Kim Sung-cheol dan Fenomena ‘Adik Laki-Laki Bangsa’: Mengapa Karakter Ugi di ‘Goldland’ Jadi Perbincangan Penggemar K-Drama

Kim Sung-cheol dan Fenomena ‘Adik Laki-Laki Bangsa’: Mengapa Karakter Ugi di ‘Goldland’ Jadi Perbincangan Penggemar K-Dr

Karakter yang Tidak Sekadar Lewat di Lini Masa

Di tengah derasnya arus tayangan Korea yang setiap pekan melahirkan adegan viral, ada satu nama yang kini ramai dibicarakan penggemar drama Korea: Kim Sung-cheol. Lewat serial orisinal Disney+ berjudul Goldland, aktor ini bukan hanya menarik perhatian karena tampil dalam thriller kriminal, melainkan karena berhasil memunculkan jenis pesona yang justru tidak lazim untuk genre sekeras itu. Dalam sebuah wawancara di Seoul pada 29 Mei, Kim Sung-cheol menyambut dengan antusias julukan baru yang diberikan publik kepadanya, yakni “국민 남동생” atau yang bisa dipahami sebagai “adik laki-laki kesayangan bangsa.” Ia bahkan berujar, setengah bercanda namun jujur, bahwa ia “sangat puas” dengan sebutan tersebut.

Bagi pembaca Indonesia, istilah seperti ini mungkin mengingatkan pada bagaimana publik kita kerap memberi cap tertentu kepada figur hiburan yang terasa dekat secara emosional. Di Indonesia, kita mengenal ungkapan seperti “idola sejuta umat,” “anak baik kesayangan ibu-ibu,” atau “cowok green flag” dalam bahasa generasi media sosial hari ini. Di Korea Selatan, imbuhan “gukmin” atau “nasional/bangsa” punya bobot tersendiri. Ia tidak semata berarti populer, tetapi mengandung makna bahwa sosok tersebut diterima luas, terasa akrab, dan menimbulkan rasa memiliki di benak publik. Ketika Kim Sung-cheol disebut “adik laki-laki bangsa,” itu berarti penonton menangkap kehangatan, kedekatan, dan rasa sayang pada karakternya—bahkan saat ia berada di tengah kisah tentang perebutan emas batangan bernilai fantastis.

Yang membuat respons ini menarik, julukan tersebut lahir bukan dari drama keluarga atau komedi romantis yang ringan, melainkan dari sebuah thriller kriminal. Goldland bercerita tentang perburuan emas batangan senilai 150 miliar won, sebuah premis yang pada permukaan tampak mengandalkan ketegangan, kejar-kejaran, dan benturan antarkepentingan. Namun justru di sanalah kekuatan drama Korea kembali terlihat: bukan hanya pada besar-kecilnya peristiwa, tetapi pada kemampuan membangun hubungan antartokoh yang rumit, hangat, dan sulit ditebak. Ugi, karakter yang dimainkan Kim Sung-cheol, menjadi bukti paling menonjol dari formula itu.

Di saat banyak serial thriller global berlomba menampilkan sosok jahat yang sepenuhnya dingin atau sekutu yang sepenuhnya setia, Goldland mengambil jalan yang lebih khas Korea: menghadirkan manusia yang berdiri di wilayah abu-abu. Penonton tidak dipaksa memilih hitam atau putih. Mereka justru diajak bertahan di ruang yang tidak nyaman, tempat rasa curiga berjalan berdampingan dengan simpati. Bagi penggemar K-drama Indonesia yang terbiasa menikmati ketegangan emosional dalam serial seperti My Mister, Flower of Evil, atau bahkan relasi rumit dalam drama-drama kriminal tvN dan Disney+, daya tarik Ugi terasa mudah dipahami. Ia berbahaya, tetapi tidak sepenuhnya mudah dibenci. Ia mengganggu, tetapi juga memancing rasa ingin melindungi.

Di situlah letak alasan mengapa pernyataan Kim Sung-cheol soal julukan “adik laki-laki bangsa” menjadi pembicaraan. Ini bukan sekadar soal seorang aktor mendapat nama panggilan manis dari penggemar. Ini adalah petunjuk penting tentang bagaimana karakter ditulis, dimainkan, lalu diterima publik. Dalam industri yang sangat cepat berubah, reaksi semacam ini menunjukkan bahwa Goldland tampaknya berhasil menghadirkan satu elemen yang paling dicari penonton modern: karakter yang terus tinggal di kepala bahkan setelah episode selesai.

