Samsung TV Plus dan SM Entertainment Ubah Cara K-pop Masuk ke Ruang Tamu: Konser Kini Disusun Layaknya Siaran TV

Dari konser sebagai acara spesial menjadi tontonan rutin
Kerja sama terbaru antara Samsung TV Plus dan SM Entertainment layak dibaca lebih dari sekadar kabar kolaborasi dua nama besar Korea Selatan. Di atas kertas, informasinya sederhana: Samsung Electronics mengumumkan bahwa layanan streaming gratis berbasis iklan miliknya, Samsung TV Plus, menggandeng SM Entertainment untuk menghadirkan program bertajuk “Monthly SM Concert” atau “Konser Bulanan SM”. Program ini akan tayang eksklusif setiap Sabtu pukul 19.00 waktu Korea melalui kanal khusus Samsung TV Network dan kanal SMTOWN. Namun jika dicermati, yang sedang berubah bukan hanya daftar tayangan, melainkan cara konser K-pop diedarkan, dijadwalkan, dan dikonsumsi.
Selama ini, banyak penggemar di Indonesia mengenal konser K-pop sebagai pengalaman yang sangat bergantung pada momen. Tiket war, antrean virtual, perjalanan ke venue, fan chant, lightstick, hingga unggahan fancam di media sosial menjadi bagian dari ritualnya. Bagi yang tidak kebagian tiket, pengalaman biasanya berhenti di cuplikan pendek di X, Instagram, TikTok, atau video resmi yang dipotong-potong. Karena itu, ketika konser tidak lagi hadir semata sebagai peristiwa satu malam, tetapi diprogram secara rutin layaknya acara televisi mingguan, ada perubahan penting yang patut dicatat.
Bagi pembaca Indonesia, logikanya mungkin mirip dengan bagaimana dulu penonton menunggu acara musik mingguan di televisi nasional pada jam tertentu, hanya saja kini bentuknya lebih modern dan berbasis platform streaming. Bedanya, yang ditawarkan bukan panggung kompilasi biasa, melainkan rekaman konser artis-artis SM yang dikurasi, dijadwalkan tetap, dan dibingkai sebagai pengalaman menonton kanal. Ini menandai pergeseran dari konsumsi K-pop yang selama ini sangat terfragmentasi menjadi pengalaman menonton yang lebih terarah dan berulang.
Dalam konteks industri hiburan Korea, istilah “monthly” atau bulanan juga bukan tempelan pemasaran biasa. Ia menandakan kesinambungan. Platform tidak lagi menjual sensasi acara tunggal, melainkan membangun kebiasaan menonton. Bagi industri, kebiasaan jauh lebih berharga daripada ledakan perhatian sesaat. Dan ketika kebiasaan itu dibangun lewat konser, maka konser bukan lagi sekadar bonus bagi fandom, melainkan produk distribusi utama.
Memahami FAST: gratis, ada iklan, dan mengejar penonton yang lebih luas
Salah satu kunci terpenting dari berita ini adalah model layanan yang dipakai, yakni FAST atau free ad-supported streaming television. Dalam istilah sederhana, FAST adalah layanan streaming yang bisa ditonton gratis, tetapi disertai iklan. Model ini berbeda dari layanan berlangganan seperti Netflix atau Disney+, dan juga berbeda dari video pendek yang serba acak di media sosial. FAST mencoba menggabungkan kenyamanan streaming dengan rasa menonton televisi yang punya kanal, jadwal, dan alur program.
Bagi audiens Indonesia, konsep ini sebenarnya tidak terlalu asing jika diterjemahkan ke pengalaman sehari-hari. Banyak orang terbiasa menonton konten gratis selama ada selingan iklan, baik di televisi konvensional maupun platform digital. Yang menarik, Samsung TV Plus membawa logika itu ke ranah konser K-pop, sebuah kategori yang selama ini kerap ditempatkan sebagai produk premium, eksklusif, dan sangat bergantung pada daya beli fandom. Artinya, konser yang biasanya dipandang sebagai komoditas mahal kini didorong masuk ke model distribusi yang lebih terbuka.
Keputusan ini penting karena memperlihatkan dua hal sekaligus. Pertama, K-pop tetap bergantung pada kekuatan fandom, tetapi industri juga sadar bahwa pertumbuhan jangka panjang tidak bisa hanya bertumpu pada kelompok penggemar inti. Kedua, akses gratis dengan dukungan iklan membuka pintu bagi penonton kasual, keluarga, atau bahkan orang yang sebelumnya tidak aktif mengikuti grup tertentu. Dalam bahasa yang lebih luas, K-pop sedang diuji sebagai tontonan rumah tangga, bukan sekadar konsumsi komunitas fanbase.
