Celltrion Gandeng Pemerintah Korea Buka Kelas Bio untuk 50 Pemuda Penganggur, Model Baru Menjemput Generasi yang Terhenti di Tengah Jalan

Gambar untuk membantu memahami artikel
Dari laboratorium ke persoalan sosial: langkah yang patut dicermati
Di tengah citra Korea Selatan yang kerap dipandang dari luar sebagai negeri K-pop, drama televisi, teknologi maju, dan ritme kerja supercepat, ada satu persoalan yang terus menghantui: anak muda yang tertinggal dari pasar kerja. Pekan ini, perusahaan biofarmasi besar Korea Selatan, Celltrion, memulai program pendidikan bioteknologi bagi 50 pemuda berusia 18 hingga 34 tahun yang sudah lama tidak bekerja atau bahkan berhenti aktif mencari pekerjaan. Program itu digelar bersama Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan melalui sebuah inisiatif bernama K-New Deal Academy Cellin.
Bagi pembaca Indonesia, kabar ini menarik bukan semata karena melibatkan salah satu perusahaan besar Korea, melainkan karena pendekatannya menyentuh persoalan yang juga akrab di sini: bagaimana membantu anak muda yang bukan hanya belum mendapat pekerjaan, tetapi sudah kehilangan ritme, kepercayaan diri, dan jalur masuk ke dunia kerja. Di Indonesia, kita mengenal istilah anak muda yang sedang “menganggur”, “belum bekerja”, atau “sedang jeda”, tetapi di Korea ada istilah sosial yang lebih spesifik, yakni swieosseum cheongnyeon, yang secara longgar dapat dipahami sebagai “pemuda yang sedang berhenti” atau “pemuda yang mengambil jeda dari aktivitas kerja dan pencarian kerja”.
Celltrion menamai programnya “Cellin”, gabungan dari kata “cell” yang berarti sel, dan “in” yang mengandung makna masuk ke dalam. Nama itu bukan sekadar permainan kata. Ia menggambarkan niat yang lebih besar: membawa anak muda yang berada di luar pasar kerja untuk kembali masuk ke lingkungan industri, kali ini melalui pintu pendidikan bio. Dalam pelaksanaannya, peserta akan mengikuti pelatihan lima hari seminggu, delapan jam sehari, di pusat riset farmasi-bio konvergensi di Songdo, Incheon. Struktur ini mengisyaratkan bahwa program tersebut tidak dirancang sebagai seminar motivasi satu hari atau bimbingan karier singkat, melainkan sebagai proses pembentukan ulang kebiasaan, disiplin waktu, dan kontak sosial.
Inilah yang membuat langkah Celltrion layak dibaca lebih jauh. Di satu sisi, Korea Selatan sedang bertaruh pada pertumbuhan industri bio sebagai mesin ekonomi masa depan. Di sisi lain, negara itu juga berhadapan dengan generasi muda yang sebagian tersisih dari kompetisi kerja yang sangat ketat. Saat dua kebutuhan itu dipertemukan dalam satu ruang—perusahaan, kementerian, dan peserta yang sempat menjauh dari pasar kerja—muncul sebuah eksperimen sosial-ekonomi yang relevansinya jauh melampaui satu acara peluncuran.
Siapa yang dimaksud “pemuda berhenti” dalam konteks Korea?
Istilah swieosseum cheongnyeon penting dijelaskan karena konsep ini tidak selalu punya padanan tunggal dalam bahasa Indonesia. Yang dimaksud bukan sekadar penganggur terbuka dalam definisi statistik biasa. Mereka adalah anak muda yang tidak bekerja, namun juga tidak aktif mengirim lamaran atau mengikuti proses pencarian kerja secara intensif. Dalam percakapan publik Korea, kelompok ini sering muncul dalam pembahasan tentang tekanan hidup perkotaan, mahalnya biaya pendidikan, persaingan kerja yang ekstrem, kelelahan mental, hingga rasa putus asa setelah berulang kali gagal menembus seleksi.
Bila diterjemahkan mentah-mentah, istilah itu berisiko terdengar seolah-olah mereka “memilih santai” atau “tidak mau berusaha”. Padahal, realitasnya jauh lebih rumit. Banyak anak muda di Korea Selatan menempuh jalur pendidikan yang panjang, menyiapkan sertifikasi, kemampuan bahasa, dan pengalaman tambahan demi memenuhi standar rekrutmen yang tinggi. Ketika upaya itu berulang kali tidak membuahkan hasil, sebagian berhenti bukan karena tidak peduli, melainkan karena kelelahan, kehilangan arah, atau merasa tak lagi punya tempat dalam sistem.
