Saat Im Sung-han Bicara Soal Istirahat: Alarm untuk Industri Drama Korea yang Terlalu Bergantung pada Satu Nama

Ketika satu kalimat dari penulis drama menjadi berita besar
Di Korea Selatan, tidak banyak penulis drama yang namanya bisa memicu perbincangan sebesar para aktor papan atas. Namun Im Sung-han adalah pengecualian. Karena itu, ketika ia mengatakan ingin “beristirahat beberapa tahun” dari dunia drama setelah menuntaskan serial yang sedang tayang, perhatian publik tidak berhenti pada soal kapan karya berikutnya akan hadir. Ucapan itu justru dibaca lebih jauh: ada sesuatu yang tidak beres dalam cara industri drama bekerja, memperlakukan kreator, dan menilai keberhasilan sebuah karya.
Pernyataan itu muncul pada 17 April 2026, ketika Im Sung-han, penulis yang selama puluhan tahun dikenal lewat karya-karya penuh kontroversi sekaligus magnet penonton, menyampaikan bahwa menulis drama tidak lagi mudah dianggap sebagai langkah otomatis berikutnya. Dalam percakapan telepon dengan sebuah kanal YouTube, ia bahkan menyinggung kemungkinan menggarap program hiburan bertema kesehatan. Kalimat itu tampak sederhana, tetapi maknanya besar. Seorang penulis yang identik dengan drama yang intens, melodramatis, ekstrem, dan sering membuat orang mengernyit sekaligus penasaran, kini justru bicara tentang kesehatan dan jeda.
Bagi pembaca Indonesia yang mengikuti Hallyu, ini menarik bukan hanya karena menyangkut satu sosok terkenal. Ini menyentuh persoalan yang juga akrab di industri hiburan mana pun, termasuk Indonesia: apakah kreator dituntut terus-menerus menghasilkan karya tanpa ruang bernapas? Seberapa jauh industri menggantungkan hidup matinya proyek pada energi, stamina, dan ketahanan mental satu orang? Dan ketika angka rating tidak seindah harapan, apakah karya itu otomatis dianggap gagal?
Kasus ini menjadi semakin rumit karena serial yang sedang ditulis Im Sung-han, “Doctor Shin”, tidak mencatat performa rating yang mengesankan. Angkanya bertahan di kisaran 1 persen. Dalam ukuran industri televisi Korea, terutama untuk nama sebesar Im Sung-han, itu jelas bukan hasil yang mudah dirayakan. Namun justru di situlah letak persoalannya: apakah rating rendah berarti karya itu tidak hidup, atau justru industri kita yang terlalu cepat menyederhanakan nilai sebuah drama menjadi angka semata?
Im Sung-han, penulis yang selalu memecah penonton menjadi dua kubu
Bagi penonton Indonesia yang mungkin lebih familier dengan nama-nama seperti Kim Eun-sook, Park Ji-eun, atau Hong Sisters, posisi Im Sung-han di lanskap drama Korea punya warna yang berbeda. Ia bukan sekadar penulis populer. Ia adalah figur yang sejak lama identik dengan drama yang memancing reaksi ekstrem: dicintai habis-habisan oleh penggemar setia, tetapi juga kerap dikritik karena pilihan cerita yang dianggap berlebihan, aneh, atau terlalu drastis.
Kariernya dimulai pada 1990 lewat program drama di KBS. Sejak saat itu, namanya tumbuh menjadi semacam “merek” tersendiri. Kalau sebuah drama ditulis oleh Im Sung-han, publik Korea biasanya sudah punya ekspektasi sebelum episode pertama tayang: akan ada plot tak biasa, konflik yang mendorong batas kewajaran, dialog yang kadang terasa teatrikal, dan perkembangan cerita yang sulit ditebak. Ia adalah tipe penulis yang membuat penonton berkata, “Ini apaan?” tetapi tetap menunggu episode berikutnya.