Apa Arti “Adik Laki-Laki Bangsa” dalam Budaya Pop Korea?

Untuk memahami mengapa label ini penting, ada baiknya menjelaskan dulu konteks budaya Korea yang melatarinya. Dalam industri hiburan Korea, istilah yang diawali kata “gukmin” sering diberikan kepada figur publik yang dinilai punya daya jangkau emosional luas. Kita pernah mendengar sebutan seperti “gukmin MC,” “gukmin first love,” atau “gukmin little sister.” Sebutan itu tidak diberikan secara resmi oleh lembaga tertentu, melainkan tumbuh dari media, penggemar, dan publik yang merasa figur tersebut mewakili citra yang familier dan disukai banyak kalangan.

Ketika kata yang dipakai adalah “namdongsaeng” atau adik laki-laki, nuansanya menjadi sangat spesifik. Ini bukan sekadar tampan atau imut. Dalam kultur Korea, sosok “adik laki-laki” identik dengan seseorang yang lebih muda, terasa dekat, kadang usil, kadang butuh dibimbing, tetapi juga bisa menimbulkan rasa sayang yang alami. Jika diterjemahkan mentah-mentah ke bahasa Indonesia, efek emosionalnya mungkin tidak sepenuhnya sampai. Karena itu, untuk pembaca kita, mungkin paling mudah membayangkannya sebagai kombinasi antara sosok yang bikin gemas, terasa akrab, namun tidak kehilangan daya tarik maskulinnya.

Kim Sung-cheol sendiri menanggapi label tersebut dengan santai dan jenaka. Ia mengatakan bahwa tentu saja akan lebih menyenangkan bila disebut “gukmin yeonhanam”—istilah yang mengarah pada citra pria yang lebih muda dalam relasi romantis—tetapi ia memahami bahwa hubungan karakter dalam Goldland bukanlah romansa penuh, melainkan lebih dekat ke relasi rekan atau partner dalam situasi berbahaya. Komentar singkat ini justru membuka pemahaman penting soal desain hubungan dalam serial tersebut. Penonton rupanya menangkap ada kedekatan emosional yang kuat, tetapi bukan kedekatan yang bisa langsung diberi label pacaran atau cinta terang-terangan. Ada tensi, ada sejarah, ada rasa memiliki, tetapi juga ada kepentingan dan risiko.

Fenomena seperti ini sebenarnya tidak asing bagi penonton Indonesia. Dalam banyak tontonan populer, justru hubungan yang tidak sepenuhnya didefinisikan sering kali lebih mengundang keterlibatan emosi. Penonton kita akrab dengan konsep “chemistry” yang tidak harus berujung menjadi pasangan resmi. Sering kali, dua tokoh yang saling menjaga tapi juga saling mencurigai justru lebih memikat daripada romansa lurus yang sudah bisa ditebak sejak episode pertama. Karena itu, ketika publik Korea menempelkan citra “adik laki-laki bangsa” pada Ugi, yang mereka respons sebenarnya bukan hanya wajah Kim Sung-cheol, tetapi getaran hubungan yang dibangun karakter itu di layar.

Dalam genre kriminal, label semacam ini juga terasa tidak biasa. Biasanya tokoh yang menonjol akan diingat karena karisma intimidatif, kecerdikan dingin, atau aura ancaman. Namun Ugi mendapat respons yang berbeda. Ia memunculkan sensasi “musuh yang disukai,” atau dalam istilah yang lebih cocok untuk pembaca Indonesia, sosok yang bikin geregetan tapi tetap susah untuk ditolak. Ini mengingatkan kita pada tipe karakter yang kalau muncul di drama, penonton ramai di media sosial berkata, “Ini orang red flag, tapi kok tetap ditontonin?” Ketegangan semacam itulah yang hari ini menjadi mata uang penting dalam budaya fandom.

