140 Tahun Korea Selatan-Prancis: Ketika Diplomasi Tak Lagi Sekadar Seremoni, Melainkan Pertukaran Nilai dan Pengaruh Budaya

Perayaan 140 tahun yang lebih dari sekadar upacara
Hubungan diplomatik yang telah berusia 140 tahun kerap terdengar seperti angka besar yang indah untuk pidato resmi, tetapi belum tentu terasa relevan bagi publik sehari-hari. Namun, peringatan 140 tahun hubungan Korea Selatan dan Prancis yang digelar di Seokjojeon, Deoksugung, Seoul, menunjukkan hal yang sedikit berbeda. Acara yang dihadiri Ibu Negara Korea Selatan Kim Hye-kyung pada 4 Juni itu dibaca bukan hanya sebagai seremoni kenegaraan, melainkan sebagai panggung untuk menegaskan bagaimana Seoul ingin memotret hubungannya dengan salah satu negara terpenting di Eropa: bukan sekadar hubungan lama, tetapi hubungan yang masih hidup, bergerak, dan punya bobot strategis.
Bagi pembaca Indonesia, momen seperti ini mungkin bisa dipahami seperti peringatan persahabatan dua negara yang tidak berhenti pada seremoni potong tumpeng atau gala dinner diplomatik. Di balik foto-foto resmi, ada bahasa politik, ada pesan budaya, ada sinyal ekonomi, dan ada upaya membangun citra nasional. Korea Selatan tampak ingin menegaskan bahwa relasinya dengan Prancis tidak berdiri di atas nostalgia sejarah semata, melainkan di atas jaringan kerja sama yang terus diperbarui melalui budaya, nilai, bisnis, dan diplomasi publik.
Acara ini berlangsung di Seokjojeon, bangunan bergaya Barat di kompleks Istana Deoksugung yang sendiri sarat simbol. Dalam konteks Korea, pemilihan lokasi seperti ini bukan kebetulan. Deoksugung adalah salah satu ruang sejarah yang memperlihatkan fase ketika Korea berhadapan langsung dengan modernitas global dan kekuatan asing. Karena itu, menggelar perayaan hubungan Korea-Prancis di sana sama saja dengan menempatkan masa lalu dan masa kini dalam satu bingkai: sejarah diplomatik yang panjang, tetapi juga narasi tentang bagaimana Korea Selatan modern berbicara kepada dunia.
Menurut kantor berita Yonhap, Kim Hye-kyung dalam sambutannya menekankan bahwa 140 tahun lalu Korea dan Prancis membuka pintu hati mereka satu sama lain, melampaui perbedaan bahasa, budaya, dan jarak. Kalimat semacam ini mungkin terdengar puitis, tetapi di dalam diplomasi, pilihan kata tidak pernah benar-benar netral. Ia menjadi cara halus untuk menyambungkan masa lalu dengan situasi kekinian, sekaligus menegaskan bahwa hubungan antarnegara pada akhirnya bergantung pada kemampuan membangun kepercayaan lintas perbedaan.
Itulah mengapa peringatan ini menarik untuk dibaca lebih jauh. Tidak ada pengumuman traktat baru yang mengubah peta geopolitik. Tidak ada kesepakatan raksasa yang langsung memengaruhi pasar global. Tetapi justru di situlah maknanya. Diplomasi modern sering kali bekerja lewat simbol yang disusun dengan cermat, dan dari simbol itulah negara menyatakan posisi, prioritas, dan gaya berhubungannya dengan mitra internasional.
Pidato Kim Hye-kyung dan bahasa diplomasi yang halus tetapi penting
Dalam pemberitaan politik internasional, publik biasanya lebih akrab dengan pernyataan kepala negara, menteri luar negeri, atau juru bicara pemerintah. Namun, kehadiran pasangan presiden atau ibu negara dalam acara tertentu juga punya arti tersendiri. Dalam banyak tradisi diplomasi Asia Timur, termasuk Korea Selatan, peran semacam ini sering menjadi bagian dari diplomasi lunak atau soft diplomacy, yaitu pendekatan yang membangun kedekatan emosional dan citra positif di luar bahasa negosiasi resmi yang kaku.