Ini relevan bagi Indonesia, pasar yang besar untuk budaya Korea tetapi juga sangat sensitif terhadap soal akses dan harga. Tidak semua penonton rela atau mampu membayar banyak layanan berlangganan sekaligus. Karena itu, jika model seperti FAST makin agresif dipakai untuk mendistribusikan konser, acara musik, atau konten eksklusif K-pop, maka jangkauan Hallyu bisa meluas jauh melampaui lingkar penggemar garis keras. Ibaratnya, kalau sebelumnya konser hanya dinikmati mereka yang berhasil masuk venue atau membeli paket khusus, kini ia berpotensi masuk ke ruang tamu lewat televisi pintar dengan hambatan yang jauh lebih rendah.
Dalam sudut pandang industri media, ini juga menunjukkan bahwa pertarungan platform tidak lagi semata soal film dan serial. Konten musik, khususnya konser, kini diperlakukan sebagai senjata retensi penonton. Semakin rutin orang datang kembali ke sebuah platform untuk menonton acara tertentu, semakin tinggi nilainya bagi pengiklan dan ekosistem perangkat. Samsung, sebagai perusahaan elektronik yang juga menguasai perangkat TV, tentu memahami betul nilai strategis itu.
Mengapa format “bulanan” punya arti besar bagi bisnis hiburan Korea
Aspek paling menarik dari proyek ini justru terletak pada bentuknya yang berulang. Samsung TV Plus sebelumnya pernah menayangkan eksklusif “SMTOWN LIVE 2025 in L.A.” sebagai siaran langsung. Kini kolaborasi itu diperluas menjadi program bulanan dengan artis yang berbeda-beda. Perubahan dari event tunggal ke serial reguler menandakan adanya pergeseran strategi: dari memburu perhatian sesaat ke membangun pola kunjungan yang terus-menerus.
Dalam industri hiburan, kontinuitas selalu lebih kuat daripada sensasi satu malam. Program bulanan membuat penonton punya alasan untuk kembali, sekaligus menciptakan rasa menanti. Dalam praktiknya, ini mirip bagaimana penonton Indonesia dulu menandai jadwal sinetron unggulan, pertandingan sepak bola, atau ajang pencarian bakat di akhir pekan. Ada ritme, ada kebiasaan, dan ada ekspektasi. K-pop, yang selama ini sering diposisikan sebagai konten serba cepat di media sosial, sekarang justru sedang dipaketkan ulang ke format yang ritmis dan terjadwal.
Bagi SM Entertainment, format ini juga menguntungkan secara merek. Konser tidak habis nilainya setelah lampu panggung padam. Sebaliknya, pertunjukan langsung itu bisa diolah kembali menjadi aset konten yang punya umur lebih panjang. Rekaman konser menjadi jembatan antara pengalaman offline dan konsumsi digital. Bagi penggemar yang datang ke lokasi, tayangan ini menjadi perpanjangan emosi setelah acara selesai. Bagi mereka yang tidak hadir, tayangan ini menjadi titik masuk baru.
Di sinilah letak perubahan posisi konser dalam ekosistem K-pop. Dahulu, konser sering dipahami sebagai puncak promosi: artis merilis album, tampil di acara musik, lalu menutup fase dengan tur atau konser besar. Sekarang, konser bisa berdiri sebagai produk distribusi tersendiri. Ia tidak hanya mengakhiri promosi, tetapi juga memulai siklus penonton berikutnya. Ketika konser masuk ke kanal platform dan dijadwalkan berkala, maka nilai ekonominya tidak berhenti di venue, melainkan terus berputar melalui layar.
Perubahan ini menunjukkan kedewasaan industri hiburan Korea dalam mengelola intellectual property artis. Lagu, album, variety show, reality content, merchandise, hingga konser tidak lagi dipasarkan secara terpisah, melainkan dirangkai sebagai rantai konsumsi yang saling menopang. Siapa yang menonton konser bisa terdorong mencari lagu, membeli album, menonton konten tambahan, atau mengikuti tur berikutnya. Semuanya terhubung.
NCT WISH sebagai pembuka: strategi fandom, regenerasi, dan perluasan pasar
Program perdana yang dipilih untuk proyek ini adalah “NCT WISH First Concert Tour: Into the WISH – Our WISH Encore in Seoul”, yang dijadwalkan tayang pada 30 Agustus. Pilihan ini bukan keputusan acak. NCT WISH adalah salah satu wajah generasi lebih baru dari SM, dan penempatan mereka sebagai pembuka memberi sinyal bahwa proyek ini bukan hanya soal mengarsipkan kejayaan artis senior, tetapi juga tentang membangun basis penonton untuk nama-nama yang sedang tumbuh.