Ugi di Tengah Emas Batangan dan Kejaran Hasrat Manusia

Goldland dibangun di atas premis yang jelas menjanjikan ketegangan: emas batangan senilai 150 miliar won memicu perburuan, keserakahan, dan benturan kepentingan antarmanusia. Secara genre, ini adalah wilayah yang seharusnya keras, cepat, dan penuh risiko. Namun seperti banyak karya Korea terbaik dalam satu dekade terakhir, serial ini tampaknya tidak berhenti pada “siapa mengejar siapa.” Ia menginvestasikan perhatian besar pada bagaimana manusia saling mendekat, saling mendorong, dan saling melukai dengan cara yang tidak selalu frontal.

Di dalam lanskap itu, Ugi berdiri sebagai tokoh kunci. Ia bukan sekadar ornamen pendukung yang lewat untuk menggerakkan plot. Kim Sung-cheol menjelaskan bahwa Ugi adalah sosok yang tumbuh di lingkungan yang sama dengan tokoh utama Kim Hee-joo, lalu terlibat dalam kemitraan berbahaya dengannya. Hanya dari informasi itu saja, lapisan hubungan mereka sudah terasa kompleks. Ada sejarah masa lalu, ada kedekatan yang terbentuk sejak lama, tetapi juga ada kepentingan yang muncul dari perebutan emas. Kedekatan dan ancaman hidup berdampingan dalam satu relasi.

Inilah yang membuat Ugi tidak mudah diposisikan sebagai sekutu murni atau lawan mutlak. Dalam penceritaan thriller, tokoh seperti ini sangat efektif karena ia bisa mengubah suhu setiap adegan. Ketika ia muncul, penonton tidak hanya bertanya apa yang akan terjadi, tetapi juga bertanya motif mana yang sedang dominan: rasa sayang, kebutuhan bertahan hidup, atau ambisi pribadi. Ketidakpastian itulah yang membuat karakter terasa hidup.

Kim Sung-cheol juga mengungkapkan bahwa ia berhati-hati agar Ugi tidak jatuh menjadi sosok yang sepenuhnya tidak disukai. Menurutnya, bila karakter itu berubah menjadi musuh total terhadap Hee-joo, penonton bisa menolaknya mentah-mentah. Karena itu, ia berupaya menjaga kadar ancaman: tetap memberi ketegangan, tetapi tidak sampai menampilkan serangan yang membuat karakter kehilangan ruang simpati. Dari sudut pandang akting, ini adalah keputusan yang sangat penting. Aktor tidak hanya memainkan “fungsi” karakter dalam naskah, tetapi juga mengatur temperatur emosionalnya agar penonton tetap mau mengikuti.

Bagi penonton Indonesia yang sering membahas detail karakter di X, TikTok, atau forum penggemar, pendekatan semacam ini biasanya langsung terasa. Kita sering melihat satu tokoh naik daun bukan karena porsi adegannya paling besar, melainkan karena ada detail kecil yang membuatnya tampak manusiawi: tatapan yang ragu-ragu, nada bicara yang berubah saat berhadapan dengan tokoh tertentu, atau keputusan yang keliru tetapi bisa dipahami. Ugi tampaknya dibangun dengan prinsip seperti itu. Ia tidak dijadikan pisau yang hanya tajam; ia juga diberi sisi tumpul yang justru membuatnya lebih dekat dengan emosi penonton.

Dalam konteks inilah Goldland tampak ingin menonjol bukan hanya sebagai thriller bernilai produksi besar, melainkan sebagai drama karakter. Emas batangan hanyalah benda pemicu. Yang benar-benar dikejar penonton adalah alasan di balik pilihan tokoh-tokohnya, terutama ketika pilihan itu muncul dari campuran rasa sayang, dendam, kepentingan, dan masa lalu yang belum selesai. Ugi menjadi representasi paling jelas dari permainan itu.

Bukan Romansa, tetapi Tensi Emosinya Bekerja Kuat

Salah satu komentar Kim Sung-cheol yang paling menarik adalah penegasannya bahwa hubungan dalam Goldland “lebih dekat ke rekan kerja atau partner” daripada romansa penuh. Bagi sebagian penonton, kalimat seperti ini mungkin terdengar sebagai penolakan terhadap pembacaan romantis. Namun dalam praktiknya, justru ruang abu-abu seperti inilah yang sering membuat sebuah serial terasa lebih kaya. Ketika hubungan tidak diberi label terlalu cepat, penonton punya ruang untuk membaca gerak tubuh, jeda, dan keputusan sebagai bahasa emosi.

