Ra Mi-ran Ambil Jalur Fantasi lewat ‘Toko Permen Ajaib Jeoncheondang’, Sinyal Baru untuk Film Keluarga Korea

Ra Mi-ran Ambil Jalur Fantasi lewat ‘Toko Permen Ajaib Jeoncheondang’, Sinyal Baru untuk Film Keluarga Korea

Ra Mi-ran membuka babak baru lewat genre yang tak biasa baginya

Aktris Korea Selatan Ra Mi-ran, yang selama ini dikenal lewat permainan akting realistis dan kuat, kini mengambil langkah yang terasa segar: masuk ke wilayah fantasi keluarga. Dalam acara pemutaran perdana dan jumpa pers film The Strange Snack Shop Jeoncheondang atau Iisanghan Gwaja Gage Jeoncheondang di Megabox COEX, Seoul, 13 September, Ra Mi-ran secara terbuka mengatakan bahwa ia memang memiliki keinginan untuk mencoba genre fantasi. Pernyataan itu terdengar sederhana, tetapi maknanya cukup besar jika dilihat dari posisi Ra Mi-ran di industri film Korea.

Selama ini, nama Ra Mi-ran identik dengan karakter-karakter yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia sering tampil sebagai sosok ibu, perempuan pekerja, atau figur yang keras tetapi hangat, yang membuat penonton percaya pada emosi yang ia bawa. Karena itu, keputusan untuk memimpin sebuah film fantasi keluarga bukan sekadar eksperimen karier biasa. Ini adalah pertaruhan menarik: bisakah aktris yang lekat dengan realisme memindahkan kepercayaan penonton itu ke dunia yang penuh unsur ajaib?

Bagi pembaca Indonesia, langkah ini bisa dipahami seperti ketika seorang aktor yang biasa bermain dalam drama keluarga atau film sosial tiba-tiba tampil dalam kisah penuh keajaiban, tetapi tetap dituntut membuat emosi penonton terasa membumi. Tantangannya bukan hanya soal kostum, tata artistik, atau efek visual. Yang lebih penting justru bagaimana unsur fantasi itu terasa masuk akal secara perasaan. Dalam konteks inilah Ra Mi-ran menjadi kunci utama. Ia membawa modal yang sangat berharga: kepercayaan publik.

Ra Mi-ran juga menyebut film ini sebagai kisah yang “indah dan hangat”. Kalimat itu memberi petunjuk penting mengenai arah film. Ini tampaknya bukan fantasi yang dibangun di atas ketegangan besar, monster, atau ancaman akhir dunia. Sebaliknya, film ini memilih jalur yang lebih lembut: menjadikan fantasi sebagai ruang penghiburan, tempat orang-orang dengan luka dan harapan mencari jawaban. Dalam lanskap perfilman Korea yang kerap kuat di thriller, drama, dan aksi, pilihan semacam ini patut dicermati karena menawarkan warna yang berbeda.

Pemutaran perdana yang langsung diikuti jumpa pers juga menunjukkan bahwa film ini sudah siap dinilai bukan hanya dari janji promosi, melainkan dari bentuk jadinya. Itu penting. Di era ketika banyak film dipasarkan lewat jargon besar, kehadiran film ini di depan pers dan penonton pada tahap yang matang memperlihatkan kepercayaan diri pembuatnya terhadap suasana dan kualitas emosi yang mereka tawarkan.

Daya tarik besar dari novel laris yang sudah teruji di banyak negara

Film ini diangkat dari serial novel fantasi anak karya penulis Jepang Reiko Hiroshima. Dari sisi industri, ini bukan materi adaptasi sembarangan. Serial tersebut telah terjual lebih dari 11 juta kopi di seluruh dunia dan lebih dari 2 juta kopi di Korea Selatan. Angka sebesar itu penting bukan hanya karena menunjukkan popularitas, tetapi karena membuktikan bahwa premis ceritanya bekerja lintas bahasa, lintas usia, dan lintas budaya.

Di pasar hiburan Asia, adaptasi dari karya populer sering menjadi strategi aman sekaligus menantang. Aman, karena basis penggemar sudah ada. Menantang, karena penggemar punya ekspektasi yang tinggi. Untuk kasus Jeoncheondang, kekuatan utamanya terletak pada ide yang sangat mudah dipahami siapa pun: sebuah toko permen ajaib yang dapat mengabulkan keinginan pengunjungnya. Premis seperti ini punya daya tarik universal. Anak-anak bisa tertarik karena unsur keajaiban dan permen. Remaja bisa masuk lewat konflik sekolah, persaingan, dan rasa tidak percaya diri. Orang dewasa bisa tersentuh oleh lapisan makna tentang keluarga, pilihan, dan harga yang harus dibayar dari sebuah keinginan.