Dalam konteks budaya populer Korea, posisi seperti ini tidak mudah ditemukan. Sistem industri drama di sana selama bertahun-tahun memang memberi tempat istimewa pada “star writer”, yakni penulis yang namanya cukup kuat untuk menjual proyek, memikat aktor, dan menarik minat investor maupun stasiun televisi. Dalam banyak kasus, penulis bukan sekadar penyedia naskah, melainkan pusat gravitasi proyek. Di Indonesia, analoginya mungkin tidak persis sama, tetapi kita paham pola itu dalam bentuk lain: ada sutradara, komedian, atau musisi tertentu yang namanya saja sudah cukup menjadi jaminan perhatian publik, meski hasil akhirnya belum tentu diterima semua orang.
Im Sung-han termasuk generasi ketika penulis drama bisa menjadi selebritas dalam arti kultural. Bukan selebritas yang rajin hadir di depan kamera, melainkan figur yang reputasinya membentuk ekspektasi. Karena itu, ketika ia bicara tentang kelelahan dan kebutuhan untuk berhenti sejenak, publik tidak membacanya sebagai keluhan personal belaka. Ini terasa seperti pengakuan dari seseorang yang sudah terlalu lama menanggung beban sistem.
“Doctor Shin” dan pertanyaan yang lebih besar daripada angka rating
Serial “Doctor Shin” sendiri sejak awal sudah terdengar seperti eksperimen yang berani. Drama ini mengusung kisah dokter jenius Shin Ju-shin yang menantang wilayah yang nyaris dianggap milik Tuhan, dengan elemen medis-thriller yang dipadukan pada gagasan ekstrem seperti operasi “brain change”. Ada pula karakter Momo, yang setelah mengalami kecelakaan perlahan kehilangan jiwanya karena kondisi otaknya. Dari premis saja, terlihat bahwa drama ini tidak berjalan di jalur aman.
Bagi penonton yang mengenal Im Sung-han lewat karya-karya keluarga atau drama relasi yang lebih khas, “Doctor Shin” menandai upaya memasuki genre yang berbeda. Ia tidak sekadar mempertahankan pola lamanya, tetapi mencoba membungkus sensibilitas dramatiknya ke dalam format medis-thriller. Secara artistik, ini patut dicatat. Tidak semua penulis mapan mau mengambil risiko di tahap karier ketika nama mereka justru lebih aman jika terus menjual formula lama.
Masalahnya, eksperimen seperti ini tidak selalu bertemu dengan selera pasar yang sedang berlaku. Di era ketika penonton Korea maupun global dibanjiri serial dari berbagai platform, pintu masuk ke sebuah drama menjadi sangat penting. Konsep yang terlalu liar bisa terasa segar bagi sebagian orang, tetapi bagi penonton lain justru menjadi penghalang. Elemen seperti operasi pergantian otak dapat dibaca sebagai imajinasi berani, tetapi juga bisa dianggap terlalu mengejutkan untuk dipercaya. Dalam genre thriller medis, keseimbangan antara ketegangan, logika internal cerita, dan rasa masuk akal sangat menentukan. Ketika salah satunya timpang, penonton mudah lepas.
Karena itu, performa “Doctor Shin” yang tertahan di kisaran 1 persen bukan semata soal kualitas baik atau buruk. Ini juga berbicara tentang perubahan cara penonton memilih tontonan. Hari ini, drama tidak hanya bersaing dengan drama lain di jam tayang yang sama. Ia juga bersaing dengan potongan video pendek, serial OTT dari negara lain, tayangan variety show, hingga kebiasaan penonton yang menunda menonton sampai ramai dibahas di media sosial. Bagi drama dengan nada yang kuat dan rasa yang sangat khas, tantangannya lebih berat lagi: ia harus mengajak penonton masuk ke dunianya dengan cepat, tanpa kehilangan identitas.
Yang menarik, Im Sung-han tidak menanggapi angka itu dengan nada menyerah. Ia mengatakan kira-kira begini: kalau karyanya benar-benar buruk dan tidak menarik, itu pantas jadi bahan refleksi. Tetapi kalau masih ada penonton yang merasa ceritanya bagus, seru, dan membuat mereka tenggelam, maka itu pun punya nilai. Bahkan ia menyatakan kepercayaan bahwa episode-episode berikutnya akan lebih menarik. Pernyataan ini penting, sebab ia memperlihatkan jurang antara ukuran industri dan pengalaman penonton. Satu pihak melihat angka, pihak lain merasakan keterikatan.