Kekuatan K-drama sejak lama memang terletak pada kemampuan menyimpan rasa tanpa harus selalu mengucapkannya terang-terangan. Dalam budaya menonton Indonesia, pola ini juga punya pasar yang sangat besar. Penonton kita menyukai “slow burn,” menyukai pasangan yang belum tentu benar-benar pasangan, dan menyukai situasi ketika dua tokoh tampak saling membutuhkan tetapi juga sulit saling percaya. Bila premis ini ditanamkan ke dalam thriller kriminal, hasilnya bisa sangat memikat karena emosi bukan hadir sebagai sisipan, melainkan sebagai mesin penggerak suspense itu sendiri.

Hubungan antara Ugi dan Hee-joo tampaknya bekerja dengan logika seperti itu. Mereka terikat oleh kedekatan masa lalu, tetapi berada di situasi sekarang yang penuh risiko. Ada kemungkinan saling melindungi, tetapi ada juga kemungkinan saling mengorbankan. Bagi penonton, hubungan seperti ini jauh lebih menggoda daripada dinamika yang sudah jelas arahnya sejak awal. Setiap tatapan bisa dibaca ganda. Setiap kerja sama bisa terasa sebagai bentuk kepercayaan, atau justru jebakan yang ditunda.

Di sinilah komentar Kim Sung-cheol soal dirinya lebih puas disebut “adik laki-laki bangsa” ketimbang dipaksakan ke label romansa menjadi sangat masuk akal. Ugi bukan tokoh yang dibentuk untuk memenuhi fantasi cinta yang aman. Ia berada di posisi yang lebih licin: terasa dekat, tetapi tak sepenuhnya bisa dirangkul. Justru karena itu, daya tariknya menjadi lebih besar. Penonton tidak hanya melihat kemungkinan asmara, tetapi juga menyaksikan bagaimana relasi yang rapuh bisa menciptakan beban emosional jauh lebih kuat daripada pernyataan cinta yang eksplisit.

Kalau ditarik ke konteks penonton Indonesia, kita bisa melihat kemiripan dengan bagaimana publik sering merespons pasangan atau duo karakter yang “belum tentu jadian, tapi chemistry-nya berbahaya.” Respons semacam ini biasanya memicu diskusi panjang, video edit, teori penggemar, hingga debat soal apakah hubungan mereka sehat atau justru problematis. Dalam ekosistem streaming saat ini, percakapan semacam itu sama berharganya dengan rating. Ia memperpanjang umur sebuah serial di ruang digital.

Goldland tampaknya memahami mekanisme ini dengan baik. Ia tidak menjual romansa sebagai produk utama, tetapi tetap menanamkan benih emosi yang cukup kuat agar penonton terus membicarakan hubungan antartokohnya. Ugi menjadi pusat dari strategi itu. Ia hadir seperti orang yang tidak bisa sepenuhnya dipercaya, tetapi juga tidak bisa diabaikan. Dalam bahasa sederhana: bukan pasangan romantis yang rapi, melainkan koneksi emosional yang bikin penonton susah move on dari tiap adegannya.

Ekspansi Citra Kim Sung-cheol sebagai Aktor

Bagi Kim Sung-cheol sendiri, momen ini penting karena menunjukkan fase ekspansi citra. Selama ini, ia dikenal sebagai aktor dengan kemampuan akting yang stabil dan kehadiran layar yang kuat, tetapi Goldland memberinya peluang untuk memainkan warna yang lebih licin. Ia menyebut Ugi sebagai karakter dengan nuansa “nakal” atau “sedikit liar” yang belum pernah ia mainkan sebelumnya. Pernyataan ini terdengar sederhana, tetapi dari perspektif industri, itu merupakan penanda bahwa seorang aktor tengah membuka wilayah baru dalam kariernya.

Di dunia hiburan Korea yang sangat kompetitif, bertahan bukan hanya soal populer, tetapi juga soal mampu mematahkan ekspektasi publik tanpa kehilangan basis penonton. Seorang aktor yang terlalu lama berada di zona aman berisiko diingat hanya untuk satu jenis peran. Sebaliknya, aktor yang mampu bergerak dari karakter hangat ke karakter abu-abu, dari tokoh yang mengundang simpati ke figur yang memunculkan rasa waswas, biasanya punya usia karier lebih panjang. Ugi memberi Kim Sung-cheol kesempatan untuk menunjukkan spektrum itu.

