Saat Jajanan Lokal Menjadi Pengingat Keselamatan: Cara Baru Kota Mokpo Mengampanyekan Pelampung di Musim Liburan

Dari ruang kantor ke kemasan camilan, pesan keselamatan laut mencari cara baru untuk hadir
Di Korea Selatan, musim panas selalu identik dengan lonjakan aktivitas wisata pesisir. Pantai, pelabuhan, wahana rekreasi air, hingga perjalanan singkat ke kota-kota tepi laut ramai didatangi keluarga, anak muda, dan wisatawan domestik. Dalam suasana seperti itu, lembaga keselamatan biasanya mengandalkan spanduk, papan peringatan, siaran informasi, atau kampanye tatap muka untuk mengingatkan publik soal risiko di laut. Namun di kota Mokpo, pendekatannya kini bergerak ke arah yang lebih dekat dengan keseharian: masuk ke dalam kemasan makanan ringan.
Pada 10 Juli 2026, menurut laporan Yonhap, Kantor Penjaga Pantai Mokpo menandatangani kerja sama dengan perusahaan lokal bernama Hwang Baksa Mokpo Jjondigi untuk menyebarkan budaya keselamatan laut pada musim panas. Kerja sama ini menarik bukan karena skalanya besar, melainkan karena idenya terasa sederhana sekaligus cerdik. Alih-alih menyampaikan pesan keselamatan lewat bahasa formal yang sering dilewati orang, mereka memasukkan ajakan memakai pelampung ke dalam pengalaman membuka camilan yang akrab bagi warga lokal maupun turis.
Bagi pembaca Indonesia, pendekatan ini mungkin mengingatkan pada berbagai upaya edukasi publik yang paling efektif justru muncul ketika pesan tidak terasa menggurui. Di sini kita mengenal imbauan keselamatan mudik melalui bungkus makanan di rest area, pesan kebersihan di gelas minuman, atau kampanye cuci tangan yang berhasil ketika dipaketkan dalam bentuk permainan anak. Intinya sama: masyarakat lebih mudah menerima pesan penting jika ia hadir di tempat yang tidak terasa seperti ruang ceramah.
Kasus di Mokpo menunjukkan bahwa komunikasi keselamatan kini tidak lagi hanya soal seberapa keras negara memperingatkan warganya, tetapi juga seberapa cerdas negara menempatkan pesan itu di tengah rutinitas orang. Dalam kerja sama ini, produk lokal bukan sekadar barang dagangan, melainkan medium komunikasi sosial. Ketika orang membeli jajanan khas daerah, mereka tidak hanya membawa rasa dan kenangan, tetapi juga pulang dengan satu pesan yang ingin ditanamkan: kalau bermain atau berwisata di laut, pelampung bukan pilihan tambahan, melainkan dasar keselamatan.
Itulah sebabnya kabar dari Mokpo ini relevan dibaca di Indonesia. Sebagai negara kepulauan dengan budaya wisata bahari yang besar, kita sangat memahami bahwa laut adalah ruang rekreasi sekaligus ruang risiko. Karena itu, setiap eksperimen komunikasi publik yang mampu membuat pesan keselamatan terasa lebih membumi layak dicermati, apalagi ketika ia lahir dari kolaborasi antara institusi negara dan pelaku usaha lokal.
Apa itu jjondigi, dan mengapa dipilih sebagai medium kampanye
Untuk memahami mengapa kolaborasi ini menarik, pembaca Indonesia perlu mengenal terlebih dahulu produk yang dipakai sebagai kendaraan pesan. “Jjondigi” adalah camilan tradisional Korea yang dikenal dengan tekstur kenyal atau liat, biasanya berbahan dasar tepung dan kerap diasosiasikan dengan jajanan nostalgia. Dalam konteks budaya populer Korea, makanan seperti ini bukan sekadar camilan, tetapi juga bagian dari memori masa kecil dan identitas lokal. Jika di Indonesia kita punya kerupuk, opak, jipang, atau berbagai jajanan khas daerah yang langsung memunculkan rasa akrab, maka posisi jjondigi dalam imajinasi konsumen Korea kira-kira berada di wilayah itu.