Saat Kim Hye-kyung menyebut Korea Selatan dan Prancis kini menjadi “mitra dekat” yang saling memahami dan berempati melalui pertukaran dalam kehidupan sehari-hari, pesan yang ingin dikirim sesungguhnya cukup jelas. Hubungan kedua negara tidak lagi didefinisikan hanya oleh arsip sejarah atau protokol kenegaraan, melainkan juga oleh hubungan yang dirasakan masyarakat. Dalam bahasa diplomasi, istilah “mitra dekat” bukan label ringan. Itu berarti ada pengakuan atas kesinambungan kerja sama, stabilitas kepercayaan, dan adanya dasar yang cukup kuat untuk memperluas kolaborasi di masa depan.
Kalimat tentang “membuka pintu hati” juga patut dicermati. Dalam politik luar negeri, negara tentu tidak benar-benar beroperasi dengan hati dalam pengertian emosional murni. Namun, metafora seperti itu penting untuk membentuk narasi bahwa hubungan antarbangsa bukan hanya soal untung-rugi pragmatis. Narasi seperti ini sangat efektif dalam diplomasi budaya, karena ia membuat hubungan internasional terasa lebih manusiawi, lebih dekat dengan pengalaman publik, dan lebih mudah diterima di tengah masyarakat.
Bagi pembaca Indonesia, logika ini tidak asing. Kita juga kerap melihat bagaimana hubungan antarnegara diperkuat lewat jalur yang lebih “hangat”, seperti festival budaya, pertukaran pelajar, pekan kuliner, atau kunjungan tokoh publik. Bedanya, Korea Selatan telah sangat piawai menjadikan elemen-elemen tersebut sebagai bagian dari strategi nasional yang terintegrasi. Maka ketika istri presiden berbicara tentang persahabatan, kepercayaan, dan kedekatan emosional, itu bukan sekadar sapaan ramah di podium, melainkan bagian dari bahasa negara.
Di titik ini, peringatan 140 tahun hubungan Korea-Prancis menunjukkan satu hal penting: Korea Selatan ingin dilihat bukan hanya sebagai negara dengan industri teknologi tinggi, kekuatan budaya pop, atau kepentingan keamanan di Asia Timur, tetapi juga sebagai negara yang matang dalam mengelola relasi jangka panjang dengan mitra Eropa. Bagi Seoul, hubungan dengan Prancis adalah cara untuk menunjukkan bahwa Korea berada dalam jaringan negara-negara berpengaruh yang berbicara bukan hanya soal perdagangan, tetapi juga nilai dan kebudayaan.
Saat budaya menjadi alat diplomasi yang nyata
Salah satu bagian paling menarik dari sambutan Kim Hye-kyung adalah ketika ia menyinggung bahwa masyarakat Prancis mencintai konten budaya Korea dan K-pop, sementara masyarakat Korea menghargai sastra Victor Hugo serta karya seni Monet dan Rodin sebagai representasi semangat kebebasan dan kreativitas Prancis. Sekilas, ini terdengar seperti pertukaran pujian yang lazim dalam acara diplomatik. Tetapi jika dicermati, pernyataan itu menyimpan pesan yang lebih dalam: hubungan Korea Selatan dan Prancis dibingkai sebagai hubungan timbal balik, bukan hubungan satu arah.
Selama beberapa tahun terakhir, gelombang Hallyu atau Korean Wave memang membuat Korea Selatan menjadi kekuatan budaya global. Istilah Hallyu merujuk pada meluasnya pengaruh budaya populer Korea, mulai dari drama, film, musik, mode, hingga kuliner, ke berbagai negara. Di Indonesia, pengaruh itu terlihat jelas dari ramainya konser idola K-pop, larisnya produk kecantikan Korea, hingga antrean panjang di festival makanan Korea di Jakarta, Surabaya, atau Bandung. Dalam konteks Prancis, ketertarikan pada budaya Korea juga menjadi bagian dari hubungan yang semakin intens di level masyarakat.
