Mengapa Drama Korea Bertema Penghiburan Relevan Saat Ini? Membaca Arah Baru JTBC Lewat Kisah tentang Rasa Tak Berharga

Dari fantasi kemenangan ke cerita pemulihan
Industri drama Korea kembali memperlihatkan perubahan arah yang menarik. Jika dalam satu dekade terakhir banyak serial menonjolkan kisah balas dendam, keberhasilan spektakuler, atau tokoh utama yang akhirnya mengalahkan sistem yang tidak adil, kini muncul kecenderungan lain yang terasa lebih hening, tetapi justru dekat dengan pengalaman sehari-hari penonton. Drama baru JTBC yang tayang perdana pada 18 April pukul 22.40 waktu Korea, berjudul Everybody Is Fighting Their Own Worthlessness, hadir bukan dengan janji kemenangan yang menggelegar, melainkan dengan pendekatan yang lebih lembut: penghiburan, empati, dan upaya menemukan kembali ketenangan batin.
Judulnya saja sudah mengundang perhatian karena sangat frontal. Di tengah industri hiburan yang biasanya membungkus luka dengan romansa, komedi, atau thriller, memilih kata “ketidakberhargaan” sebagai wajah utama promosi jelas bukan keputusan yang aman. Namun justru di situ letak daya tariknya. Drama ini seolah membaca suasana zaman: banyak orang hari ini tidak sedang menunggu kisah pahlawan super, melainkan mencari bahasa yang bisa menjelaskan rasa lelah, iri, malu, dan tertinggal yang selama ini sulit diucapkan.
Bagi pembaca Indonesia, pergeseran ini terasa mudah dipahami. Kita juga hidup di tengah budaya perbandingan yang makin keras, dari prestasi kerja, pencapaian finansial, relasi asmara, sampai urusan gaya hidup yang dipamerkan di media sosial. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung, tekanan untuk “sudah jadi apa” di usia tertentu tidak kalah intens dari Korea Selatan. Obrolan keluarga saat Lebaran, pertanyaan soal kapan menikah, kapan punya rumah, atau mengapa karier teman seangkatan terlihat lebih melesat, sering kali menjadi sumber kegelisahan yang tidak tampak di permukaan. Karena itu, ketika drama Korea mulai beralih dari narasi kemenangan ke narasi pemulihan, sebenarnya ia sedang berbicara pada keresahan yang sangat lintas negara, termasuk Indonesia.
Dalam konteks itulah drama ini penting dibaca. Ia bukan sekadar serial harian tentang tokoh yang hidupnya sedang sulit. Ia membawa semacam pernyataan kultural: bahwa perasaan gagal, minder, dan rapuh tidak selalu harus diperlakukan sebagai kelemahan personal yang memalukan. Ada struktur sosial, budaya kompetisi, dan kebiasaan membandingkan diri yang ikut membentuk luka itu. Dan ketika televisi memilih untuk menaruh penghiburan di baris paling depan, itu menandakan perubahan selera penonton sekaligus perubahan cara industri memahami realitas.
Premis yang sederhana, tetapi sangat sezaman
Di atas kertas, premis drama ini tampak sederhana. Tokoh utamanya, Hwang Dong-man, adalah seorang lelaki yang telah menghabiskan 20 tahun hidupnya untuk mempersiapkan debut sebagai sutradara film. Ia belum benar-benar menyerah, tetapi juga belum sampai ke titik yang diinginkan. Dalam perjalanan panjang itu, ia bergulat dengan iri hati, kecemburuan, rasa rendah diri, dan perasaan bahwa dirinya tidak cukup bernilai dibanding orang-orang di sekitarnya yang terlihat lebih berhasil.
Justru kesederhanaan inilah yang membuat cerita tersebut terasa kontemporer. Yang dihadapi Hwang Dong-man bukan semata kegagalan objektif, melainkan apa yang oleh masyarakat modern sering dirasakan sebagai “ketertinggalan relatif”. Artinya, seseorang mungkin belum sepenuhnya hancur, masih bekerja, masih berusaha, masih punya harapan, tetapi batinnya terguncang karena melihat orang lain seolah berlari lebih cepat. Di era media sosial, perasaan seperti ini sangat akrab. Kita tahu betul rasanya membuka ponsel dan melihat teman lama mengumumkan promosi jabatan, menikah, membeli rumah, menerbitkan buku, atau liburan ke luar negeri, lalu tanpa sadar bertanya pada diri sendiri: mengapa hidup saya seperti jalan di tempat?
