Dari KTT Korea-Jepang ke Wisata Rasa dan Diplomasi Daerah: Mengapa Andong Kini Jadi Sorotan Baru di Korea Selatan

Andong Mendadak Jadi Nama yang Penting di Peta Wisata Korea
Dalam beberapa tahun terakhir, pembaca Indonesia mungkin lebih akrab dengan Seoul, Busan, atau Jeju ketika berbicara tentang pariwisata Korea Selatan. Nama-nama itu memang sudah lama menjadi etalase utama Hallyu, mulai dari lokasi syuting drama, pusat belanja, hingga kuliner kaki lima yang sering muncul di media sosial. Namun, perkembangan terbaru di Korea menunjukkan arah yang menarik: kota-kota daerah dengan akar tradisi yang kuat mulai naik ke panggung depan, bukan hanya karena promosi wisata biasa, melainkan karena peristiwa diplomatik tingkat tinggi. Salah satu contohnya adalah Andong, kota di Provinsi Gyeongsang Utara, yang kini mendapat perhatian besar setelah menjadi tuan rumah pertemuan puncak Korea Selatan dan Jepang pada 19 Juni lalu.
Menurut pembahasan yang dilakukan Pemerintah Provinsi Gyeongsang Utara pada 28 Juni, perhatian terhadap Andong tidak ingin dibiarkan menjadi sorotan sesaat. Pemerintah daerah membaca momentum ini sebagai peluang untuk menghubungkan diplomasi dengan sektor yang lebih konkret: pariwisata, kuliner, industri lokal, hingga kerja sama antarpemerintah daerah. Dengan kata lain, pertemuan antar kepala negara tidak hanya dianggap sebagai acara seremonial yang selesai dalam satu hari, melainkan titik awal untuk menggerakkan kunjungan wisata, memperpanjang lama tinggal turis, mendorong belanja lokal, dan memperkenalkan identitas budaya daerah ke pasar luar negeri.
Bagi pembaca Indonesia, pendekatan ini terasa familiar sekaligus relevan. Kita sering melihat bagaimana sebuah kota bisa mendadak jadi pembicaraan nasional setelah menjadi lokasi acara besar, entah konferensi internasional, perhelatan olahraga, atau festival budaya. Namun keberhasilan sesungguhnya tidak berhenti pada pemberitaan hari-H. Yang lebih penting adalah apakah sorotan itu bisa diterjemahkan menjadi manfaat ekonomi jangka panjang bagi warga setempat. Dalam konteks inilah Andong menarik untuk diperhatikan. Kota ini bukan sekadar “tempat acara”, melainkan wilayah yang memang sudah punya modal budaya kuat: desa tradisional, rumah hanok, ritual rakyat, kuliner khas, dan tradisi minuman lokal yang berlapis sejarah.
Ada faktor simbolik lain yang membuat Andong semakin menonjol. Kota ini dikenal sebagai kampung halaman Presiden Lee Jae-myung, yang menjabat sejak Juni 2025. Namun, kekuatan utama Andong bukan hanya simbol politik. Yang lebih penting, kota ini mempunyai citra sebagai ruang tempat tradisi Korea masih terasa padat dan hidup, bukan sekadar disimpan di museum. Itu sebabnya Andong kini dibaca pemerintah daerah sebagai panggung yang ideal untuk menunjukkan wajah Korea yang lebih dalam: bukan Korea yang hanya gemerlap, cepat, dan urban, melainkan Korea yang mengandalkan warisan budaya, ritme hidup yang lebih tenang, serta pengalaman tinggal yang menyatu dengan sejarah.
Perkembangan ini juga memberi sinyal penting tentang arah baru pariwisata Korea Selatan. Kini yang dijual bukan cuma daftar tempat indah untuk difoto, melainkan alasan mengapa seseorang perlu benar-benar datang, tinggal, mencicipi, dan memahami sebuah daerah. Dari sudut pandang itu, Andong adalah contoh bagaimana kota regional bisa mengubah perhatian internasional menjadi narasi wisata yang utuh.
