Eropa Selatan. Ia berubah menjadi ruang yang terasa sempit, panas, berdebu, dan menegangkan.
Penggunaan bingkai yang rapat juga memperkuat pengalaman itu. Ketika banteng dan matador ditempatkan sangat dekat dalam layar, penonton tidak punya banyak ruang untuk bersembunyi. Kita diajak menyaksikan gerak yang nyaris saling menyentuh, dentuman tubuh banteng terhadap pasir, serta risiko yang mengintai dalam hitungan detik. Dalam bahasa sinema, kedekatan semacam ini mudah menghasilkan sensasi. Tetapi di tangan sutradara yang cermat, sensasi itu tidak semata dibuat agar penonton bersorak. Justru karena jaraknya sangat dekat, jejak kekerasan menjadi sulit disangkal.
Bagi penonton Indonesia yang terbiasa dengan tayangan dokumenter televisi yang kadang terasa informatif tetapi dingin, pendekatan ini menawarkan pengalaman yang berbeda. Film ini tidak menjelaskan adu banteng seperti guru di depan kelas. Ia menanamkan pengetahuan lewat tubuh. Penonton diajak memahami ketegangan bukan dari narasi verbal, melainkan dari ritme pernapasan, jeda sebelum gerakan, dan perubahan ekspresi di wajah orang-orang yang terlibat. Ini membuat film bekerja nyaris seperti pengalaman langsung, meskipun tetap berada dalam kerangka dokumenter.
Pada titik ini, pertanyaan etis menjadi semakin kuat. Bila kamera mampu membuat sesuatu yang keras dan berbahaya tampak begitu memikat, apakah penonton sedang diajak memahami realitas atau justru ikut menikmati kekerasan sebagai tontonan? Film ini tampaknya sadar betul akan jebakan tersebut. Karena itu, kedekatan visual yang memunculkan daya tarik tidak dibiarkan menjadi pesta estetika belaka. Setiap kali penonton mungkin terhanyut oleh keahlian dan ketegangan, kenyataan tentang tubuh banteng yang terluka datang menghantam kembali.
Saat darah tidak disensor, penonton dipaksa berhadapan dengan harga sebuah pertunjukan
Bagian paling sulit dari film ini tentu terletak pada keberaniannya menampilkan kekerasan tanpa tirai pengaman. Dari ringkasan yang beredar, film memperlihatkan proses banteng dilukai, darah yang mengalir di tubuh hewan, hingga momen-momen yang mengarah pada kematian. Dalam banyak film lain, adegan seperti ini bisa dipotong pendek, disamarkan, atau digantikan dengan simbol agar penonton tidak terlalu terguncang. Goreokui Ohu justru memilih untuk tidak menutupi konsekuensi dari apa yang selama ini disebut tradisi dan tontonan.
Keputusan ini penting karena ia mengubah posisi penonton. Saat kekerasan hanya dibicarakan sebagai konsep, banyak orang masih bisa mengambil jarak moral yang nyaman. Tetapi ketika darah terlihat, ketika tubuh hewan yang menjadi pusat pertunjukan tidak lagi bisa dianggap aksesori visual, kita dipaksa bertanya lebih serius tentang apa yang sedang kita saksikan. Film ini tampaknya tidak ingin penonton keluar dari bioskop dengan kesan, “Itu budaya mereka, jadi biarkan saja.” Ia justru menguji apakah dalih budaya masih terdengar cukup ketika realitas fisiknya diperlihatkan tanpa banyak kosmetik.
Citra Roca Rey yang berlumur darah, misalnya, dapat dibaca dalam dua cara sekaligus. Di satu sisi, itu adalah citra intens tentang seorang pelaku pertunjukan yang masuk total ke dalam pekerjaannya, mengambil risiko, dan mempertaruhkan tubuhnya. Di sisi lain, itu adalah gambar yang mengingatkan bahwa daya pikat tersebut lahir dari hubungan yang tidak bersih, tidak netral, dan tidak bebas dari korban. Estetika film tidak menghapus persoalan etis; ia justru membuat persoalan etis itu semakin tajam.