Gambaran ini tentu tidak asing bagi publik Indonesia. Meski konteks ekonominya berbeda, kita juga melihat anak muda lulusan SMA, diploma, hingga sarjana yang tersendat memasuki dunia kerja formal. Ada yang akhirnya bekerja serabutan, ada yang berpindah ke ekonomi informal, ada pula yang memilih jeda cukup lama karena faktor mental, keluarga, atau ketiadaan peluang yang sesuai. Di media sosial Indonesia, istilah seperti “quarter-life crisis”, “burnout”, atau “capek cari kerja” sering menjadi ungkapan dari pengalaman yang mirip, meski tidak selalu masuk kategori statistik resmi.
Karena itu, ketika Korea Selatan merancang program khusus untuk mereka yang sudah berhenti melamar pekerjaan, pesan terpentingnya adalah ini: negara dan industri mulai mengakui bahwa masalah tidak bisa dibaca semata sebagai kekurangan motivasi individu. Ada jurang penghubung yang harus dibangun ulang. Anak muda yang tersisih dari ritme pasar kerja membutuhkan lebih dari nasihat untuk “lebih semangat”. Mereka memerlukan struktur, lingkungan, keterampilan yang relevan, dan jembatan nyata menuju sektor yang sedang tumbuh.
Mengapa bio, dan mengapa Celltrion?
Pilihan sektor bio bukan kebetulan. Korea Selatan dalam beberapa tahun terakhir menempatkan industri bioteknologi, farmasi, dan kesehatan sebagai salah satu sektor strategis untuk pertumbuhan masa depan. Jika industri hiburan memberi Korea pengaruh budaya global, maka industri bio diproyeksikan memberi daya saing teknologi dan ekonomi jangka panjang. Dalam peta itu, Celltrion adalah nama besar. Perusahaan ini dikenal sebagai salah satu pemain utama di bidang biofarmasi Korea Selatan, dengan basis riset dan produksi yang kuat, termasuk di kawasan Songdo, Incheon, yang berkembang sebagai klaster industri canggih.
Bagi pemerintah Korea, menggandeng perusahaan seperti Celltrion memberi dua keuntungan sekaligus. Pertama, pelatihan tidak berhenti pada teori umum, tetapi ditempatkan sedekat mungkin dengan kebutuhan industri nyata. Kedua, nama besar perusahaan memberi legitimasi bahwa program ini bukan kegiatan simbolik untuk pencitraan semata. Peserta masuk ke ruang yang benar-benar terhubung dengan dunia kerja, laboratorium, dan ekosistem industri.
Di Indonesia, analogi yang paling mudah dipahami mungkin seperti bila sebuah perusahaan besar di bidang farmasi, manufaktur, atau teknologi tidak hanya membuka lowongan untuk kandidat “siap pakai”, tetapi juga bersama kementerian menyelenggarakan kelas intensif bagi anak muda yang sempat keluar jalur. Bedanya, pendekatan Korea ini menempatkan lokasi pelatihan langsung di pusat yang terkait dengan kegiatan riset dan industri. Artinya, peserta tidak belajar di ruang yang terpisah dari denyut sektor yang sesungguhnya.
Namun, penting dicatat bahwa hingga kini belum ada penjelasan rinci mengenai mata pelajaran, modul pelatihan, atau jalur rekrutmen setelah lulus. Itu berarti publik tidak seharusnya buru-buru menyimpulkan bahwa peserta otomatis akan direkrut. Nilai utama program ini pada tahap awal bukan pada janji pekerjaan instan, melainkan pada pembukaan akses: akses pada informasi industri, akses pada rutinitas belajar yang terstruktur, akses pada pengalaman sosial bersama, dan kemungkinan untuk membangun kembali kepercayaan diri.
Justru di situlah relevansi program ini menguat. Industri bio dikenal membutuhkan kombinasi disiplin ilmu, ketelitian, dan pemahaman prosedur yang tidak sederhana. Dengan membuka ruang pelatihan bagi mereka yang sempat berhenti dari pencarian kerja, Celltrion seolah mengatakan bahwa pengembangan talenta tidak harus selalu dimulai dari kandidat yang sudah paling siap. Ada nilai dalam menjemput mereka yang tertinggal, lalu mempersiapkan ulang langkahnya.