Menariknya, ekspansi ini tidak dilakukan dengan cara yang kasar. Kim Sung-cheol tidak tiba-tiba muncul sebagai penjahat penuh teror yang menolak semua sisi manusiawi. Ia justru memperluas citranya melalui karakter yang masih menyimpan kedekatan dan daya tarik emosional. Dengan kata lain, ia tidak membuang pesona yang membuat penonton merasa akrab, melainkan menambahkan lapisan risiko di atasnya. Pendekatan ini cerdas karena membuat transisi terasa alami. Penonton yang selama ini menyukainya tidak kehilangan pegangan, tetapi juga melihat sisi baru yang lebih menantang.

Respons publik yang menyebut Ugi sebagai “karakter seumur hidup” atau life character bagi sang aktor juga patut dicermati. Dalam budaya hiburan Korea, sebutan itu dipakai ketika sebuah karakter dianggap begitu kuat sehingga menjadi salah satu puncak representasi karier seorang aktor. Kim Sung-cheol menanggapinya dengan rendah hati dan berterima kasih. Sikap semacam ini penting karena menunjukkan bahwa ia membiarkan publik yang menilai, bukan sibuk mengklaim sendiri pencapaiannya. Dalam lanskap selebritas modern, kombinasi antara kemampuan akting, kecermatan membaca karakter, dan respons publik yang organik adalah paket yang sangat berharga.

Bagi penggemar Indonesia, perkembangan ini layak diikuti karena Kim Sung-cheol berada dalam posisi yang menarik: ia bukan nama yang hanya bertumpu pada visual atau sensasi, tetapi aktor yang membangun reputasi lewat detail performa. Dan ketika aktor seperti ini mendapatkan karakter yang pas, hasilnya sering kali lebih awet daripada tren viral sesaat. Ugi bisa jadi bukan sekadar satu peran populer musim ini, melainkan titik balik yang membuat publik internasional melihat Kim Sung-cheol dengan cara berbeda.

Mengapa Penonton Global, Termasuk Indonesia, Mudah Terhubung

Salah satu kekuatan terbesar drama Korea di pasar global adalah kemampuannya memadukan skala cerita yang besar dengan detail emosi yang intim. Goldland membawa premis yang mudah dijual secara internasional: emas batangan, kejar-kejaran, intrik, dan hasrat manusia. Namun alasan serial semacam ini bisa benar-benar menempel di hati penonton lintas negara justru bukan semata karena plot-nya mudah dipahami. Yang membuatnya bertahan adalah cara cerita membingkai hubungan manusia.

Penonton Indonesia termasuk yang sangat peka terhadap dinamika semacam ini. Kita menikmati thriller, tetapi kita juga cepat terikat pada tokoh. Kita bisa saja datang untuk kisah kriminalnya, tetapi sering bertahan karena relasi antarfigur yang rumit. Tidak heran kalau di media sosial Indonesia, pembicaraan tentang drama Korea kerap bergeser dari “siapa pelakunya” menjadi “kenapa dia menatap seperti itu” atau “sebenarnya dia sayang atau memanfaatkan?” Pertanyaan-pertanyaan semacam ini adalah bahan bakar utama fandom masa kini, dan Ugi berada tepat di titik itu.

Platform streaming juga memainkan peran penting. Sebagai serial orisinal Disney+, Goldland berada dalam ekosistem distribusi yang memungkinkan respons dari Korea langsung menyebar ke penonton internasional. Ketika wawancara Kim Sung-cheol dikutip media Korea, publik di negara lain hampir seketika ikut membahasnya melalui potongan video, terjemahan penggemar, hingga unggahan akun fanbase. Artinya, penjelasan seorang aktor tentang karakternya kini bukan lagi konsumsi domestik. Ia adalah bagian dari cara serial itu dipahami secara global.

Dalam konteks ini, komentar Kim Sung-cheol tentang menjaga Ugi agar tidak menjadi sosok yang sepenuhnya dibenci sangat relevan. Penonton global hari ini cenderung lebih tertarik pada karakter kompleks ketimbang karakter datar. Sosok yang ambigu memberi lebih banyak ruang untuk interpretasi, diskusi, dan keterlibatan emosional. Itulah sebabnya banyak serial Korea sukses menembus pasar internasional: mereka mengerti bahwa penonton modern ingin merasa ikut membaca karakter, bukan hanya disuapi kesimpulan.