Perusahaan yang diajak bekerja sama, Hwang Baksa Mokpo Jjondigi, dikenal sebagai pelaku usaha lokal yang punya produk khas daerah. Pemilihan merek lokal, bukan korporasi nasional besar, menjadi poin penting. Ada pesan yang ingin dibangun: keselamatan laut bukan hanya urusan lembaga negara, tetapi bagian dari kehidupan kota pesisir itu sendiri. Maka medium yang dipakai pun harus datang dari denyut keseharian kota, bukan dari materi kampanye yang terasa jauh dari pengalaman warga.
Dalam kemasan baru yang diperkenalkan melalui kerja sama ini, bagian dalam bungkus produk memuat gambar karakter resmi penjaga pantai Korea bernama “Achi” beserta ilustrasi pelampung. Konsumen dapat memisahkan potongan-potongan itu dan memakaikannya pada karakter layaknya permainan boneka kertas. Di titik inilah kemasan berhenti menjadi pembungkus pasif dan berubah menjadi ruang interaksi. Anak-anak bisa bermain, orang tua bisa mendampingi, dan pesan keselamatan disampaikan tanpa harus diawali ceramah panjang.
Logikanya sederhana tetapi kuat. Banyak orang melihat poster keselamatan lalu melupakannya beberapa menit kemudian. Namun ketika seseorang membuka bungkus makanan, menemukan karakter lucu di dalamnya, lalu memasangkan pelampung dengan tangannya sendiri, memori yang tercipta menjadi lebih konkret. Ia bukan lagi sekadar membaca kalimat “gunakan pelampung”, melainkan menyelesaikan sebuah tindakan simbolik yang menempel di ingatan.
Dalam dunia komunikasi publik modern, cara seperti ini sering dianggap lebih efektif karena mengubah penerima pesan dari penonton pasif menjadi peserta aktif. Prinsipnya sama seperti buku aktivitas anak yang mengajarkan kebiasaan menyikat gigi, atau papan edukasi di museum yang baru terasa menarik saat pengunjung menyentuh, menggeser, atau menyusun sesuatu. Partisipasi kecil dapat membangun pemahaman yang lebih tahan lama dibanding perintah satu arah.
Mengapa pesan keselamatan dimasukkan ke bagian dalam kemasan
Salah satu unsur paling menarik dari kampanye ini adalah keputusan menaruh pesan di bagian dalam kemasan, bukan di permukaan luar secara dominan. Sekilas ini tampak sebagai detail desain, tetapi sesungguhnya menyimpan logika komunikasi yang penting. Bagian luar kemasan biasanya dipenuhi informasi merek, rasa, tampilan produk, dan elemen yang ditujukan untuk mendorong keputusan membeli. Sementara bagian dalam adalah wilayah penemuan; konsumen baru melihatnya setelah melakukan tindakan membuka, menyentuh, dan berinteraksi dengan produk.
Artinya, pesan keselamatan tidak diposisikan sebagai iklan yang “berteriak” sejak awal, melainkan sebagai pengalaman yang menunggu ditemukan. Pendekatan ini menggeser urutan komunikasi. Orang pertama-tama membeli karena tertarik pada produk lokal yang sudah dikenal, lalu saat membuka bungkus, mereka berhadapan dengan pesan keselamatan yang muncul secara alami. Di sinilah jarak psikologis terhadap pesan menjadi lebih rendah. Konsumen tidak merasa sedang diajari, tetapi merasa menemukan sesuatu yang menarik di dalam produk.
Bagi banyak lembaga publik, tantangan terbesar bukan ketiadaan pesan, melainkan kelelahan audiens. Publik hari ini dibanjiri imbauan dari segala arah: keselamatan berkendara, waspada cuaca ekstrem, kebersihan lingkungan, penipuan digital, hingga kesehatan mental. Ketika semua pesan tampil dalam nada yang sama, orang cenderung mengembangkan kebiasaan untuk mengabaikannya. Kampanye di Mokpo tampaknya berangkat dari kesadaran itu. Jika pesan keselamatan ingin benar-benar masuk ke keseharian, maka ia perlu menumpang pada kebiasaan yang sudah lebih dulu akrab.
