Menjelang KTT dengan Jepang, Presiden Lee Jae-myung Pilih Masuk Pasar Tradisional di Andong: Pesan Politik yang Menyentuh Dapur Warga

Dari lorong pasar ke meja diplomasi
Sehari sebelum bertemu Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dalam sebuah pertemuan puncak di Andong, Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung lebih dulu memilih panggung yang jauh dari kesan formal: pasar tradisional. Pada 18 Mei 2026, Lee mengunjungi Andong Guseong Market di Gyeongsang Utara, menyapa warga, berbincang dengan pedagang, memenuhi permintaan foto, hingga mencicipi jajanan dan buah yang dijual di lokasi. Sekilas, pemandangan seperti ini tampak akrab bagi publik Asia, termasuk Indonesia. Kita pun terbiasa melihat pemimpin turun ke pasar, memeriksa harga kebutuhan pokok, atau menyapa pedagang kecil. Namun dalam konteks Korea Selatan, kunjungan Lee kali ini memuat lapisan makna yang lebih besar karena terjadi tepat sehari sebelum agenda diplomasi penting dengan Jepang.
Yang membuat peristiwa ini menarik bukan semata soal presiden turun ke lapangan. Lokasi, waktu, dan urutan acaranya membentuk pesan politik yang kuat. Lee tidak memulai rangkaian menjelang KTT dari ruang rapat di Seoul, dari podium kementerian luar negeri, atau dari panggung kenegaraan yang penuh simbol protokoler. Ia justru masuk ke ruang yang paling dekat dengan denyut ekonomi rakyat: pasar tradisional. Di situ, diplomasi tidak tampil sebagai urusan elite yang jauh dari keseharian warga, melainkan seolah ditautkan langsung dengan harga makanan, perputaran dagangan, dan suasana ekonomi lokal.
Bagi pembaca Indonesia, logika ini terasa mudah dipahami. Setiap kali isu luar negeri dibahas, pertanyaan di tingkat akar rumput biasanya sederhana: dampaknya apa ke kehidupan sehari-hari? Apakah harga kebutuhan pokok akan stabil? Apakah peluang dagang membaik? Apakah daerah di luar ibu kota ikut merasakan manfaatnya? Di Korea Selatan, kesan itulah yang tampak ingin dibangun menjelang pertemuan dengan Jepang. Lee seakan mengirimkan isyarat bahwa legitimasi diplomasi tidak lahir di ruang tertutup semata, melainkan juga di tengah warga yang menjalani ekonomi harian secara nyata.
Dalam laporan yang diringkas dari media Korea, kantor kepresidenan menjelaskan bahwa kunjungan ini dimaksudkan untuk berkomunikasi dengan warga dan menegaskan tekad menghidupkan ekonomi daerah. Penjelasan resmi itu penting karena memberi bingkai atas agenda tersebut: ini memang kunjungan domestik, tetapi waktunya membuat ia juga dibaca sebagai pesan pra-KTT. Dengan kata lain, Lee sedang memperlihatkan bahwa agenda luar negeri dan urusan kesejahteraan rakyat tidak dipasang di dua panggung yang terpisah.
Andong bukan latar biasa, melainkan panggung simbolik
Pemilihan Andong sebagai lokasi kunjungan sekaligus tempat KTT dengan Jepang membawa simbolisme yang kuat. Andong dikenal luas sebagai salah satu kota budaya dan sejarah penting di Korea Selatan. Kota ini lekat dengan citra tradisi Konfusianisme, warisan budaya, desa hanok, serta identitas regional yang kuat. Bagi orang Indonesia, Andong bisa dibayangkan seperti kota yang bukan pusat pemerintahan, tetapi punya bobot kultural besar dan kerap dipakai untuk menunjukkan akar tradisi nasional. Ia bukan sekadar titik di peta, melainkan semacam etalase identitas Korea yang lebih dalam daripada gambaran metropolitan Seoul.