Kolaborasi perusahaan dan negara: bukan sekadar CSR
Salah satu aspek paling menonjol dari program ini adalah bentuk kolaborasinya. Celltrion tidak berjalan sendiri. Program ini diinisiasi bersama Kementerian Ketenagakerjaan serta Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan. Kolaborasi semacam ini menunjukkan perubahan cara pandang: masalah pemuda di luar pasar kerja tidak cukup ditangani lewat konseling sosial atau bantuan administratif saja, melainkan perlu dihubungkan langsung dengan kebijakan industri.
Di banyak negara, termasuk Indonesia, program pemuda sering terpecah-pecah. Ada yang fokus pada bantuan sosial, ada yang fokus pada pelatihan kerja, ada yang fokus pada investasi industri. Masalahnya, ketiganya kerap berjalan sendiri-sendiri. Anak muda diberi pelatihan, tetapi pelatihannya tidak sesuai kebutuhan sektor riil. Industri mencari tenaga kerja, tetapi hanya dari kandidat yang sudah jadi. Pemerintah membuka program, tetapi tanpa jalur lanjutan yang jelas. Dalam konteks itu, model yang sedang diuji di Korea ini menarik karena mencoba menyatukan tiga unsur tersebut dalam satu arena.
Celltrion membawa pengetahuan industri dan lingkungan kerja yang nyata. Kementerian Ketenagakerjaan membawa fungsi dukungan untuk kapasitas kerja dan reintegrasi sosial-ekonomi. Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi membawa perspektif pengembangan sektor strategis. Bila pembagian peran ini berjalan baik, maka hasilnya bukan hanya pelatihan, melainkan sebuah mata rantai masuk ke industri yang lebih konkret.
Dari sudut pandang jurnalistik, ini penting dibedakan dari kegiatan tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR yang sifatnya seremonial. Program yang menuntut peserta hadir lima hari seminggu, delapan jam per hari, jelas membutuhkan komitmen sumber daya, kurikulum, fasilitas, dan pengelolaan yang tidak kecil. Ada ambisi jangka menengah yang terlihat: membentuk kebiasaan kerja, memperkenalkan budaya industri, dan memulihkan kapasitas partisipasi sosial. Di negara dengan budaya kerja yang terkenal ketat seperti Korea Selatan, ini bukan eksperimen kecil.
Tentu, keberhasilan program semacam ini tidak bisa diukur hanya dari pembukaan resminya. Seperti banyak kebijakan publik lain, yang menentukan justru fase setelah panggung peresmian dibongkar: apakah peserta mampu bertahan hingga akhir, apakah mereka merasa dibantu atau justru tertekan, apakah kurikulum betul-betul relevan, dan apakah ada jalur yang masuk akal menuju pekerjaan atau pendidikan lanjutan. Tetapi sebagai desain kebijakan, kolaborasi ini sudah memberi sinyal penting: pemulihan anak muda dari keterputusan kerja dipandang sebagai agenda bersama, bukan beban pribadi semata.
Ritme delapan jam sehari: membangun ulang kebiasaan sosial
Detail yang tampak sederhana tetapi sesungguhnya sangat penting adalah format pelatihan: lima hari seminggu, delapan jam sehari. Dalam berita singkat, angka seperti ini mudah dianggap sekadar jadwal teknis. Padahal, bagi kelompok sasaran program—yakni mereka yang sudah lama tidak bekerja atau berhenti mencari kerja—struktur waktu adalah inti dari intervensi.
Seseorang yang berbulan-bulan atau bertahun-tahun berada di luar sistem kerja sering kehilangan lebih dari sekadar pendapatan. Ia bisa kehilangan ritme tidur, rasa tanggung jawab kolektif, kemampuan berinteraksi di lingkungan profesional, bahkan rasa percaya diri untuk hadir tepat waktu dan mengikuti target harian. Karena itu, program penuh waktu seperti ini dapat dibaca sebagai tahap transisi yang menyerupai kehidupan kerja sebenarnya, tanpa langsung menuntut performa seperti karyawan tetap.
Dalam budaya Asia Timur, termasuk Korea Selatan, disiplin waktu dan partisipasi kelompok punya bobot sosial yang besar. Mengikuti kelas setiap hari bukan cuma soal menyerap materi bio, tetapi juga belajar kembali berada dalam sistem: bangun pagi, datang ke tempat pelatihan, bekerja bersama rekan, menyelesaikan tugas, dan pulang dengan ritme yang berulang. Ada unsur rehabilitasi sosial yang halus di sana, meski istilah itu mungkin tidak disebut secara resmi.
