BABYMONSTER Buka Tur Dunia Kedua di Seoul, Menjual Gagasan ‘Choom’ sebagai Bahasa Panggung Global

Seoul jadi titik mula, BABYMONSTER pilih panggung yang penuh pernyataan
BABYMONSTER resmi membuka tur dunia keduanya bertajuk CHOOM di Seoul, Korea Selatan, lewat konser tunggal yang digelar di Jamsil Indoor Stadium pada 28 Juni, setelah rangkaian pertunjukan berlangsung selama tiga hari sejak 26 Juni. Bagi penggemar K-pop, nama venue ini bukan tempat yang asing. Jamsil Indoor Stadium termasuk salah satu arena konser penting di Seoul, ruang yang kerap dipakai untuk menandai momen besar seorang artis: mulai dari pembuktian popularitas, penguatan identitas panggung, sampai pelepasan proyek baru ke pasar global.
Dalam konser pembuka ini, BABYMONSTER tidak sekadar datang dengan daftar lagu dan koreografi rapi. Mereka membawa satu ide besar: menjadikan “choom” atau “tari” sebagai pusat narasi pertunjukan. Bukan hanya judul tur, bukan pula semata nama lagu utama, melainkan semacam manifesto artistik. Di tengah suhu musim panas Seoul yang dikabarkan melampaui 30 derajat Celsius, grup ini tampil dengan energi yang justru membuat suasana arena terasa lebih panas lagi. Sorak penonton, lampu merah yang mendominasi panggung, dan dentuman band hidup membentuk atmosfer yang lebih dekat dengan konser berintensitas tinggi ketimbang pertunjukan idol yang hanya mengandalkan visual mengilap.
Bagi pembaca Indonesia, momen seperti ini mudah dibayangkan jika disandingkan dengan pengalaman menyaksikan konser besar di Jakarta yang penontonnya sama-sama ekspresif, penuh teriakan fanchant, dan cepat mengabadikan setiap momen ke media sosial. Bedanya, K-pop memiliki bahasa visual yang sangat terencana. Setiap warna lampu, jeda musik, formasi tari, sampai desain panggung diposisikan sebagai bagian dari pesan. Itulah yang tampak dalam konser pembuka tur BABYMONSTER kali ini: mereka ingin publik global membaca grup ini sebagai tim panggung yang hidup dari gerak, tenaga, dan intensitas.
Dalam lanskap K-pop yang sangat kompetitif, pembukaan tur dunia selalu memikul beban simbolik. Konser pertama bukan hanya untuk memuaskan penggemar lokal, tetapi juga untuk menentukan bagaimana tur itu akan dibicarakan oleh penggemar di negara lain. Foto, video pendek, cuplikan fancam, dan ulasan penggemar akan menyebar cepat ke TikTok, X, Instagram, dan komunitas daring. Karena itu, konser pembuka di Seoul pada dasarnya adalah pernyataan resmi BABYMONSTER tentang siapa mereka hari ini dan bagaimana mereka ingin dilihat besok.
Makna “choom”: dari kata Korea menjadi strategi global
Salah satu poin terpenting dari konser ini datang dari penjelasan member Rora. Ia mengatakan bahwa CHOOM memuat ambisi kuat BABYMONSTER untuk menjadikan seluruh dunia sebagai satu “panggung tari” bersama. Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat strategis. Dalam bahasa Korea, kata “춤” dibaca “choom” dan berarti “tari” atau “dance”. Namun dalam budaya pop Korea, maknanya sering meluas. “Choom” bukan hanya gerakan tubuh, melainkan cara sebuah grup menunjukkan disiplin, karakter, sinkronisasi, dan daya pikat visual.
Untuk pembaca Indonesia yang mungkin lebih akrab dengan istilah “koreografi” atau “performance”, konsep “choom” dalam K-pop bisa dipahami sebagai gabungan antara tarian, gestur ekspresif, dan identitas panggung. Ini bukan sekadar gerak pengiring lagu. Dalam K-pop, tarian adalah bahasa yang bisa melintasi negara tanpa perlu diterjemahkan. Di sinilah letak kecerdikan BABYMONSTER. Mereka memakai kata Korea sebagai judul tur, tetapi memilih istilah yang justru mudah dicerna secara internasional karena kekuatannya bersifat visual.
Fenomena ini mirip dengan bagaimana budaya populer Korea selama dua dekade terakhir bekerja di Indonesia. Banyak istilah yang mula-mula terasa asing, namun kemudian menjadi akrab karena terus muncul dalam konteks hiburan yang kuat. Dulu publik belajar memahami istilah seperti “maknae”, “comeback”, “trainee”, atau “fanchant” karena sering menemukannya dalam pemberitaan dan percakapan penggemar. Kini, “choom” berpotensi masuk ke daftar istilah yang dipahami lewat pengalaman menonton, bukan lewat kamus.