Di Korea Selatan, kegelisahan ini punya konteks sosial yang kuat. Budaya kompetisi di sana sangat ketat, mulai dari pendidikan, dunia kerja, hingga industri kreatif. Konsep “spec” atau spesifikasi diri—yakni daftar prestasi, sertifikasi, pengalaman, dan kualitas yang dianggap layak dijual di pasar kerja—sudah lama membentuk mental generasi muda. Namun tekanan semacam itu bukan sesuatu yang asing bagi Indonesia. Kita mungkin tidak memakai istilah yang sama, tetapi logika dasarnya serupa: CV harus mengesankan, pencapaian harus terukur, dan hidup seolah hanya sah jika bisa ditunjukkan dalam bentuk hasil.
Drama ini tampaknya tidak hendak menggurui penonton dengan solusi instan. Dari materi yang diperkenalkan dalam konferensi pers produksi, fokus utamanya bukan pada pembalikan nasib yang spektakuler, melainkan pada proses seorang manusia menemukan kembali kedamaian setelah lama merasa dirinya kalah. Pilihan semacam ini penting karena ia memberi tempat bagi emosi yang sering dihapus dari layar. Dalam banyak kisah sukses, rasa iri dan minder biasanya hanya menjadi batu loncatan sebelum tokohnya bangkit dan membuktikan semua orang salah. Di sini, emosi-emosi itu justru diperiksa lebih serius sebagai bagian dari pengalaman manusia yang wajar, meski tidak nyaman.
Ini adalah pendekatan yang bisa terasa sangat melegakan bagi penonton. Tidak semua orang ingin menonton drama sebagai fantasi hidup ideal. Banyak juga yang menonton untuk merasa dipahami. Dan dalam masyarakat yang semakin penat, dipahami kadang lebih penting daripada dibuat terpukau.
Kombinasi kreator yang membuat ekspektasi langsung tinggi
Antusiasme terhadap drama ini juga lahir dari nama-nama di balik layar. Sutradara Cha Young-hoon dikenal lewat karya-karya seperti When the Camellia Blooms dan Welcome to Samdalri, dua drama yang sama-sama kuat dalam menangkap tekstur emosi sehari-hari tanpa harus kehilangan daya tarik populer. Sementara naskahnya ditulis Park Hae-young, penulis yang oleh banyak penggemar K-drama dianggap punya kemampuan langka dalam mengubah luka batin menjadi dialog yang membekas. Nama Park Hae-young identik dengan karya seperti Another Miss Oh, My Mister, dan My Liberation Notes, tiga judul yang masing-masing membuktikan bahwa percakapan sederhana bisa menyimpan kedalaman psikologis yang besar.
Bila diterjemahkan ke dalam bahasa penonton awam, pertemuan dua kreator ini seperti menggabungkan penulis yang piawai “mendengarkan” hati manusia dengan sutradara yang tahu kapan harus mendekat dan kapan harus memberi jarak. Park Hae-young tidak dikenal lewat dialog yang bombastis. Ia lebih sering menulis kalimat yang terdengar biasa, tetapi menghantam karena terasa seperti sesuatu yang pernah kita pikirkan sendiri diam-diam. Ada jeda, ada keraguan, ada kelelahan yang tidak diucapkan secara langsung. Sementara Cha Young-hoon punya kecenderungan untuk tidak menghakimi karakternya. Ia tidak buru-buru menempatkan orang dalam kotak hitam-putih antara baik dan jahat, sukses dan gagal.
Dalam lanskap industri saat ini, kombinasi itu penting. Pasar drama, terutama setelah ledakan platform OTT, cenderung memberi ruang besar bagi serial yang serba cepat: plot harus langsung memancing, konflik harus tajam, dan setiap episode sebisa mungkin menghasilkan percakapan viral. Formula itu tentu tidak salah, bahkan masih sangat efektif. Tetapi ada konsekuensi yang muncul: ruang bagi emosi yang pelan, samar, dan bertumbuh perlahan menjadi semakin sempit. Drama yang bertumpu pada kepadatan perasaan, bukan ledakan peristiwa, harus bekerja lebih keras untuk menonjol.