Dalam industri K-pop, konser encore punya makna tersendiri. Biasanya ia hadir setelah rangkaian pertunjukan utama mendapat respons baik, lalu diperluas sebagai penegasan popularitas. Dengan kata lain, ada energi yang sudah terbentuk di lapangan, dan tayangan platform kemudian berfungsi memperpanjang energi itu. Bagi penggemar, ini menjadi kesempatan mengulang momen. Bagi penonton baru, ini adalah pintu masuk yang lebih utuh daripada sekadar menonton potongan penampilan di media sosial.
Memilih konser Seoul juga penting secara simbolis. Seoul tetap dibaca sebagai pusat denyut industri K-pop. Ada nilai autentik yang melekat ketika pertunjukan berasal dari panggung utama di Korea. Bagi penonton internasional, termasuk di Indonesia, menonton konser dari Seoul kerap dianggap memberi kedekatan lebih besar dengan “sumber” budaya pop itu sendiri. Hal semacam ini tidak selalu rasional, tetapi sangat nyata di level persepsi penggemar.
Dari sisi bisnis, langkah ini menunjukkan bahwa distribusi konser kini juga dipakai untuk memperkuat regenerasi artis. Jika grup yang lebih muda ditempatkan di kanal gratis dan mudah diakses, peluang menjaring penonton baru tentu lebih besar. Strategi ini masuk akal di tengah persaingan K-pop yang semakin padat. Pasar tidak cukup hanya diikat oleh loyalitas fanbase lama; industri harus terus menyiapkan jalur rekrutmen penggemar baru. Menayangkan konser secara gratis dengan jadwal tetap adalah salah satu caranya.
Bagi pembaca Indonesia, polanya bisa dipahami seperti bagaimana musisi yang sedang naik daun mendapat panggung utama di acara televisi nasional demi memperluas jangkauan pendengar. Bedanya, dalam kasus K-pop, panggung itu dikemas sangat rapi dalam ekosistem global: artis tampil di konser, konser jadi konten platform, platform membangun trafik, dan semua itu berujung pada penguatan merek artis serta perusahaan.
Dari Korea ke lima negara: apa arti sebaran ini bagi peta Hallyu
Samsung menyebut tayangan ini akan tersedia di lima negara, yakni Korea Selatan, Australia, Selandia Baru, Brasil, dan Meksiko. Komposisi ini menarik karena tidak hanya berfokus pada Asia. Ada Oseania dan Amerika Latin, dua kawasan yang dalam beberapa tahun terakhir dikenal sangat antusias terhadap K-pop. Brasil dan Meksiko, khususnya, sudah lama menjadi pasar dengan basis penggemar yang aktif, militan, dan sangat vokal di media sosial.
Meskipun Indonesia belum termasuk dalam daftar gelombang awal ini, arah strateginya tetap relevan bagi kita. Sebaran tersebut memperlihatkan bahwa distribusi K-pop kini dirancang melampaui logika teritorial tradisional. Dulu, ekspansi global sering dibayangkan lewat tur dunia, penjualan album, atau tangga lagu internasional. Sekarang, ekspansi itu juga ditentukan oleh ketersediaan platform, perangkat yang dipakai di rumah, dan kemudahan akses antarmuka.
Dengan kata lain, internasionalisasi K-pop semakin bergeser dari urusan semata “siapa yang paling populer” menjadi “siapa yang paling mudah diakses”. Ini perubahan yang sangat penting. Dalam ekonomi perhatian saat ini, akses sering lebih menentukan daripada niat. Banyak orang mungkin tertarik pada K-pop, tetapi tidak akan meluangkan waktu mencari rekaman konser jika harus berlangganan layanan mahal atau melewati banyak tahapan. Ketika konten sudah tersedia di platform gratis pada perangkat yang mereka miliki, hambatan itu turun drastis.
Bagi Indonesia, kabar ini bisa dibaca sebagai indikator ke mana industri akan bergerak berikutnya. Jika model ini terbukti efektif di lima negara awal, bukan tidak mungkin wilayah Asia Tenggara akan menjadi target ekspansi berikutnya. Indonesia, dengan populasi besar, penetrasi budaya Korea yang kuat, dan kebiasaan konsumsi digital yang tinggi, merupakan pasar yang terlalu penting untuk diabaikan. Apalagi pembaca kita tahu betul bahwa antusiasme terhadap konser K-pop di Indonesia termasuk salah satu yang paling tinggi di kawasan, terlihat dari cepat habisnya tiket dan ramainya percakapan lintas fandom setiap kali tur diumumkan.
Karena itu, meskipun secara teknis Indonesia belum masuk daftar rilis, dampak simbolik beritanya sudah terasa. Industri sedang menguji cara baru membawa K-pop ke rumah penonton global. Bila berhasil, model serupa sangat mungkin menular ke pasar lain, termasuk Indonesia.