Tambahan penting lain: Andong disebut sebagai kampung halaman Presiden Lee. Fakta ini memberi dimensi personal pada kunjungan tersebut. Seorang presiden yang akan bertemu pemimpin Jepang lebih dulu pulang ke daerah asalnya, lalu masuk ke pasar tradisional untuk menemui warga. Secara politik, itu bukan langkah netral. Ia bisa dibaca sebagai upaya merapatkan citra kepala negara dengan akar sosialnya sendiri, sekaligus menegaskan bahwa diplomasi tidak boleh lepas dari tempat dan komunitas yang membesarkan seorang pemimpin.
Dalam praktik politik modern, simbol seperti ini tidak pernah benar-benar kebetulan. Tempat menentukan narasi. Jika KTT digelar di ibu kota, pesan yang muncul biasanya soal wibawa negara dan formalitas institusi. Namun ketika pertemuan tingkat tinggi diadakan di kota daerah, apalagi kota yang identik dengan sejarah dan tradisi, maka yang tampil adalah citra negara yang lebih berlapis. Korea Selatan seolah ingin mengatakan kepada dunia bahwa identitas nasionalnya tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung tinggi Seoul, tetapi juga oleh kota-kota regional yang menyimpan memori budaya dan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Bagi Indonesia, pendekatan seperti ini terasa relevan. Kita juga kerap bergulat dengan pertanyaan tentang sentralisasi simbol negara di Jakarta. Karena itu, ketika Korea menempatkan Andong sebagai latar pertemuan penting dengan Jepang, ada pesan yang mudah ditangkap oleh pembaca Indonesia: diplomasi bisa dibawa keluar dari pusat kekuasaan dan ditempatkan di ruang yang lebih dekat dengan identitas kebudayaan bangsa. Dalam konteks tersebut, Andong bukan sekadar lokasi acara, melainkan bagian dari pesan itu sendiri.
Pasar tradisional sebagai bahasa politik yang sangat Korea
Adegan Presiden Lee di pasar tradisional juga penting dibaca sebagai bahasa politik visual. Menurut ringkasan laporan, ia melayani permintaan foto dari warga, menyapa anak-anak dengan sentuhan akrab, serta mencicipi sundae, eomuk, jeruk, dan pisang sambil berbincang dengan pedagang. Untuk pembaca Indonesia, beberapa istilah ini perlu dijelaskan. Sundae adalah makanan khas Korea berupa semacam sosis darah yang biasanya berisi bihun atau campuran bahan lain, populer di pasar-pasar tradisional. Eomuk adalah olahan ikan yang sering disajikan berkuah hangat, akrab sebagai jajanan jalanan yang murah dan merakyat, terutama saat cuaca dingin. Keduanya bukan makanan mewah, melainkan simbol keseharian.
Karena itu, ketika presiden mencicipi makanan seperti sundae dan eomuk di pasar, yang ditampilkan bukanlah selera kuliner seorang kepala negara, melainkan kedekatan dengan ruang ekonomi rakyat kecil. Di Korea Selatan, pasar tradisional memiliki kedudukan simbolik yang mirip dengan pasar rakyat di banyak kota Indonesia: tempat bertemunya isu harga, daya beli, interaksi sosial, dan rasa autentik kehidupan daerah. Bedanya, di Korea pasar tradisional juga kerap diposisikan sebagai arena penting untuk merawat identitas lokal di tengah ekspansi ritel modern dan platform belanja digital.
Dari sudut politik komunikasi, kunjungan seperti ini bekerja bukan lewat pidato panjang, melainkan lewat gambar yang mudah dipahami publik. Seorang presiden yang berjalan di lorong pasar, menerima ajakan swafoto, berhenti di lapak makanan, dan menyapa anak-anak menyampaikan pesan yang lebih langsung daripada konferensi pers. Bahasa tubuh, ruang, dan objek yang disentuh menjadi bagian dari narasi. Itulah mengapa peristiwa semacam ini sering punya gema besar, meskipun tanpa pengumuman kebijakan baru atau data ekonomi terbaru.