Ada satu detail lain yang sangat kuat secara emosional: sorot mata banteng sebelum memasuki arena. Dalam banyak narasi tradisional, hewan sering mudah larut menjadi simbol, objek, atau bagian dari properti panggung. Film ini, setidaknya dari uraian yang tersedia, menolak menghapus keberadaan banteng sebagai makhluk hidup yang mengalami sesuatu. Itu sebabnya kesan yang tertinggal bukan hanya soal keberanian matador atau riuh penonton, tetapi juga tentang makhluk yang nasibnya telah ditentukan sejak awal. Dalam dunia media yang kerap menyanjung visual spektakuler, keputusan untuk mempertahankan ingatan penonton pada mata hewan itu terasa sangat signifikan.
Albert Serra dan pilihan untuk mengamati, bukan menggurui
Film ini disutradarai oleh Albert Serra, sineas Spanyol yang dikenal memiliki gaya khas dan ketertarikan pada pendekatan artistik yang tidak selalu mudah ditebak. Dalam proyek ini, Serra disebut mengikuti Roca Rey selama sekitar dua tahun. Bagi dunia dokumenter, rentang waktu seperti itu bukan sekadar angka. Ia menandakan kesabaran, kedalaman observasi, dan keinginan untuk memahami subjek lebih dari permukaan. Dengan waktu sepanjang itu, yang tertangkap bukan hanya momen dramatis, tetapi juga pola, ritual, pengulangan, dan kelelahan yang perlahan membentuk makna.
Pendekatan observasional semacam ini membuat film memiliki bobot yang berbeda dibanding laporan singkat atau rekaman satu peristiwa. Serra tidak datang seperti turis yang terpukau oleh keanehan budaya asing, lalu pulang dengan beberapa gambar eksotis. Ia masuk ke dalam ritme dunia itu, tinggal cukup lama untuk melihat bagaimana adu banteng dibangun oleh kebiasaan, tubuh, fanatisme, serta struktur sosial yang menopangnya. Hasilnya, film bisa menangkap lapisan yang saling bertumpuk: pertunjukan, profesi, ritual, industri citra, dan kekerasan.
Bagi pembaca Indonesia, cara Serra bekerja ini layak dicatat karena mengingatkan kita pada fungsi jurnalistik dan dokumenter yang terbaik: bukan sekadar menyimpulkan paling cepat, melainkan melihat cukup lama agar kenyataan memperlihatkan kerumitannya sendiri. Dalam ruang publik yang makin bising, karya seperti ini terasa penting. Ia menolak godaan untuk mengubah persoalan rumit menjadi slogan yang enak dibagikan, tetapi miskin pemahaman.
Ini bukan berarti film bersikap netral secara kosong. Justru dengan menunjukkan realitas secara telanjang, film mengambil sikap yang kuat. Hanya saja sikap itu tidak disampaikan lewat khotbah. Ia disampaikan lewat pilihan sinematik: dekat pada tubuh, setia pada durasi, jujur pada kekerasan, dan cukup sabar untuk membiarkan penonton berpikir sendiri. Dalam banyak kasus, metode seperti ini justru lebih mengguncang daripada film yang sejak awal sibuk memberi tahu mana yang harus dirasakan.
Mengapa kisah ini relevan bagi pembaca Indonesia
Sekilas, cerita tentang adu banteng Spanyol mungkin terasa jauh dari keseharian pembaca Indonesia. Namun justru karena jaraknya jauh, film ini memberi cermin yang menarik. Ia membantu kita melihat bahwa pertarungan antara tradisi dan etika modern bukan milik satu negara. Di mana pun, masyarakat akan terus berhadapan dengan pertanyaan serupa: apakah sesuatu patut dipertahankan hanya karena sudah lama ada? Apakah daya tarik artistik dapat membebaskan sebuah praktik dari penilaian moral? Bagaimana publik seharusnya bersikap ketika suatu pertunjukan membuat kita kagum sekaligus ngeri?
Pertanyaan itu dekat dengan pengalaman Indonesia sebagai masyarakat yang sangat kaya tradisi, tetapi juga terus berubah oleh arus global, media digital, dan kepekaan generasi baru. Kita tahu betul bahwa kebudayaan bukan benda mati. Ia selalu dinegosiasikan ulang. Karena itu, menyaksikan film seperti Goreokui Ohu sebenarnya juga berarti merenungkan cara kita sendiri memperlakukan tradisi: mana yang kita rayakan, mana yang kita kritisi, dan bagaimana kita membedakan antara pelestarian budaya dengan pembiaran terhadap praktik yang problematis.