Ketika Diplomasi Tidak Berhenti di Ruang Pertemuan
Yang membuat cerita Andong menarik bukan semata-mata karena kota ini dipilih sebagai lokasi pertemuan pemimpin Korea Selatan dan Jepang. Yang lebih penting adalah cara pemerintah daerah memanfaatkan momen tersebut. Dalam banyak kasus, acara diplomatik berakhir sebagai dokumentasi protokoler: foto berjabat tangan, jamuan resmi, lalu selesai. Tetapi di Andong, yang sedang dibangun justru logika berbeda. Pertemuan puncak dijadikan “kaca pembesar” untuk menyoroti aset budaya yang sebenarnya sudah ada sejak lama.
Ini penting karena menunjukkan bahwa daerah tidak harus selalu membangun gedung raksasa atau membuat atraksi buatan baru untuk meraih perhatian dunia. Kadang yang dibutuhkan adalah momentum yang tepat untuk menampilkan kekayaan yang selama ini sudah tersedia, tetapi belum dikemas secara strategis. Dalam kasus Andong, modal itu adalah lanskap desa tradisional, ritual kebudayaan malam hari, pengalaman menginap di hanok, makanan keluarga bangsawan, hingga minuman tradisional yang punya identitas kuat.
Bagi pembaca Indonesia, konsep ini bisa dibandingkan dengan bagaimana Yogyakarta, Solo, atau Ubud dipahami oleh wisatawan. Daya tarik utamanya tidak selalu terletak pada bangunan baru atau wahana modern, tetapi pada kesatuan suasana: arsitektur, kuliner, ritus budaya, kerajinan, dan cara masyarakat menjalani tradisi dalam kehidupan sehari-hari. Andong tampaknya sedang diarahkan ke jalur serupa, dengan versi khas Korea. Bedanya, dorongan kali ini mendapat akselerasi dari sorotan diplomatik regional, khususnya hubungan Seoul-Tokyo yang dalam beberapa tahun terakhir berusaha diperkuat melalui kerja sama praktis.
Dalam konteks lebih luas, langkah Gyeongsang Utara juga menunjukkan bahwa pariwisata modern semakin terkait dengan kebijakan publik yang rinci. Bukan hanya kampanye promosi, melainkan desain pengalaman. Pemerintah daerah menyadari bahwa kunjungan wisata tidak terjadi otomatis hanya karena sebuah kota sempat masuk berita internasional. Perlu ada paket yang jelas, infrastruktur yang ramah pengunjung, akses informasi yang mudah dipahami, dan jalur konsumsi yang membuat wisatawan betah mengeluarkan waktu serta uang di daerah tersebut.
Karena itu, Andong kini diposisikan bukan sekadar sebagai lokasi simbolik dari hubungan bilateral Korea-Jepang, tetapi sebagai laboratorium kecil tentang bagaimana diplomasi, budaya, dan ekonomi lokal bisa bertemu. Jika berhasil, model semacam ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain di Korea, bahkan bagi banyak kota di Asia, termasuk di Indonesia, tentang cara mengubah peristiwa politik menjadi nilai tambah wisata dan industri kreatif.
Hahoe, Hanok, dan Julbulnori: Tradisi yang Tidak Lagi Sekadar Ditonton
Dalam pembicaraan pengembangan wisata Andong, ada tiga elemen budaya yang menonjol: Desa Hahoe, pertunjukan Seonyu Julbulnori, dan pengalaman menginap di hanok. Ketiganya bukan sekadar objek wisata yang berdiri sendiri, melainkan satu rangkaian pengalaman yang dirancang untuk membuat wisatawan merasa tinggal di dalam suasana tradisional Korea, bukan hanya melihatnya dari kejauhan.