Kalau diterjemahkan ke pengalaman pembaca Indonesia, premis ini mengingatkan pada cerita-cerita yang akrab di telinga kita: warung misterius, toko kecil di sudut kota yang seolah menyimpan jawaban, atau dongeng tentang benda sederhana yang ternyata bisa mengubah hidup seseorang. Dalam budaya populer Indonesia, gagasan tentang tempat biasa dengan kekuatan luar biasa selalu punya tempat tersendiri, dari cerita rakyat sampai sinetron fantasi. Karena itu, konsep toko permen pengabul harapan bukan sesuatu yang jauh, meski dibungkus dalam rasa Korea-Jepang yang khas.

Namun yang membedakan Jeoncheondang dari fantasi biasa adalah fokusnya pada emosi sehari-hari. Ia tidak menjual keajaiban sebagai pelarian kosong, melainkan sebagai cermin keinginan manusia. Siapa yang datang ke toko itu, apa yang mereka inginkan, dan apa akibat dari pilihan mereka, menjadi inti dramanya. Itu sebabnya angka penjualan novel tadi harus dibaca bukan sebagai statistik semata, tetapi sebagai bukti bahwa pembaca dari banyak negara merespons struktur emosi yang sama: harapan, kecemasan, godaan, dan kebutuhan untuk dihibur.

Dari sudut pandang industri Korea, adaptasi ini juga menarik karena memperlihatkan bagaimana pasar lokal mengolah materi yang sudah mendunia tanpa kehilangan identitasnya. Korea Selatan sudah lama piawai mengekspor drama dan film yang terasa lokal tetapi bisa dipahami global. Jeoncheondang berpotensi mengikuti jalur itu jika filmnya berhasil menyeimbangkan dua hal: mempertahankan pesona cerita asli dan menambahkan sentuhan emosional khas sinema Korea.

Kisah omnibus yang dekat dengan kegelisahan sehari-hari

Film ini disusun dalam format omnibus, mengikuti berbagai pengunjung yang datang ke toko dengan harapan masing-masing. Ada siswa yang ingin ibunya yang sakit sembuh, ada anak yang ingin lepas dari perundungan, dan ada remaja yang ingin bermain piano dengan baik di tengah tekanan persiapan ujian. Daftar persoalan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi justru di situlah kekuatannya. Cerita tidak berputar pada nasib dunia, melainkan pada keinginan-keinginan kecil yang bagi orang yang mengalaminya terasa sangat besar.

Format omnibus memberi keuntungan penting: lebih banyak penonton bisa menemukan titik kedekatan. Penonton anak mungkin akan merasa terhubung pada cerita soal sekolah atau teman. Orang tua mungkin langsung tersentuh pada kisah anak yang ingin menyembuhkan ibunya. Remaja bisa melihat tekanan prestasi yang sangat akrab dengan kehidupan mereka. Di Indonesia, situasi seperti ini pun terasa relevan. Tekanan akademik, kecemasan sosial di sekolah, hingga kerinduan melihat orang tua sehat adalah hal yang sangat dekat dengan keseharian keluarga Indonesia, dari Jakarta sampai kota-kota kecil.

Dalam beberapa tahun terakhir, penonton Asia termasuk Indonesia makin akrab dengan cerita yang menempatkan kesehatan mental, tekanan sosial, dan luka keluarga sebagai pusat konflik. Karena itu, film fantasi seperti Jeoncheondang tidak berhenti sebagai tontonan anak-anak. Ia bisa dibaca sebagai cerita tentang masyarakat yang kelelahan, lalu membayangkan ada tempat yang menawarkan jalan pintas bagi persoalan hidup. Pertanyaan moralnya kemudian menjadi menarik: jika keinginan bisa terkabul, apakah semua orang siap menanggung akibatnya?

Justru karena berbentuk omnibus, film ini menghadapi tantangan besar. Setiap episode harus cukup singkat agar ritme terjaga, tetapi juga cukup kuat untuk meninggalkan bekas. Dalam struktur seperti ini, biasanya dibutuhkan satu pusat gravitasi yang menyatukan semuanya. Di sinilah toko Jeoncheondang dan pemiliknya menjadi elemen terpenting. Toko itu bukan sekadar latar, melainkan jantung dunia cerita. Ia harus terasa magis sekaligus akrab, asing tetapi mengundang, seperti tempat yang seolah muncul hanya bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.