Namun Korea Selatan tampaknya tidak ingin narasi itu berhenti pada ekspor budaya pop semata. Dengan menyebut Victor Hugo, Monet, dan Rodin, Seoul sekaligus mengakui bahwa Prancis punya modal simbolik yang besar di bidang sastra, seni, dan gagasan tentang kebebasan. Ini penting karena diplomasi yang sehat tidak dibangun di atas posisi merasa superior, melainkan di atas saling pengakuan terhadap nilai yang dimiliki masing-masing pihak.
Di sinilah letak kecerdasan pesan tersebut. Korea tidak hanya mengatakan, “Prancis menyukai budaya kami.” Korea juga menegaskan, “Kami memahami dan menghargai warisan intelektual serta artistik Prancis.” Pendekatan semacam ini membuat hubungan dua negara terlihat setara. Tidak ada satu pihak yang sekadar menjadi konsumen citra pihak lain. Yang muncul adalah kesan adanya dialog budaya yang saling mengisi.
Bagi Indonesia, fenomena ini menarik karena kita juga sering menyaksikan bagaimana budaya menjadi jembatan yang lebih efektif daripada pidato politik. Publik mungkin tidak selalu mengikuti detail negosiasi perdagangan atau dinamika kebijakan luar negeri, tetapi mereka lebih mudah memahami hubungan antarnegara lewat film, musik, pameran seni, atau makanan. Persis seperti banyak orang Indonesia yang pertama kali merasa dekat dengan Korea lewat drama dan lagu, bukan lewat perjanjian resmi antarpemerintah. Karena itu, ketika Korea dan Prancis menempatkan budaya di tengah panggung diplomasi, mereka sedang berbicara dalam bahasa yang mudah diterima publik global.
Lebih jauh lagi, budaya dalam kasus ini bukan sekadar hiburan. Ia menjadi penanda nilai. Ketika Prancis disebut sebagai negara yang menjunjung kebebasan dan kreativitas melalui warisan seninya, dan Korea dipresentasikan melalui kekuatan konten budaya kontemporer, keduanya sesungguhnya sedang saling memetakan identitas nasional. Diplomasi modern memang semakin sering berjalan melalui citra: siapa kita, nilai apa yang kita bawa, dan bagaimana nilai itu dikenali oleh negara lain.
Komposisi tamu undangan menunjukkan diplomasi yang bekerja di banyak lapisan
Makna lain dari acara ini terlihat dari siapa saja yang hadir. Selain Kim Hye-kyung, hadir pula pejabat pemerintah Korea Selatan, termasuk Menteri Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Choi Hwi-young, Duta Besar Prancis untuk Korea Philippe Bertoux, korps diplomatik dari Uni Eropa dan negara-negara anggota G7 di Seoul, serta perwakilan perusahaan-perusahaan utama Korea-Prancis. Jumlah undangan sekitar 80 orang memang tidak besar, tetapi komposisinya justru yang penting.
Dalam diplomasi, daftar tamu sering kali berbicara sama lantangnya dengan isi pidato. Jika yang hadir hanya pejabat dan diplomat, pesan yang keluar mungkin murni simbolik. Jika yang dominan adalah kalangan bisnis, maka kesannya cenderung pragmatis dan berorientasi investasi. Tetapi ketika unsur pemerintah, diplomatik, budaya, dan korporasi dipertemukan dalam satu ruangan, yang tampak adalah gambaran hubungan yang multidimensi.
Ini sejalan dengan cara banyak negara, termasuk Korea Selatan, mengelola hubungan luar negeri pada era sekarang. Diplomasi tidak lagi bisa dipisahkan secara kaku antara politik tinggi dan urusan sehari-hari. Kebudayaan memengaruhi persepsi publik. Persepsi publik memengaruhi iklim kerja sama. Dunia usaha membaca stabilitas hubungan. Dan semua itu pada akhirnya membentuk kualitas kemitraan antarnegara.