Desa Hahoe adalah salah satu simbol terkuat Andong. Bagi pembaca Indonesia yang belum akrab, Hahoe dapat dipahami sebagai desa tradisional yang masih mempertahankan pola permukiman, rumah-rumah tua, dan atmosfer kehidupan Korea masa lampau. Jika Indonesia punya kampung adat atau kawasan cagar budaya yang mencerminkan denyut sejarah, maka Hahoe memainkan peran serupa di Korea. Namun yang membuatnya berbeda adalah cara desa ini kerap hadir sebagai wajah representatif dari nilai Konfusianisme, struktur keluarga tradisional, dan estetika ruang hidup Korea yang sederhana tetapi terukur.
Lalu ada Seonyu Julbulnori, sebuah tradisi malam yang sangat visual. Julbulnori secara sederhana bisa dijelaskan sebagai pertunjukan api tradisional yang dipadukan dengan unsur ritual dan pemandangan alam. Dari perspektif wisata internasional, atraksi ini kuat karena menciptakan pengalaman yang sulit digantikan oleh layar ponsel semata. Orang bisa melihat foto atau video, tetapi sensasi berada di lokasi, menyaksikan gelap malam bertemu cahaya dan ritus, memberi kesan yang jauh lebih dalam. Dalam era perjalanan global yang semakin mengejar pengalaman autentik, atraksi semacam ini punya nilai besar.
Adapun hanok, rumah tradisional Korea, menjadi bagian penting dari strategi Andong. Di sini, hanok tidak diposisikan hanya sebagai penginapan unik untuk berfoto, melainkan cara untuk merasakan logika ruang Korea secara langsung. Menginap di hanok berarti mengalami struktur rumah yang berbeda, material kayu, halaman, keheningan malam, serta ritme tinggal yang lebih lambat. Bagi wisatawan Indonesia, pengalaman seperti ini mudah dipahami karena kita juga mengenal wisata menginap di rumah joglo, rumah gadang, atau rumah adat lain yang menawarkan lebih dari sekadar tempat tidur. Pengalaman itu menyentuh cara hidup.
Yang menarik, Gyeongsang Utara tampaknya paham bahwa kekuatan Andong justru lahir ketika ketiga unsur ini dihubungkan. Siang hari wisatawan berjalan di desa tradisional, malam menyaksikan ritual budaya, lalu beristirahat di hanok. Ini bukan kumpulan spot terpisah, melainkan satu narasi perjalanan. Dengan begitu, Andong punya peluang bergerak dari sekadar “tempat yang menarik untuk dilihat” menjadi “tempat yang layak ditinggali beberapa hari”. Dalam industri wisata, pergeseran dari wisata singkat ke lama tinggal yang lebih panjang sangat penting karena berpengaruh langsung pada belanja pengunjung di penginapan, restoran, toko suvenir, transportasi lokal, dan berbagai layanan lain.
Andong sedang mencoba menjual makna, bukan hanya pemandangan. Dan di era wisata pasca-ledakan media sosial, itu bisa menjadi keunggulan yang sangat penting.
Menargetkan Wisatawan Jepang: Dari Bahasa, Transportasi, sampai Cara Membayar
Salah satu poin paling praktis dalam pembahasan pemerintah daerah adalah target yang sangat jelas: menarik wisatawan Jepang. Ini bukan pendekatan yang kabur seperti sekadar menyebut “turis asing”. Pemerintah Gyeongsang Utara justru menegaskan perlunya produk wisata yang disesuaikan, termasuk perbaikan infrastruktur yang sering kali menentukan kualitas pengalaman perjalanan: akomodasi, transportasi, petunjuk multibahasa, serta lingkungan pembayaran yang nyaman.
Hal ini sangat penting. Di banyak destinasi, promosi sering terdengar indah, tetapi pengalaman di lapangan masih menyulitkan. Akses dari stasiun ke penginapan membingungkan, informasi hanya tersedia dalam bahasa lokal, metode pembayaran terbatas, atau wisatawan kesulitan mencari rute antarobjek. Akibatnya, tempat yang sebenarnya kaya budaya gagal meninggalkan kesan baik. Pemerintah Andong tampaknya ingin menghindari jebakan itu sejak awal.