Tentu ada sisi pencitraan dalam seluruh proses itu, sebagaimana lazim dalam politik modern. Namun menyebutnya sekadar pencitraan juga terlalu dangkal. Dalam situasi menjelang pertemuan penting dengan Jepang, pasar tradisional memberi latar yang sangat efektif untuk menyampaikan bahwa kebijakan luar negeri harus berpijak pada ketahanan ekonomi domestik. Dengan kata lain, Lee sedang menunjukkan bahwa di balik segala protokol diplomatik, ada kehidupan warga biasa yang tetap menjadi ukuran utama keberhasilan politik negara.
Pesan pra-KTT: diplomasi harus punya dasar sosial
Fakta paling menentukan dari seluruh rangkaian ini adalah waktunya. Pada 19 Mei 2026, Lee dijadwalkan menggelar pertemuan puncak dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Andong. Artinya, kunjungan ke pasar sehari sebelumnya hampir pasti akan dibaca sebagai bagian dari penataan pesan menjelang KTT. Walaupun ringkasan berita tidak memuat detail agenda pembicaraan, isi kesepakatan, atau rencana pernyataan bersama, susunan acaranya sendiri sudah cukup jelas untuk menunjukkan garis komunikasi politik pemerintah Korea Selatan.
Lee tampak ingin menempatkan pertemuan dengan Jepang dalam kerangka yang tidak semata-mata strategis dan geopolitik, tetapi juga terkait dengan kehidupan warga. Ini menarik karena hubungan Korea Selatan dan Jepang secara historis bukan hubungan yang ringan. Ada beban sejarah kolonial, ada sentimen publik, ada kepentingan ekonomi, keamanan, dan stabilitas kawasan. Setiap langkah diplomatik antara Seoul dan Tokyo hampir selalu diperhatikan dengan cermat oleh masyarakat kedua negara. Karena itu, membangun landasan sosial sebelum KTT menjadi penting, termasuk secara simbolik.
Dalam kacamata pembaca Indonesia, pendekatan ini mengingatkan pada kebutuhan agar kebijakan luar negeri selalu bisa dijelaskan dengan bahasa yang membumi. Warga tidak selalu mengikuti detail istilah diplomatik, tetapi mereka paham jika pemerintah mengaitkan hubungan luar negeri dengan nasib pelaku usaha, pariwisata, perdagangan, dan harga kebutuhan harian. Di sinilah kunjungan ke pasar menjadi relevan. Pasar adalah lokasi yang paling mudah menerjemahkan “kepentingan nasional” ke dalam pengalaman sehari-hari.
Dengan mendatangi Andong Guseong Market sebelum bertemu PM Jepang, Lee seakan mengirimkan dua pesan sekaligus. Ke dalam negeri, ia menunjukkan bahwa pemerintah tidak ingin diplomasi terlihat terlepas dari persoalan ekonomi rakyat. Ke luar negeri, terutama kepada tamu dari Jepang dan audiens internasional, Korea Selatan memperlihatkan model diplomasi yang berakar pada legitimasi sosial. Negara hadir bukan hanya sebagai mesin negosiasi, tetapi sebagai representasi warga yang hidup dari kerja, konsumsi, dan ekonomi lokal.
Di sini letak kekuatan simboliknya. Lee tidak sekadar menunggu di ruang pertemuan lalu menyambut tamu asing secara formal. Ia lebih dulu menegaskan konteks domestik dari pertemuan itu. Seolah ada pesan implisit: sebelum bicara soal hubungan antarpemerintah, ada baiknya melihat lebih dulu wajah warga yang menjadi dasar dari semua keputusan tersebut. Dalam politik yang semakin visual dan cepat dibaca publik, urutan seperti ini amat menentukan makna.