Ketika Rora mengatakan bahwa mereka telah berusaha menampilkan performa yang keren sesuai judul lagu “CHOOM”, lalu melempar pertanyaan singkat “keren, kan?”, ia sesungguhnya sedang melakukan sesuatu yang khas dalam konser K-pop: menghapus jarak antara panggung dan penonton. Interaksi seperti ini terdengar ringan, bahkan menggoda, tetapi fungsinya besar. Artis tidak lagi berbicara dari atas panggung sebagai sosok yang jauh, melainkan mengajak penonton mengesahkan keberhasilan pertunjukan saat itu juga. Dalam budaya penggemar K-pop, momen-momen seperti ini sering menjadi potongan yang paling mudah viral karena terasa personal dan spontan.
Panggung bergaya pabrik tua dan band hidup, arah visual yang sengaja dibuat keras
Salah satu kekuatan utama konser pembuka tur ini adalah desain panggungnya. Di atas arena dipasang struktur besar yang mengingatkan pada pabrik terbengkalai, lengkap dengan jalur pipa bertekstur kasar dan dominasi cahaya merah. Ini pilihan visual yang menarik karena sengaja menjauh dari citra “manis” yang dulu sering dilekatkan pada grup perempuan. Alih-alih menyuguhkan kemewahan yang bersih, BABYMONSTER justru menampilkan ruang yang terasa industrial, keras, dan padat energi.
Desain semacam ini penting dibaca sebagai bagian dari identitas. Nama BABYMONSTER sejak awal memang menyimpan dualitas: ada kata “baby” yang memberi kesan muda, segar, dan enerjik; ada pula kata “monster” yang membawa bayangan kekuatan, ledakan, dan agresivitas artistik. Dalam konser ini, unsur “monster” tampak dipertegas. Lampu merah membuat siluet gerakan para anggota terlihat lebih tajam. Pipa-pipa dan set bergaya pabrik memberi kesan bahwa panggung adalah ruang benturan, bukan sekadar latar yang cantik untuk difoto.
Konser dibuka setelah video intro yang imersif, lalu disambut permainan band hidup dengan nuansa tebal yang mengingatkan pada konser rock. Enam member muncul lewat lagu “WE GO UP”, lagu yang sejak awal cocok dipakai sebagai pembuka karena membawa semangat naik, maju, dan menyerbu. Pilihan untuk menonjolkan band hidup patut diperhatikan. Dalam konser idol, kehadiran band bukan sekadar pemanis aransemen, melainkan alat untuk menaikkan tensi dan membuktikan bahwa energi panggung grup ini tidak bergantung pada rekaman latar semata.
Bagi penonton Indonesia, pendekatan ini terasa dekat dengan selera konser yang mengutamakan “rasa live”. Publik lokal sering memberi nilai lebih kepada artis yang terdengar kuat di atas panggung dan mampu menghidupkan suasana lewat band. Karena itu, keputusan BABYMONSTER menekankan tekstur suara yang lebih berat bisa dibaca sebagai langkah yang efektif untuk memperluas daya tarik mereka, termasuk di pasar yang menghargai pengalaman konser secara organik.
Yang membuat tata panggung ini berhasil adalah konsistensinya dengan tema besar “choom”. Semua unsur mengarah ke satu titik: tubuh sebagai pusat pertunjukan. Bukan tubuh yang sekadar tampil indah, melainkan tubuh yang menghantam ruang, memecah cahaya, dan mengisi beat. Dalam banyak konser K-pop, panggung sering sangat cantik tetapi kurang menyatu dengan koreografi. Pada BABYMONSTER, set, lampu, musik, dan gerak tampak disusun untuk saling mendorong. Itulah sebabnya pesan pertunjukannya terbaca jelas bahkan bagi orang yang hanya melihat potongan video beberapa detik di media sosial.
Dari grup debut ke tim panggung: BABYMONSTER mulai keluar dari label “rookie”
BABYMONSTER resmi debut pada April 2024 lewat mini album pertama BABYMONS7ER. Sejak itu mereka membangun fondasi lewat sejumlah lagu seperti “SHEESH”, “WE GO UP”, dan “DRIP”. Di tahap awal karier, banyak grup K-pop terjebak pada satu tantangan yang sama: bagaimana membuktikan bahwa mereka bukan sekadar proyek besar dari agensi ternama, melainkan tim yang benar-benar memiliki bahasa panggung sendiri. Tantangan itu terasa lebih besar lagi untuk BABYMONSTER karena mereka datang dari YG Entertainment, salah satu agensi paling berpengaruh di Korea Selatan.