Dalam praktik wisata modern, kesan pertama turis sering justru terbentuk bukan saat mereka melihat atraksi utama, melainkan ketika melakukan hal-hal dasar: memesan kamar, membeli tiket, naik transportasi, bertanya arah, atau membayar makanan. Karena itu, pembenahan hal yang terlihat sepele seperti papan informasi multibahasa dan sistem pembayaran non-tunai sesungguhnya adalah inti dari keramahan destinasi. Ini juga pelajaran yang sangat relevan bagi banyak kota wisata di Indonesia, yang acap kali sudah punya pemandangan hebat dan kuliner kuat, tetapi masih tertinggal dalam urusan kemudahan akses dan informasi asing.
Mengapa wisatawan Jepang menjadi fokus? Pertama, ada momentum politik dari pertemuan puncak tersebut. Kedua, pasar Jepang memiliki kedekatan geografis dan historis dengan Korea Selatan, sehingga peluang perjalanan singkat relatif besar. Ketiga, wisatawan Jepang selama ini dikenal memiliki minat terhadap detail budaya, warisan tradisional, kuliner, serta kualitas pelayanan. Andong, dengan karakter tradisional dan ritme perjalanan yang tidak terlalu hiruk-pikuk, secara profil memang cocok untuk ditawarkan ke pasar itu.
Poin penting lainnya adalah segmentasi. Pemerintah daerah tampak ingin memahami bahwa pasar internasional tidak bisa diperlakukan seragam. Wisatawan dari Jepang memiliki preferensi, bahasa, pola mobilitas, dan ekspektasi layanan yang berbeda dari wisatawan Asia Tenggara, Eropa, atau Amerika. Kesadaran semacam ini menunjukkan bahwa pariwisata Korea kini bergerak ke arah yang lebih cermat, lebih berbasis data, dan tidak lagi berhenti pada slogan besar. Dari sisi industri, ini menandakan profesionalisasi. Dari sisi wisatawan, ini berarti pengalaman yang lebih halus dan minim gesekan.
Jika strategi ini berhasil, Andong bukan hanya akan dikenal karena pertemuan bilateral, tetapi karena mampu mengubah ketertarikan sesaat menjadi arus kunjungan yang nyata dan berulang.
Kuliner dan Minuman Tradisional: Jalur Paling Cepat Menuju Ingatan Wisatawan
Tidak ada cerita tentang Andong yang lengkap tanpa membahas makanannya. Pemerintah Gyeongsang Utara juga melihat bahwa peluang terbesar tidak hanya datang dari wisata budaya, tetapi dari gastronomi. Nama-nama seperti Andong jjimdak, Andong soju, dan hidangan keluarga bangsawan setempat mulai kembali digarisbawahi sebagai aset yang bisa didorong bersamaan dengan promosi wisata.
Bagi pembaca Indonesia, Andong jjimdak bisa dibayangkan sebagai hidangan ayam berbumbu gurih-manis dengan aneka pelengkap yang kuat rasa dan cocok dibagikan bersama. Dalam budaya makan Korea, hidangan seperti ini punya kualitas sosial yang tinggi: disantap ramai-ramai, mengundang percakapan, dan mudah menjadi memori kolektif sebuah perjalanan. Sementara itu, Andong soju memiliki posisi yang lebih khas dibanding soju komersial yang akrab lewat drama Korea. Ini adalah minuman tradisional dengan nilai sejarah dan identitas lokal yang lebih tebal, bukan sekadar produk populer di minimarket.
Di sinilah strategi Andong terlihat cerdas. Makanan dan minuman diperlakukan bukan sebagai pelengkap turisme, melainkan sebagai pintu masuk utama menuju branding daerah. Dalam dunia pariwisata global, wisatawan sering kali mengingat kota melalui rasa: kopi tertentu, sup khas, jajanan jalanan, atau minuman yang hanya otentik jika diminum di tempat asalnya. Sama seperti orang mengingat Yogyakarta lewat gudeg, Padang lewat rendang, atau Makassar lewat coto dan konro, Andong ingin diingat lewat kuliner yang menegaskan identitas daerahnya.