Membaca bayangan hubungan Korea Selatan-Jepang dari satu kunjungan
Memang, dari ringkasan berita yang tersedia kita tidak bisa menyimpulkan terlalu jauh soal isi pembicaraan Lee dan Takaichi. Tidak ada rincian apakah mereka akan fokus pada kerja sama ekonomi, keamanan regional, rantai pasok, pariwisata, atau isu sejarah. Namun justru karena detail itu belum muncul, panggung simbolik menjelang pertemuan menjadi semakin penting dibaca. Kunjungan pasar tersebut memberi petunjuk tentang cara pemerintah Korea Selatan membingkai perjumpaan dengan Jepang di mata publiknya sendiri.
Hubungan Seoul-Tokyo memiliki ciri khas: ia selalu bergerak antara kebutuhan pragmatis dan sensitivitas historis. Di satu sisi, kedua negara saling membutuhkan dalam urusan perdagangan, teknologi, arsitektur keamanan kawasan, hingga stabilitas di Asia Timur. Di sisi lain, hubungan itu terus dibayangi memori masa lalu dan perubahan iklim politik domestik. Karena itulah, setiap gerak simbolik menjelang KTT bisa punya bobot lebih daripada sekadar protokol acara.
Andong sebagai lokasi KTT memberi nuansa yang berbeda. Pertemuan dengan Jepang tidak digelar dalam suasana yang sepenuhnya birokratis, tetapi di kota yang membawa identitas budaya Korea yang kental. Ini penting. Korea Selatan tampak tidak menanggalkan kepribadian budayanya ketika masuk ke ruang diplomasi, justru menampilkannya ke depan. Bagi audiens global, ini menunjukkan bahwa diplomasi Korea bukan hanya soal negara modern dengan industri teknologi dan budaya pop, tetapi juga negara dengan akar lokal yang sengaja ditampilkan dalam momen internasional.
Ada detail kecil lain yang juga menarik: Lee disebut sempat menyapa wisatawan asing di pasar. Momen ini mungkin singkat, tetapi maknanya tidak sepele. Ia memperlihatkan bahwa kota daerah di Korea Selatan saat ini bukan ruang lokal yang tertutup, melainkan bagian dari jaringan mobilitas internasional melalui pariwisata dan budaya. Dalam satu lorong pasar, domestik dan global bertemu. Karena itu, ketika KTT diadakan di Andong, pesan yang muncul bukan sekadar desentralisasi lokasi, tetapi juga pengakuan bahwa daerah pun sudah menjadi titik temu dengan dunia luar.
Ekonomi daerah, legitimasi politik, dan pelajaran untuk pembaca Indonesia
Pernyataan pejabat kepresidenan bahwa kunjungan ini dimaksudkan untuk menegaskan komitmen pada penguatan ekonomi daerah layak menjadi sorotan utama. Di banyak negara, termasuk Indonesia, kata “ekonomi daerah” sering terdengar normatif. Namun di Korea Selatan, ketika pernyataan itu dipasang sehari sebelum KTT dengan Jepang, artinya menjadi lebih strategis. Pemerintah tampak ingin menegaskan bahwa keberhasilan hubungan luar negeri pada akhirnya harus dapat diterjemahkan menjadi manfaat yang terasa hingga tingkat lokal.
Pasar tradisional adalah ruang yang sangat tepat untuk menyampaikan pesan itu. Tidak perlu angka makroekonomi untuk memahami maknanya. Di pasar, semua indikator sosial-ekonomi hadir secara kasatmata: ramai atau sepi, harga naik atau stabil, pembeli antusias atau menahan belanja, pedagang optimistis atau justru gelisah. Karena itu, kunjungan kepala negara ke pasar hampir selalu efektif secara visual. Ia menunjukkan bahwa politik belum sepenuhnya tercerabut dari kehidupan sehari-hari.
Bagi pembaca Indonesia, ada resonansi yang kuat di sini. Kita pun paham bahwa legitimasi pemerintah sangat ditentukan oleh kemampuan menjawab urusan dapur, bukan hanya retorika besar. Saat harga cabai, beras, atau minyak goreng naik, publik segera menagih respons negara. Dalam konteks Korea, makanan yang disentuh Lee mungkin sundae dan eomuk, bukan tempe atau bakso. Namun logikanya sama: politik yang ingin dipercaya harus berani datang ke titik paling konkret dari ekonomi rakyat.