Bagi penonton Indonesia, pendekatan semacam ini bisa terasa mirip ketika menonton antologi keluarga yang setiap bagiannya menyentuh lapisan emosi yang berbeda. Bedanya, Jeoncheondang menambahkan instrumen fantasi berupa makanan atau permen ajaib. Dalam budaya Korea dan Jepang, makanan sering kali punya makna emosional yang kuat, bukan hanya soal rasa tetapi juga kenangan, relasi, dan penghiburan. Penonton Indonesia pun tidak asing dengan logika itu. Kita tahu betul bagaimana makanan bisa menjadi bahasa kasih sayang di rumah. Karena itu, gagasan bahwa permen bisa membawa harapan terasa unik, tetapi tidak sulit diterima.

Mengapa casting Ra Mi-ran menjadi faktor paling menentukan

Dalam proyek seperti ini, pemilihan pemeran utama bukan urusan popularitas belaka. Casting Ra Mi-ran membawa pesan yang jelas: film ini ingin membuat fantasi terasa manusiawi. Ia bukan tipe aktris yang bergantung pada glamor atau citra yang terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari. Justru kekuatannya ada pada kemampuan menghadirkan emosi yang langsung terasa nyata. Ketika aktor semacam itu masuk ke dunia ajaib, penonton cenderung lebih mudah percaya bahwa dunia tersebut punya bobot perasaan.

Ini penting, karena salah satu risiko film fantasi live-action adalah kesan artifisial. Jika tata dunia terlalu menonjol tetapi karakternya tidak hidup, penonton akan kagum sesaat lalu lupa. Sebaliknya, jika tokohnya meyakinkan, penonton akan bertahan bahkan ketika premisnya mustahil. Ra Mi-ran tampaknya diposisikan sebagai jangkar itu. Ia bisa membuat toko ajaib tidak terasa seperti set yang cantik semata, melainkan ruang emosional tempat orang membawa luka mereka.

Di Korea, Ra Mi-ran juga dikenal sebagai aktris yang mampu menjembatani generasi penonton. Anak muda mengenalnya dari drama dan film populer, sementara penonton dewasa menghargai stabilitas aktingnya. Ini sangat cocok untuk film keluarga. Dalam film jenis ini, studio tidak hanya ingin menarik anak-anak atau penggemar novel, tetapi juga orang tua yang membeli tiket dan menemani. Dengan kata lain, Ra Mi-ran membantu memperluas spektrum penonton.

Pernyataannya yang menekankan unsur “hangat” juga mengisyaratkan identitas film. Di tengah tren konten yang kerap berlomba menjadi paling keras, paling gelap, atau paling mengejutkan, film ini justru tampak berani mengambil posisi sebaliknya: menjadi lembut. Ini bukan pilihan yang ringan. Dalam pasar yang bising, kelembutan justru harus diperjuangkan dengan sangat sadar agar tidak tenggelam. Tetapi ketika berhasil, efeknya bisa lebih tahan lama. Film yang meninggalkan rasa nyaman sering mendapatkan kekuatan dari rekomendasi mulut ke mulut, terutama di kalangan keluarga.

Kalau ditarik ke konteks penonton Indonesia, daya tarik Ra Mi-ran bisa dibandingkan dengan sosok aktor yang ketika muncul di layar langsung memberi rasa aman kepada penonton. Ada aura bahwa film ini akan berbicara tentang manusia, bukan sekadar peristiwa. Dan untuk kisah tentang keinginan, rasa kehilangan, dan penghiburan, kualitas seperti itu jauh lebih penting daripada sekadar kemegahan visual.

Fantasi keluarga ala Korea dan peluangnya di pasar yang semakin padat

Film keluarga berbalut fantasi bukan genre yang paling dominan dalam perfilman komersial Korea Selatan. Industri Korea sangat kuat di drama, thriller kriminal, melodrama, dan serial dengan dunia yang ketat dibangun. Tetapi untuk fantasi keluarga yang hangat dan bisa ditonton lintas usia, ruangnya tidak selalu besar. Karena itu, kemunculan Jeoncheondang bisa dibaca sebagai upaya membuka ceruk yang selama ini belum terlalu padat.