Pemerintah daerah juga membahas kemungkinan menghubungkan Andong soju dengan sake dari Prefektur Nara di Jepang. Ini bukan sekadar strategi dagang, tetapi juga narasi budaya yang menarik. Dua tradisi minuman dari dua wilayah berbeda dapat dipertemukan sebagai bahan percakapan lintas budaya: bagaimana sejarah pembuatannya, bahan bakunya, cara penyajiannya, hingga posisi minuman itu dalam ritus sosial. Untuk pasar modern yang semakin menghargai cerita di balik produk, pendekatan ini punya daya jual besar.
Lebih jauh lagi, rencana pertukaran kuliner dan minuman tradisional, acara promosi di Jepang, serta pertemuan bisnis dengan pembeli potensial menunjukkan bahwa pariwisata kini tidak berdiri sendirian. Ia terhubung dengan ekspor pangan, pemasaran produk lokal, dan penguatan industri berbasis daerah. Ketika wisatawan mencicipi Andong jjimdak atau Andong soju, yang bergerak bukan hanya restoran, tetapi juga petani, produsen bahan pangan, pembuat minuman, desainer kemasan, dan pelaku logistik. Dengan demikian, kunjungan wisata menjadi pintu masuk bagi ekosistem ekonomi yang lebih luas.
Inilah salah satu alasan mengapa kota seperti Andong kini sangat diperhatikan. Mereka menawarkan formula yang lengkap: budaya untuk dilihat, ruang untuk ditinggali, dan rasa untuk dibawa pulang dalam ingatan.
Menghubungkan Andong dengan Nara: Diplomasi Daerah yang Menjadi Cerita Perjalanan
Salah satu gagasan paling menarik dari pembahasan di Gyeongsang Utara adalah penguatan hubungan dengan Prefektur Nara di Jepang. Rencana seperti pembuatan konten perbandingan tradisi, kuliner, hingga konsep seperti “jalan perdana menteri” menunjukkan bahwa diplomasi daerah kini tidak lagi kaku dan administratif. Ia bisa diolah menjadi cerita yang mudah dipahami wisatawan.
Bagi pembaca Indonesia, ini bisa dianggap sebagai bentuk “diplomasi kebudayaan level daerah”. Negara memang tetap menjadi aktor utama dalam hubungan internasional, tetapi yang makin penting justru kemampuan kota dan provinsi untuk membangun relasi langsung yang menghasilkan program nyata. Jika dua daerah sama-sama punya warisan sejarah yang kuat, mereka dapat membuat konten bersama, festival bersama, paket wisata tematik, bahkan jalur promosi lintas pasar. Efeknya lebih terasa di lapangan karena menyentuh pengalaman sehari-hari pengunjung.
Andong dan Nara sama-sama punya modal untuk dibandingkan secara menarik. Keduanya dapat dipresentasikan sebagai ruang tradisi, sebagai kota yang menyimpan nilai sejarah, dan sebagai tempat di mana makanan serta minuman lokal punya akar budaya yang dalam. Ketika wisatawan diperlihatkan perbandingan semacam itu, mereka tidak sedang diajak memilih mana yang lebih unggul, melainkan diajak memahami karakter masing-masing. Dalam pemasaran pariwisata, strategi perbandingan yang elegan seperti ini justru efektif karena membuat identitas tiap daerah tampak lebih jelas.
Pendekatan ini juga penting secara simbolik. Hubungan Korea Selatan dan Jepang selama ini tidak selalu mudah, karena dibayangi sejarah panjang dan ketegangan politik pada berbagai periode. Karena itu, kerja sama yang berangkat dari tradisi daerah, kuliner, dan pengalaman wisata bisa menjadi jalur yang lebih cair untuk memperluas ruang saling pengertian. Wisatawan yang datang tidak akan merasakan diplomasi sebagai dokumen resmi, melainkan sebagai perjalanan yang menyenangkan: melihat desa tua, mencicipi minuman lokal, memahami tradisi keluarga, dan menemukan titik temu di antara perbedaan budaya.