Kita bisa membandingkannya dengan kondisi di destinasi wisata Indonesia. Sering kali papan peringatan dipasang di area pantai, tetapi pengunjung yang sedang sibuk berfoto, bermain air, atau mendampingi anak-anak tidak benar-benar membaca isinya. Mereka melihat, tetapi tidak mencerna. Karena itu, ide membawa pesan ke objek yang secara langsung disentuh dan dibuka orang memiliki nilai strategis. Ia tidak menjamin semua orang akan berubah perilaku, tetapi peluang pesan untuk diperhatikan jelas lebih besar.
Lebih jauh lagi, penempatan di bagian dalam kemasan menunjukkan bahwa keselamatan dapat dirancang sebagai bagian dari pengalaman konsumsi, bukan elemen yang berdiri terpisah. Dalam istilah sederhana, kampanye ini tidak berkata, “berhenti bersenang-senang dan dengarkan peringatan kami,” melainkan, “nikmati camilanmu, dan sambil itu ingat satu hal penting sebelum ke laut.” Bagi wisatawan, pendekatan seperti ini terasa jauh lebih bersahabat.
Karakter Achi dan permainan boneka kertas sebagai bahasa lintas generasi
Pusat dari kemasan baru ini adalah Achi, maskot resmi penjaga pantai Korea. Penggunaan maskot dalam kampanye keselamatan bukan hal baru, tetapi yang menarik adalah cara Achi dipadukan dengan permainan boneka kertas. Konsumen diminta memisahkan gambar karakter dan ilustrasi pelampung, lalu “memakaikannya” pada sang maskot. Tindakan ini sederhana, tetapi memiliki kekuatan simbolik yang besar: keselamatan bukan sekadar informasi, melainkan sesuatu yang harus dilengkapi agar siap dipakai.
Boneka kertas sendiri punya muatan nostalgia yang tidak kecil. Di banyak masyarakat Asia, termasuk Indonesia, permainan semacam ini memiliki daya lintas generasi. Orang dewasa bisa langsung memahami cara bermainnya karena bentuknya akrab dengan memori masa kecil, sementara anak-anak tetap bisa menikmatinya karena sifatnya visual dan interaktif. Jadi, satu kemasan dapat membuka dua pintu sekaligus: permainan bagi anak dan nostalgia bagi orang tua.
Dalam keluarga, hal kecil seperti ini berpotensi memicu percakapan. Seorang anak mungkin bertanya mengapa karakter itu harus memakai pelampung. Orang tua lalu menjelaskan bahwa ketika naik perahu atau bermain di laut, pelampung membantu menyelamatkan nyawa. Percakapan singkat semacam inilah yang kerap sulit dicapai oleh poster biasa. Poster memberi tahu, tetapi tidak selalu mengundang dialog. Permainan memberi pengalaman, lalu pengalaman memancing pertanyaan.
Dari sudut pandang komunikasi budaya, pilihan memakai format boneka kertas juga cerdas karena tidak membutuhkan teknologi tambahan. Tidak perlu aplikasi, kode QR, layar, atau koneksi internet. Semua bisa dilakukan langsung begitu kemasan dibuka. Dalam era ketika banyak kampanye publik berlomba terlihat modern dan digital, pendekatan analog seperti ini justru terasa segar. Ia membuktikan bahwa inovasi tidak selalu berarti teknologi tinggi; kadang inovasi paling efektif adalah cara lama yang dikemas dengan logika baru.
Di Indonesia, pendekatan serupa sebenarnya punya potensi besar. Bayangkan bila kampanye keselamatan penyeberangan, gunung, atau pantai dimasukkan ke kemasan oleh-oleh lokal lewat permainan sederhana yang dapat dilakukan keluarga selama perjalanan. Bukan tidak mungkin dampaknya lebih terasa dibanding selebaran yang sering berakhir dibuang. Yang membuat model Mokpo menarik adalah kemampuannya menjembatani pesan formal negara dengan emosi keseharian masyarakat.
Kolaborasi antara institusi publik dan usaha lokal yang terasa hidup
Kerja sama antara Kantor Penjaga Pantai Mokpo dan Hwang Baksa Mokpo Jjondigi juga penting dibaca sebagai model kolaborasi lokal. Dalam banyak kasus, kampanye keselamatan dikerjakan sepenuhnya oleh pemerintah, sementara dunia usaha hanya menjadi sponsor atau penyedia ruang iklan. Di Mokpo, relasinya tampak lebih organik. Perusahaan lokal menyediakan produk yang memang sudah punya kedekatan dengan konsumen, sedangkan lembaga penjaga pantai menyuntikkan tema keselamatan yang jelas dan terukur.