Dari sisi pasar, ini keputusan yang masuk akal. Penonton global sekarang tidak hanya mencari tontonan spektakuler, tetapi juga pengalaman yang nyaman, emosional, dan bisa dinikmati bersama keluarga. Setelah bertahun-tahun dibanjiri cerita penuh konflik besar, ada kerinduan pada film yang skala dramanya lebih kecil tetapi dampak emosinya justru lebih dekat. Dalam bahasa sederhana, tidak semua penonton ingin terus-menerus diajak tegang. Kadang mereka hanya ingin pulang dari bioskop dengan hati yang lebih hangat.

Itulah kemungkinan kekuatan utama film ini. Ia tidak menawarkan perang besar atau dunia yang harus diselamatkan. Ia menawarkan manusia biasa dengan masalah yang sangat dikenal, lalu memberi mereka jalan masuk ke ruang ajaib. Jika dieksekusi dengan baik, pendekatan seperti ini bisa sangat efektif. Penonton tidak harus bekerja keras memahami dunia yang kompleks. Mereka cukup mengikuti perasaan karakter, lalu membiarkan fantasi menambah lapisan makna.

Di Indonesia sendiri, film keluarga yang mengandalkan kehangatan dan nilai emosional sering menemukan penontonnya sendiri. Apalagi jika ada elemen yang bisa dibicarakan oleh orang tua dan anak setelah menonton. Jeoncheondang tampaknya punya modal itu. Kisah tentang perundungan, keluarga, dan tekanan meraih prestasi adalah tema yang bisa memantik percakapan di rumah. Bagi orang tua, film seperti ini berpotensi menjadi pintu masuk untuk membahas masalah yang sering sulit dibicarakan secara langsung.

Yang patut diperhatikan tentu bagaimana film ini menyeimbangkan unsur “ajaib” dengan konsekuensi moral. Cerita pengabul harapan akan selalu menarik jika tidak berhenti di fase pemenuhan keinginan. Penonton masa kini cenderung menyukai cerita yang juga menanyakan harga dari sebuah pilihan. Jika film hanya menjadi parade keajaiban, kedalaman emosinya bisa berkurang. Namun jika setiap keinginan membawa pelajaran tanpa terasa menggurui, film ini punya peluang menempatkan dirinya sebagai tontonan keluarga yang bukan hanya manis, tetapi juga membekas.

Penjelasan budaya: mengapa konsep toko ajaib mudah diterima di Korea

Bagi pembaca Indonesia yang mungkin tidak terlalu akrab dengan tradisi cerita anak di Korea dan Jepang, konsep “toko ajaib” sebenarnya lahir dari gabungan dua hal: kedekatan budaya Asia Timur dengan kisah moral dan kebiasaan menempatkan benda sehari-hari sebagai pembawa makna emosional. Dalam banyak cerita Korea maupun Jepang, keajaiban tidak selalu hadir dalam bentuk kerajaan besar atau makhluk raksasa. Sering kali ia bersembunyi di ruang kecil yang tampak biasa: rumah, lorong, toko, stasiun, atau makanan.

Model seperti ini membuat fantasi terasa intim. Penonton tidak diajak keluar jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan diajak melihat bahwa keajaiban bisa menyelinap ke celah hidup yang paling biasa. Dalam hal ini, Jeoncheondang sangat Asia. Ia tidak memisahkan dunia nyata dan dunia ajaib secara keras. Keduanya justru bersentuhan di level yang personal.

Istilah yang juga penting dipahami adalah nuansa “keluarga” dalam film Korea. Keluarga di sini tidak selalu berarti cerita yang sepenuhnya ceria atau aman. Dalam banyak karya Korea, keluarga bisa menjadi sumber luka, tekanan, dan tanggung jawab, tetapi juga satu-satunya tempat pulang. Karena itu, ketika film semacam Jeoncheondang bicara tentang harapan anak untuk ibunya yang sakit atau kecemasan soal sekolah, ia sesungguhnya menyentuh inti dari apa yang sering disebut emosi keluarga di Korea: campuran kasih sayang, pengorbanan, rasa bersalah, dan keinginan untuk memperbaiki keadaan.

Penonton Indonesia kemungkinan besar tidak akan kesulitan memahami itu. Secara kultural, masyarakat Indonesia pun sangat familistis. Banyak keputusan hidup, terutama bagi anak dan remaja, selalu terkait dengan orang tua, pendidikan, dan pandangan lingkungan sekitar. Maka, walau detail sosial Korea dan Indonesia berbeda, lapisan perasaannya cukup serupa untuk bisa dijembatani dengan baik.