Nama YG tentu membawa sejarah panjang. Dari perusahaan ini lahir sederet nama besar yang membentuk wajah K-pop modern, termasuk BLACKPINK. Karena BABYMONSTER adalah grup perempuan baru YG setelah jeda delapan tahun, ekspektasi terhadap mereka sejak awal sudah sangat tinggi. Dalam dunia hiburan, ekspektasi sering kali bersifat ganda: di satu sisi memberi sorotan besar, di sisi lain menghadirkan tekanan yang tidak kecil. Setiap panggung akan dibandingkan, setiap konsep dibaca ketat, dan setiap kekurangan mudah dibesar-besarkan.
Yang menarik, konser pembuka tur dunia kedua ini menunjukkan bahwa BABYMONSTER mulai bergerak keluar dari kategori “pendatang baru yang menjanjikan” menuju “grup yang tahu apa yang ingin mereka jual”. Ini pergeseran penting. Label rookie dalam K-pop sering melekat terlalu lama, padahal yang lebih menentukan adalah apakah sebuah grup sudah punya kosakata artistik yang langsung dikenali. Dari laporan tentang konser di Seoul, tampak bahwa BABYMONSTER kini bertumpu pada tiga hal: vokal live yang bertenaga, performa tari yang disiplin, dan citra panggung yang lebih keras daripada banyak grup perempuan seusianya.
Perubahan ini dapat dibandingkan dengan proses pematangan musisi di Indonesia. Banyak penyanyi atau band yang pada awalnya dikenal karena nama besar label, ajang pencarian bakat, atau viralitas lagu. Namun ujian sesungguhnya muncul ketika mereka harus berdiri di atas panggung selama satu set penuh dan membuat penonton yakin bahwa identitas mereka nyata. BABYMONSTER sedang berada dalam fase pembuktian itu, dan Seoul tampaknya dipilih sebagai tempat untuk memperlihatkan bahwa repertoar mereka kini sudah cukup kuat untuk dirangkai menjadi alur konser yang punya arah.
Fakta bahwa tur ini dibuka di Seoul juga punya bobot simbolik. Ini semacam pulang ke rumah sebelum melangkah lebih jauh. Dalam konteks K-pop, panggung Seoul kerap dipandang sebagai basis legitimasi. Jika sebuah grup bisa meyakinkan publik dan penggemar di kandang sendiri, maka narasi itu lebih mudah dibawa ke luar negeri. Karena itu, pembuka tur di Seoul bukan sekadar urusan geografis, melainkan penegasan akar sebelum ekspansi.
Bagaimana konser K-pop dibaca penggemar global, termasuk di Indonesia
Satu hal yang membedakan konser K-pop dari banyak konser pop lain adalah cara momen di dalam arena hidup lebih lama di luar arena. Setelah lampu panggung padam, konser tidak benar-benar selesai. Ia akan masuk ke putaran kedua di internet: diunggah, dibahas, disunting, diperdebatkan, dan dirayakan ulang oleh penggemar dari berbagai negara. Itulah sebabnya elemen-elemen yang dilaporkan dari konser ini—cahaya merah, set pabrik tua, band hidup, koreografi enam member—menjadi sangat penting. Itu semua adalah materi visual yang mudah diterjemahkan oleh penggemar global, termasuk mereka yang tidak hadir langsung di Seoul.
Di Indonesia, budaya konsumsi K-pop sudah berada pada tahap yang sangat matang. Penggemar tidak hanya mendengarkan lagu, tetapi juga mengikuti fancam, versi latihan tari, teori konsep, sampai detail tata busana panggung. Mereka juga terbiasa membandingkan penampilan dari kota ke kota, menilai stamina artis, dan memperhatikan cara sebuah grup berinteraksi dengan penonton. Dalam konteks ini, konsep “menjadikan dunia satu panggung tari” yang diusung BABYMONSTER sangat relevan karena menyentuh inti perilaku fandom: menonton lalu menirukan, merekam lalu menyebarkan, menyukai lalu mengarsipkan.
Kalau ditarik ke referensi lokal, dampaknya bisa disejajarkan dengan bagaimana sebuah momen besar di konser musisi Indonesia langsung menjalar ke jagat maya, lalu melahirkan potongan video yang ditonton jutaan kali. Bedanya, ekosistem K-pop bekerja lebih sistematis dan lintas negara. Penggemar di Jakarta, Surabaya, Bandung, atau Makassar dapat menyaksikan serpihan konser di Seoul nyaris secara real time, lalu membentuk persepsi kolektif tentang kualitas pertunjukan tersebut. Dengan demikian, konser fisik di Korea Selatan sesungguhnya juga merupakan siaran simbolik untuk pasar dunia.