Hasilnya adalah bentuk kampanye yang terasa hidup, karena ia berangkat dari budaya konsumsi yang nyata di daerah tersebut. Bagi wisatawan yang berkunjung ke Mokpo, membeli camilan lokal adalah bagian dari pengalaman perjalanan. Maka ketika pesan keselamatan hadir di situ, ia tidak terasa dipaksakan. Justru sebaliknya, pesan itu menyatu dengan identitas kota pesisir yang ingin dinikmati pengunjung.
Di sisi lain, model ini juga memperlihatkan bahwa produk lokal dapat berfungsi lebih dari sekadar komoditas ekonomi. Ia bisa menjadi medium cerita tentang kota. Dalam satu bungkus camilan, konsumen menerima rasa khas, identitas daerah, maskot penjaga pantai, imbauan memakai pelampung, dan format permainan sederhana. Semua unsur itu membentuk narasi yang lebih kaya tentang Mokpo: kota pelabuhan yang bukan hanya menjual oleh-oleh, tetapi juga berupaya membangun budaya aman di laut.
Aspek lain yang perlu dicatat adalah fokus kampanye ini tetap terjaga. Walau kemasannya kreatif dan bernilai promosi bagi produk lokal, inti pesannya tidak bergeser menjadi strategi penjualan semata. Dari ringkasan laporan, tujuan utama kerja sama ini tetap penyebaran budaya keselamatan laut, khususnya pentingnya mengenakan pelampung pada musim aktivitas air. Dengan kata lain, produk dipakai sebagai saluran, bukan alasan untuk menipiskan bobot pesan.
Dalam konteks yang lebih luas, langkah seperti ini mencerminkan perubahan cara pemerintah daerah dan institusi publik di Korea Selatan membangun komunikasi dengan masyarakat. Mereka semakin sering menggunakan karakter, desain, budaya pop, dan kerja sama lintas sektor untuk menyentuh audiens dengan cara yang tidak kaku. Bagi pembaca yang mengikuti Hallyu, fenomena ini menarik karena menunjukkan bahwa kreativitas Korea bukan hanya hidup di K-pop, drama, atau industri kecantikan, tetapi juga mulai mewarnai cara negara berbicara soal isu publik.
Pelampung sebagai pesan paling dasar, paling penting
Di balik semua unsur kreatif tadi, kampanye ini sesungguhnya sangat fokus. Pesan yang dibawa tidak bercabang ke banyak tema. Titik beratnya adalah pelampung atau life jacket. Ini penting, karena dalam komunikasi keselamatan, terlalu banyak pesan sering justru membuat tidak ada satu pun yang benar-benar diingat. Mokpo memilih satu tindakan paling mendasar: kenakan pelampung saat beraktivitas di laut.
Pilihan itu masuk akal. Di banyak kecelakaan air, faktor dasar seperti tidak memakai alat keselamatan masih menjadi persoalan utama. Karena itu, ketimbang menyodorkan daftar panjang aturan, kampanye ini menempatkan pelampung sebagai simbol inti keselamatan. Bahkan dalam desain permainannya, karakter Achi baru “lengkap” ketika pelampung dipasangkan. Secara visual, narasi yang dibangun sangat jelas: sebelum memakai pelampung, ada sesuatu yang belum selesai.
Kepala Kantor Penjaga Pantai Mokpo, Chae Su-jun, seperti dikutip dalam ringkasan berita, menilai kerja sama ini bermakna karena dilakukan melalui makanan yang dicintai banyak orang, sehingga dapat mengingatkan publik pada pentingnya pemakaian pelampung sebagai dasar keselamatan laut. Pernyataan ini menunjukkan bahwa target kampanye tidak hanya warga setempat, tetapi juga para pengunjung. Kota wisata memang tidak bisa memisahkan kebijakan keselamatan dari arus orang yang datang dari luar.
