Sato Aiko Wafat di Usia 102 Tahun, Suara Lantang tentang Tua, Hidup, dan Kejujuran yang Kembali Dibaca di Asia

Kabar duka dari Jepang yang menggema sampai pembaca Indonesia
Dunia sastra Jepang kembali berduka. Penulis senior Sato Aiko meninggal dunia pada 29 April di sebuah fasilitas perawatan di Tokyo, dan kabar itu ramai diberitakan media Jepang pada 16 Mei 2026. Ia wafat pada usia 102 tahun. Dalam ukuran apa pun, usia itu sudah menghadirkan kekaguman tersendiri. Namun bagi banyak pembaca, termasuk di Korea Selatan dan Indonesia, yang membuat nama Sato Aiko terasa begitu penting bukan semata karena ia berumur panjang, melainkan karena ia tetap menulis dengan tajam sampai usia sangat lanjut.
Di tengah zaman yang sering memuja kebaruan, nama Sato Aiko justru kembali menguat pada fase hidup yang bagi banyak orang dianggap sebagai masa mundur dari ruang publik. Ia bukan penulis yang dikenang hanya karena penghargaan lama atau status “sastrawan senior” yang dihormati dari kejauhan. Ia dibaca karena kalimat-kalimatnya masih terasa hidup, menyentuh urusan sehari-hari, dan berani menyentil kemunafikan sosial tanpa banyak basa-basi.
Kabar wafatnya juga terasa dekat dengan pembaca Indonesia karena jalur penerimaan kita terhadap sastra Asia Timur kini tidak lagi bergantung pada nama-nama besar yang sudah mapan puluhan tahun. Sebuah karya bisa menemukan pembacanya kembali lewat terjemahan baru, pembahasan di media sosial, klub buku, sampai rekomendasi dari toko buku independen. Dalam kasus Sato Aiko, kebangkitan minat pembaca terhadap karyanya di luar Jepang menunjukkan bahwa usia seorang penulis tidak otomatis membuat karyanya menjadi arsip. Kadang justru sebaliknya: ketika masyarakat sedang lelah oleh tuntutan hidup yang serba rapi dan serba “baik-baik saja”, suara yang paling dibutuhkan adalah suara yang berani berkata jujur.
Di Korea Selatan, ia kembali diperbincangkan setelah karya terjemahannya mendapat sambutan. Di Indonesia, pembaca yang akrab dengan esai-esai reflektif, memoar perempuan, dan tulisan tentang penuaan yang tidak romantis juga bisa segera menemukan resonansi yang sama. Dalam lanskap bacaan kita, Sato Aiko terasa seperti sosok yang menolak tunduk pada stereotip soal tua: tidak selalu bijak dalam arti klise, tidak selalu lembut, tidak selalu penuh petuah manis, tetapi justru karena itu terasa manusiawi.
Ia datang dari Jepang, tetapi kegelisahan yang ia tulis sangat Asia, sangat dekat dengan pengalaman keluarga-keluarga di Indonesia: tentang perkawinan yang tak berjalan sesuai harapan, soal utang dan beban ekonomi, tentang perempuan yang harus terus bertahan, dan tentang usia lanjut yang sering dibungkus nasihat mulia padahal di dalamnya ada tubuh yang menua, emosi yang naik turun, serta kejengkelan yang tetap nyata.
Penulis yang tidak berhenti menjadi relevan di usia senja
Sato Aiko lahir di Osaka pada 1923, sebagai putri seorang novelis. Latar itu membuatnya sejak awal tidak jauh dari dunia sastra. Namun perjalanan hidup dan kepenulisannya tidak bisa dijelaskan semata-mata lewat silsilah budaya atau modal keluarga. Yang membentuk suaranya justru serangkaian pengalaman pahit yang bertumpuk: kehilangan, kesulitan ekonomi, relasi yang gagal, dan keharusan untuk terus hidup tanpa kemewahan ilusi.