Di sisi lain, film ini juga relevan karena memperlihatkan kemampuan dokumenter untuk menjadi pengalaman sinematik yang kuat. Selama ini, sebagian penonton Indonesia mungkin masih melihat dokumenter sebagai genre yang berat, terlalu informatif, atau hanya cocok untuk ruang diskusi kampus dan festival. Film ini menunjukkan hal lain: dokumenter juga bisa punya ketegangan setara film fiksi, punya daya tarik visual yang besar, dan tetap menyimpan kedalaman refleksi. Dalam konteks konsumsi budaya hari ini, ketika publik semakin terbuka pada film lintas negara dan lintas bentuk, kehadiran karya semacam ini bisa memperluas selera sekaligus memperkaya percakapan.
Yang paling penting, film ini mengingatkan bahwa menjadi penonton bukanlah posisi yang netral. Setiap tontonan menuntut sikap. Saat kita menikmati gambar yang indah, ada baiknya kita juga bertanya: indah bagi siapa, dan dengan biaya apa? Itu pertanyaan yang relevan bukan cuma untuk adu banteng, tetapi juga untuk banyak bentuk hiburan modern, termasuk yang setiap hari lewat di gawai kita.
Film yang mungkin tidak memberi kenyamanan, tetapi meninggalkan pertanyaan panjang
Pada akhirnya, kekuatan Goreokui Ohu tampaknya terletak pada kemampuannya mempertahankan ketegangan itu sampai akhir: antara kekaguman dan penolakan, antara seni dan kekerasan, antara tradisi dan nurani kontemporer. Ia tidak menawarkan jalan keluar instan. Tidak ada penutup yang merapikan semuanya menjadi satu kesimpulan moral yang menenangkan. Yang tersisa justru adalah pertanyaan yang mungkin terus menempel setelah lampu bioskop menyala kembali.
Apakah sesuatu tetap dapat disebut indah ketika keindahan itu bergantung pada penderitaan makhluk lain? Mengapa manusia berkali-kali tertarik pada pertunjukan yang mendekatkan mereka pada bahaya, darah, dan kematian? Sejauh mana kamera boleh memikat penonton sebelum ia berubah menjadi alat yang menormalisasi kekerasan? Dan ketika sebuah budaya berada di persimpangan antara kebanggaan identitas dan kritik etis, siapa yang berhak menentukan masa depannya?
Justru karena tidak mudah dijawab, pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat film ini penting. Dalam ekosistem hiburan yang sering mengejar kepuasan cepat, karya yang berani menyisakan kegelisahan memiliki nilai tersendiri. Ia tidak memanjakan penonton, tetapi juga tidak meremehkan kecerdasan mereka. Goreokui Ohu tampaknya percaya bahwa penonton sanggup menghadapi kenyataan yang rumit: bahwa sesuatu bisa memikat dan melukai pada saat bersamaan, dan bahwa tugas seni kadang bukan menenangkan, melainkan memaksa kita melihat lebih lama.
Bagi pembaca Indonesia, inilah mungkin alasan utama mengapa film ini layak diperhatikan. Bukan semata karena ia berbicara tentang Spanyol, matador terkenal, atau tradisi yang sudah mendunia, melainkan karena ia menyentuh dilema yang sangat manusiawi dan sangat masa kini. Ketika dunia semakin terhubung, kita tidak lagi hanya menjadi penonton budaya lain dari kejauhan. Kita ikut menilai, ikut terpengaruh, dan ikut bertanya tentang nilai-nilai yang ingin kita pertahankan. Dalam konteks itulah, Goreokui Ohu lebih dari sekadar dokumenter tentang adu banteng. Ia adalah ajakan untuk menatap, tanpa berkedip, hubungan rumit antara pesona, kuasa, tubuh, dan kekerasan yang sering bersembunyi di balik kata bernama tradisi.
댓글
댓글 쓰기