Bagi Indonesia, fokus seperti ini juga relevan. Kita sering melihat imbauan keselamatan di tempat wisata dibuat terlalu umum, sehingga sulit meninggalkan kesan. Sementara pesan tunggal yang diulang secara konsisten justru lebih mudah diingat. Di area pantai misalnya, pengunjung mungkin tidak akan menghafal banyak poin, tetapi mereka bisa diajak mengingat satu hal yang paling mendasar. Kampanye Mokpo memberi contoh bahwa kesederhanaan bukan kelemahan, melainkan strategi.
Yang juga menarik, pelampung dalam kampanye ini tidak dipresentasikan sebagai simbol ketakutan, melainkan simbol kesiapan. Ini perbedaan penting. Banyak kampanye keselamatan gagal karena terasa hanya menonjolkan ancaman dan hukuman. Padahal, dalam ruang rekreasi, publik lebih responsif terhadap pesan yang mengatakan “agar liburanmu aman dan tetap menyenangkan” daripada “jangan lakukan ini atau celaka.” Mokpo tampaknya memahami psikologi itu.
Apa yang bisa dipelajari Indonesia dari kampanye kecil ini
Berita dari Mokpo mungkin tampak sederhana: sebuah kantor penjaga pantai bekerja sama dengan produsen camilan lokal untuk menaruh maskot dan pelampung di dalam bungkus jajanan. Namun justru pada kesederhanaannya itulah nilai berita ini berada. Ia memperlihatkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu harus dimulai dari kampanye mahal, acara besar, atau materi yang serba rumit. Kadang ia dimulai dari benda kecil yang dibawa pulang orang setelah jalan-jalan.
Indonesia memiliki kondisi yang sangat cocok untuk pendekatan serupa. Kita punya destinasi pantai, pelabuhan wisata, penyeberangan antarpulau, dan kawasan pesisir yang ramai dikunjungi. Kita juga punya kekayaan jajanan lokal yang sangat dekat dengan identitas daerah. Bayangkan jika pesan keselamatan laut di Labuan Bajo, Pangandaran, Bali, Bunaken, atau Kepulauan Seribu hadir melalui kemasan makanan khas setempat, permainan sederhana untuk anak, atau desain yang membuat wisatawan berhenti sejenak dan berpikir. Potensinya sangat besar.
Tentu saja, meniru bentuk luarnya saja tidak cukup. Yang paling penting dari contoh Mokpo adalah logika di baliknya: pahami kebiasaan publik, lalu tempatkan pesan keselamatan di titik pertemuan yang paling alami. Di Korea, titik temu itu adalah jajanan lokal dan maskot resmi. Di Indonesia, bisa jadi bentuknya berbeda tergantung daerah: kemasan oleh-oleh, tiket kapal, meja restoran tepi pantai, tas belanja suvenir, atau bahkan alas kertas makanan di pusat wisata. Kuncinya adalah membuat keselamatan terasa hadir dalam pengalaman, bukan ditempelkan dari luar secara paksa.
Dari sisi budaya, kampanye ini juga mengingatkan kita bahwa keamanan tidak harus selalu disampaikan dengan wajah tegang. Ia bisa ramah, bisa mengundang senyum, bahkan bisa menghadirkan nostalgia. Yang penting, substansinya tidak hilang. Dalam hal ini, Mokpo menunjukkan keseimbangan yang menarik antara keseriusan tujuan dan keluwesan bentuk. Negara tetap menyampaikan pesan tegas, tetapi lewat medium yang hangat dan mudah diterima.
Pada akhirnya, laut selalu menawarkan dua hal sekaligus: kegembiraan dan kewaspadaan. Kota-kota pesisir yang berhasil adalah kota yang mampu menjaga keduanya berjalan beriringan. Mokpo sedang mencoba itu melalui sebuah kemasan camilan. Dan dari sudut pandang jurnalistik, di situlah nilai paling penting dari cerita ini: sebuah kota pelabuhan memilih berbicara soal keselamatan bukan dari menara tinggi, melainkan dari benda kecil yang dipegang langsung oleh tangan warga dan wisatawan. Di tengah derasnya informasi publik yang kerap lewat begitu saja, pendekatan semacam ini terasa segar, praktis, dan sangat mungkin meninggalkan jejak yang lebih lama di ingatan orang.
댓글
댓글 쓰기