Bagi pembaca Indonesia, logika semacam ini mudah dipahami jika kita melihat bagaimana kerja sama internasional sering berkembang melalui pertemuan yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan pegiat budaya sekaligus. Sebuah hubungan bilateral yang kuat biasanya tidak bertumpu hanya pada satu sektor. Ia tumbuh karena banyak simpul yang saling menopang. Dalam kasus Korea-Prancis, simpul itu mencakup seni, industri kreatif, jaringan diplomatik, hingga hubungan bisnis.
Kehadiran perwakilan Uni Eropa dan negara-negara G7 juga mengisyaratkan bahwa acara ini dibaca dalam spektrum yang lebih luas dari sekadar hubungan bilateral. Prancis adalah salah satu kekuatan utama di Eropa, dan Korea Selatan berkepentingan untuk memperlihatkan dirinya sebagai mitra yang dapat diandalkan dalam percakapan global. Maka, peringatan ini juga punya fungsi penegasan posisi: Seoul ingin menunjukkan bahwa ia aktif menjaga relasi berkualitas dengan pusat-pusat pengaruh dunia Barat, tetapi dengan bahasa yang tidak konfrontatif, melainkan elegan dan berbasis kepercayaan.
Mengapa 140 tahun penting jika tidak menghasilkan perjanjian baru
Pertanyaan yang mungkin muncul dari pembaca adalah: apa pentingnya sebuah acara peringatan jika tidak ada kebijakan baru atau kesepakatan konkret yang diumumkan? Dalam logika berita harian yang mengejar kejadian besar, pertanyaan itu wajar. Namun dalam hubungan internasional, kontinuitas sering kali sama pentingnya dengan terobosan. Negara perlu terus-menerus merawat hubungan, karena kepercayaan yang terjaga hari ini bisa menjadi fondasi kerja sama strategis esok hari.
Peringatan 140 tahun ini memperlihatkan bagaimana Korea Selatan membaca sejarah bukan sebagai museum, melainkan sebagai modal politik. Umur hubungan yang panjang tentu memberi bobot simbolik, tetapi Seoul tampak sadar bahwa sejarah saja tidak cukup. Karena itu, pesan-pesan yang dikedepankan adalah pesan dalam bentuk waktu kini: mitra dekat, saling memahami, kerja sama yang makin luas, dan kedekatan yang hadir dalam keseharian. Semua ini menunjukkan bahwa yang ingin ditegaskan bukan sekadar “kita sudah lama berteman”, melainkan “persahabatan itu masih bekerja dan relevan sekarang”.
Dalam diplomasi, penekanan pada kepercayaan dan persahabatan juga bukan basa-basi belaka. Kata-kata semacam itu dipakai untuk menandai kestabilan relasi. Artinya, kedua pihak dipandang memiliki tingkat prediktabilitas yang baik, tidak mudah berubah sikap secara drastis, dan punya kepentingan untuk menjaga komunikasi tetap terbuka. Di tengah dunia internasional yang semakin kompetitif, bahasa seperti ini justru punya nilai tersendiri.
Prancis, di sisi lain, juga bukan mitra sembarangan. Sebagai negara dengan pengaruh kuat dalam politik Eropa, budaya global, dan sektor pertahanan serta teknologi, hubungan baik dengan Paris memberi keuntungan reputasional maupun strategis. Korea Selatan tampak ingin menggarisbawahi bahwa relasinya dengan Prancis tidak dibatasi oleh satu isu spesifik, melainkan berkembang di banyak bidang. Karena itu, acara semacam ini menjadi ajang untuk mengikat semua elemen itu ke dalam satu narasi besar tentang kemitraan.
Kalau ditarik ke konteks Indonesia, kita bisa memahami ini seperti pentingnya merawat hubungan yang tidak selalu headline-grabbing, tetapi punya dampak jangka panjang. Tidak semua diplomasi menghasilkan pengumuman spektakuler. Kadang yang justru menentukan adalah konsistensi membangun kedekatan, memperluas rasa saling percaya, dan memastikan bahwa hubungan antarnegara tetap hangat meski tanpa drama politik.