Di titik inilah “choom” menjadi kata kunci yang cerdas. Musik pop global hari ini bergerak sangat cepat, dan atensi publik sering ditentukan oleh hal yang paling mudah dipotong menjadi cuplikan pendek. Tarian, terutama yang memiliki titik gerak kuat, memang jauh lebih mudah menyebar daripada penjelasan panjang tentang makna lirik. BABYMONSTER tampaknya memahami logika ini. Mereka menjadikan tubuh, ritme, dan visual sebagai pintu masuk utama agar pesan konser bisa dibaca bahkan tanpa subtitle.
Meski demikian, ada batas yang juga penting dijaga dalam pemberitaan. Dari ringkasan informasi yang tersedia, hal yang dapat dipastikan adalah tur dunia kedua BABYMONSTER dimulai di Jamsil Indoor Stadium, suasana konser dibentuk oleh tema “choom”, penggunaan panggung industrial, dukungan band hidup, serta pernyataan Rora mengenai ambisi global grup. Di luar itu, rincian lain seperti jadwal lengkap kota berikutnya atau pengumuman tambahan memang belum bisa dipastikan dari informasi yang ada. Dalam jurnalisme hiburan, ketelitian semacam ini penting agar antusiasme tidak berubah menjadi spekulasi.
Saat nama dan pertunjukan bertemu: BABYMONSTER menemukan bentuknya
Pada akhirnya, konser pembuka tur CHOOM terasa penting bukan hanya karena ia menandai awal perjalanan baru, tetapi karena ia memperlihatkan momen ketika nama sebuah grup bertemu dengan bentuk panggungnya secara meyakinkan. “BABYMONSTER” selama ini adalah nama yang kuat, bahkan sejak sebelum debut. Namun nama yang kuat baru benar-benar punya makna ketika dapat diterjemahkan menjadi pengalaman menonton yang konkret. Di Seoul, penerjemahan itu terlihat jelas: muda tetapi garang, rapi tetapi menghantam, populer tetapi tetap berusaha membangun identitas sendiri.
Rora, lewat kalimat singkatnya, merangkum itu dengan cara yang sangat K-pop: percaya diri tanpa kehilangan kedekatan dengan penggemar. Pertanyaan “keren, kan?” mungkin terdengar sederhana, tetapi di situ ada semangat dasar pertunjukan pop modern. Artis tidak sekadar menunjukkan karya, melainkan mengundang audiens menjadi saksi dan rekan dalam pembentukan momen. Penggemar yang hadir akan pulang dengan ingatan tentang suara, cahaya, dan interaksi. Penggemar yang menonton dari jauh akan meminjam pengalaman itu lewat layar. Keduanya sama-sama menjadi bagian dari mesin penyebaran makna sebuah tur.
Untuk pembaca Indonesia, kisah ini menarik karena memperlihatkan ke mana arah K-pop bergerak saat ini. Persaingan tidak lagi hanya soal lagu yang mudah didengar, melainkan tentang seberapa jelas sebuah grup dapat mendefinisikan dirinya lewat panggung. BABYMONSTER memilih “tari” sebagai poros. Bukan dalam arti sempit sebagai koreografi cantik, melainkan sebagai bahasa yang menghubungkan musik, desain visual, energi live, dan keterlibatan penggemar. Ini pendekatan yang cerdas, terutama di era ketika pengalaman konser sering dikonsumsi ulang dalam bentuk video singkat dan cuplikan viral.
Masih terlalu dini untuk menilai sejauh mana tur CHOOM akan menjadi tonggak besar dalam karier BABYMONSTER. Namun satu hal sudah tampak dari pembukaannya di Seoul: grup ini tidak datang dengan sikap coba-coba. Mereka datang dengan pernyataan yang tegas, visual yang terarah, dan keyakinan bahwa kekuatan utama mereka ada pada panggung. Jika konser pembuka adalah cermin dari perjalanan berikutnya, maka tur dunia kedua BABYMONSTER tampaknya akan bergerak dengan satu pesan yang konsisten: musik boleh menjadi pintu masuk, tetapi tarilah yang akan membuat orang mengingat mereka.
Dalam dunia K-pop yang serba cepat, kemampuan meninggalkan kesan sering lebih penting daripada sekadar ramai sesaat. Dan pada malam musim panas di Seoul itu, BABYMONSTER tampaknya berhasil melakukan keduanya: membuat penonton bersorak saat itu juga, sekaligus menciptakan citra yang cukup kuat untuk terus dibicarakan setelah konser usai. Bagi industri yang hidup dari momentum, itu adalah modal yang sangat berharga. Bagi penggemar, termasuk di Indonesia, itu adalah sinyal bahwa satu lagi nama besar sedang serius menegaskan tempatnya di peta Hallyu global.
댓글
댓글 쓰기