Ia menikah muda, pada usia 20 tahun. Suami pertamanya meninggal setelah mengalami ketergantungan morfin terkait pengobatan penyakit. Dari titik inilah, kehidupan Sato Aiko bergerak ke arah yang keras, dan menulis menjadi salah satu cara untuk bertahan. Ia kemudian menikah lagi dengan seorang penulis dari lingkungan sastra, tetapi pernikahan itu pun berakhir setelah kebangkrutan usaha. Dalam riwayat hidupnya, ada detail yang sangat kuat: ia bahkan disebut ikut menanggung dan melunasi utang sebelum akhirnya bercerai.
Bila di Indonesia kita sering mendengar ungkapan bahwa penderitaan tidak otomatis melahirkan karya besar, maka Sato Aiko memberi contoh lain yang lebih presisi: pengalaman getir tidak otomatis menjadi sastra, tetapi di tangan penulis yang jujur, pengalaman itu bisa diubah menjadi bahasa yang mengguncang. Ia tidak menulis untuk minta dikasihani. Ia menulis dari titik pengamatan yang keras terhadap diri sendiri dan orang lain. Itu sebabnya teks-teksnya kerap terasa seperti pengakuan sekaligus gugatan.
Ia juga menunjukkan bahwa masa tua bukanlah fase ketika seseorang hanya menjadi simbol penghormatan. Dalam budaya Asia, termasuk Indonesia, orang lanjut usia sering diberi tempat mulia dalam wacana, tetapi tidak selalu sungguh-sungguh didengar sebagai individu dengan pendapat tajam, kemarahan, humor, dan kontradiksi. Sato Aiko menolak dijinakkan menjadi sekadar “nenek bijak” dalam pengertian manis. Ia tetap hadir sebagai penulis aktif yang sanggup mengganggu kenyamanan pembaca.
Justru di situlah relevansinya. Di tengah banjir konten motivasi yang sering menyederhanakan hidup menjadi resep sukses, Sato Aiko menghadirkan bahasa yang lebih kasar, lebih jujur, dan karenanya lebih meyakinkan. Ia tidak menjual ketenangan instan. Ia mengingatkan bahwa hidup sering berantakan, hubungan antarmanusia sering melelahkan, dan usia lanjut tidak otomatis membawa kedamaian. Tetapi dari pengakuan yang tak dipoles itulah muncul daya tahan yang kuat.
Ketika nama besar justru membesar setelah usia 90 tahun
Salah satu hal paling menarik dari perjalanan Sato Aiko adalah kenyataan bahwa jangkauan pembacanya justru meluas pada usia 90-an. Di dunia penerbitan, ini bukan perkara kecil. Kita terbiasa melihat penulis mencapai puncak ketenaran pada masa muda atau usia produktif menengah, lalu perlahan menjadi figur kanonik yang dibaca di kampus atau dikutip di acara sastra. Sato Aiko bergerak ke arah sebaliknya. Ia tetap hidup di pasar pembaca umum, bahkan ketika usianya mendekati satu abad.
Buku esainya yang terbit pada 2016, yang secara harfiah dikenal luas dengan judul “90 tahun, apa sih yang perlu dirayakan?”, menjadi penanda penting. Buku itu kemudian menjadi bestseller tahunan di Jepang pada 2017. Daya tariknya bukan pada sikap manis soal umur panjang, melainkan pada pembongkaran terhadap cara masyarakat memperlakukan usia tua. Alih-alih menerima ucapan selamat panjang umur sebagai sesuatu yang otomatis membahagiakan, Sato Aiko justru mempertanyakan: memangnya apa yang begitu istimewa dari menjadi tua, kalau tubuh melemah, hidup tidak selalu nyaman, dan orang terus memaksakan kata-kata hiburan yang klise?
Di sinilah kekuatan sosial dari tulisannya terlihat. Jepang adalah salah satu masyarakat menua paling menonjol di dunia, dan percakapan tentang lansia di sana sangat penting secara demografis maupun budaya. Namun persoalan semacam ini juga makin relevan di Indonesia. Kita memang belum berada pada struktur masyarakat setua Jepang, tetapi pembicaraan tentang penuaan, perawatan orang tua, biaya kesehatan, dan kesepian di usia lanjut makin sering muncul, terutama di kota-kota besar. Banyak keluarga Indonesia mulai mengalami kenyataan baru: orang tua hidup lebih lama, tetapi sistem sosial belum sepenuhnya siap menopang kualitas hidup di usia senja.