Tambahan lagi, unsur makanan atau camilan sebagai medium cerita juga sangat resonan di Asia. Seperti halnya di Indonesia, makanan di Korea bukan sekadar konsumsi, tetapi penanda kedekatan dan perasaan. Ketika sebuah film memilih permen sebagai instrumen pengabul keinginan, ia sedang memakai benda yang akrab, manis, dan mudah diterima anak-anak, tetapi bisa dimaknai lebih dalam oleh orang dewasa.

Sinyal industri: film ini bisa menjadi ujian penting bagi adaptasi lintas budaya

Di luar cerita dan bintangnya, Jeoncheondang menarik untuk diamati sebagai studi tentang adaptasi lintas budaya di Asia. Materi aslinya berasal dari Jepang, memiliki pembaca luas secara global, lalu diolah menjadi film live-action oleh Korea Selatan. Rangkaian ini menunjukkan betapa cairnya arus budaya pop Asia saat ini. Jika dulu perbincangan banyak didominasi ekspor satu arah dari Hollywood, sekarang penonton Asia justru semakin terbiasa menikmati karya yang berpindah medium dan negara, tetapi tetap membawa rasa lokal masing-masing.

Di sinilah tantangan paling halus berada. Adaptasi yang berhasil bukan yang menyalin mentah-mentah cerita asli, melainkan yang tahu bagian mana yang harus dipertahankan dan bagian mana yang perlu diolah ulang agar cocok dengan sensitivitas penonton baru. Korea Selatan punya rekam jejak yang cukup baik dalam hal ini. Mereka paham bahwa yang paling mudah diterjemahkan ke penonton global bukan selalu dialog yang cerdas atau referensi yang sangat lokal, melainkan emosi yang kuat dan jelas.

Jeoncheondang tampaknya bergerak di jalur itu. Ceritanya bertumpu pada rasa sayang kepada keluarga, luka karena relasi sosial, dan dorongan untuk menjadi lebih baik. Tema-tema tersebut tidak bergantung pada pengetahuan khusus tentang budaya Korea. Karena itu, jika film ini nantinya menembus penonton di luar Korea, kekuatannya kemungkinan bukan pada skala produksi, melainkan pada kemampuannya menghadirkan emosi yang dapat diterjemahkan dengan minim kehilangan makna.

Bagi industri film Korea, keberhasilan film seperti ini juga akan penting sebagai penanda bahwa keluarga dan anak-anak tetap merupakan pasar yang layak digarap serius. Selama ini, banyak industri lebih mudah menanam modal pada genre yang jelas pasarnya seperti aksi atau thriller. Tetapi ketika sebuah fantasi keluarga berhasil, efeknya sering lebih panjang karena membangun loyalitas lintas generasi. Orang tua yang puas akan merekomendasikan, anak-anak yang tersentuh akan mengingat, dan nama film itu bisa hidup lebih lama daripada sekadar tren sesaat.

Pada akhirnya, berita tentang Ra Mi-ran dan Jeoncheondang bukan cuma kabar peluncuran film baru. Ini adalah sinyal tentang arah yang sedang dijajaki perfilman Korea: kembali memberi ruang pada kisah hangat di tengah pasar yang penuh kebisingan. Untuk penonton Indonesia yang selama ini mengikuti Hallyu bukan hanya lewat idol dan drama romantis, film ini layak dipantau sebagai contoh bagaimana Korea mengemas fantasi keluarga dengan rasa yang lebih lembut, lebih dekat, dan mungkin justru lebih membekas.

Jika film ini berhasil, yang menang bukan hanya adaptasi novel laris atau nama besar pemerannya. Yang menang adalah keyakinan bahwa di tengah industri hiburan yang serba cepat, cerita tentang harapan kecil manusia biasa masih punya tempat yang besar. Dan kadang-kadang, justru dari toko kecil berisi permen ajaib itulah kita diingatkan bahwa fantasi terbaik bukan yang paling megah, melainkan yang paling mengerti isi hati penontonnya.

Source: Original Korean article - Trendy News Korea

댓글

이 블로그의 인기 게시물

Korban yang Tersisa Lima: Saat Korea Selatan Masuk Fase Penentuan dalam Merawat, Mencatat, dan Mengajarkan Sejarah Jugun Ianfu

Ketika Ujaran Kebencian Jadi Konsumsi Sehari-hari: Korea Selatan Menghadapi Ujian Besar Integrasi Sosial di Era Masyarakat Multikultural

Bukan Sekadar Tangan Bergetar: Canggung Memakai Ponsel, Sembelit, hingga Mengigau Bisa Jadi Sinyal Awal Parkinson