Apa yang bisa dibaca publik Indonesia dari momen ini
Bagi pembaca Indonesia yang mengikuti Korea tidak hanya dari sisi hiburan, peringatan 140 tahun hubungan Korea Selatan dan Prancis menawarkan pelajaran yang menarik tentang bagaimana Hallyu, seni, sejarah, dan politik bertemu dalam satu panggung. Korea Selatan kembali menunjukkan kemampuan khasnya: mengubah momentum simbolik menjadi pesan diplomatik yang efektif. Ia tidak hanya menjual citra sebagai rumah K-pop dan drama, tetapi juga sebagai negara yang mahir mengelola warisan sejarah, citra budaya, dan relasi strategis secara bersamaan.
Di Indonesia sendiri, Korea sudah lama hadir dalam ruang sehari-hari. Generasi muda mengenal idol dan aktor Korea, keluarga akrab dengan drama akhir pekan, sementara restoran Korea terus bertambah di berbagai kota. Tetapi di luar semua itu, Korea juga sedang membangun sesuatu yang lebih besar: reputasi sebagai negara yang mampu menggabungkan budaya pop dengan diplomasi negara. Perayaan di Deoksugung menjadi salah satu contoh kecil tetapi jelas dari strategi tersebut.
Sementara itu, penyebutan Prancis dalam bingkai kebebasan dan kreativitas juga menunjukkan bahwa Korea Selatan memahami pentingnya menjalin relasi berbasis penghormatan terhadap identitas mitra. Ini penting, sebab kerja sama antarnegara yang bertahan lama biasanya lahir dari pengakuan bahwa masing-masing pihak membawa nilai dan kekuatan yang layak dihormati. Dalam hal ini, Korea dan Prancis sama-sama dipotret sebagai negara dengan modal budaya yang kuat, hanya dalam bentuk yang berbeda: satu dengan warisan seni klasik dan gagasan humanistik, yang lain dengan daya ledak budaya populer kontemporer.
Dari sudut pandang publik Indonesia, momen ini juga mengingatkan bahwa budaya bukan aksesori politik, melainkan bagian dari kekuatan negara. Sama seperti batik, wayang, atau kuliner Nusantara bisa menjadi pintu masuk diplomasi Indonesia, Korea Selatan menggunakan Hallyu dan narasi budayanya untuk memperkuat posisi di panggung internasional. Bedanya, Korea melakukannya dengan disiplin strategi yang sangat konsisten, dari level industri hiburan sampai protokol kenegaraan.
Pada akhirnya, peringatan 140 tahun hubungan Korea Selatan dan Prancis memang bukan peristiwa yang gaduh. Tidak ada kejutan besar. Tidak ada manuver politik dramatis. Tetapi justru karena tenang, acara ini memperlihatkan wajah diplomasi yang sesungguhnya: sabar, simbolik, berlapis, dan dirancang untuk jangka panjang. Korea Selatan tampak ingin mengatakan kepada dunia bahwa hubungan antarnegara terbaik bukan hanya yang penuh perjanjian, tetapi yang sanggup mengubah sejarah, budaya, dan saling percaya menjadi kerja sama yang terus terasa hidup.
Di era ketika banyak negara berlomba menunjukkan kekuatan lewat angka pertumbuhan, teknologi, dan keamanan, Seoul memilih menambahkan satu bahasa lain: bahasa kedekatan budaya dan penghormatan nilai. Dan dalam hubungan dengan Prancis, bahasa itu tampaknya masih bekerja dengan cukup efektif. Bagi publik Indonesia yang akrab dengan Korea dari layar kaca dan panggung musik, kisah ini memberi gambaran bahwa di balik gemerlap Hallyu, ada mesin diplomasi yang bergerak rapi—dan tahu betul bagaimana menjadikan simbol sebagai kekuatan politik yang nyata.
댓글
댓글 쓰기