Karena itu, suara Sato Aiko tidak berhenti sebagai “fenomena Jepang”. Ia berbicara pada keresahan yang lebih luas di Asia. Penuaan bukan hanya urusan statistik, tetapi juga bahasa. Bagaimana masyarakat bicara tentang tua? Apakah orang lanjut usia diperlakukan sebagai manusia utuh, atau hanya objek penghormatan simbolik? Apakah kita memberi ruang bagi mereka untuk mengeluh, marah, kecewa, bahkan sinis, tanpa buru-buru menyuruh mereka “bersyukur”?
Di Indonesia, pertanyaan-pertanyaan seperti ini terasa akrab. Banyak orang tumbuh dengan ajaran untuk menghormati yang lebih tua, sesuatu yang tentu bernilai penting. Namun penghormatan kadang berubah menjadi penghalusan berlebihan, sampai-sampai pengalaman pahit usia lanjut tidak boleh diucapkan terlalu terang. Sato Aiko menolak logika itu. Dan mungkin justru karena itulah generasi pembaca yang lebih muda pun ikut tertarik membaca dia: bukan karena mereka sudah tua, melainkan karena mereka ingin mendengar suara yang tidak pura-pura sopan terhadap realitas.
Dari luka pribadi menjadi bahasa publik
Karya Sato Aiko kerap dipahami sebagai sastra dan esai yang berakar kuat pada pengalaman hidup. Tetapi menyebutnya sekadar “curhat yang ditulis dengan bagus” tentu terlalu menyederhanakan. Yang membedakan dia adalah kemampuannya mengubah pengalaman pribadi menjadi bahasa publik. Ia menulis tentang luka, tetapi tidak berhenti pada detail biografis. Ia memeras pengalaman itu sampai keluar sari pemahaman yang bisa disentuh pembaca lain.
Pernikahan yang hancur, utang, kegagalan relasi, dan kerja keras untuk bertahan hidup menjadi bahan baku yang terus kembali dalam pembacaan terhadap dirinya. Semua itu menjelaskan mengapa ia sangat peka terhadap kepalsuan sosial. Orang yang terlalu lama hidup di dalam tuntutan untuk menjaga muka biasanya punya dua pilihan: ikut bermain pura-pura, atau menjadi sangat alergi terhadap kepura-puraan. Sato Aiko tampaknya memilih yang kedua.
Dalam sejumlah laporan, ia juga pernah tampil sebagai komentator talk show televisi untuk membantu membayar utang, dan karena gaya bicaranya yang terus terang, ia mendapat julukan yang dapat diterjemahkan sebagai “Aiko si pemarah”. Julukan itu bisa terdengar sensasional, tetapi di baliknya ada hal yang lebih penting: kemarahan pada dirinya bukan sekadar temperamen, melainkan metode membaca masyarakat. Ia memakai kemarahan sebagai cara menolak kalimat-kalimat kosong.
Bagi pembaca Indonesia, figur semacam ini sebenarnya tidak asing. Dalam ruang publik kita pun ada tokoh-tokoh yang justru disimak karena keberaniannya menyingkap hal yang dianggap tabu, walau kadang ucapannya menimbulkan pro-kontra. Perbedaannya, pada Sato Aiko, keberanian itu berpadu dengan disiplin seorang penulis. Ia tidak hanya melempar komentar pedas; ia membangun dunia pandang lewat tulisan yang bertahun-tahun diasah.
Itulah mengapa warisannya terasa penting. Ia memperlihatkan bahwa sastra tidak harus selalu tampil dengan jarak anggun dan metafora yang halus. Sastra juga bisa lahir dari dapur, dari tagihan, dari rasa malu, dari amarah karena hidup tidak adil. Dan ketika semua itu ditulis dengan presisi, hasilnya justru bisa lebih menyentuh daripada nasihat moral yang terlalu rapi.
Mengapa pembaca Korea dan Indonesia kembali menoleh?