Karena itu, kehadiran proyek ini terasa seperti langkah sadar. Alih-alih mengejar sensasi sesaat, tim kreatifnya tampak memilih membangun resonansi jangka panjang. Jenis drama seperti ini mungkin tidak selalu menghasilkan adegan yang langsung menjadi meme atau potongan video viral di hari pertama. Namun bila berhasil menyentuh penonton, ia bisa bertahan lebih lama dalam percakapan publik. Banyak penonton Indonesia merasakan hal serupa saat menyaksikan My Mister atau My Liberation Notes: bukan drama yang “ramai” tiap detik, tetapi justru yang terus teringat berhari-hari setelah selesai ditonton.
Dengan kata lain, ekspektasi terhadap serial baru JTBC ini bukan semata karena nama besar para pembuatnya, melainkan karena publik melihat kemungkinan lahirnya karya yang punya keberanian emosional. Di tengah banjir konten, keberanian untuk pelan justru bisa menjadi pembeda paling kuat.
Goo Kyo-hwan dan sosok yang tidak sepenuhnya kalah, tidak juga menang
Pemilihan Goo Kyo-hwan sebagai pemeran Hwang Dong-man menambah lapisan menarik dalam drama ini. Di industri hiburan Korea, ia dikenal sebagai aktor dengan kehadiran yang khas, sulit ditebak, dan punya ritme akting yang tidak mudah ditiru. Ia mampu memainkan karakter eksentrik, rapuh, atau ganjil dengan kadar yang pas, tanpa terjebak menjadi karikatur. Dalam banyak penampilannya, yang menonjol bukan sekadar dialog, melainkan cara ia membangun “udara” di sekitar tokoh: tatapan yang menggantung, senyum yang setengah jadi, atau bahasa tubuh yang memberi kesan seseorang sedang menahan sesuatu di dalam dirinya.
Karakter Hwang Dong-man tampaknya memerlukan kualitas semacam itu. Ia bukan pecundang total yang sudah menyerah pada hidup. Ia juga bukan tokoh jenius yang hanya tinggal menunggu momen pembuktian. Ia berada di wilayah antara: masih punya harapan, tetapi lelah; masih ingin diakui, tetapi malu mengakuinya; masih berjalan, tetapi tidak yakin arahnya benar. Karakter seperti ini sulit dimainkan bila aktor terlalu ingin terlihat heroik atau terlalu larut dalam kesengsaraan. Ia membutuhkan keseimbangan antara kehancuran batin dan sisa harga diri yang belum padam.
Di situlah Goo Kyo-hwan terasa cocok. Ada ironi yang kuat dalam casting ini: publik mengenalnya sebagai aktor sukses, seseorang yang secara sosial jelas “bernilai”, tetapi di layar ia akan memerankan orang yang bertarung dengan rasa tak berharga. Kesenjangan antara citra aktor dan nasib karakter justru dapat memperkuat pesan drama. Sebab ia mengingatkan penonton bahwa rasa minder tidak hanya dimiliki mereka yang tampak gagal secara kasat mata. Bahkan orang yang dari luar terlihat mapan dan diakui pun bisa digerogoti oleh perbandingan, kegelisahan, dan rasa belum cukup.
Hal ini sangat relevan bagi masyarakat Indonesia hari ini. Kita sering terjebak pada asumsi bahwa masalah mental atau rasa rendah diri hanya dialami orang yang “tidak berhasil”. Padahal banyak orang yang tampak stabil dari luar—punya pekerjaan bagus, pengikut media sosial banyak, atau terlihat produktif—sebenarnya juga sedang bergulat dengan tekanan yang tidak kecil. Drama ini berpotensi menormalisasi percakapan itu. Bahwa rasa tidak berharga bukan milik satu kelas sosial tertentu, bukan juga bukti kelemahan karakter, melainkan kondisi emosional yang bisa menyelinap ke siapa saja.
Pada akhirnya, keberhasilan karakter semacam Hwang Dong-man tidak akan diukur dari seberapa gemilang ia menaklukkan dunia. Ukuran keberhasilannya justru mungkin jauh lebih sunyi: apakah ia bisa berdamai dengan dirinya sendiri, apakah ia masih sanggup mencintai hidup tanpa terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Dan untuk perjalanan emosional seperti itu, Goo Kyo-hwan punya modal yang meyakinkan.
Ketika drama memilih menghibur, bukan menguliahi
Salah satu pernyataan paling penting dari tim produksi adalah bahwa drama ini menawarkan “penghiburan hangat dan empati”, bukan “kisah sukses yang menyegarkan seperti soda”. Frasa itu mungkin terdengar seperti kalimat promosi, tetapi jika dicermati lebih dalam, ia mencerminkan perubahan cara industri membaca kebutuhan penonton. Dulu, hiburan sering dipahami sebagai pelarian dari kenyataan. Karena hidup sehari-hari sudah sulit, layar memberi fantasi bahwa pada akhirnya yang baik akan menang, yang sabar akan dibalas, dan yang tertindas akan berjaya. Pola itu masih bekerja sampai sekarang, dan memang ada kepuasan emosional tersendiri saat melihat tokoh jahat tumbang atau tokoh utama menembus batas.