Ketika kesehatan penulis menjadi isu industri, bukan lagi urusan pribadi
Bagian paling penting dari pernyataan Im Sung-han justru bukan soal rating, melainkan alasan di balik keinginannya untuk berhenti sementara. Ia secara terbuka menyebut menulis drama buruk bagi kesehatannya. Ini kalimat yang seharusnya membuat industri berhenti sejenak. Selama bertahun-tahun, publik menikmati drama Korea sebagai produk budaya yang tampak rapi, emosional, dan berkualitas tinggi. Namun di balik layar, ada sistem kerja yang terkenal keras: jadwal padat, revisi yang berjalan sambil produksi berlangsung, tekanan dari penayangan mingguan, dan ekspektasi publik yang nyaris tanpa ampun.
Di Korea, penulis drama sering diposisikan sebagai jantung cerita. Pada penulis dengan identitas sekuat Im Sung-han, beban itu bahkan lebih besar. Dunia cerita, gaya dialog, ritme konflik, hingga “rasa” keseluruhan serial disandarkan pada satu kepala. Jika proyek berhasil, penulis dipuji. Jika hasilnya mengecewakan, penulis pula yang pertama disorot. Struktur seperti ini terlihat glamor dari luar, tetapi amat rentan dari sisi keberlanjutan kerja.
Dalam banyak industri kreatif Asia, termasuk yang dekat dengan kita, kelelahan kreator sering dianggap sebagai harga yang wajar. Semakin besar proyek, semakin dianggap normal bila ada kurang tidur, tekanan mental, atau kondisi fisik yang menurun. Logikanya sederhana tetapi kejam: yang penting karya selesai, tayang tepat waktu, dan menghasilkan. Padahal, ketika seorang kreator senior yang sudah puluhan tahun bertahan justru mengatakan ia perlu jeda beberapa tahun demi kesehatan, itu menandakan ada biaya yang selama ini disembunyikan di balik gemerlap industri.
Ucapan Im Sung-han juga menyentuh realitas pascapandemi. Ia menyinggung bahwa dirinya sempat mempertimbangkan menulis film, tetapi merasa industri film setelah Covid-19 tidak lagi hidup seperti dulu. Ini menunjukkan bahwa problem keberlanjutan kreatif tidak hanya terjadi di televisi. Perubahan ekosistem hiburan, migrasi penonton ke platform digital, model bisnis yang belum stabil, dan tekanan produksi yang semakin tidak pasti membuat banyak kreator kesulitan menemukan ritme kerja yang sehat.
Di titik ini, pembaca Indonesia mungkin melihat paralel yang tidak jauh. Di sini pun diskusi soal kesehatan mental dan beban kerja di industri hiburan semakin sering muncul, meski belum sepenuhnya menjadi arus utama. Dari rumah produksi sinetron yang mengejar tayang harian hingga pekerja kreatif digital yang hidup di bawah tekanan algoritma, pertanyaannya sama: berapa lama seseorang bisa terus memproduksi karya sebelum tubuh dan pikirannya meminta berhenti? Kalau seorang penulis sekelas Im Sung-han saja sampai mengucapkan itu di depan publik, maka persoalannya jelas bukan kelemahan personal.
Dari drama ekstrem ke wacana “variety show” kesehatan
Ada satu bagian yang terdengar hampir ironis tetapi justru paling simbolis: Im Sung-han membuka kemungkinan menggarap program hiburan bertema kesehatan. Sekilas ini seperti perpindahan genre biasa. Namun jika dibaca lebih dalam, ada perubahan fokus yang penting. Seorang penulis yang sepanjang kariernya dikenal merancang konflik intens, kejutan besar, dan drama yang seolah tak pernah memberi jeda, kini tertarik pada tema yang menempatkan tubuh, keseimbangan hidup, dan perawatan diri di pusat perhatian.