Nama Sato Aiko belakangan kembali banyak dibaca di luar Jepang setelah karya-karyanya diterjemahkan dan dipasarkan kepada generasi pembaca baru. Di Korea Selatan, ia kembali dikenal luas setelah buku terjemahannya terbit pada tahun lalu dengan judul yang kurang lebih berarti “Kalau toh hidup, hiduplah dengan semangat.” Judul seperti itu jelas punya daya tarik komersial, tetapi juga memperlihatkan inti personanya: seorang perempuan tua yang tidak meminta belas kasihan, melainkan tetap menantang hidup dengan energi verbal yang besar.
Fenomena ini menarik bila dilihat dari sudut pandang pembaca Indonesia. Selama satu dekade terakhir, pasar buku kita memperlihatkan minat yang meningkat pada esai personal, memoar, self-reflection, dan tulisan yang menyeberang antara sastra dan pengalaman hidup. Di sisi lain, pembaca juga mulai lebih terbuka pada karya Asia Timur di luar arus utama seperti manga, drama, atau novel populer. Ada rasa ingin tahu pada bagaimana masyarakat lain di Asia menghadapi isu keluarga, kerja, kesepian, dan penuaan.
Sato Aiko masuk ke celah itu dengan kuat. Ia bukan nama yang dibaca karena sensasi sesaat, melainkan karena ia menawarkan sesuatu yang langka: perspektif usia lanjut yang tidak menggurui. Di ruang baca Indonesia, suara seperti ini bisa terasa segar. Kita akrab dengan buku motivasi yang menekankan perbaikan diri, dengan narasi sukses yang menuntut orang selalu produktif, dan dengan budaya digital yang cepat menghakimi. Sato Aiko hadir seperti antitesis. Ia seolah berkata: hidup tidak akan pernah sepenuhnya beres, jadi berhentilah terlalu sibuk berpura-pura beres.
Selain itu, kebangkitan namanya di Korea dan potensi resonansinya di Indonesia memperlihatkan perubahan penting dalam ekosistem budaya Asia. Selama ini, pertukaran budaya sering dibayangkan dalam bentuk besar seperti film box office, serial global, atau gelombang musik populer. Padahal buku juga membentuk percakapan lintas negara dengan cara yang lebih sunyi, tetapi sering kali lebih dalam. Seorang penulis Jepang berusia 102 tahun bisa kembali dibicarakan di Seoul, Jakarta, atau Surabaya bukan karena kampanye besar, melainkan karena ada pembaca yang merasa kalimat-kalimatnya menjawab kegelisahan hari ini.
Dalam konteks itu, wafatnya Sato Aiko bukan hanya kabar duka sastra Jepang. Ini juga momentum untuk melihat bagaimana pasar terjemahan Asia bekerja: seorang penulis bisa menemukan “kehidupan kedua” di luar negaranya pada penghujung usia, dan para pembaca baru itu justru membaca dia sebagai sosok yang sangat kekinian.
Suara keras tentang zaman yang terlalu bising
Sato Aiko kerap dikenal lewat pernyataan-pernyataan yang terdengar keras. Ia pernah menyentil budaya ketergantungan pada ponsel pintar dan mengkritik suasana masyarakat yang mudah ribut oleh hal-hal kecil di internet. Jika dibaca sepintas, kalimat-kalimat itu bisa dianggap sebagai keluhan khas generasi tua terhadap zaman baru. Namun bila diperhatikan lebih jauh, yang ia kritik sesungguhnya bukan semata teknologi, melainkan cara hidup yang menjadi semakin reaktif, semakin dangkal, dan semakin cepat menguras emosi.
Pembaca Indonesia tentu tidak asing dengan suasana seperti ini. Dalam beberapa tahun terakhir, ruang digital kita pun sering terasa penuh kebisingan: satu potongan video memicu perdebatan nasional, satu unggahan bisa memantik penghakiman massal, dan urusan pribadi bisa berubah menjadi tontonan bersama dalam hitungan jam. Di tengah ekosistem seperti itu, suara Sato Aiko terasa relevan karena ia mengingatkan bahwa masyarakat bisa kehilangan kewarasan jika terlalu larut dalam reaksi seketika.