Namun ada juga kelelahan yang pelan-pelan muncul dari formula tersebut. Semakin banyak kisah yang menawarkan kemenangan mutlak, semakin besar pula jarak antara layar dan kehidupan nyata. Di dunia yang serba kompetitif, banyak orang tidak benar-benar membutuhkan cerita bahwa seseorang bisa sukses luar biasa. Mereka sudah terlalu sering melihat versi cerita itu di iklan, seminar motivasi, konten media sosial, bahkan percakapan sehari-hari. Yang mereka butuhkan kadang justru sesuatu yang lebih sederhana: pengakuan bahwa lelah itu manusiawi, tersendat itu lumrah, dan merasa tertinggal tidak otomatis berarti hidup kita gagal.
Dalam budaya Korea, konsep “healing” atau penyembuhan emosional telah lama menjadi kata kunci yang muncul di buku, acara televisi, sampai tren wisata. Tetapi “healing” dalam konteks drama seperti ini bukan berarti semua masalah selesai secara ajaib. Ia lebih dekat pada upaya memberi ruang bernapas. Penonton diajak melihat bahwa emosi negatif tidak harus langsung dibasmi atau ditutupi dengan optimisme palsu. Ada nilai dalam sekadar mengakui: ya, saya sedang terluka; ya, saya iri; ya, saya belum baik-baik saja.
Bagi penonton Indonesia, pendekatan ini terasa penting di tengah budaya yang kadang terlalu cepat menuntut orang untuk “ikhlas”, “bersyukur”, atau “jangan overthinking”. Nasihat-nasihat itu bisa baik, tetapi sering kali muncul terlalu cepat, sebelum seseorang sempat benar-benar dipahami. Drama yang baik tidak memberi ceramah seperti motivator. Ia menemani. Ia tidak memaksa penonton untuk segera bangkit, melainkan memberi kesan bahwa diam sebentar pun tidak apa-apa. Dalam masyarakat yang terbiasa mengagungkan ketangguhan, bentuk penghiburan semacam ini punya kekuatan politis sekaligus personal.
Karena itu, keputusan untuk menempatkan penghiburan di barisan paling depan bisa dibaca sebagai strategi artistik yang cerdas. Ini bukan drama yang tampaknya ingin membuat penonton terkejut setiap menit. Ia ingin membuat penonton merasa tidak sendirian. Dan justru perasaan itulah yang dalam banyak kasus paling dibutuhkan saat ini.
Membaca judul yang berani: “ketidakberhargaan” sebagai pengalaman kolektif
Salah satu elemen paling mencolok dari drama ini tentu adalah judulnya. Kata “ketidakberhargaan” terdengar berat, bahkan tidak nyaman. Dalam industri hiburan yang sangat memperhatikan daya tarik pasar, istilah seperti itu bisa dianggap terlalu suram. Biasanya judul drama dipilih agar lebih romantis, misterius, atau setidaknya cukup netral untuk menjangkau penonton luas. Tetapi drama ini justru menabrak kebiasaan tersebut dengan menyebut emosi paling rawan secara langsung.
Keberanian itu layak dicatat karena menunjukkan adanya kepercayaan terhadap penonton. Tim produksi tampaknya yakin bahwa publik hari ini tidak selalu membutuhkan kemasan yang manis. Mereka bisa menerima cerita yang lebih jujur, selama disampaikan dengan empati. Dan memang, “merasa tidak berharga” adalah salah satu emosi paling universal sekaligus paling sulit diakui. Orang bisa dengan mudah bilang sedang capek atau stres, tetapi tidak banyak yang berani mengatakan bahwa mereka merasa diri mereka kurang berarti.
Dalam masyarakat Korea, perasaan itu berkaitan erat dengan budaya perbandingan yang kuat. Tetapi kalau kita jujur, Indonesia juga tidak jauh berbeda. Sejak kecil, banyak orang dibesarkan dengan ukuran-ukuran yang terus menempel: ranking, kampus, pekerjaan, gaji, pasangan, rumah, kendaraan, sampai pencapaian anak. Di banyak keluarga, cinta memang ada, tetapi sering hadir berdampingan dengan standar sosial yang tidak ringan. Maka tidak heran jika banyak orang dewasa tampak berfungsi dengan baik di luar, tetapi diam-diam terus mengaudit nilai dirinya sendiri.