Menariknya, peristiwa ini juga menunjukkan cara Korea Selatan menyeimbangkan citra modern dan tradisional. Selama ini Korea di mata dunia sering identik dengan K-pop, drama, teknologi, kosmetik, dan kota besar seperti Seoul atau Busan. Namun kunjungan Lee ke pasar Andong menjelang KTT mengingatkan bahwa wajah Korea yang lain tetap penting: kota daerah, pasar tradisional, makanan rakyat, dan interaksi spontan dengan warga. Justru dengan membawa elemen-elemen ini ke sekitar agenda diplomasi, Korea memperluas cara dunia melihat dirinya.
Di titik ini, publik Indonesia bisa membaca ada satu pelajaran komunikasi politik yang halus tetapi kuat. Kebijakan luar negeri akan lebih mudah diterima bila tidak disajikan sebagai urusan elit semata. Ia perlu diterjemahkan ke dalam konteks yang akrab dengan masyarakat. Lee tampaknya memahami itu. Karena itu, ia tidak membiarkan KTT dengan Jepang berdiri sebagai acara yang steril dari konteks sosial. Ia menempelkannya pada denyut kota, pada pasar, pada pedagang, pada warga yang meminta foto, dan pada suasana lokal yang tak bisa direkayasa sepenuhnya oleh protokol.
Satu hari, dua panggung, satu narasi besar
Pada akhirnya, kekuatan berita ini terletak pada apa yang bisa disebut sebagai “dua panggung dalam satu narasi”. Panggung pertama adalah panggung rakyat: lorong pasar, sapaan hangat, makanan sederhana, dan ekonomi daerah. Panggung kedua adalah panggung negara: pertemuan puncak dengan Jepang, diplomasi tingkat tinggi, dan sorotan internasional. Yang menarik, Presiden Lee tidak memisahkan keduanya. Ia justru menyusunnya berurutan sehingga publik melihat hubungan langsung antara urusan domestik dan agenda luar negeri.
Inilah yang membuat kunjungan ke Andong Guseong Market lebih dari sekadar liputan kegiatan presiden. Ia menjadi jendela untuk memahami bagaimana Korea Selatan ingin menampilkan dirinya hari ini: negara yang menegosiasikan kepentingannya di level internasional, tetapi tetap berusaha menunjukkan akar legitimasi pada warga dan wilayah di luar ibu kota. Dalam bahasa yang lebih sederhana, Lee tampak ingin berkata bahwa sebelum berbicara atas nama negara di hadapan dunia, ia lebih dulu hadir di tengah rakyat yang menjadi dasar mandatnya.
Tentu masih perlu menunggu hasil pertemuan dengan Jepang untuk menilai sejauh mana pesan simbolik ini berlanjut menjadi substansi kebijakan. Namun sebagai komunikasi politik, langkah tersebut sudah efektif. Ia mudah dipahami, kuat secara visual, dan relevan bagi publik yang sehari-hari lebih dekat dengan urusan ekonomi ketimbang istilah-istilah diplomasi tinggi. Bagi media dan pembaca Indonesia, cerita ini juga menarik karena memperlihatkan bahwa Hallyu dan Korea modern tidak hanya berbicara lewat budaya populer, tetapi juga lewat cara negara itu mengatur simbol politiknya.
Dalam satu hari yang tampak sederhana, Andong berubah menjadi panggung yang menyatukan identitas lokal, ekonomi rakyat, dan diplomasi regional. Seorang presiden berjalan di pasar, lalu bersiap duduk di meja pertemuan dengan pemimpin Jepang. Jarak antara keduanya, setidaknya dalam narasi yang dibangun kali ini, sengaja dibuat sangat dekat. Dan di situlah inti beritanya: Korea Selatan sedang menunjukkan bahwa diplomasi paling kuat bukan yang terlihat paling megah, melainkan yang sanggup menjelaskan dirinya kembali kepada rakyat biasa.
댓글
댓글 쓰기