Yang menarik, kritiknya tidak pernah terdengar seperti khutbah moral dari menara gading. Ia tetap berbicara sebagai seseorang yang mengenal kekacauan hidup, bukan sebagai figur yang mengklaim dirinya paling tertib. Karena itu, ketika ia terdengar galak, pembaca justru bisa menangkap ada kejujuran di sana. Ia tidak sedang menjual citra diri. Ia sedang menunjukkan kegelisahan yang sungguh dirasakan.
Dalam kultur Indonesia, tipe suara seperti ini sering disebut “nyelekit”: pedas, kadang mengganggu, tetapi justru mengena. Kita bisa tidak sepakat dengan cara bicaranya, tetapi sulit mengabaikan isi pengamatannya. Dan pada masa ketika begitu banyak orang berbicara untuk terlihat baik, kehadiran penulis yang berbicara untuk mengatakan apa yang menurutnya benar terasa makin berharga.
Barangkali itu pula alasan mengapa warisan Sato Aiko akan bertahan. Ia tidak mewariskan slogan penghiburan, melainkan keberanian untuk tetap berpikir jernih ketika dunia terlalu ramai. Ia mengajarkan bahwa umur panjang hanya berarti jika seseorang tetap punya hubungan hidup dengan kenyataan. Dan sampai akhir hayatnya, hubungan itu tidak putus.
Warisan bagi pembaca Asia: menua tanpa kehilangan suara
Wafatnya Sato Aiko menandai berakhirnya satu kehidupan yang sangat panjang, tetapi bukan berakhirnya pengaruhnya. Ia meninggalkan jejak penting bagi pembaca Asia: bahwa menua tidak identik dengan menghilang, bahwa pengalaman pahit tidak harus dikubur dalam diam, dan bahwa sastra bisa tetap punya daya ledak bahkan ketika lahir dari usia yang oleh masyarakat sering dianggap tak lagi produktif.
Bagi pembaca Indonesia, kisahnya memberi beberapa lapis pelajaran. Pertama, ia mengingatkan bahwa dunia buku masih mampu menghadirkan pertemuan tak terduga lintas negara dan lintas generasi. Kedua, ia menunjukkan pentingnya terjemahan sebagai jembatan budaya. Tanpa penerjemahan, banyak suara penting dari Asia akan tetap terkurung di dalam batas bahasa masing-masing. Ketiga, ia memperluas cara kita memandang lansia, bukan hanya sebagai penerima perawatan atau penjaga tradisi keluarga, tetapi juga sebagai subjek yang terus berpikir, mengkritik, dan menciptakan.
Di Indonesia yang sedang terus merundingkan posisi perempuan, keluarga, kerja perawatan, serta beban hidup kelas menengah, membaca Sato Aiko juga bisa menjadi pengalaman yang politis dalam arti paling sederhana: kita diajak mendengar seorang perempuan yang tidak menutupi ongkos emosional dari hidup yang dijalani. Ia tidak menawarkan akhir yang manis. Ia menawarkan kejujuran. Dan kejujuran semacam itu sering jauh lebih berguna daripada kebijaksanaan yang dibuat-buat.
Pada akhirnya, nama Sato Aiko akan dikenang bukan hanya karena ia hidup sampai 102 tahun, melainkan karena sepanjang hidupnya ia tidak berhenti menjadi saksi yang cerewet, kritis, dan tajam terhadap dunia di sekelilingnya. Ia menulis tentang tua tanpa memolesnya, tentang relasi tanpa meromantiskannya, dan tentang kehidupan sehari-hari tanpa menyembunyikan sisi buruknya. Justru dari sanalah muncul bentuk keberanian yang langka.
Untuk pembaca Indonesia yang mungkin baru mengenal namanya sekarang, momen wafat ini bisa menjadi pintu masuk yang penting. Bukan untuk menatapnya sebagai legenda yang jauh, melainkan untuk membaca ulang pertanyaan-pertanyaan yang ia tinggalkan: bagaimana kita hidup di tengah kekacauan, bagaimana kita menerima penuaan tanpa dusta, dan bagaimana kita menjaga suara sendiri agar tidak tenggelam oleh kebisingan zaman. Pertanyaan itu tidak hanya milik Jepang. Itu juga pertanyaan kita, di sini, hari ini.
댓글
댓글 쓰기