Ketika perusahaan teknologi dan agensi hiburan sama-sama merancang pengalaman menonton
Berita ini juga menunjukkan hubungan yang semakin rapat antara perusahaan teknologi dan agensi hiburan Korea. Samsung bukan lagi hanya produsen televisi. Ia bergerak sebagai pengelola ekosistem tontonan, dari perangkat keras hingga layanan streaming yang menempel di perangkat itu. Sementara SM Entertainment bukan semata pembuat idol group dan konser, melainkan pemasok aset hiburan yang bisa dioptimalkan untuk berbagai platform.
Dalam pertemuan dua kepentingan itu, lahirlah sesuatu yang lebih kompleks daripada kerja sama promosi biasa. Samsung membutuhkan konten yang bisa membuat orang bertahan di ekosistem TV miliknya. SM membutuhkan jalur distribusi yang bisa memperpanjang umur komersial konser dan memperluas jangkauan artis. Keduanya bertemu pada satu titik: pengalaman menonton di rumah.
Ini penting karena selama beberapa tahun terakhir, konsumsi video pendek lewat ponsel sering dianggap menggeser peran televisi. Namun konser adalah salah satu jenis konten yang justru sangat cocok dinikmati di layar besar. Tata cahaya, koreografi, desain panggung, formasi grup, hingga efek massa penonton akan terasa lebih maksimal jika ditonton secara imersif. Karena itu, langkah Samsung menonjolkan konser K-pop di TV Plus dapat dibaca sebagai upaya mengembalikan televisi sebagai pusat hiburan rumah, setidaknya untuk konten tertentu.
Bagi keluarga Indonesia yang punya smart TV di ruang tamu, gambaran ini mudah dibayangkan. Konser K-pop tidak lagi harus dinikmati sendirian lewat layar ponsel dan earphone. Ia bisa berubah menjadi tontonan bersama, seperti menonton final kompetisi musik atau siaran olahraga. Perubahan suasana menonton ini kecil di permukaan, tetapi besar dampaknya bagi industri. Saat tontonan menjadi komunal, peluang membentuk penonton baru ikut membesar. Orang tua, saudara, atau teman yang semula tidak mengikuti grup tertentu bisa ikut terpapar hanya karena layar TV sedang menyala di rumah.
Dengan kata lain, kolaborasi Samsung dan SM sedang mencoba mengubah K-pop dari konsumsi individual yang sangat digital menjadi hiburan rumah tangga yang lebih luas. Dan jika transformasi ini berhasil, bukan hanya distribusi konser yang berubah, tetapi juga profil penontonnya.
Mengapa kabar ini penting bagi pembaca Indonesia hari ini
Di tengah banjir kabar comeback, tur dunia, dan persaingan chart, berita seperti ini mungkin tampak teknis. Padahal justru di sinilah perubahan besar industri sering dimulai. Yang bergeser bukan nama artis yang sedang naik, melainkan jalur distribusinya. Saat konser K-pop masuk ke model streaming gratis berbasis iklan, dijadwalkan mingguan, dikemas sebagai seri bulanan, dan disebar lintas negara, kita sedang melihat babak baru dalam cara Hallyu dipasarkan.
Bagi pembaca Indonesia, implikasinya tidak kecil. Pertama, akses terhadap konten konser berpotensi makin demokratis. Kedua, persaingan platform akan makin menentukan pengalaman menjadi penggemar. Ketiga, peran televisi pintar sebagai gerbang hiburan Korea bisa kembali menguat. Dan keempat, fandom ke depan mungkin tidak hanya dibangun oleh media sosial dan acara live, tetapi juga oleh pola menonton rutin di rumah.
Dalam banyak hal, ini mirip perubahan yang pernah terjadi pada drama Korea. Dulu drakor dikenal lewat siaran televisi dan DVD bajakan, lalu berpindah ke platform streaming berlangganan, dan kini menjadi konsumsi global yang sangat mudah diakses. Konser K-pop tampaknya sedang berjalan ke arah serupa, hanya dengan formula distribusi yang sedikit berbeda. Jika benar begitu, maka masa depan industri tidak hanya ditentukan oleh siapa yang punya lagu paling viral, tetapi juga siapa yang paling cerdas mengemas pengalaman menonton secara berulang.
Pada akhirnya, kerja sama Samsung TV Plus dan SM Entertainment memperlihatkan satu hal yang semakin jelas: K-pop bukan lagi sekadar musik atau fandom, melainkan infrastruktur hiburan. Ia hidup di lagu, panggung, perangkat, kanal, iklan, dan kebiasaan menonton. Dan ketika konser mulai diperlakukan seperti siaran rutin yang menunggu penonton setiap akhir pekan, maka K-pop sedang mengambil satu langkah baru—dari panggung arena menuju ruang tamu, dari event menjadi ekosistem.
댓글
댓글 쓰기