Perubahan ini bisa dibaca sebagai gejala zaman. Industri hiburan Korea, yang selama ini identik dengan kecepatan, efisiensi, dan kompetisi sangat ketat, mulai lebih terbuka membicarakan kesehatan fisik dan mental. Dalam beberapa tahun terakhir, isu burnout, jeda karier, hingga perlindungan pekerja kreatif tidak lagi sesunyi dulu. Penonton juga lebih mudah memahami bahwa kreator bukan mesin. Mereka mungkin tetap menuntut kualitas, tetapi semakin sadar bahwa kualitas tidak lahir dari sistem yang memeras orang tanpa henti.
Di Indonesia, tren semacam ini juga terasa. Program kesehatan, gaya hidup seimbang, dan pembicaraan tentang self-care memang kadang terdengar seperti jargon kelas menengah perkotaan. Namun di balik itu, ada kebutuhan nyata untuk meninjau ulang budaya kerja yang menganggap kelelahan sebagai tanda dedikasi. Karena itulah, ketika seorang penulis drama legendaris tiba-tiba bicara soal kesehatan, resonansinya melampaui batas industri Korea. Ia seperti sedang mengatakan bahwa bahkan di puncak karier sekalipun, tubuh punya batas yang tak bisa dinegosiasikan terus-menerus.
Apakah era “star writer” Korea sudah berakhir?
Pertanyaan berikutnya adalah soal posisi penulis besar di era sekarang. Apakah kasus Im Sung-han menandakan era “star writer” Korea sudah selesai? Jawabannya mungkin tidak sesederhana ya atau tidak. Yang terlihat justru proses penataan ulang. Nama besar masih penting, tetapi cara nama besar bekerja di pasar sudah berubah.
Dulu, reputasi penulis bisa menjadi motor utama sejak tahap awal proyek. Nama yang kuat cukup untuk menciptakan rasa penasaran, mengundang pemain terkenal, dan membentuk antisipasi publik. Sekarang, itu belum tentu cukup. Penonton hidup dalam ekosistem yang jauh lebih terfragmentasi. Mereka menonton dari televisi linear, layanan streaming, cuplikan media sosial, hingga rekomendasi algoritma. Artinya, nama besar memang bisa membuka pintu, tetapi belum tentu membuat penonton bertahan di dalam ruangan.
“Doctor Shin” menunjukkan perubahan itu dengan sangat jelas. Im Sung-han masih memiliki daya tarik sebagai brand. Namanya tetap memancing rasa ingin tahu. Namun mempertahankan perhatian penonton di tengah persaingan konten yang padat membutuhkan lebih dari sekadar reputasi. Harus ada kecocokan dengan kebiasaan menonton masa kini, ritme penceritaan yang tepat, titik masuk yang ramah bagi penonton baru, dan kemampuan menyeimbangkan eksperimen dengan aksesibilitas.
Meski begitu, terlalu dini jika menyimpulkan bahwa penulis besar sudah kehilangan relevansi. Yang lebih akurat, tuntutan terhadap mereka kini lebih kompleks. Mereka bukan hanya dituntut punya “suara” yang khas, tetapi juga perlu memahami dinamika platform, perilaku audiens, dan cara membangun komunitas penonton yang tidak semata bergantung pada rating domestik. Dalam konteks ini, istirahat yang diambil Im Sung-han, bila benar terjadi, bisa dibaca bukan sebagai akhir, melainkan jeda untuk menata ulang cara berkarya.
Di antara rating dan fandom: bagaimana seharusnya kita menilai sebuah drama?
Ucapan Im Sung-han tentang tidak perlu hidup tenggelam dalam angka menyentuh perdebatan yang lebih luas. Dalam industri drama Korea hari ini, rating televisi masih penting, terutama untuk stasiun penyiaran dan perhitungan bisnis tradisional. Tetapi pengalaman menonton sudah jauh melampaui ukuran itu. Sebuah drama bisa memiliki rating biasa saja namun sangat aktif dibicarakan di komunitas online. Sebaliknya, ada juga tayangan yang mendapat angka bagus tetapi cepat menguap dari ingatan publik.