Pembaca Indonesia mungkin bisa membandingkan hal ini dengan pengalaman mengikuti pelatihan vokasi yang benar-benar intensif, bukan sekadar webinar daring satu kali. Bedanya, dalam konteks Korea, beban simbolisnya lebih besar karena peserta berasal dari kelompok yang sebelumnya sudah mundur dari kompetisi kerja. Setiap hari hadir di kelas berarti mereka kembali mengambil posisi sebagai bagian dari masyarakat produktif, meski masih dalam tahap belajar.
Model seperti ini juga bisa membantu memulihkan apa yang sering hilang dalam masa pengangguran panjang: rasa memiliki komunitas. Banyak anak muda yang terhenti dari kerja merasa terisolasi karena teman-teman sebayanya sudah lebih dulu bekerja, lanjut studi, atau menapaki karier. Ketika ditempatkan dalam satu kelas dengan peserta lain yang menghadapi situasi serupa, mereka mungkin mendapat ruang yang lebih aman untuk memulai ulang, tanpa stigma berlebihan.
Tentu saja, ada risiko pula. Program intensif penuh waktu bisa menjadi berat bagi peserta yang masih berjuang dengan kesehatan mental, tekanan ekonomi keluarga, atau rasa cemas dalam lingkungan kompetitif. Karena itu, kualitas pendampingan dan desain kelas akan sangat menentukan. Jika hanya meniru atmosfer kerja yang keras tanpa dukungan memadai, pelatihan bisa kehilangan tujuan inklusifnya. Tetapi bila keseimbangannya tepat, delapan jam sehari itu dapat menjadi fondasi pemulihan sosial yang sangat kuat.
Apa yang bisa dipelajari Indonesia dari langkah ini?
Kisah Celltrion dan 50 pemuda Korea ini bukan resep yang bisa disalin mentah-mentah ke Indonesia. Skala ekonomi, struktur industri, kapasitas fiskal, dan kultur ketenagakerjaan kedua negara jelas berbeda. Namun, ada beberapa pelajaran yang relevan untuk kita renungkan, terutama ketika Indonesia juga sedang berbicara tentang bonus demografi, penguatan vokasi, hilirisasi industri, dan penciptaan lapangan kerja berkualitas.
Pertama, program pemuda akan lebih efektif bila benar-benar terhubung dengan sektor yang sedang tumbuh. Di Indonesia, kita sering mendengar pentingnya link and match antara pendidikan dan industri, tetapi implementasinya tak jarang berhenti pada slogan. Korea, dalam kasus ini, mencoba memperlihatkan bahwa pelatihan harus diletakkan sedekat mungkin dengan ekosistem kerja yang nyata. Jika sektor bio, kesehatan, kendaraan listrik, semikonduktor, atau ekonomi digital dianggap strategis, maka desain pelatihan untuk anak muda sebaiknya mengalir ke sana secara konkret.
Kedua, anak muda yang tersisih dari pasar kerja memerlukan pendekatan berbeda dari pencari kerja aktif biasa. Mereka bukan hanya membutuhkan lowongan, tetapi jalur kembali. Dalam konteks Indonesia, ini penting untuk kelompok yang lama menganggur, putus kuliah, atau berhenti bekerja karena alasan keluarga dan mental. Kebijakan yang baik harus mampu membedakan antara mereka yang siap ditempatkan segera dan mereka yang terlebih dahulu perlu dibantu memulihkan ritme, keterampilan dasar, serta keberanian untuk masuk lagi ke lingkungan profesional.
Ketiga, keterlibatan perusahaan besar tidak seharusnya berhenti pada perekrutan talenta terbaik. Perusahaan bisa berperan lebih jauh sebagai pembuka pintu bagi kelompok yang belum ideal di atas kertas, tetapi punya potensi jika diberi kesempatan belajar. Dalam masyarakat yang sering terobsesi pada “kandidat siap pakai”, pendekatan semacam ini mengingatkan bahwa pembangunan talenta juga berarti membesarkan yang belum sepenuhnya siap.