Untuk pembaca Indonesia, ada pula satu hal lain yang membuat cerita seperti ini mudah diterima: kedekatan kita dengan narasi relasional. Dalam banyak budaya Asia, termasuk Indonesia dan Korea, hubungan masa lalu, ikatan lingkungan, dan rasa utang emosional memiliki tempat penting dalam cerita. Ugi dan Hee-joo yang berasal dari lingkungan yang sama, lalu terseret dalam kemitraan berbahaya, adalah premis yang terasa akrab secara emosional meski konteks kriminalnya ekstrem. Ada rasa “orang lama” yang sulit diputus, ada sejarah yang tidak bisa dihapus begitu saja, dan ada keputusan-keputusan yang dibuat bukan hanya dengan kepala, tetapi juga dengan sisa perasaan.

Karena itu, perhatian terhadap Goldland saat ini sebetulnya tidak mengejutkan. Serial ini menawarkan dua hal yang sangat dicari penonton global: ketegangan genre yang jelas dan karakter yang emosinya tidak pernah selesai dalam satu definisi.

Lebih dari Sekadar Julukan Manis

Pada akhirnya, pembicaraan tentang Kim Sung-cheol sebagai “adik laki-laki bangsa” bukan perkara kosmetik promosi. Julukan itu justru menjadi pintu masuk untuk membaca keberhasilan Goldland membentuk karakter yang membekas. Ugi bukan tokoh yang dicintai karena ia aman. Ia dicintai karena ia berisiko, tetapi tetap menyisakan ruang afeksi. Ia menegangkan, tetapi tidak membuat penonton ingin benar-benar menolaknya. Dalam dunia drama, kombinasi ini tidak mudah dicapai.

Kim Sung-cheol tampaknya memahami betul bahwa daya tarik Ugi terletak pada keseimbangan. Bila terlalu tajam, karakter akan habis menjadi ancaman belaka. Bila terlalu lunak, ia akan kehilangan daya pikat dalam thriller. Keseimbangan antara ancaman dan kehangatan itulah yang membuat publik bereaksi begitu kuat. Dan ketika reaksi itu muncul dalam bentuk julukan yang akrab, sesungguhnya publik sedang memberi penilaian paling jelas: karakter ini berhasil menyusup ke perasaan mereka.

Bagi lanskap K-drama 2026, ini juga mengirim sinyal yang menarik. Di tengah produksi serial yang semakin besar secara skala dan semakin global secara distribusi, yang tetap menentukan resonansi sebuah karya adalah detail karakter. Penonton bisa terpukau oleh premis emas 150 miliar won, tetapi mereka akan terus kembali membicarakan seorang Ugi yang tidak bisa dipetakan secara sederhana. Mereka akan membahas bagaimana ia memandang Hee-joo, kapan ia mengancam, kapan ia menahan diri, dan mengapa ia terasa seperti musuh yang diam-diam disukai.

Untuk pembaca Indonesia yang mengikuti Hallyu bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai fenomena budaya, momen ini patut diperhatikan. Ia menunjukkan bahwa kekuatan Korea dalam bercerita masih bertumpu pada kemampuan mengolah emosi dengan presisi tinggi. Dan di tengah segala kemewahan platform streaming global, yang tetap membuat penonton bertahan adalah sesuatu yang sangat manusiawi: rasa penasaran terhadap hubungan yang tidak pernah sepenuhnya pasti.

Jika Goldland terus menjaga kualitas permainan karakternya seperti yang tercermin dari pembahasan tentang Ugi ini, serial tersebut punya modal kuat untuk menancap bukan hanya di pasar domestik Korea, tetapi juga di percakapan penonton Asia, termasuk Indonesia. Adapun bagi Kim Sung-cheol, julukan “adik laki-laki bangsa” mungkin terdengar manis dan ringan. Namun di baliknya, ada pengakuan yang jauh lebih penting: ia baru saja menghadirkan satu karakter yang berhasil membuat penonton tegang, gemas, curiga, dan tetap peduli pada saat bersamaan. Dalam bahasa industri hiburan, itulah kemenangan yang sesungguhnya.

Source: Original Korean article - Trendy News Korea

댓글