Ini terutama relevan untuk karya-karya yang punya identitas kuat. Drama semacam itu tidak selalu lahir untuk menyenangkan semua orang. Kadang ia justru hidup karena membentuk kelompok penonton yang sangat loyal. Mereka mungkin tidak cukup besar untuk membuat rating meledak, tetapi keterikatannya dalam. Mereka menunggu, menafsirkan, memperdebatkan, dan membela karya itu. Dalam ekosistem budaya populer saat ini, kekuatan seperti ini tidak bisa dianggap remeh.
Bagi pembaca Indonesia, kita juga akrab dengan fenomena semacam ini. Ada sinetron, film, atau serial yang mungkin tidak dipuji secara merata, tetapi punya penggemar militan dan daya hidup panjang di percakapan publik. Ada pula karya yang ketika tayang terasa biasa, tetapi beberapa tahun kemudian justru dipandang ulang dan dianggap berpengaruh. Artinya, nilai sebuah karya tidak pernah sepenuhnya selesai pada minggu ia ditayangkan.
Namun tentu saja kita juga tidak bisa bersikap romantis dan mengabaikan realitas bisnis. Rating tetap penting sebagai bahasa industri: dasar iklan, keberlanjutan slot tayang, kepercayaan investor, dan keputusan untuk proyek lanjutan. Tantangannya adalah bagaimana industri mengembangkan ukuran yang lebih cerdas. Bukan meninggalkan angka, melainkan menempatkannya bersama indikator lain seperti loyalitas penonton, percakapan digital, potensi tayang ulang, konsumsi lintas platform, dan dampak budaya jangka panjang.
Dalam hal ini, pernyataan Im Sung-han berfungsi seperti batu yang dilempar ke permukaan air yang tenang. Gelombangnya mengingatkan bahwa menilai drama hanya dari angka penonton saat tayang adalah cara pandang yang makin sempit. Terlebih untuk karya dari penulis dengan gaya yang memang sejak awal tidak pernah bermain aman.
Apa artinya bagi masa depan drama Korea dan bagi penonton Indonesia?
Bagi industri Korea, pernyataan ini semestinya menjadi momen evaluasi. Jika penulis senior dengan pengalaman puluhan tahun merasa menulis drama sudah tidak sehat bagi dirinya, maka sistem produksi perlu bertanya ulang tentang ritme kerja, pembagian beban kreatif, dan model pengembangan naskah. Apakah masih masuk akal menggantungkan banyak hal pada satu penulis? Apakah ruang penulis, kolaborasi yang lebih sehat, dan jadwal produksi yang lebih manusiawi bisa menjadi jawaban? Dan apakah stasiun televisi maupun platform siap memberi ruang bagi model kerja yang lebih berkelanjutan?
Bagi penonton Indonesia, kisah ini juga menarik karena Hallyu selama ini sering terlihat dari sisi hasil akhir: aktor glamor, sinematografi rapi, alur yang bikin candu, dan produksi yang tampak serba profesional. Jarang dibicarakan dengan serius bahwa di balik itu ada manusia-manusia yang kelelahan. Padahal, jika kita benar-benar mencintai budaya populer Korea, kita juga perlu melihat sisi kerjanya, bukan hanya produknya. Kualitas hiburan yang kita nikmati selalu berhubungan dengan kondisi orang-orang yang membuatnya.
Im Sung-han mungkin akan benar-benar berhenti beberapa tahun. Mungkin juga ia akan kembali lebih cepat dengan format yang berbeda. Apa pun keputusannya nanti, satu hal sudah jelas: ucapan tentang istirahat ini lebih penting daripada sekadar rumor proyek berikutnya. Ini adalah pengingat bahwa industri hiburan, seberapa canggih dan mendunianya pun, tetap rapuh jika dibangun di atas pola kerja yang tidak sehat dan ukuran keberhasilan yang terlalu sempit.
Pada akhirnya, “Doctor Shin” mungkin akan dikenang bukan sebagai drama dengan rating tinggi, melainkan sebagai titik ketika publik kembali melihat sosok penulis, bukan hanya hasil pekerjaannya. Dalam dunia yang serba cepat dan terus mengejar angka, mungkin justru itu pertanyaan paling mendesak: bukan hanya apakah sebuah drama laris, tetapi apakah orang yang menulisnya masih bisa terus hidup, sehat, dan berkarya setelah lampu studio padam.
댓글
댓글 쓰기