Keempat, ukuran keberhasilan perlu dibuat jujur dan realistis. Tidak semua peserta akan langsung bekerja setelah pelatihan. Namun itu tidak berarti program gagal. Ada capaian lain yang juga penting: peserta kembali punya rutinitas, mengenal industri baru, memperluas jejaring, dan merasa dirinya masih punya masa depan. Dalam jangka panjang, ukuran-ukuran ini justru bisa menjadi fondasi yang lebih tahan lama dibanding sekadar target penempatan cepat yang rapuh.
Di Indonesia, pembahasan tentang anak muda yang “tidak produktif” kadang terlalu cepat berubah menjadi penghakiman moral. Padahal, seperti terlihat dalam kasus Korea, jeda panjang dari dunia kerja dapat dibaca sebagai sinyal adanya persoalan struktural yang butuh jembatan, bukan sekadar ceramah. Itulah mengapa pendekatan yang menggabungkan disiplin industri, dukungan negara, dan pemulihan sosial patut dicermati.
Belum ada jaminan kerja, tetapi ada pesan penting tentang masa depan
Sampai tahap ini, belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa 50 peserta program Cellin akan langsung berakhir sebagai pekerja tetap di industri bio. Informasi yang tersedia belum memuat rincian mata pelajaran, mekanisme evaluasi, insentif peserta, ataupun prosedur rekrutmen pasca-pelatihan. Dalam peliputan yang bertanggung jawab, celah seperti itu perlu disebutkan dengan jelas agar publik tidak terjebak pada narasi sukses yang terlalu dini.
Namun, tidak adanya jaminan kerja bukan berarti program ini kehilangan nilai. Justru dari keterbatasan informasi itulah kita bisa melihat esensi kebijakannya: membuka kembali jalur masuk bagi mereka yang sempat berhenti. Bagi seorang anak muda yang sudah lama di luar pasar kerja, langkah pertama sering kali bukan kontrak kerja, melainkan keberanian untuk kembali hadir, kembali belajar, dan kembali percaya bahwa dirinya masih dibutuhkan.
Celltrion, lewat peluncuran program ini, juga sedang membentuk narasi baru tentang industri bio. Selama ini, pertumbuhan sektor semacam ini kerap diceritakan lewat angka investasi, kapasitas produksi, ekspor, dan inovasi produk. Kini ada elemen lain yang mulai ditambahkan: pengembangan talenta secara inklusif. Dalam bahasa yang lebih sederhana, daya saing masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih laboratorium, tetapi juga oleh seberapa luas industri mau membuka pintu bagi orang-orang yang belum sempurna namun siap bertumbuh.
Untuk Korea Selatan, eksperimen ini bisa menjadi ujian apakah perusahaan global dan kementerian benar-benar mampu mengubah kebijakan pemuda menjadi model integrasi sosial yang praktis. Untuk dunia luar, termasuk Indonesia, program ini memberi contoh bahwa persoalan pengangguran anak muda tidak harus selalu dijawab dengan pendekatan satu arah. Ada cara lain: mempertemukan kebutuhan industri dengan pemulihan sosial, lalu menempatkan pendidikan sebagai jembatan yang hidup.
Pada akhirnya, yang patut disorot bukan hanya angka 50 peserta atau nama besar Celltrion, melainkan gagasan yang dibawanya. Bahwa di tengah ekonomi berteknologi tinggi, negara dan perusahaan tetap harus memikirkan mereka yang tercecer. Bahwa masa depan industri tidak boleh dibangun hanya oleh mereka yang sejak awal unggul dalam perlombaan. Dan bahwa kadang-kadang, bentuk dukungan paling penting bagi anak muda bukanlah janji besar, melainkan kesempatan terstruktur untuk memulai lagi.
Jika program ini mampu menjaga partisipasi peserta, memberi pengalaman belajar yang relevan, dan menumbuhkan kembali rasa percaya diri mereka, maka Cellin bisa menjadi lebih dari sekadar kelas bio. Ia bisa menjadi model tentang bagaimana sebuah industri tidak hanya memproduksi obat atau teknologi, tetapi juga membantu menyembuhkan jarak antara generasi muda dan dunia kerja. Dalam situasi global yang makin menuntut keterampilan tinggi dan ketahanan mental, pesan seperti ini terasa sangat penting—baik bagi Korea Selatan maupun bagi negara-negara seperti Indonesia yang juga sedang mencari cara agar tak ada terlalu banyak anak muda tertinggal di pinggir jalan pembangunan.
댓글
댓글 쓰기