Dari sudut pandang media budaya, cerita ini penting karena memperlihatkan perubahan besar dalam cara Korea Selatan menjual identitasnya ke luar negeri. Jika dulu citra Korea banyak bertumpu pada K-pop, drama, kosmetik, dan kawasan metropolitan, kini daerah-daerah seperti Andong ikut maju dengan menawarkan lapisan yang lebih tua, lebih sunyi, tetapi justru lebih tahan lama. Ini seperti mengingatkan publik internasional bahwa Korea bukan hanya Seoul, sama seperti Indonesia bukan hanya Jakarta atau Bali.
Arah Baru Pariwisata Korea dan Pelajaran yang Relevan bagi Indonesia
Berita dari Andong pada akhirnya berbicara tentang tren yang lebih besar: pariwisata Korea Selatan sedang bergerak dari promosi tempat terkenal menuju perancangan alasan berkunjung yang lebih mendalam. Pemerintah daerah tidak lagi cukup berkata bahwa sebuah lokasi itu indah atau bersejarah. Mereka kini perlu menjelaskan bagaimana wisatawan akan bergerak, apa yang akan mereka rasakan, berapa lama mereka akan tinggal, makanan apa yang akan mereka coba, serta bagaimana kunjungan itu dapat terhubung dengan produk industri lokal dan jejaring internasional.
Ini juga sejalan dengan meningkatnya perhatian dunia terhadap budaya Korea di luar arus utama Hallyu. Ketertarikan global memang masih besar pada K-pop dan drama, tetapi lapisan berikutnya sedang berkembang: minat terhadap warisan budaya, makanan tradisional, penginapan khas, dan festival lokal. Dalam konteks tersebut, Andong punya posisi yang kuat karena ia tidak perlu menciptakan identitas baru. Kota itu tinggal menyusun ulang aset lamanya ke dalam paket yang lebih mudah dibaca publik internasional.
Bagi Indonesia, ada pelajaran yang patut dicatat. Banyak daerah di Tanah Air memiliki persoalan serupa sekaligus peluang serupa: warisan budaya besar, kuliner khas kuat, dan potensi cerita sejarah yang kaya, tetapi belum seluruhnya dirangkai menjadi pengalaman wisata yang mulus. Kita sering hebat dalam atraksi, tetapi belum selalu konsisten pada infrastruktur pendukung seperti transportasi lokal, informasi asing, pembayaran digital, dan kurasi perjalanan. Andong menunjukkan bahwa keberhasilan destinasi modern bukan hanya soal apa yang dimiliki, melainkan seberapa rapi semua unsur itu dihubungkan.
Pada saat yang sama, langkah Gyeongsang Utara mengingatkan bahwa daerah bisa menjadi pemain aktif dalam panggung internasional. Mereka tidak harus menunggu pemerintah pusat untuk selalu membuka jalan. Dengan kecerdikan membaca momentum, daerah dapat menjadikan diplomasi sebagai pengungkit ekonomi lokal dan promosi budaya. Ketika itu berhasil, yang mendapatkan manfaat bukan hanya sektor wisata, tetapi juga pertanian, UMKM, industri makanan-minuman, hingga citra daerah dalam jangka panjang.
Andong hari ini mungkin belum sepopuler Myeongdong atau Gangnam di telinga wisatawan Indonesia. Tetapi justru di situlah nilai beritanya. Kota ini sedang memperlihatkan bagaimana sebuah daerah yang kaya tradisi bisa melompat ke perhatian internasional tanpa kehilangan jati dirinya. Jika strategi yang kini dibahas benar-benar dijalankan dengan konsisten, Andong berpeluang menjadi contoh penting tentang wajah baru Korea Selatan: lebih lokal, lebih berlapis, dan lebih siap mengubah budaya menjadi pengalaman yang bernilai ekonomi tinggi.
Dalam bahasa sederhana, Andong sedang mencoba membuktikan satu hal: bahwa tradisi bukan barang lama yang hanya disimpan, melainkan modal masa depan yang bisa dijual dengan cerdas, dihormati dengan hati-hati, dan dinikmati oleh dunia.
댓글
댓글 쓰기