Judul drama ini penting karena ia menamai pengalaman kolektif itu secara gamblang. Ia mengingatkan bahwa rasa tak berharga bukan penyimpangan, melainkan bagian dari pergulatan manusia modern. Yang membedakan tiap orang hanyalah seberapa pandai mereka menyembunyikannya. Dengan mengangkat tema tersebut ke level judul, drama ini seolah berkata bahwa kita tidak perlu terus menerus memoles luka agar terlihat pantas dikonsumsi.
Namun dari paparan tim produksi, karya ini tampaknya tidak akan jatuh pada glorifikasi keputusasaan. Ini bukan perayaan atas kemalasan, bukan juga pembenaran untuk menyerah. Yang hendak ditunjukkan justru kemungkinan lain: bahwa seseorang bisa menghadapi luka tanpa harus memalsukan optimisme. Ada jalan menuju kedamaian yang tidak selalu berbentuk kemenangan besar. Terkadang, pemulihan dimulai dari kemampuan menyebut luka dengan nama yang tepat.
Apa artinya bagi arah baru drama Korea dan penonton Indonesia
Jika drama ini berhasil, pengaruhnya mungkin lebih besar daripada sekadar rating atau popularitas pemain. Ia bisa mempertegas satu arus baru dalam drama Korea: bahwa era narasi kemenangan total mulai berbagi ruang dengan narasi pemulihan emosional. Bukan berarti cerita sukses akan hilang. Drama tentang balas dendam, intrik kantor, dunia hukum, atau romansa glamor tetap punya pasar yang kuat. Tetapi yang berubah adalah kesadaran bahwa penonton kini juga menghargai cerita yang mampu menjadi cermin, bukan hanya panggung fantasi.
Bagi industri Korea, ini penting karena menunjukkan bahwa kualitas emosi masih bisa menjadi keunggulan di tengah kompetisi konten global. Di saat banyak serial berlomba membuat kejutan, drama seperti ini memilih untuk percaya pada kekuatan dialog, akting, dan keheningan. Itu adalah pilihan yang berisiko, tetapi juga berpotensi menghadirkan karya yang bertahan lama dalam ingatan. Sejarah K-drama sudah membuktikan bahwa judul-judul yang paling dicintai sering kali bukan yang paling keras, melainkan yang paling jujur dalam membaca manusia.
Bagi penonton Indonesia, drama ini juga layak diperhatikan bukan hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai gejala budaya. Popularitas Hallyu di Indonesia selama ini sering dibicarakan dari sisi musik, mode, atau romansa. Padahal salah satu kekuatan utama drama Korea adalah kemampuannya menangkap kecemasan sosial dalam bentuk yang intim. Ketika Korea membuat drama tentang rasa tertinggal, tentang kelelahan berkompetisi, atau tentang sulitnya merasa berharga, penonton Indonesia tidak menontonnya sebagai orang luar. Kita menontonnya sebagai sesama warga Asia yang akrab dengan tekanan kolektif, ekspektasi keluarga, dan kultur malu yang sering tidak dibahas secara terbuka.
Pada titik inilah drama baru JTBC tersebut berpotensi menemukan resonansi yang luas. Ia berbicara tentang Korea, tetapi pesannya tidak berhenti di Korea. Ia mengolah pengalaman yang sangat lokal—kompetisi sosial, pencapaian yang tertunda, iri kepada teman sendiri—menjadi emosi yang universal. Dan di tengah kehidupan yang makin riuh, mungkin memang inilah jenis cerita yang kita perlukan: bukan kisah yang memerintahkan kita menjadi pemenang, melainkan kisah yang membantu kita tetap utuh saat merasa kalah.
Pada akhirnya, pertanyaan “mengapa sekarang?” bisa dijawab dengan cukup sederhana. Karena sekarang semakin banyak orang yang lelah berpura-pura baik-baik saja. Karena sekarang publik tidak lagi puas hanya dengan tontonan yang membuat mereka bersorak; mereka juga ingin tontonan yang mengerti mengapa mereka diam. Dan karena sekarang, di Korea maupun di Indonesia, penghiburan yang tulus terasa jauh lebih berharga daripada kemenangan yang terlalu sempurna.
댓글
댓글 쓰기